E. Halawa*

Dalam sejumlah kesempatan dalam rangkaian tulisan ini telah (akan) dijelaskan bahwa pelemahan fungsi kesadaran merupakan target daya-daya irasional itu. Ketika daya-daya itu berbicara tentang kesadaran, sebenarnya pada saat yang sama mereka menohok atau menyerang kesadaran kita.

Hal inilah yang terjadi misalnya kalau seseorang kena pelet. Seorang yang kena pelet bisa mengalami perubahan yang luar biasa dalam sikap: sangat ceria, dan sekaligus bisa tiba-tiba menangis, lupa akan prinsip atau keyakinan hidup yang sebelumnya sangat dijaga, tidak malu menunjukkan “kemesraan berlebihan” di depan orang, hal yang sebelumnya tidak pernah kita saksikan. Kalau dulu dia sangat membenci lawan jenis yang memeletnya, kini dia berbalik “mencintainya” setengah mati. Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah korban pelet, umumnya orang yang menjadi korban pelet menikmati keadaan itu, mereka senang berada dalam situasi itu. Maka tidak heran bahwa dalam sejumlah iklan paranormal dalam berbagai majalah atau surat kabar, para “praktisi paranormal” itu jelas-jelas mengatakan bahwa pelet ramuan mereka membuat korban pelet “sadar” bahwa ia sedang dipelet. Hal inilah yang menyebabkan pihak keluarga atau teman justru menjadi panik, terheran-heran, shock dan marah.

Orang yang menjadi korban daya irasional itu dalam bentuk lain juga mengalami pelemahan kesadaran. Tidak jarang ada orang yang begitu takut menghadap, berbicara atau berpapasan dengan orang lain yang memiliki daya itu (atasan, pemimpin perkumpulan, dsb.) tanpa alasan yang rasional. Orang juga bisa tergila-gila memuja tokoh idolanya seperti terlihat dalam pertunjukkan musik, rapat-rapat umum politik, dan sebagainya tanpa alasan kuat yang bisa dijelaskan secara rasional. Misalnya seorang pengagum bintang musik tertentu bisa histeris menyaksikan pertunjukkan sang idola tanpa alasan yang jelas dan rasional, apakah berkaitan dengan kualitas suara atau kualitas musik yang dinyanyikan sang idola. “Semua album si X sudah ada dalam koleksi saya”, pernyataan umum yang kita dengar dari pengagum sang idola. “Pidatonya luar biasa, .. berapi-api, seluuh ruangan hening dibuatnya”, tanpa bisa merumuskan atau menunjukkan bagian mana dari pidato sang idola yang patut mendapat acungan jempol. “Buku-buku karangan si X sudah lengkap dalam koleksi saya”, tanpa bisa menunjukkan hal-hal apa yang secara langsung berpengaruh terhadap pemikiran atau sikapnya dari isi buku itu. Dengan kata lain mereka (korban irasionalitas) terpukau oleh “kulit”, bukan oleh “isi”.

Orang yang mengatakan “aku sadar … perbuatanku ini bisa membahayakan, tapi … ” atau “saya sadar akan resiko perbuatanku …”, mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan sadar tidaknya dia saat mengatakan itu. Pegangan kita hanyalah rentetan tindakan yang menyusul, yang akan menjadi patokan bagi kita untuk menyimpulkan bahwa memang dia sungguh-sungguh sadar atau tidak.

Karena kesadaran (lebih tepat: absennya kesadaran) menjadi jembatan hadirnya dan menguatnya daya irasional itu, maka sebaiknya kita membahas kesadaran dalam tulisan ini. Setelah kita memahami pengertian kesadaran, kita akan melihat berbagai situasi di mana kesadaran bisa “terganggu”. Kita juga akan melihat bagaimana menjaga agar kesadaran tetap terjaga atau berfungsi secara optimal terutama di saat-saat krusial ketika daya-daya irasional itu mencoba mengepung. Pada tulisan lain akan kita lihat bagaimana memanfaatkan kesadaran untuk membendung serangan daya-daya irasional itu.

Beberapa Pengertian
Kesadaran (consciousness) merupakan salah satu topik yang paling banyak mendapat perhatian para filsuf dan para ilmuwan di bidang psikologi, neuroscience. Bagi para filsuf hal-hal yang menarik perhatian mereka antara lain adalah: apa itu kesadaran, mengapa dan bagaimana kesadaran itu muncul. Pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam filsafat mengenai kesadaran antara lain (1) apakah kesadaranku sama dengan kesadaranmu ? (apakah “sedihku” misalnya sama dengan “sedihmu” ?, (2) apakah binatang juga mempunyai kesadaran seperti manusia ?, (3) apakah mesin seperti komputer (bisa) memiliki kesadaran ?, (5) apakah kesadaran akan terus eksis setelah manusia mati ? Pandangan para filsuf mengenai kesadaran tentu saja berbeda-beda menurut faham filsafat yang mereka anut.

Catatan singkat di atas sekadar menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang kesadaran masih sangat terbatas. Akan tetapi hal ini tidaklah harus menjadi alasan bagi kita untuk tidak memanfaatkan hal-hal yang kita fahami dan alami tentang kesadaran untuk menolong kehidupan kita. Kita misalnya tidak ragu-ragu tentang eksistensi kesadaran kita: ketika aku merenung, berpikir, tertawa, sedih, beranjak dari tempat dudukku, membuat keputusan ringat atau berat …semua terjadi di bawah bimbingan kesadaranku …

Dalam psikologi, kesadaran didefinisikan sebagai tingkat kesiagaan individu pada saat ini terhadap rangsangan eksternal dan internal, artinya terhadap persitiwa-peristiwa lingkungan dan suasana tubuh, memori dan pikiran.

Dalam definisi di atas kesiagaan dan rangsangan (stimuli) merupakan kata kunci penting dalam kesadaran. Kesiagaan berarti kesiapan, kewaspadaan, menghadapi sesuatu. Kesiagaan termasnifestasi dalam berbagai bentuk menurut rangsangan yang diterima. Orang yang mengamati bahwa langit semakin mendung akan siap-siap dengan payung atau menangguhkan perjalanannya, atau menghentikan pekerjaan yang bakal terganggu apabila hujan datang.

Dalam Cambridge International Dictionary of English (1995) ada sejumlah definisi tentang kesadaran. Pertama, kesadaran diartikan sebagai kondisi terjaga atau mampu mengerti apa yang sedang terjadi (The condition of being awake or able to understand what is happening). “Aku tahu dia sedang bercanda”, komentar seseorang yang memahami situasi orang yang sedang bercanda. Kesadaran dalam bentuk ini bisa juga muncul dalam bentuk keraguan: “Saya belum paham betul apa maksudnya”, atau “Sebelum saya memahami konsepnya, saya tidak bisa memberikan komentar apapun”

Bandingkan kedua contoh di atas dengan pernyataan-pernyataan sesumbar yang sering kita dengar: “Saya sudah tahu semua apa isi kepalanya“.“Negara ini akan hancur di bawah kepemimpinannya”, atau “Bangsa kita sudah sejajar dengan bangsa-bangsa maju di bidang penguasaan teknologi”, atau: “Kalau terpilih menjadi anggota DPR, saya akan memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya !”.

Kesadaran dapa juga diartikan sebagai semua ide, perasaan, pendapat, dsb. yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang. (All the ideas, feelings, opinions, etc. held by a person or a group of people). Kesadaran akan kepentingan atau keprihatinan bersama akan melahirkan organisasi atau perkumpulan tertentu. Seseorang yang menganut kepercayaan atau prinsip tertentu “sadar” akan pilihannya itu.

Kesadaran dalam bentuk lain adalah pemahaman atau pengetahuan seseorang tentang dirinya dan keberadaan dirinya (Inward knowledge of something, esp. of one’s own existence). Orang yang sadar akan keterbatasan dirinya dalam bidang-bidang tertentu tidak akan memaksakan diri mengambil peran dalam bidang-bidang itu. Maka melalui kesadaran ini bisa difahami bahwa tidak setiap orang ingin atau berambisi menduduki jabatan-jabatan tertentu (presiden, kepala desa, kepala bagian di suatu kantor, dan sebagainya) atau mengejar atau memperdalam keahlian-keahlian atau kepiawaian dalam bidang tertentu (musik, olah raga, peneliti, dsb). Sebaliknya, orang yang menyadari kemampuan atau bakatnya dalam bidang tetentu (seharusnya) akan berusaha mengembangkan kemampuan atau bakat secara maksimal.

Pengetahuan atau perasaan tertentu yang samar-samar (knowledge or feeling, esp. of a not very clear kind; awarenes) juga adalah kesadaran. Ketika seseorang berbicara dengan orang lain, ia masih “sadar” akan keadaan dirinya dan keadaan sekitarnya yang tidak menjadi fokus perhatiannya.

Saat-saat rentan kesadaran
Ada saat-saat tertentu di mana kesadaran rentan terhadap bajakan emosi dan karenanya harus diwaspadai. Ironisnya di saat-saat inilah justru “kesadaran” kita harus dibangkitkan atau “diaktifkan”. Membangkitkan kesadaran di saat-saat kritis itu memerlukan latihan berkeseinambungan (akan dibahas di tempat lain) karena akan sangat membantu mencegah serangan irasionalitas.

  1. saat kurang percaya diri
  2. malam hari selama tidur ketika tingkat kesadaran minimal
  3. ketika sedang sangat mengantuk
  4. ketika sedang dalam situasi ketakutan
  5. ketika sedang lapar berat
  6. ketika sakit atau letih
  7. ketika dalam kegembiraan/kesedihan/kesulitan/persoalan yang luar biasa
  8. di tengah keramaian (crowd)
  9. ketika dikejutkan
  10. ketika sedang merasa sangat tenang dan nyaman
  11. ketika kenyang
  12. ketika keinginan akan sesuatu muncul

Dengan kata lain, kerentanan kesadaran terjadi pada saat di mana “keseimbangan diri” manusia” terganggu yang bisa disebabkan oleh satu atau sejumlah hal di atas. Situasi-situasi di atas akan dialami oleh setiap orang atau kelompok orang dan bisa mempengaruhi sikap atau tindakan yang akan diambil oleh orang atau kelompok orang tersebut.

Rujukan:

  1. Blackburn, S., 1996: Oxford dictionary of philosophy, Oxford Universitu Press.
  2. Searle, J. R., 1997: The Mystery of Consciousness, New York Review of Books, 1997.
  3. Goleman, D., 1999: Emotional Intelligence – Why It Can Matter More Than IQ , Bloomsbury.
  4. Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., Smith,E.E. & Bem, D.J., Pengantar Psikologi, Ed. 11, Interkasara.
  5. ______, Misteri – Majalah investigasi suprnatural, Edisi 20 April – 4 Oktober 2000.
  6. Cambridge International Dictionary of English, 1995: Cambridge ; New York : Cambridge University Press.

*Muncul pertama kali dalam Blog Yaahowu, 7 Agustus 2004

Facebook Comments