Memulihkan Martabat

Saturday, February 17, 2007
By nias

Oleh Pdt. BAMBANG PRATOMO

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata”, ’Siapakah yang Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’, Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” [Yesaya 6:8]

KETIKA bencana bertubi-tubi melanda negeri kita, muncul pertanyaan: Sudah sedemikian burukkah negeri kita sampai menjadi kubangan lumpur penderitaan bagi sebagian penghuninya? Martabat manusia telah hancur tak hanya karena rumah roboh, harta benda sirna, tetapi juga karena semangat hidup merosot, rasa kesetiakawanan tak lagi mampu dipertahankan. Kehidupan bersama berubah menjadi kehidupan sendiri-sendiri dalam sikap ketidak-pedulian. Lalu muncul tayangan televisi yang memilukan berupa keributan, kesimpang-siuran menyalurkan bantuan, berebut nasi bungkus dan mi instan, protes di sana-sini akibat lambannya penanganan, dan sebagainya. Belum lagi tindakan yang dirasakan tidak adil dan tebang pilih akibat praktik keserakahan orang.

Mengapa hal itu terjadi? Kita tak usah mencari jawabannya dari rumput yang bergoyang. Sebaliknya kita semua perlu mawas diri untuk merenungkan tentang apa yang dapat kita kerjakan sebagai sebuah bangsa yang telah cukup lama merdeka dalam mengatasi permasalahan memulihkan martabat kemanusiaan kita.

Untuk maksud tersebut, kita perlu belajar dari sikap nabi Yesaya yang hidup pada zaman dahulu kala, ketika umat Allah mengalami kemerosotan rohani. Mereka mencemarkan kekudusan Allah, mereka melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum-Nya, juga sikap dan kata-kata hujatan mereka terhadap Allah menjadi peristiwa sehari-hari. Karenanya, Nabi Yesaya berseru : “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku seorang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir!” (Yesaya 6 : 5).

Hal itu terjadi di semua lingkungan mulai dari sosial, politik, ekonomi hingga keagamaan. Dalam situasi demikian, nabi Yesaya dipanggil dengan tugas untuk memperbaiki keadaan, membangun kembali hubungan antara umat Allah dengan Allahnya, dan antaranggota umat sendiri.

Semula, Nabi Yesaya tidak sanggup memikul tugas yang berat itu, terlebih ia harus menyampaikan teguran yang keras atas dosa-dosa bangsanya. Juga karena kenajisan bibirnya tak memungkinnya tampil selaku nabi Tuhan. Bukankah ibarat sapu yang kotor mustahil dapat membersihkan lantai yang juga kotor? Kendati ia dapat membaca situasi bangsanya yang sedang terpuruk dalam kehancuran, namun ia membutuhkan kekuatan khusus untuk dapat melaksanakan tugas itu. Ternyata Allah menyucikan bibirnya, mempersiapkan dan memperlengkapinya untuk maju dan memikul tugas yang berat itu.

Memang dimulai dahulu dari pribadi nabi Yesaya yang disucikan dari kenajisannya, barulah ia dapat bertugas untuk memperbaiki kehidupan bangsanya. Lantas nabi Yesaya pun berani berseru :”Ini aku, utuslah aku!” Sebuah tekad ada di dalam diri nabi Yesaya, sehingga ia pun siap untuk melakukan tugas yang berat itu.

Dengan cara bagaimana nabi Yesaya hendak melaksanakan tugasnya? Pertama-tama ia memohon kekuatan dan hikmat dari Allah yang memanggilnya. Berikutnya ia mengemban amanat Allah dengan penuh keyakinan, ia menjadi hamba-Nya. Selanjutnya dengan mantap ia bertindak : menegur dan menasihati umat Allah, agar mereka bertobat. Tentu tugas ini berat, namun dengan kekuatan Allah nabi Yesaya dimampukan untuk melaksanakannya.

Mengacu kepada panggilan Allah atas diri Nabi Yesaya, siapakah yang seharusnya bertugas seperti dia di tengah bangsa Indonesia pada masa kini? Sepintas tentu para pemimpin kita, yang seyogyanya bertugas untuk memulihkan martabat bangsa kita. Namun tanpa peranan setiap anak bangsa, niscaya tak mungkin tugas memulihkan martabat itu terlaksana secara baik. Dengan demikian menjadi jelas bagi kita, bahwa tugas itu sebenarnya ada pada pundak kita masing-masing. Paling sedikit, jika kita merasa tidak mampu melaksanakan tugas itu, kita tidak menambah berat beban kerusakan negeri kita. Atau kita berseru memohon pertolongan Allah untuk memampukan kita melaksanakan tugas itu.

Kita bersyukur, dalam kesulitan mengatasi akibat bencana, ada orang-orang kita, anak-anak bangsa, yang tergerak hatinya untuk bergotong royong membersihkan sampah dan lumpur akibat banjir. Juga ikut serta mengangkat mayat-mayat yang tertimbun longsoran. Muncul kelompok ibu-ibu yang dengan ikhlas membuka dapur umum atas biaya mereka sendiri.

Belum lagi para petugas medis yang dengan rela membuka tenda pengobatan untuk siapa saja yang menderita sakit, mulai dari muntaber, demam berdarah, gatal-gatal, infeksi saluran pernapasan atas, dan lain-lain. Kesemuanya kita nilai sebagai bentuk solidaritas kepada mereka yang menderita. Memang kita akan lebih bersyukur lagi, sekiranya bencana akibat ulah manusia dapat dihindarkan, antara lain dengan tidak membabat hutan, tidak melempar sampah ke sungai, ikut menjaga agar gorong-gorong tidak tersumbat, tidak membuang limbah sembarangan. Orang yang berada, membagi sebagian hartanya untuk mengatasi kemiskinan mereka yang tak mampu. Selanjutnya, seluruh bangsa kita membangun persaudaraan yang rukun dan kerja sama yang sungguh-sungguh dalam menghadapi bencana akibat ulah alam yang tak dapat kita hindari. Dengan demikian kita dapat meminimalkan dampak dan akibatnya bagi penderitaan rakyat.

Mudah-mudahan sikap hidup dan kesediaan memikul beban tugas itu ada dalam hati seluruh bangsa, sehingga penderitaan betapa pun beratnya dapat kita atasi bersama. Sebagaimana ucapan nabi Yesaya, itulah juga yang kita ucapkan :”Ini aku, utuslah aku!”. Lalu rasa optimisme untuk memulihkan dan membangun negeri senantiasa kita miliki, dan pada tahun-tahun yang akan datang dapat kita nikmati hasilnya. Bahkan juga anak cucu kita pun dapat ikut merasakan nikmatnya suasana hidup tersebut. Bukankah kerinduan semacam itu yang diharapkan oleh para anak cucu kita? Karenanya, laksanakan semua tugas untuk memperbaiki keadaan yang buruk ini, juga demi masa depan anak cucu kita. Amin.***

Penulis, pendeta Gereja Kristen Jawa Kiaracondong Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 17 Februari 2007

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728