Sogai Gitö

Si lumana zogai gitö ba lala wa’asai’ö.
Ihawui ndra’o di awu*, silataona ndri mböhö

Ref.
Si lö boto halöwöma, ya’aga sangai gitö.
Sabata masöndra gefe, sabata matibo’ö.

Ha irugi bözi fulu, no inötö wogufu
Manaköi durugu mani ba wangai gitö baku

Me luo hari sinaya möiga ba mbale gawu
No asaule bakha hörö wamaigi si saribu

Möido bakha sa ba lafo, ba u’ohe nakhigu
Ba ma lau fahifa faha wamadu kofi susu

Ma’erai sa wo’ömöma ba no töra saribu
mangawuliga ba nomo, hatö gowi nifufu

Lö masöndra mböli mbaru halöwö ba zi samigu,
ha lahe mbawa lekato, si tobali gigimö

——————————————-
Band Simaenaria 1973
Kiriman A. Kristof Sturm
——————————————-

Terjemahan bebas:
Penderes getah sangat miskin, melewati jalan belukar
Saya diserbu di awu, dan nyamuk jantan

Ref.:
Sia-sia saja pekerjaan kami, para penderes getah
Sebentar kami mendapat uang, sebentar kami habiskan

Jam sepuluh tiba, waktu untuk mengumpul getah
Jari manisku membengkok, mengambil getah beku

Ketika hari Senin, kami ke harimbale (pekan) Gawu
Pandangan (mata) ku jadi juling melihat lembaran uang seribu

Aku masuk ke sebuah kedai, kuajak adikku
Sambil goyang-goyang kaki, nikmati kopi susu

Kami menghitung utang kami, lebih dari seribu
Kami pulang ke rumah, terpaksa makan ubi tumbuk

Hasil kerja seminggu tak mampu membeli baju
cuma bekas gigitan lintah, yang menjadi kudisku

Catatan: Versi “maena” dari lagu ini adalah: Si Numana Zatua Föna Ba Wondrorogö. Perhatikan baris demi baris kalimat yang puitis dan jenaka (keindahan dan kejenakaan itu tidak “terasa” dalam terjemahan di atas). Lagu-lagu semacam ini bisa bertahan sekurang-kurangnya satu generasi dan karenanya menjadi alat yang cukup efektif untuk melestarikan kosa-kata Li Niha.

*di awu adalah sejenis binatang kecil bersayap yang terbang dalam kelompok; gigitannya sangat gatal dan agak sakit. Di awu biasanya “menyerbu” sebelum matahari terik (udara panas), oleh sebab itu biasanya para penderes karet (atau para petani) membawa sandari yang dibakar yang asapnya bisa menghalau di awu tadi. (eh)

Komentari

Ya’ahowu,

Lagu “Sogai gitö” dlm version Simaenaria Lahewa (Rek.1975) baru diupload sebagai pic-video ke situs “Youtube”. Disitu sudi cari peserta “enpluskom”….

Salam

A.Kristof Sturm

Pratomo says:

Yaahowu.
Situs yang bagus dan bermanfaat untuk pengenalan budaya.
Adakah foto-foto sekelompok orang sedang menari dan menyanyi “Maena” ? Kami ingin mendapatkannya.
Sahuwagolo.
(Pratomo/ PSPP/ FKPI)

A. Waruwu says:

Saya jadi ingat kampung, nih. Sembilan puluh persen penduduk kampung saya adalah penyadap karet. Mereka menyadap karet di kebun mereka sendiri atau kebun orang lain dengan bagi hasil.

Sangat memprihatinkan memang. Sering kali hasil kerja mereka pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi sekarang tidak ada lahan lagi untuk dijadikan ‘nowi” (ladang). Mereka membeli beras, lauk (i’a kilo, fataria la’oli ndriwora nagole mbawi…dsb), bumbu, minyak tanah, … dan juga aji-no-moto. hehehe.

Hal ini sudah berlangsung beberapa tahun.

Kapan nasib petani karet di Nias akan lebih baik?

Siapa yang peduli akan kesulitan para penyadap karet ini?

ehalawa says:

Terima kasih, Noni, atas informasi Anda tentang kata Indonesia untuk “di awu”. Tentu saja hanya nyamuk betina yang mengisap darah, dan pembuat syair lagu ini bisa jadi tidak menyadari hal ini; tujuannya barangkali hanya menekankan dahsyatnya “penderitaan” para sogai gitö, sampai-sampai darahnya pun diisap oleh “sikuat”: silataona ndri mböhö (“jantannya” nyamuk).

Ya’ahowu,

di awu = agas (sebutan untuk serangga jenis ini di dalam bahasa Indonesia).

setahu saya nih, nyamuk pemburu darah adalah nyamuk betina :))

Salam dari Karlsruhe,
Noni Telaumbanua