Oleh Pdt. CIPTOMARTALU SAPANGI

LALU datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur, mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. (Lukas 5 : 18)

MENDERITA sakit? Tak seorang pun yang mau mengalaminya. Jika mungkin, sepanjang hidup kita, jangan sampai kita menderita sakit, apa pun penyakitnya. Namun, siapa di antara kita yang tak pernah mengalami sakit dalam kehidupan kita? Pasti pada suatu hari kita pernah mengalami sakit, dari yang ringan hingga yang berat. Ketika kita sakit, jangankan untuk bertahan berhari-hari, sehari pun terasa begitu lama. Rasanya dunia telah berubah menjadi neraka yang sarat dengan penderitaan. Lalu kita pun mengeluh dan mengaduh karena kesakitan.

Ada sebuah cerita tentang seseorang yang sejak masa mudanya dikenal mempunyai ilmu kesaktian. Dengan kehebatan ilmunya, ia tak pernah sakit, bahkan dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit dan terkenal ke mana-mana. Banyak orang mengaguminya, lantas ada juga yang bersedia menjadi muridnya. Gaya hidup orang ini begitu lepas, begitu percaya diri. Ia suka makan dan pola makannya tak terkendali. Ia makan sembarang makanan tanpa batas. Padahal kita tahu bahwa roda kehidupan berjalan terus dan orang pun bertambah hari bertambah tua. Tiba-tiba orang yang dikenal `sakti’ ini terkena stroke. Ia lumpuh dan invalid, bicaranya pun terbata-bata dan tak jelas sehingga semua gerak tubuh dan hasrat untuk mewujudkan keinginannya bergantung kepada bantuan dan pertolongan orang-orang lain. Jika ia ingin berbuat sesuatu, ia menunggu sampai orang lain datang membantunya. Ia tidak lagi leluasa melakukan semua tindakannya berdasarkan kemauannya sendiri.

Jelaslah bahwa manusia tak dapat menyandarkan kekuatan dan kemampuan fisiknya terus menerus kepada dirinya sendiri. Pada suatu hari, kemunduran, kemerosotan, dan kelemahan akan menggerogoti tubuh kita, cepat atau lambat. Karenanya, bercermin kepada kisah di atas, kehadiran seorang sahabat, terlebih banyak sahabat amat membantu kita, justru ketika kita berada di dalam kelemahan. Hargailah peran sahabat-sahabat kita, jalinlah tali persahabatan sejak kita masih berada dalam keadaan sehat. Sesungguhnya, sahabat itu anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita. Dalam praktik, sering persahabatan itu bersifat sementara. Selagi kita butuh, kita pun mencari sahabat. Namun setelah merasa tidak membutuhkannya, kita membuangnya dan memusuhinya. Pepatah yang mengatakan “habis manis sepah dibuang”, sering berlaku dalam persahabatan antarmanusia. Padahal sahabat adalah alamat kita mencurahkan isi hati kita. Sahabat membantu kita saat kita tak berdaya dalam mengatasi permasalahan hidup kita. Kita berbagi beban pergumulan dengan sahabat kita dan rasanya tak pernah sahabat kita yang baik itu meminta imbalan. Ia juga menolong kita saat kita mengalami sakit dengan sikap siap berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan uangnya.

Ayat di atas berkisah tentang seorang yang menderita lumpuh pada kedua kakinya. Ia dibantu oleh sahabat-sahabatnya yang membawanya kepada Tuhan Yesus untuk disembuhkan oleh-Nya. Namun ketika sampai di rumah, tempat Tuhan Yesus mengajar dan memberikan pertolongan, rumah itu telah penuh sesak dengan banyak orang yang juga menantikan pertolongan-Nya. Karena itu, para sahabat meminta orang-orang lain untuk minggir sebentar. Mungkin saja mereka berseru, “Tolong dong, kami menggotong orang lumpuh!” Kendati orang-orang lain tetap berdesak-desakan, tanpa mengenal lelah para sahabat si lumpuh itu berjuang keras sehingga pada akhirnya dapat sampai di hadapan Tuhan Yesus. Inilah yang kemudian terjadi, orang yang sakit lumpuh itu disembuhkan dan dapat berjalan kembali, berkat kuasa Tuhan Yesus. Tentu juga berkat usaha keras dan jerih lelah para sahabat si orang lumpuh itu.

Nyata bagi kita bahwa bagi si orang lumpuh itu, para sahabat itu adalah anugerah Tuhan baginya. Sekiranya tak ada sahabat yang menolong, niscaya ia tak dapat sampai kepada Tuhan Yesus dan beroleh kesembuhan. Sahabat sebagai anugerah, mengingat kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian di dunia ini. Tambahan pula, dalam mengarungi perjalanan hidup kita di dunia ini, pasti sekali waktu kita mengalami kesulitan dan membutuhkan jalan keluar. Kita juga membutuhkan bantuan saat kita memikul beban berat, entah dalam arti harfiah maupun dalam arti kiasan. Dengan kehadiran para sahabat, beban kita yang berat menjadi ringan, pemecahan masalah yang sulit menjadi mudah. Ada kata-kata bijak yang mengatakan, bersama sahabat, dukacita menjadi setengahnya, dan sukacita menjadi dua kali ganda.

Dengan memerhatikan hal-hal tersebut, tahulah kita bahwa kehidupan kita hendaknya dipenuh dengan para sahabat dan persahabatan. Jangan sebaliknya, kehidupan kita sarat dengan para musuh dan permusuhan. Di dalam ikatan persahabatan, seorang sahabat dengan ikhlas membantu kita untuk mengatasi persoalan hidup yang terlalu berat untuk kita tanggung sendiri. Juga kita jumpai sikap sahabat kita, yang mengulurkan tangan untuk menolong kita. Persahabatan yang baik membangkitkan semangat hidup, saat kita putus asa dan mengangkat kita saat kita jatuh. Persahabatan memang tak ternilai harganya dalam kehidupan manusia. Karena itulah kita menyebut bahwa sahabat adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Menjadi tanggung jawab kita agar kita menjunjung tinggi nilai persahabatan dan menjaga hubungan yang baik dengan sahabat kita dalam situasi apa pun. Persahabatan dapat kita kembangkan dalam hubungan antarpribadi kita dengan pribadi yang lain, antarkeluarga kita dengan keluarga yang lain, bahkan antarbangsa kita dengan bangsa yang lain. Sekiranya hubungan-hubungan persahabatan itu dapat terjalin erat dan berkembang baik, masyarakat, negara, dan dunia akan dipenuhi dengan suasana damai sejahtera semata.

Alangkah indahnya, jika persahabatan itu dapat dimulai sejak anak kecil, berlanjut hingga remaja dan pemuda, berkembang sampai dewasa dan usia lanjut. Lalu terjadilah hubungan-hubungan yang akrab antarseluruh warga masyarakat, tua dan muda, besar dan kecil, kaya dan miskin. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pun penuh dengan ketenteraman, meliputi seluruh negeri kita. Amin. ***

*Penulis, pendeta Gereja Kristen Indonesia, Jalan Pasirkaliki Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 24 Februari 2007

Facebook Comments