Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias

Thursday, February 22, 2007
By nias

Pengantar Redaksi: Wawancara Nias Portal dengan P. Johannes Hammerel OFMCap. berikut ditayangkan di Nias Portal tagl 15 Desember 2003, namun isinya masih tetap aktual. Pewawancara: R. Laia, Webmaster dan Pemimpin Redaksi Nias Portal yang dulu beralamat di: http://nias-portal.org.

Penelitian etnologis-antropologis tentang Nias telah berumur lebih 100 tahun. Tetapi sejak seratus tahun pula tidak banyak lagi yang terjadi. Kini Johannes Hämmerle ikut meramaikan dunia penelitian etnologis-antropologis tentang Nias tsb. dengan publikasi yang patut mendapat pujian.

Berikut ini adalah wawancara dengan ilmuan autodidak ini, yang dilakukan per email. Pertanyaan diajukan oleh Sdr. Raymond Laia dari Nias Portal. Tema adalah tese ilmiah baru tentang asal-usul orang Nias. Selamat menikmati.

***
Dengan buku “Asal-Usul Masyarakat Nias. Suatu Interpretasi” (2001), Pater Johannes telah meramaikan dunia ilmiah dengan tese baru. Apakah tese tsb.?

Tese tsb. hanya mau mengatakan, bahwa menurut keyakinan saya, orang Nias merupakan satu masyarakat yang multi-etnis. Tempo hari ada teman yang hendak mengoreksi judul buku saya menjadi “Asal usul suku Nias”. Tentu saja kutolak koreksi itu. Justru itu yang hendak dikatakan: Tiada satu suku Nias yang homogen. Yang menghuni pulau Nias sekarang ialah satu masyarakat yang terdiri dari sekian banyak suku atau etnis.

Jadi orang Nias yang sekarang bukanlah penghuni pertama Pulau Nias?

Bukan! Untuk sementara tak seorang pun mengetahui tempat tinggal penghuni Nias yang pertama pada zaman purbakala. Tiada pula orang yang mengetahui ciri khas penghuni pertama dan dari mana etnis pertama itu. Besar kemungkinan, bahwa keturunan dari penghuni pertama kini masih ditemukan di Nias, tetapi pasti tidak lagi sebagai satu suku yang hidup terpisah dari suku lain, melainkan sudah membaur dengan etnis-etnis lain yang kemudian memasuki pulau Nias.

Kemungkinan alternatif lain adalah:
» penghuni pertama tsb. telah meninggalkan Pulau Nias dan melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau lain, atau
» telah musnah oleh wabah, atau
» telah dimusnahkan oleh suku-suku lain yang memerangi mereka.

Pater juga mengansumsikan, bahwa yang biasa disebut “Suku Nias” itu, sebenarnya terdiri dari beberapa “etnis”?

Menurut asumsi saya, Pulau Nias ini tak pernah terisolir 100%. Karena itu diandaikan, bahwa Pulau Nias telah berkontak dengan dunia luar. Adalah kenyataan, bahwa sepanjang tahun arus lautan di antara deretan pulau-pulau di sebelah Barat Daya Sumatera dan Pulau Sumatera sendiri mengarah ke arah Tenggara. Tak heran, kayu balok dari Singkil di Sumatra Utara sering terdampar di Nias. Kalau kayu balok bisa terdampar di Nias, mengapa perahu-perahu layar tidak dapat terdampar di situ pula?

Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pada zaman glasial terakhir terdapat juga orang yang memasuki Nias dengan berjalan kaki. Karena pada zaman glasial belum ada Pulau Nias. Yang ada pada waktu itu adalah daratan Nias yang menyatu dengan daratan Sumatera dan seterusnya sampai Malaysia. Besar kemungkinan, bahwa dari waktu ke waktu ada pendatang baru di Nias, dan asal usul mereka sering dari etnis yang berbeda.

Bagaimana kisahnya Pater sampai pada ide, bahwa “bela” kemungkinan penghuni pertama Pulau Nias?

Saya tak pernah mengatakan secara definitif, bahwa “bela” adalah penghuni pertama. Tetapi “bela” kemungkinan tergolong di antara penghuni pertama Pulau Nias. Saya sampai pada ide, bahwa “bela” dapat diperhitungkan sebagai salah satu suku penghuni pertama Nias, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut:
a. Ada kemungkinan, bahwa anggapan “bela” sama dengan “albino” (suatu penyakit kekurangan pigmen, yang terdapat di seluruh dunia) merupakan salah pengertian. Jadi “bela” sebagai suku jauh berbeda dengan “albino”.
b. Di Sumatera Utara terdapat juga satu suku “primitif” yang disebut “belah” (bahasa Nias tidak pakai konsonan penutup). Siapa tahu, ada kaitannya dengan “bela” di Nias?
c. Sumber-sumber teks otentik, mulai dari Sulaiman (th. 851) s/d. Ibn Al-Wardi (th. 1340) bicara tentang banyaknya kaum di Nias yang berbeda-beda.
d. Ciri khas orang “bela”, mereka hidup di atas pohon, berkulit putih dan elok badannya.

Adakah tradisi lisan, mitos, atau sejenisnya yang memperkuat tese ini?

Tradisi lisan sangat mendukung tese ini. Saya paling dibantu dalam hal ini oleh Ama Rafisa Giawa dari desa Orahili di hulu sungai Gomo, tetapi juga oleh nara sumber lainnya di Nias Tengah. Menurut tradisi lisan, keenam putra dari ibu Sirici diturunkan di tempat yang berbeda-beda. Mungkin hal ini merupakan petunjuk, bahwa cara hidup ke-6 keturunan ini berbeda pula. Seorang di antara mereka jatuh di atas pohon, artinya kelompok tsb. hidup di atas pohon. Petunjuk lainnya adalah adanya dua silsilah keturunan di Nias (zwei Stammbäume), seperti telah didengar oleh para misionaris 130 tahun yang lalu. Silsilah pertama secara global dan sangat singkat melukiskan suku-suku yang telah mendiami Pulau Nias, mungkin sejak ribuan tahun. Sedangkan silsilah kedua mengandaikan manusia (“Niha”), yang baru ratusan tahun yang lalu memasuki Pulau Nias.

Apakah ada juga bukti ilmiah tentang hal ini?

Temuan ilmiah di bidang arkeologi berikut bisa dijadikan sebagai bukti ilmiah: Dalam buku Gua Tögi Ndrawa, Hunian Mesolitik di Pulau Nias. Berita Penelitian Arkeologi. No 8 – Balai Arkeologi Medan, 2002, Ketut Wiradyana menguraikan hasil penelitian arkeologis di Nias. Antara lain dikatakan: Pada garis besarnya, situs Gua Tögi Ndrawa dapat disebut sebagai bentuk hunian tertutup masa mesolitik. Tetapi penemuan arkeologis lain di sungai Muzöi digolongkan dalam paleolitik akhir atau awal mesolitik. (hlm. 68).

Petunjuk ke arah bukti ilmiah lain bisa diharapkan dari ilmu linguistik. Umpamanya Ibu Dr. Lea Brown dari Australia sudah banyak menaruh perhatian pada penelitian tata bahasa di Nias Selatan.

Bukti ilmiah lainnya kita diharapkan keluar dari hasil dari penelitian DNA, yang saat ini sedang berlangsung. Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht dari Westfälische-Wilhelms-Universität, Münster, Jerman, dengan bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias, Gunungsitoli, telah mengumpulkan sampel DNA dari 785 orang Nias. Karena jumlah penduduk Nias sekitar 700.000 orang, itu berarti per 1.000 orang Nias sudah terdapat satu sampel DNA. Saat ini sedang dipersiapkan Bank Data DNA orang Nias. Penelitian DNA seterusnya di institut khusus di Berlin, Leipzig atau Köln masih menyusul. Penelitiannya berjalan lambat, karena biaya mahal. Biaya penelitian satu sampel DNA adalah 500 EURO. Bukan main!

Tags:

23 Responses to “Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias”

Pages: [1] 2 3 » Show All

  1. 1
    Yupiter Bago Says:

    P. Johannes Hammerle OFMCap. : Saya sampai pada ide, bahwa “bela” dapat diperhitungkan sebagai salah satu suku penghuni pertama Nias, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut:

    1. Ada kemungkinan, bahwa anggapan “bela” sama dengan “albino” (suatu penyakit kekurangan pigmen, yang terdapat di seluruh dunia) merupakan salah pengertian. Jadi “bela” sebagai suku jauh berbeda dengan “albino”.
    2. Di Sumatera Utara terdapat juga satu suku “primitif” yang disebut “belah” (bahasa Nias tidak pakai konsonan penutup). Siapa tahu, ada kaitannya dengan “bela” di Nias?
    3. Sumber-sumber teks otentik, mulai dari Sulaiman (th. 851) s/d. Ibn Al-Wardi (th. 1340) bicara tentang banyaknya kaum di Nias yang berbeda-beda.
    4. Ciri khas orang “bela”, mereka hidup di atas pohon, berkulit putih dan elok badannya.

    Pertanyaan: Mohon penjelasan lebih rinci dan lanjut, bagaimana hubungan yang logis antara “bela sebagai salah satu suku penghuni pertama Nias” dengan ke-empat butir (a, b, c, d) pertimbangan?

    Kelihatannya ada kekaburan atau tidak “nyambung” antara pernyataan (bela penghuni pertama) dan argumentasi (4 butir pertimbangan).

  2. 2
    Uchi Bate'e Says:

    Menurut Edward B. Tylor (1984), asal-mula religi adalah kesadaran manusia akan adanya jiwa. Pada tingkat tertua, manusia percaya akan adanya makhluk-makhluk halus yang menempati alam di sekeliling tempat-tinggalnya. Makhluk halus itu menjadi obyek penghormatan dan penyembahan manusia (disertai berbagai upacara berupa doa, sajian, atau korban). Religi ini disebut Tylor: animism.

    Pada tingkat kedua, manusia yakin bahwa gerak alam yang hidup disebabkan adanya jiwa di belakang peristiwa dan gejala alam. Misalnya: sungai yang mengalir dan terjun ke laut, gunung yang meletus, gempa bumi, angin taufan, gerak matahari, tumbuhnya tumbuh-tumbuhan; semuanya disebabkan makhluk halus yang menempati alam. Jiwa alam ini kemudian dipersonifikasi menjadi dewa-dewa alam.

    Pada tingkat ketiga, bersama dengan timbulnya “susunan kenegaraan” dalam masyarakat manusia, timbul pula keyakinan bahwa dewa-dewa alam itu juga hidup dalam “susunan kenegaraan” serupa dunia manusia. Susunan ini lambat-laun menimbulkan kesadaran akan adanya dewa yang tertinggi.

    Tingkat terakhir evolusi religi manusia adalah timbulnya religi monoteisme (keyakinan pada satu Tuhan).

    Bahan diskusi:
    Dengan merujuk “teori evolusi religi” dari Tylor, maka ada dua hal yang krusial menjadi bahan diskusi, yaitu:

    1. Besar kemungkinan, tradisi lisan “ibu Sirici” bukanlah tentang manusia, melainkan tentang “makhluk-makhluk halus”.
    2. Dua silsilah keturunan di Nias yang didengar oleh para misionaris merupakan dua silsilah yang berbeda: yang satu merupakan silsilah manusia, sedangkan yang lainnya adalah silsilah “makhluk-makhluk halus”.

    Bila pendapat di atas benar, dengan dasar teori yang relatif lemah tentang manusia Nias, maka dipertanyakan: bagaimana validitas pengambilan sampel dalam penelitian DNA ini?

    Sumber: Tylor, “Primitive Culture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Language, Art and Custom“, 1874.

  3. 3
    Dirman Waruwu Says:

    Manusia kuno punya keyakinan pada berbagai macam makhluk halus (penjelmaan jiwa orang yang telah meninggal dunia) yang dianggap menempati dua tempat.

    Ada yang hidup di suatu negara makhluk halus: di sebuah pulau di seberang laut, di pucuk gunung yang tinggi, di hutan rimba yang gelap, di dalam bumi yang dapat dicapai lewat sebuah lubang atau sebuah gua, dll. Ada pula makhluk halus yang tinggal dekat kediaman manusia: di pohon yang besar, di suatu mata air, di suatu persimpangan, di suatu pelangi, dll.

    Makhluk halus itu berpengaruh penting pada kehidupan manusia, karena mereka punya kemauan sendiri (gembira bila diperhatikan manusia, dapat pula sedih bila diabaikan).

    Manusia menggolongkan mereka menjadi: yang jahat (wujudnya mengerikan) dan yang baik (wujudnya menarik hati).

    Sistem keyakinan adanya makhluk halus ini disebut “spiritisme”.

    Sumber: Kruyt, Het Animisme in den Indischen Archipel, 1906.

  4. 4
    Herman Zalukhu Says:

    Tradisi lisan yang disampaikan Faustinus Fatihuku Giawa (Ama Rafisa) dalam buku “Hikaya Nadu” (hal. 147) karya Pastor Hammerle:

    “Idada tou fabaya osali, idada fabaya nahia, idada hulö simane köfa, idada hulö simane omo fao awö niha bakha. Idada rawi-rawi lö aefa. Ibe wato si lö fasulöna. Fondrada ono ninada Nazaria, na’ötö ya’ita, ono niha fefu. Nidada göi nono ninada Sirici. Oninia fefu si da’önö ya’ia da’ö:
    Ira Belada si so ba hogu geu.
    Ira Nadoya, Gado ba Bekhua,
    Cuha Naröfa ba Siburuci Hörö Lawu-lawu.”

    Bila mengacu pada “teori evolusi religi” (Tylor) dan “spiritisme” (Kruyt), maka dengan sedikit teliti membaca teks tersebut, tradisi lisan versi Ama Rafisa ini mudah kita tafsirkan sebagai: “keturunan ibu Nazaria adalah manusia (ya’ita ono niha fefu), sedangkan keturunan ibu Sirici adalah para makhluk halus”.

    Namun, dalam buku “Asal Usul Masyarakat Nias” yang juga karya Pastor Hammerle, beliau (Pastor Hammerle) menafsirkan bahwa keturunan ibu Sirici adalah etnis tertentu dari manusia (bukan makhluk halus). Contohnya: Bekhua diduga adalah orang Bugis (hal. 54), Bela dihubungkan dengan Belah di Suku Gayo (hal. 55), Cuhanaröfa dihubungkan dengan keturunan Gözö (hal. 57).

    Wah… jadi ramai tafsir-menafsir kita mengenai asal-usul orang Nias ini.

  5. 5
    Yeremia Tel. Says:

    Sistem keyakinan dalam suatu religi adalah pikiran dan gagasan manusia tentang: wujud dari alam gaib (kosmologi), terjadinya alam dan dunia (kosmogoni), zaman akhirat (eskatologi), dan wujud kekuatan sakti (roh nenek-moyang, roh alam, dewa-dewa, roh jahat, hantu, dan makhluk-makhluk halus lainnya).

    Menurut Faogöli Harefa (“Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias”, hal. 118-119):
    Orang Nias kuno takut dan menghormati arwah ibu-bapak dan nenek-moyang. Mereka membuat adu (Zatua, Nuwu) untuk dipuja/disembah. Orang Nias juga takut pada setan dan hantu, seperti: hantu gunung, hantu gua [bekhu narö hili ba sigelo danö]; bukan karena disayang melainkan karena merusak. Gunung, batu besar, batang kayu, dll disembah karena setan dan hantu dipercaya berdiam di situ.

    Sesuai dengan sistem keyakinan religi Nias kuno, tradisi lisan ibu Sirici barangkali dapat diparalelkan dengan hoho Ama Rozaman tentang “Börö Gotari Mbekhua ba Fökhö Fatiusa Nadaoya” (Asal Muasal Iblis dan Bala Penyakit Kedengkian Setan).

  6. 6
    Desi Zega Says:

    Rame nih di sini… diskusi tentang “manusia” dan “makhluk halus”…

    Klo Bekhua dihubungkan dengan Bugis, dan Belah dengan Aceh… kayaknya menimbulkan pertanyaan, “bener gak sih?”.

    Konon kabarnya Maru (Bugis) dan Polem (Aceh) belum lama-lama amat masuk Nias (baru sekitar 6-7 keturunan). Mungkin keturunan Bugis dan Aceh yang lain dan lebih kuno ya…

    Yaahowu fefu!

  7. 7
    Teuku Wira Alam Says:

    Klo Bekhua dihubungkan dengan Bugis, dan Belah dengan Aceh… kayaknya menimbulkan pertanyaan, “bener gak sih?”.

    Apa hubungannya mbak Desi…?

    Konon kabarnya Maru (Bugis) dan Polem (Aceh) belum lama-lama amat masuk Nias (baru sekitar 6-7 keturunan).

    Menurut catatan tambo lama dari leluhur kami baik Aceh maupun Chaniago (saya sendiri darah campuran Aceh+Chaniago+Harefa), kami sekarang sudah generasi yang ke 11. Jika setiap generasi kita hitung 35 tahun, itu artinya 385 th y.l. Sesuai dengan catatan tambo leluhur kami bahwa generasi awal Polem dan Chaniago yang menetap di Nias adalah pada abad ke 16 (2007-385=1622).

    Mungkin keturunan Bugis dan Aceh yang lain dan lebih kuno ya …

    Saya belum memperoleh sumber lain yang menyebutkan apakah ada generasi sebelum Polem (Bugis dan Aceh) yang telah lebih dahulu tiba di Nias.

    Riwayat tentang kedatangan suku Aceh dan Minang di Nias dapat dibaca diblog kami: http://history.muslim-nias.org

    Ya’ahowu.

  8. 8
    Yupiter Bago Says:

    Teuku Wira Alam Says:
    Klo Bekhua dihubungkan dengan Bugis, dan Belah dengan Aceh… kayaknya menimbulkan pertanyaan, “bener gak sih?”.
    Apa hubungannya mbak Desi…?

    Mbak Desi Zega justru “mempertanyakan hubungan itu”.
    Karena yang menghubungkannya adalah Pastor Johannes Hammerle dalam buku “Asal Usul Masyarakat Nias”, yaitu: Bekhua diduga adalah orang Bugis (hal. 54), Bela dihubungkan dengan Belah di Suku Gayo (hal. 55), Cuhanaröfa dihubungkan dengan keturunan Gözö (hal. 57).
    Mari kita teruskan pertanyaan tersebut kepada Pastor Johannes Hammerle.

    Sebagai tambahan info buat bang Teuku Wira Alam, lazimnya dalam dunia antropologi, satu generasi dihitung 25 tahun.

    Salam dari Solo, Yaahowu!

  9. 9
    Jenk Iskhan Says:

    Teuku Wira Alam menulis: Klo Bekhua dihubungkan dengan Bugis, dan Belah dengan Aceh… kayaknya menimbulkan pertanyaan, “bener gak sih?”. Apa hubungannya mbak Desi…?

    Pertanyaan mbak Desi mengacu info Herman Zalukhu (# 4). Dalam buku “Asal Usul Masyarakat Nias”, Pastor Hammerle menduga Bekhua adalah orang Bugis (hal. 54), Bela dihubungkan dengan Belah di Suku Gayo (hal. 55), Cuhanaröfa dihubungkan dengan keturunan Gözö (hal. 57).

    Maka mari kita sama-sama tanya Pastor Hammerle: “Apa hubungannya Pastor…?”

    Dalam dunia antropologi, 1 generasi lazim dihitung 25 tahun. Sebutir info buat Teuku Wira Alam.

  10. 10
    Taroni Gea Says:

    Saya sudah membaca-baca blog-nya bung Teuku Wira Alam. Sekalian nih saya ingin konfirmasi tentang marga Duha.

    Menurut Pastor Hammerle (Asal Usul Masyarakat Nias, hal 226):
    “Keturunan dari Polem di daerah To’ene cukup banyak. Mulai dengan cucu Polem yang diberi nama Duha, maka keturunannya digelari dengan marga Duha. Selama 13 keturunan itu marga Duha sudah banyak berasimilasi dengan suku-suku Nias lainnya”.

    Benarkah marga Duha yang di Nisel itu adalah keturunan leluhur Polem? Kapan mereka migrasi ke Nisel?

    Klarifikasi ini perlu, karena saya amati, di Nias ada beberapa nama mado yang kebetulan sama, tapi silsilahnya berbeda (tidak berhubungan). Misal: D(T)elaumbanua, Harefa, atau Halawa, di Nisel dan Nias adalah keturunan yang berbeda (yang kebetulan nama madonya mirip atau sama).

Pages: [1] 2 3 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728