*Sempat Gagal Panen

Medan, (Analisa)

Bencana gempa dan tsunami tidak hanya menghancurkan rumah maupun harta benda masyarakat. Tsunami yang juga melanda di Pulau Nias, khususnya Nias Selatan telah menggagalkan para petani untuk menikmati hasil panen padi.

Ketika tsunami melanda Nias, sedikitnya 135 hektar lahan padi di empat Kecamatan yakni, Teluk Dalam, Lahusa, Lolowau dan Gomo di Kabupaten Nias Selatan bercampur dengan air laut.

“Dengan tingginya kadar garam di dalam tanah tentu saja mengakibatkan padi yang baru ditanam oleh para petani jadi mati dan masyarakat sempat gagal panen,” kata Ir Lukas Sebayang Peneliti di Kelompok Seksi (Kelsi) Budi Daya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut yang menangani persoalan lahan di Nisel tersebut kepada Analisa, baru-baru ini.

Dengan kondisi ini, BPTP Sumut kemudian diminta untuk melakukan pengkajian terhadap tanah yang sudah bercampur garam itu. Setelah dilakukan pengkajian, memang ditemukan daya hantar listrik pada sampel tanah yang diambil masih sangat tinggi.

Beruntung, usai bencana, curah hujan di Nisel lumayan tinggi. Dengan kondisi tersebut, air garam yang bercampur dengan lahan padi berangsur berkurang.

“Kami kembali melakukan pengukuran terhadap tanah yang bercampur air garam itu, ternyata tingkat salinitasnya sudah jauh berkurang dan kondisi itu sudah tidak membahayakan untuk bertanam padi,” terang Lukas.

TIDAK BERBAHAYA
Setelah diketahui kondisi tanah mulai tidak berbahaya di tanami padi, Badan Litbang BPTP kemudian memberikan bantuan berupa teknologi pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Pendekatan PTT yang dilakukan itu adalah para petani menggunakan varietas unggul dan berlabel yang lahannya tahan bercampur air asin, seperti ciherang, Banyuasin dan Kapuas.

“Selama ini para petani menggunakan produk lokal yang produktifitasnya rendah. Karena itu kita perkenalkan varietas ini kepada mereka,” tutur Lukas seraya menambahkan bantuan teknologi lainnya yang diberikan BPTP kepada para petani adalah bagaimana cara menghasilkan bibit muda, melakukan pemupukan, menggunakan bahan organik, mengolah tanah sempurna hingga pasca panen.

“Kini para petani sudah dapat menikmati hasil panen padi mereka, dengan penerapan teknologi yang kita sampaikan,” tandas Lukas. (mc)

Sumber: Analisa Online, 17 Februari 2007

Facebook Comments