Representasi Nilai Budaya Nias Dalam Tradisi Lisan

Thursday, February 15, 2007
By Berkat

Oleh Dr Sady Telaumbanua MPd MA

Pendahuluan
Tulisan ini diangkat dari makalah saya dalam sebuah seminar budaya Nias yang diselenggarakan di Gunungsitoli pada 27-28 November 2006 oleh Lembaga Budaya Nias. Tentu saja di sana-sini terdapat beberapa penyesuaian setalah mendapat masukan dari peserta seminar. Pertanyaan pemandu pembahasan ialah, “Bagaimana wujud nilai budaya Nias? Apa makna yang terdapat di dalamnya?” Kedua pertanyaan inilah yang akan dipaparkan secara ringkas dalam tulisan ini.

Wujud Nilai Budaya Nias
Pengertian budaya atau kebudayaan hingga kini masih menjadi pembahasan para ahli budaya (antropolog). Tidak mengherankan apabila setiap pakar budaya memiliki pengertian yang berbeda-beda. Dalam kepelbagaian itu terdapat benang merah pemahaman bahwa budaya adalah sebuah aktivitas, respon, jawaban atas persoalan hidup sekaligus sebagai pedomana, arah, kompas dalam bertindak atau berperilaku.

Salah satu aspek penting yang selalu menjadi perhatian pakar budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan nilai budaya. Konsep ini menjadi sentral ketika berbicara tentang budaya. Tidak sedikit para pakar budaya yang mengatakan bahwa roh sebuah kebudayaan sebenarnya terletak pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Orang dapat saja menciptakan karya monumental dalam bidang budaya, katakanlah rumah adat, menhir, adat istiadat dan sebagainya, jika tidak memuat nilai-nilai tertentu, ia sama saja dengan mesin-mesin atau robot yang kering akan nilai-nilai budaya.

Dengan demikian, apa yang dimaksud dengan nilai budaya? Banyak pengertian tentang nilai. Salah satu di antaranya yang mengatakan sebagai konsepsi ideal atau citra ideal tentang sesuatu yang dipandang dan diakui berharga, hidup dalam alam pikiran, tersimpan dalam norma/aturan, teraktualisasi dalam tindakan sebagian besar anggota masyarakat yang satu dan utuh (Saryono, 1998). Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa nilai budaya adalah sesuatu yang menjadi pusat dan sumber daya hidup dan kehidupan manusia secara individual, sosial, dan religius-transendental untuk dapat terjaganya pandangan hidup masyarakat.

Berkaitan dengan wujud nilai budaya Nias, dapat ditelusuri atau dilacak melalui tradisi lisan, kebiasaan yang perpola (adat-istiadat), dan hasil peninggalan leluhur. Dalam tulisan ini penelusuran nilai budaya Nias terbatas pada tradisi lisan seperti hoho (syair), amaedola (peribahasa), dan ungkapan-ungkapan lainnya. Setelah dilakukan penelusuran dengan memanfaatkan teori-teori tradisi lisan (khususnya antropologi sastra) ditemukan beberapa nilai budaya Nias yang bersifat umum, yaitu (1) nilai religius, (2) nilai filosofis, (3) nilai etis, dan (4) nilai estetis.

Pertama, nilai religius yaitu konsep mengenai penghargaan tertinggi yang diberikan oleh manusia Nias mengenai kehidupan suci. Dalam beberapa tradisi lisan, walaupun bervariasi, terdapat kepercayaan atau keyakinan akan wujud tertinggi. Manusia Nias meyakini bahwa dunia dan segala isinya ini dicipta oleh dzat tertinggi yang namanya berbeda-beda, seperti Sihai, Lowalangi, Silewe, dan sebagainya. Bagi sebagian pakar budaya, persoalan nama yang berbeda-beda terhadap wujud tertinggi adalah sebuah dinamika kelompok masyarakat yang tidak perlu direspon secara berlebihan. Yang utama ialah bahwa masyarakat memiliki sesuatu yang dipercayai dan diyakini sebagai causa-prima. Pengakuan terhadap wujud tertinggi ini merupakan cikal-bakal pemahaman terhadap hidup suci, kudus di hadapan Sang Khalik. Berbagai ritual dilakukan (tentu saja sesuai dengan tingkat perkembangan daya pikir) untuk “menyenangkan” wujud tertinggi. Aktivitas mereka ini seakan ingin menyatakan kepada generasi berikutnya bahwa apapun yang ada di dunia ini tidak pernah terwujud tanpa “seseorang” yang menjadikannya. Dus, setiap generasi berikutnya, aktivitas atau ritual ini patut diteruskan yang dalam kehidupan sekarang ini dikemas dalam hidup beragama. Nilai teligius seperti ini telah menjadi konsepsi ideal leluhur manusia Nias. Artinya para leluhur mereka mendambakan kepada generasi mereka agar selalu hidup dalam dunia ritual yang tidak lain adalah memiliki spritualitas yang tinggi.

Kedua, nilai filosofis yaitu keterikatan manusia Nias pada dunia sekitar secara menyeluruh. Hal ini berbeda dengan nilai filosofis yang dikenal di dunia barat yang menekankan pada pencarian kebenaran hingga ke akar-akarnya. Nilai filosofis dunia timur lebih berorientasi pada kesempurnaan dan kebijaksanaan. Tradisi lisan Nias mengandung nilai filosofis berupa keterikatan mereka kepada kebijaksanaan hidup. Keinginan untuk selalu menyelaraskan diri dengan dunia sekitar, sesama manusia, dan wujud tertinggi, salah satu tindak perwujudan nilai filosofis ini. Peribahasa, /mobowo gaele foda, mowua ndruria ulondra/boi talulu boi taboda me no faoma nilau dododa/ (terjemahan bebas: tidak ada alasan untuk tidak mewujudkan hal-hal yang telah disepakati), memberi pemahaman kepada manusia Nias tentang kebijaksanaan hidup. Dengan kata lain, manusia Nias melalui leluhur mereka sangat mendambakan haromonisasi berbagai dimensi kehidupan. Ketika salah satu dimensi mengalami gangguan maka seluruh aspek hidup lain menjadi goyang dan bermuara pada ketidaksempurnaan.

Ketiga, nilai etis (etika), yaitu keterhubungan manusia Nias terhadap kebaikan dan kesusilaan. Para ahli etika dan moral berpendapat bahwa nilai etis adalah konsep nilai tertinggi dari hidup manusia. Kebaikan atau kesusilaan adalah esensi hidup manusia, termasuk di Nias. Nilai budaya Nias yang berdimensi etis atau etika ini memberi penjelasan kepada manusia Nias bahwa hidup yang sesungguhnya ialah dengan menjunjung tinggi nilai kebaikan atau kesusilaan. Ketaatan pada hukum-hukum yang diwariskan leluhur mereka melalui fondrako (hukum adat) adalah salah satu keterikatan manusia Nias pada dimensi nilai etis ini. Hukum ini berupaya mengikat (kelompok) manusia Nias agar tetap berada dalam tataran kebaikan dan kesusilaan.

Keempat, nilai estetis (estetika), yaitu keterikatan manusia Nias pada hal-hal yang menyenangkan, menggembirakan, menakjubkan yang diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tutur kata. Tindak komunikasi manusia Nias pada hakikatnya menjunjung tinggi nilai estetis, yaitu berupaya agar mitra tuturnya merasa senang, tidak sakit hati. Hal ini terlihat dari pertanyaan tradisional, “Hadia zami ba manu? (Apa yang enak pada ayam?) Dijawab dengan “Hai iwo-iwo” (Hanya suara kokonya) Dan “Hadia zami ba niha?” (Apa yang enak bagi manusia?), dijawab dengan “Ha lis si sokhi” (Hanya tutur kata). Hal ini mengungkapkan bahwa manusia Nias mencintai keindahan batiniah. Bukan hanya sebatas itu, nilai estetis juga terlihat pada karya seni seperti terlihat pada rumah adat, ukiran-ukiran, simbol-simbol, dan sebagainya.

Nilai budaya Nias yang telah dikemukakan di atas masih bersifat umum. Artinya, semua budaya etnis di nusantara ini ditemukan dimensi religius, filosofis, etis, dan estetis. Perkerjaan akbar lainnya bertalian dengan nilai budaya Nias ini adalah pengungkapan nilai dasar dan nilai instrumental sebagai kekhasan dari seluruh dimensi kehidupan manusia Nias. Terus terang dalam tulisan ini dimensi terakhir ini belum dapat diungkapkan. Mudah-mudahan pada masa mendatang, aspek spesifik ini dapat terkuak dengan jelas.

Makna Nilai Budaya Nias
Hal kedua yang patut dikemukakan di sini adalah makna yang terdapat di balik nilai budaya Nias seperti telah dikemukakan sebelumnya. Berkaitan dengan nilai religius setidak-tidaknya ada dua makna yang dapat diungkapkan. Pertama, manusia Nias mengakui adanya sebuah kekuatan di luar dirinya. Keyakinan seperti ini merupakan pengalaman khas manusia. Melalui pengalaman ini, manusia Nias merealisasikan kodratnya sebagai makhluk yang bereksistensi. Keinsayafan akan adanya kekuatan adikodrati membuahkan pada pengenalan akan diri mereka sendiri, dunia sekitarnya, sekaligus pengakuan akan dunia lain. Hal ini terasa penting ketika mereka dihadapkan pada konsep Allah yang Esa sebagai pemilik hidup dan kehidupan. Juga ketika mereka bertatapan dengan makrokosmos dan mesokosmos. Pertalian ini menjadikan manusia Nias semakin teruji eksistensinya.

Kedua, ketika manusia Nias meyakini kekuatan adikodrati, secara nyata juga mereka mengakui dua dimensi kehidupan yang saling melengkapi sekaligus saling kontradiksi. Hidup yang dipersepsi sebagai sesuatu dunia atas yang indah, terang, bahagia, sejahtera di satu sisi dan mati atau menderita di sisi lain disimboli dengan dunia bawah adalah sesuatu yang menakutkan, kegelapan, serta ketidaknyamanan. Pengakuan dualisme kehidupan ini menjadikan manusia Nias sadar akan hakikat hidupnya di dunia ini. Ketika mereka dalam keadaan bahagia, senang, atau kaya akan materi sebenarnya pada saat yang sama mereka juga sedang menderita, sedih, dan miskin. Demikian sebaliknya. Jadi, ketika Nias dilanda gempa yang memorakporandakan kehidupan, sebagian dari mereka sadar bahwa itulah hidup yang patut dihargai sebagai sebuah alur dengan pola happy ending dan/atau sad ending.
Dalam dimensi filosofis didapatkan bahwa manusia Nias mendambakan (1) kesempurnaan, (2) kejelasan status, (3) keselarasan, dan (4) kebersamaan. Kesempurnaan yang didambakan manusia Nias berkaitan dengan hidup yang saling menopang. Tubuh (boto) hanya akan berarti ketika diberi nyawa (noso) dan dilengkapi dengan pikiran (laelu). Ketika salah satu di antaranya terabaikan maka hidup menjadi pincang. Makna ini berimplikasi pada pemahaman mereka terhadap hakikat sesuatu yang berdimensi komprehensif.

Kedua, manusia Nias mendambakan kejelasan status. Tatanan hidup bermasyarakat menuntut manusia Nias untuk mengekspresikan identitas dirinya. Ketika citra diri ini diabaikan atau dikerdilkan, naluri keegoannya akan lebih mengedapan. Hal ini terungkap di antara peserta seminar bahwa masing-masing varian adat-istiadat leluhur mereka wajib diakui sebagai budaya Nias. Terlepas dari nuansa politis, nilai budaya inilah yang sebetulnya mengedepan pada saat digulirkan Provinsi Tapanuli. Artinya, Nias dalam artian “stake-holder” perlu diberi peran sebagai salah pemerjelas status mereka. Nuansa “duduk bersama” sejak dini patut dipertimbangkan. Mudah-mudahan Nias memiliki suara hati yang sama dalam memberhasilkan Provinsi Tapanuli.

Ketiga, manusia Nias mendambakan keselarasan dengan dunia sekitarnya (makro-kosmos). Manusia Nias berusaha menghayati dunia yang didiaminya dengan cara menempatkan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Mereka menyadari bahwa manusia sebagai bagian dari alam dan hanya dapat hidup dalam kesatuan dengan alam. Mendiami dunia berarti perlu dihayati sebagai “rumah” yang memberi kenyamanan dan ketentraman, oleh karena itu manusia wajib menciptakan keselarasan yang terus-menerus dengan alam agar tetap terpelihara.

Keempat, manusia mendambakan kebersamaan yang diwujudkan dalam pendirian banua (kampung). Tentu saja kampung yang dimaksud tidak serupa dengan kampung atau desa yang digagas oleh pemerintah RI. Proses mendirikan banua sebagai wadah kebersamaan bagi masyarakat Nias adalah sebuah upaya untuk menyejahterakan ono mbanua (masyarakat). Hal ini dilakukan dengan jamuan yang berdimensi sosial sekaligus tanam “saham”. Artinya, ono mbanua dijamu dengan menyediakan sejumlah daging babi yang kelak ketika ano mbanua (penerima daging ini) melaksanakan pesta, wajib dihidangkan kepada pendiri banua tadi, minimal sejumlah yang pernah diterima dan kalau bisa dilipatkan. Wujud kebersamaan lain yang pernah dibina oleh leluhur masyarakat Nias yaitu dalam bidang pertanian berupa konsep falulusa faholowo (kerjasama). Apakah kebersamaan ini masih ditemukan dikalangan masyarakat Nias? Diperlukan kajian lanjutan.

Berkaitan dengan dimensi etis, didapatkan beberapa makna, yaitu (1) manusia Nias mendambakan kejujuran, (2) manusia Nias mengidealkan keadilan, (3) manusia Nias mencita-citakan ketaatan. Pertama, kejujuran atau ketulusan hati merupakan dambaan seluruh umat manusia. Confucius pernah berkata bahwa jika ada kejujuran dalam rumah tangga, akan ada ketertiban dalam bangsa dan jika ada ketertiban dalam bangsa akan ada perdamaian di dunia. Hal ini didambakan oleh leluhur manusia Nias melalui ungkapan, di antaranya, nifamaho towa (bagai menusuk dinding yang terbuat dari tepas) yang artinya katakan terus terang, jangan ada yang disembunyikan. Dan masih banyak ungkapan lain yang beresensi kejujuran. Apakah manusia Nias saat ini tetap mendambakan kejujuran ini? Dalam menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sangat diperlukan sifat kejujuran ini.

Kedua, keadilah juga menjadi cita-cita leluhur manusia Nias. Keadilah yang didambakan di sini bukanlah keseragaman atau penyamarataan, melainkan suatu perasaan tercapainya kelayakan sesuai dengan peran masing-masing. Pada saat gempa bumi dan tsunami melanda NAD dan Nias terjadi silang pendapat karena pemerintah pusat tidak menunjukkan “keadilan”. NAD termasuk bencana nasional sedangkan Nias bencana daerah (walaupun kemudian penanganan kedua daerah disejajarkan). Hal lain yang berkaitan dengan keadilan ini yaitu bahwa setiap pemimpin perlu memperhatikan (Nias: mangoniago) berbagai kelompok dalam masyarakat terutama konteks varian sub-budaya dan geografis. Peribahasa tabagi-bagi wa’aukhu, tafaosa wogikhi manu (terjemahan bebas: kita perlu membagi segala sesuatu secara berimbangan). Jika hal ini diabaikan maka suara ketidakadilan akan bermunculan.

Ketiga, ketaatan sebagai bagian dari dimensi etis manusia Nias telah menjadi dambaan leluhur mereka. Tasawo zinata mbawa namada, boi tasawo zinata mbawada (bicara orang tua kita dapat saja dilanggar tapi tidak dengan bicara diri sendiri) adalah sebuah peribahasa yang mengokohkan makna ketaatan. Demikian juga dengan ungkapan, abe’e zazi moroi ba huku (lebih kuat/kokoh janji=ucapan sendiri daripada hukum) merupakan wejangan leluhur manusia Nias untuk tetap menjunjung tinggi ketaatan. Apabila saat ini banyak manusia Nias yang tidak mengedepankan ketaatan tentu hal yang patut ditelusuri penyebabnya.

Dimensi estetis budaya Nias mengungkapkan makna tertentu. Di antaranya, keharmonisan dan kelemahlembutan. Pertama, keharmonisan yang didambakan leluhur manusia Nias berupa ketertaatan hidup sosial dengan berbagai pihak. Kata-kata yang berkaitan dengan keharmonisan ini di antaranya moadu, sokhi, lo wedeo, lo farumba. Artinya, dalam berbagai dimensi hidup, leluhur manusia Nias mencita-citakan hal yang indah, menarik, tidak kacau, tidak seimbang sebagai salah satu perwujudan hidup harmonis. Rumah adat yang mereka miliki juga mengekspresikan hal ini (harmonis dengan dunia atas, dunia tengah, dunia bawah). Peribahasa, he hagowi goda, ba hewa’ae gae ndriwoda ba na faoma sokhi ita kho nawoda ba hulo wakhe ba dododa (terj. bebas: walaupun miskin secara ekonomis, apabila harmonis dengan sesama, kita telah memiliki harta yang tidak terbilang), selalu mengingatkan generasi manusia Nias tentang dimensi estetis ini.

Prinsip kelemahlembutan juga didambakan oleh leluhur manusia Nias kepada generasi mereka. Prinsip kehalusan budi ini terlihat dalam ungkapan mereka, “Moroi khoda zumangeda” (kehormatan bersumber dari diri sendiri). Artinya, jika kita mendamakan kehormatan maka terlebih dahulu kita menghormati orang lain. Penghormatan di sini diwujudkan dengan kehalusan budi dan kelemahlembutan. Demikian juga peribahasa, tufoi beweu bulu lato ato muhede’o (terj. bebas: pikirkan akibat lebih dahulu sebelum engkau berbicara) merupakan nasihat leluhur manusia Nias kepada generasi mereka. Itulah sebabnya dalam setiap pembicaraan, terutama acara adat, para orang tua di Nias selalu larut dalam tindak komunikasi nifo’amae-dola (perumpamaan). Tujuannya, agar terwujud nilai keindahan sebagai bagian dari nilai budaya yang mereka miliki.

Penutup
Budaya leluhur manusia Nias mengekspresikan berbagai dimensi kehidupan. Nilai dan makna yang telah dikemukakan tersebut merupakan penggerak, pendengali, utopia, tolok ukur serta rujukan ucapan, tindakan, perbuatan, dan perilaku manusia Nias sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan hamba Allah di dunia ini. Nilai budaya ini juga merupakan kualitas atau sebuah keunggulan (sesuatu yang istimewa) dan berguna atau setidak-tidaknya didambakan oleh leluhur manusia Nias. Pertanyaan berikutnya ialah, “Apakah nilai-nilai budaya berserta makna yang ada di dalamnya masih menjadi pengangan, acuan tindakan, (setidaknya menjdai cita-cita) manusia Nias saat ini?” Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan perenungan seluruh masyarakat yang masih mengaku dirinya Ono Niha. Musyawarah adat, seminar budaya, serta festival kesenian Nias telah usai. Suara gong pun sayup-sayup menghilang. Masih membekaskan nilai-nilai budaya leluhur manusia Nias ini dalam hati genarasi mereka? Entahlah.

*Penulis adalah staf pengajar Kopertis Wilayah I di IKIP Gunungsitoli

sumber : www.hariansib.com
tanggal : Feb 11, 2007 at 08:51 AM

2 Responses to “Representasi Nilai Budaya Nias Dalam Tradisi Lisan”

  1. 1
    esther telaumbanua Says:

    Sebagaimana suku lainnya di negeri ini, orang Nias mempunyai budaya sendiri yang spesifik (dan unik) dan mungkin berbeda dengan suku lain, yang disebut budaya Nias, baik yang terlihat wujudnya maupun yang abstrak (intangible) yang diwarisi sejak dulu dan (sebahagian besar) masih hidup sampai sekarang. Di dalam budaya Nias terkandung berbagai nilai budaya dan kearifan (local wisdom) yang berada di dalam unsur-unsur kebudayaan Nias, seperti di dalam sistem kemasyarakatannya, kekeluargaan, sistem religius, bahasa, kesenian, dan aktivitas hidup lainnya.

    Kenapa kearifan itu belum atau kurang nyata dalam kehidupan masyarakat Nias, ya karena kurang mengapresiasi nilai dan kearifan tadi. Mengapa bisa demikian? Mungkin karena daya apresiasinya sudah mulai berkurang dan mengikis. Salah satu faktor, akibat orientasi hidup yang lebih mengarah pada hal-hal yang targetnya bersifat kuantitatif dari kualitatif.

    Dalam kehidupan nyata Nias , terutama saat sekarang, hal ini harus dibangkitkan dan dihidupkan kembali.. baik melalui pendidikan, ajaran-ajaran agama, maupun berbagai keteladanan hidup, serta mengupayakan wadah untuk itu. Dengan penghayatan, apresiasi dan pengamalan nilai-nilai budaya dan kearifan hidup masyarakat Nias sejatinya dapat membentuk harkat dan martabatnya sebagai orang Nias, dan membentu peradaban kehidupan yang lebih baik.

    Bagaimana caranya? Dimulai dengan menggali kembali nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Nias. Lalu, mensosialisasikan, menanamkan dan apresiasi dan mendorong implementasi dalam kehidupan masyarakat. Dan harus ditemukan cara/methode yang tepat disesuaikan dengan karakteristik dan keberadaan masyarakat Nias, kondisi lingkungan dan lain-lain. Salah satu cara yang paling tepat, ya memulainya dari sekarang.

    Ya’ahowu,
    Esther Pormes-Telaumbanua
    Yayasan Tatuhini Nias Bangkit

  2. 2
    Filemon Hulu Says:

    (y) Mantap..

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728