Lahan Petani Nisel Seluas 135 Hektar Bercampur Air Laut Kembali Berproduksi

Saturday, February 17, 2007
By nias

*Sempat Gagal Panen

Medan, (Analisa)

Bencana gempa dan tsunami tidak hanya menghancurkan rumah maupun harta benda masyarakat. Tsunami yang juga melanda di Pulau Nias, khususnya Nias Selatan telah menggagalkan para petani untuk menikmati hasil panen padi.

Ketika tsunami melanda Nias, sedikitnya 135 hektar lahan padi di empat Kecamatan yakni, Teluk Dalam, Lahusa, Lolowau dan Gomo di Kabupaten Nias Selatan bercampur dengan air laut.

“Dengan tingginya kadar garam di dalam tanah tentu saja mengakibatkan padi yang baru ditanam oleh para petani jadi mati dan masyarakat sempat gagal panen,” kata Ir Lukas Sebayang Peneliti di Kelompok Seksi (Kelsi) Budi Daya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut yang menangani persoalan lahan di Nisel tersebut kepada Analisa, baru-baru ini.

Dengan kondisi ini, BPTP Sumut kemudian diminta untuk melakukan pengkajian terhadap tanah yang sudah bercampur garam itu. Setelah dilakukan pengkajian, memang ditemukan daya hantar listrik pada sampel tanah yang diambil masih sangat tinggi.

Beruntung, usai bencana, curah hujan di Nisel lumayan tinggi. Dengan kondisi tersebut, air garam yang bercampur dengan lahan padi berangsur berkurang.

“Kami kembali melakukan pengukuran terhadap tanah yang bercampur air garam itu, ternyata tingkat salinitasnya sudah jauh berkurang dan kondisi itu sudah tidak membahayakan untuk bertanam padi,” terang Lukas.

TIDAK BERBAHAYA
Setelah diketahui kondisi tanah mulai tidak berbahaya di tanami padi, Badan Litbang BPTP kemudian memberikan bantuan berupa teknologi pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Pendekatan PTT yang dilakukan itu adalah para petani menggunakan varietas unggul dan berlabel yang lahannya tahan bercampur air asin, seperti ciherang, Banyuasin dan Kapuas.

“Selama ini para petani menggunakan produk lokal yang produktifitasnya rendah. Karena itu kita perkenalkan varietas ini kepada mereka,” tutur Lukas seraya menambahkan bantuan teknologi lainnya yang diberikan BPTP kepada para petani adalah bagaimana cara menghasilkan bibit muda, melakukan pemupukan, menggunakan bahan organik, mengolah tanah sempurna hingga pasca panen.

“Kini para petani sudah dapat menikmati hasil panen padi mereka, dengan penerapan teknologi yang kita sampaikan,” tandas Lukas. (mc)

Sumber: Analisa Online, 17 Februari 2007

2 Responses to “Lahan Petani Nisel Seluas 135 Hektar Bercampur Air Laut Kembali Berproduksi”

  1. 1
    Restu Jaya Duha Says:

    Kami hendak menanggapi berita di atas dan hendak mempertanyakan berita ini, bahwa menurut sumber Ir Lukas Sebayang Peneliti di Kelompok Seksi (Kelsi) Budi Daya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut dituliskan begini:

    1. Ketika tsunami melanda Nias, sedikitnya 135 hektar lahan padi di empat Kecamatan yakni, Teluk Dalam, Lahusa, Lolowau dan Gomo di Kabupaten Nias Selatan bercampur dengan air laut.

    Daerah manakah di Lahusa, Lölöwa’u dan Gomo yang diterjang Tsunami pada tahun 2004?
    Seingat kami, hanya di daerah Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan (sesuai konteks ini), Sirombu, Mandrehe dan beberapa desa di Lahewa dan Tuhemberua di Kabupaten Nias.

    2. Dengan tingginya kadar garam di dalam tanah tentu saja mengakibatkan padi yang baru ditanam oleh para petani jadi mati dan masyarakat sempat gagal panen

    Apakah akibat Tsunami tersebut di ataskah yang menyebabkan tanah berkadar garam tinggi di daerah yang dituliskan oleh berita ini?

    3. Apakah nara sumber ini yang menyatakan demikian?
    Semoga pemberitaan seperti ini dikaji dan ditulis lebih baik lagi, bukan hanya asal termuat di koran.

    4. Selamat kami ucapkan kepada Ir. Sebayang yang mau bersusah-payah mengurus kepulauan Nias di bidang Pertanian.

    Ya’ahowu.

    Restu Jaya Duha & Noniawati Telaumbanua

  2. 2
    Lukas Sebayang Says:

    Kepada Yth,

    Sdr. Restu Jaya Duha
    d/a Redaksi situs Yaahowu

    Dengan hormat,

    Saya mau klarifikasi soal berita di Harian Analisa tgl 17 Februari 2007 yang lalu, tentang Lahan Petani Nisel Seluas 135 Ha bercampur air laut kembali berproduksi.

    Bahwa data 135 ha itu saya peroleh dari Data Dinas Pertanian dan Kehutann Nisel tahun 2005 dalam bentuk tabel menurut kecamatan dan judul data itu adalah “lahan pertanian yang rusak akibat gempa dan tsunami di Nisel” jadi penyajian datanya secara global tidak terperici secara detail mana-mana lahan pertanian yang rusak secara fisik mana yang rusak secara kimia akibat lahan sawah terendam air laut/garam. Jadi datanya global, selain lahan sawah/padi, juga data komoditas di kolom lain ditampilkan seperti karet, coklat dan lain-lain.

    Jadi benar yang saudara katakan dan saya tau itu bahwa hanya Kec. Teluk Dalam di kab. Nisel, sirombu, Mandrehe dan beberapa desa di lahewe dan Tuhemberua di Kab. Nias.

    Waktu kami berkonsultasi dengan Dinas Pertanian Nisel tentang lokasi yang akan kami kaji kami diarahkan ke kec. Teluk Dalam Desa Botohilitano berseberang jalan dengan Sorake beach pada tahun 2005 dan 2006 dan dari hasil kajian kami salinitas/kadar garam disitu sudah rendah 0,039 – 0,266 mmhos/cm3 (data lab. BPTP Sumut) dan tanaman padi kami tanam beproduksi baik.

    Saya sangat konsen dengan Nias dan Nias Selatan karena merupakan wil. NKRI. Walaupun saya bukan dari etnis Nias tapi saya punya saudara-saudara org nias yang perlu dibina dan dibangun sumber daya alam dan manusianya.

    Demikian klarifikasi dari saya semoga berguna untuk kita semua,

    Ya’ahowu…

    Hormat Kami

    Lukas Sebayang

    *Catatan: Komentar Restu Jaya Duha diteruskan Redaksi pada tanggal 20 Februari 2007 ke alamat email Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara. Komentar di atas adalah jawaban dari Lukas Sebayang yang diterima Redaksi pada tgl 1 Maret 2007.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728