Rantauprapat (SIB)

Tiga sekeluarga korban penikaman menjadi terdakwa kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat. Terdakwa HL (50) dan dua anaknya didakwa membunuh korban Belala pada hari Senin (7/8/2006) di Dusun Aek Sippe, Bandar Tinggi, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu.

Setelah pemeriksaan saksi-saksi dalam kasus memilukan ini, Majelis Hakim Syamsudin SH, Lifiana Tanjung SH dan Melda Sitorus SH dibantu panitera pengganti Maramuda Siregar memeriksa dan mengambil keterangan ketiga terdakwa bapak-anak itu didampingi Penasihat Hukum Doritz Bidould Tampubolon SH, pada sidang, Selasa (20/2) di PN tersebut atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Jeki Kaban SH.

Ketiga terdakwa yang tidak lancar berbahasa Indonesia, sehingga majelis hakim meminta bantuan F. Waruwu untuk membantu menerjemahkan pertanyaan hakim yang menggunakan bahasa Indonesia serta apa yang disampaikan para terdakwa yang menggunakan bahasa Nias.

Terdakwa, LH beserta dua anaknya terdakwa OL (24) dan AL (22) penduduk Dusun Aek Sippe, Desa Bandar Tinggi, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, dibantu penerjemah F Waruwu (atas permintaan majelis hakim) di persidangan mengaku bahwa pada 7 Agustus 2006, masing-masing ditikam oleh korban Belala dengan menggunakan tombak. Ketika itu, terdakwa LH, OL dan AL dibantu 2 saudaranya mengambil papan dari rumah korban Belala karena papan dimaksud milik terdakwa yang dibongkar dan diambil Belala dari rumah terdakwa sewaktu rumah itu ditingalkan sementara.

“Saat itu saya ditikam korban, kemudian saya memanggil kedua anak saya untuk menolong saya,” kata terdakwa LH dengan bahasa Nias.

Katanya, setelah kedua anaknya datang menghampirinya, korban Belala menikami kedua anaknya dengan begitu ganas. Terdakwa LH tidak tahan melihat kedua anaknya diperlakukan sama dengannya, LH kembali bangkit setelah terduduk dan langsung mencabut pisau yang ada di pinggangnya. Pisau itu pun dihunuskan berkali-kali ke bagian dada dan perut korban karena sudah kalap.

Terus terang, terdakwa LH mengakui perbuatannya menikami korban berkali-kali sehingga korban tewas dalam waktu yang tidak lama. Dengan menetaskan air mata, ia juga menyesali perbuatannya.

Terdakwa OL yang mengaku ditikam korban dengan tombak besar, mengakui dengan menggunakan tangan menumbuk korban setelah ditikami ayahnya. Sedang terdakwa AL mengaku tidak berbuat apa-apa terhadap korban karena ia tidak berdaya lagi atas serangan korban yang menikamnya dengan tombak dimaksud. Terdakwa-terdakwa ini mengaku menyesali perbuatannya terhadap korban.

Dalam dakwaan pertama primer, JPU menjerat ketiga terdakwa dalam pasal 338 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP, subsider melanggar pasal 351 ayat 1 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dakwaan kedua melanggar pasal 170 ayat 2 ke-3 KUHP.

Seusai pemeriksaan ketiga terdakwa tersebut, Penasihat Hukum terdakwa menyatakan akan menghadirkan 2 saksi meringankan. Majelis hakim pun menunda persidangan sampai hari Selasa (27/2) mendatang. (ef/l)

Sumber: www.hariansib.com
Tanggal : Feb 20, 2007 at 09:37 PM

Facebook Comments