Jika Tidak Dilestarikan, Bahasa Akan Punah

Monday, February 26, 2007
By nias

Jakarta, Kompas – Bahasa akan punah jika tidak dilestarikan atau tidak dipergunakan oleh masyarakat pendukungnya, baik sebagai sarana pengungkap maupun sebagai sarana komunikasi.

“Menurut prediksi para peneliti, 100 tahun ke depan bahasa-bahasa di dunia akan tinggal 50 persen. Adapun sisanya akan punah, mengingat kuatnya pengaruh bahasa-bahasa utama dalam kehidupan global,” kata Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono pada perayaan Hari Bahasa Ibu Sedunia di Jakarta, Rabu (21/2).

Di Indonesia, kata Dendy, ada sejumlah bahasa daerah yang telah punah. Di Papua, misalnya, sedikitnya ada sembilan bahasa yang dianggap sudah punah, yakni bahasa Bapu, Darbe, Wares (Kabupaten Sarmi), bahasa Taworta dan Waritai (Jayapura), bahasa Murkim dan Walak (Jayawijaya), bahasa Meoswas (Manokwari), dan bahasa Loegenyem (Rajaampat). Nasib serupa juga menimpa beberapa bahasa di Maluku Utara.

Selain itu, juga cukup banyak bahasa yang akan punah karena jumlah penuturnya di bawah 1.000 orang. Bagaimanapun, menurut Dendy, kondisi itu mengkhawatirkan kelangsungan hidup bahasa-bahasa daerah.

“Untuk itu, perlu kita pikirkan strategi yang paling tepat buat mempertahankan bahasa daerah yang memang memiliki peran penting dalam komunitas pendukungnya. Adapun bahasa daerah yang tidak mungkin dipertahankan harus didokumentasikan agar kekayaan itu tidak hilang ditelan bumi,” kata Dendy.

Menurut Arief Rachman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, saat ini terdapat 6.000 bahasa di dunia dan 50 persen dari jumlah ini akan punah. Menyadari kenyataan tersebut, sejak tahun 1991, UNESCO (lembaga PBB untuk bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan) menetapkan setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Sedunia.

Lewat peringatan Hari Bahasa Ibu Sedunia ini, kata Arief Rachman, diharapkan semua pihak peduli untuk ikut melestarikan bahasa-bahasa yang ada di dunia ini. Termasuk di dalamnya upaya untuk melestarikan bahasa ibu, yang di Indonesia diperkirakan berjumlah 700 bahasa.

“Untuk meningkatkan pelestarian bahasa ibu diharapkan setiap anak dapat belajar lebih dari satu bahasa. Selain itu, dalam sistem pendidikan dapat diajarkan bahasa ibu, bahasa nasional, dan bahasa asing,” katanya.

Kichiro Matsuura, Direktur Jenderal UNESCO, di Jakarta, menyatakan bahwa dari 6.000 bahasa di dunia itu, 61 persen dipakai di kawasan Asia Pasifik. Dari jumlah itu, 300 bahasa dalam kondisi hampir punah. (LOK)

Sumber: Kompas, Kamis 22 Februari 2007

Tags:

2 Responses to “Jika Tidak Dilestarikan, Bahasa Akan Punah”

  1. 1
    Marthin D. Laia Says:

    Bagaimana usaha kita agar bahasa ibu / daerah kita masing masing tidak punah? Kalau cuma memperingati harinya tiap tahun, saya rasa dengan cara itu tidak efesien, dan tidak mungkin mencegah kepunahan bahasa bahasa daerah setempat.

    Ini harus menjadi agenda nasional untuk memikirkannya. Kita punya bahasa Nasional yang wajib dipergunakan, tapi bukan berarti bahasa ibu / daerah kita kita nomor duakan pemakainnya. Minimal dalam lingkungan keluarga kita masing masing, kita terapkan pemakaian bahasa daerah. Dan lebih baik lagi bila pemerintah dalam hal ini melalui departeman pendidikan nasional memasukkan bahasa daerah sebagai satu mata pelajaran wajib dalam kurikulum nasional. Ini bisa diatur oleh pemerintahan daerah setempat sebagai mautan lokal disekolah sekolah, mulai dari tingkat dasar tentunya. Saya rasa melalui program ini tingkat kepunahan dari bahasa ibu tak akan terjadi.

    Terimakasih, saohagolo, Yaahowu.

    Marthin D. Laia

  2. 2
    ehalawa Says:

    Pak Martin, kita memang perlu menjaga agar bahasa ibu tidak sampai punah. Selain dari yang Pak Martin katakan, khusus untuk Li Niha, kegiatan budaya lokal seperti pembuatan maena dan lagu-lagu baru cukup efektif. Syair-syair maena dan lagu-lagu baru akan bertahan minimal hingga satu generasi. Jadi kalau aktivitas budaya macam itu terus berlangsung, maka Li Niha akan bisa bertahan. Kita sudah hampir kehilangan seluruh orang tua yang ahli membuat hoho, jadi kita tidak bisa lagi mengharapkan munculnya hoho-hoho baru dengan kosa kata Nias kuno (yang semakin tak kita kenal).

    Campur tangan Pemda dalam melestarikan budaya rasanya sangat relevan. Misalnya saja, Pemda bisa “mensosialisasikan” pemakaian huruf “ö” yang khas dalam Li Niha dalam urusan-urusan pencatatan sipil; sehingga penulisan nama dan marga-marga orang Nias yang benar dapat dipertahankan.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728