Gunungsitoli, WASPADA Online
Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Gunungsitoli sangat memprihatinkan, terutama bagi keluarga miskin yang memiliki Kartu Jaringan Sosial (JPS) dan menjalani perawatan.

Mereka diwajibkan membayar sejumlah uang mencapai ratusan ribu rupiah. Akibatnya banyak pasien merasa resah terhadap pungutan liar oleh oknum petugas medis di rumah sakit tersebut. Beberapa pasien yang menjalani perawatan di RSU Gunungsitoli mengeluhkan tindakan oknum petugas di rumah sakit. “Petugas medis tidak akan melakukan pelayanan jika dana yang mereka minta mencapai ratusan ribu rupiah tidak dipenuhi walau kami memiliki kartu sehat dan telah mendapat rujukan dari Puskesmas,” kata sejumlah pasien keluarga miskin yang menjalani perawatan di RSU Gunungsitoli, kemarin.

Mereka mengaku, petugas bagian operasi berinisial MST memaksa mereka membayar antara Rp600-Rp800 ribu. Oknum MST mengatakan kepada keluarga pasien dana yang diminta untuk biaya benang operasi. Ada tiga pasien mengaku menjadi korban pungli oknum bagian ruang operasi itu masing-masing, Krilismalawati, 36, warga Kel. Lahewa Kec. Lahewa, Riadi Gulo, 22, warga Desa Hilimbuasi, Kec. Moi. Keduanya diwajibkan membayar Rp800 ribu dan Karina Laia, 29, warga Kec. Lolowau diminta membayar Rp600 ribu.

Erwin Polem, suami Krilismalawati, Rabu (21/2) di RSU Gunungsitoli menuturkan, sebelumnya istrinya menjalani perawatan di Puskesmas Lahewa namun karena fasilitas disana tidak memungkinkan untuk operasi, dokter di Puskesmas memberi rujukan ke RSU Gunungsitoli menjalani perawatan lebih insetif. Pada hari Senin (12/2) Krilismalawati sampai di RSU Gunungsitoli dan melapor kepada petugas bahwa dia mendapat rujukan dari Puskesmas Lahewa untuk menjalani perawatan, karena hendak melahirkan sambil melampirkan Kartu JPS sebagai bukti mereka keluarga miskin. Setelah dilakukan pemeriksaan kondisi pasien, ternyata Krilismalawati mengalami kelainan janin dalam rahimnya dan harus menjalani operasi.

Kondisi Krilismalawati saat itu sudah sangat kritis, namun petugas RSU Gunungsitoli berinisial MST menyampaikan kepada Erwin Polem selaku suami pasien tidak bisa dilakukan operasi jika belum membayar Rp800 ribu untuk biaya operasi. Walau suaminya Erwin Polem telah menjelaskan bahwa mereka dari keluarga miskin dan memiliki Karu Sehat serta tidak mampu menyediakan uang sebesar itu, namun petugas medis RSU Gunungsitoli tetap ‘ngotot’ mengatakan tidak akan dilakukan operasi sebelum menyediakan dana yang telah diminta.

Erwin Polem merasa bingung, untungnya salah seorang warga meras iba dan membantu meminjamkan uang sebesar yang diminta pihak RSU Gunungsitoli. Penuturan senada disampaikan keluarga pasien miskin lainnya masing-masing Faonasokhi Halawa, 25, dan istrinya Riadi Gulo, 22, serta Aronaso Halawa dan istrinya Karina Laia. Mereka mengaku telah menjadi korban pungli pihak RSU Gunungsitoli mencapai ratusan ribu rupiah.

Direktur RSU Gunungsitoli, dr. Yulianus Mendrofa, MARS didampingi Kepala Seksi Pelayanan dan penunjang Medis, Baziduhu Lase dikonfirmasi Waspada, Rabu (21/2) membantah bahwa pungli yang dilakukan oknum petugas bagian operasi tersebut merupakan petunjuk darinya dan hal itu sangat disesalkan. Karena menurutnya, setiap ada pertemuan sudah berulangkali menegaskan kepada seluruh petugas medis di RSU Gunungsitoli tidak diperbolehkan meminta uang kepada keluarga miskin yang memiliki JPS bila menjalani perawatan di RSU Gunungsitoli.

Saat didesak apa tindakan yang akan diambil, Mendrofa menjelaskan, pihaknya akan memberi teguran keras kepada oknum yang terbukti melakukan pungli tanpa menjelaskan bentuk tindakan yang akan diambil. Dia juga menegaskan, akan memerintahkan uang yang telah diminta kepada para pasien dikembalikan. Untuk menuntaskan masalah itu Waspada mendesak pihak RSU mengecek langsung pasien korban pungli.

Kasi Pelayanan dan Penunjang Medis RSU Gunungsitoli, Baziduhu Lase didampingi wartawan langsung menemui ketiga pasien korban pungli. Dihadapan para keluarga pasien dia mengatakan, sesuai perintah Direktur RSU uang yang telah diserahkan kepada oknum petugas bagian operasi segera dikembalikan.

Sejumlah masyarakat Nias menyesalkan terjadinya praktek pungli terhadap pasien yang memerlukan pertolongan. Mereka meminta Bupati Nias segera mengevaluasi kenerja Direktur RSU Gunungsitoli yang dinilai lalai melakukan pengawasan dan penertiban bawahannya karena praktek pungli disinyalir sudah lama terjadi. (cbj) (wns)

Sumber: Waspada Online, 23 Feb 2007

Facebook Comments