Rumah Nias Selatan – Foto-foto Koleksi Mahatmanto* (1995)

Catatan Redaksi: Beberapa pengunjung meminta gambar-gambar rumah adat Nias. Redaksi tidak memiliki koleksi khusus foto-foto rumah adat Nias. Artikel berikut memuat foto-foto rumah adat Nias Selatan koleksi Mahatmanto (1995).

nullRumah adat dari kepala desa adat Bawömataluo ini terletak tepat pada sumbu jalan di sana. Seperti diketahui Desa Bawömataluo telah mengembangkan pola penataan desanya dari linier yang bersahaja menjadi bercabang membentuk huruf ‘T’ [dan kemudian berkembang lagi menjadi seperti ‘+’]. Peletakan rumah yang sedemikian memberi jaminan akan keagungannya. Rumah yang paling besar dan paling tinggi ini pantas bila diletakkan sebagai pengakhiran sumbu jalan. Dari tingkap atap rumah ini dapatlah dilihat seantero Desa Bawömataluo. Suatu fasilitas yang hanya diberikan pada seorang kepala desa yang harus memberi mengawasi dan jaminan keamanan pada seluruh warga desanya.

null

Omo Sebua di Bawömataluo, dipotret dari bale di seberangnya. Di bale ini orang berkumpul dan bermusyawarah. Karena masyarakat Nias – juga kebanyakan masyarakat di Nusa – ntara – tidak mengenal kursi, maka lantai kayu dari bale ini dihaluskan sehingga nyaman untuk duduk. Dari posisi duduk di bale ini, Omo Sebua sebagai rumah terbesar di desa Nias, nampak terbingkai dalam keagungannya.

nullRumah Nias Selatan terangkai atas unit-unit rumah yang berimpitan satu dengan lainnya secara linier. Rangkaian panjang itu menjamin stabilitasnya dari goyangan gempa. Stabilitas itu juga didukung oleh sistem penyangga yang miring seperti huruf ‘V’, suatu inovasi khas nias dengan kayu berukuran besarnya. Gambar ini memerlihatkan perbedaan ketinggian antara rumah satu dengan sebelahnya. Ada dugaan, rumah ada nias masa kini semakin memendek karena semakin sulit mencari kayu ukuran besar sebagaimana dipersyaratkan oleh adat.

null

Diwa, balok miring yang ter – buat dari kayu manawa danö dalam ukuran besar ini mem – beri jaminan kestabilan rumah Nias Selatan dari goyangan gempa. Gempa dalam ilmu bangunan diperlakukan sebagai gaya yang bekerja secara lateral, mendatar, berbeda dari gaya yang berasal dari pembebanan yang bekerjanya dari atas ke bawah. Gaya lateral harus ditangani oleh sistem struktur yang miring sebagaimana sudah ditemukan lewat tradisi membangun masyarakat Nias Selatan sejak dulu kala.

null
Di depan rumah kepala desa, ditata banyak sekali batu-batu besar yang didirikan berkaitan dengan peristiwa penting secara komunal di desa itu. Batu dan kayu adalah bahan bangunan yang dominan di desa Nias Selatan. Bila kayu hanya dipakai untuk bangunan dan interiornya, maka batu digunakan untuk kegiatan outdoor. Untuk perkerasan jalan, alas kolom, saluran air, pagar maupun gerbang digunakan batu. Sebagai alas kolom batu tidak dikonsepkan sebagai pondasi. Arsitektur Nias tidak mengenal konsep pondasi yang ditanam di dalam tanah. Bangunan – dengan demikian – hanya diletakkan begitu saja di atas batu sebagai alasnya.

* Mahatmanto adalah arsitek, peneliti dan dosen di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta.

Artikel ini dimuat di Blog Yaahowu, 4 Desember 2005

Komentari

invokavit dachi says:

ya’ahowu,..,

bolehkah,.,
kamu menampakan rumah adat Hilisimaetano.,,.,.
pada tahun 1970-an.,,.,..,

Saohagolo.,,.

Tita duha says:

Sya ska dgn rmh adat nias.