Dana Propinsi Tapanuli Terkumpul Rp 2 Miliar Lebih

Tuesday, February 13, 2007
By Berkat

Medan (SIB)

Malam keakraban menyongsong Propinsi Tapanuli di Convention Tiara Medan, malam Minggu kemaren (10/2-07), berlangsung sukses luar biasa.

Hanya dalam waktu relatif singkat, Panitia berhasil mengumpul dana dua miliar rupiah lebih. Setelah doa pembukaan oleh H Ahmad Jumala Wijaya SPd (Islam) dan Pendeta Midian KH Sirait STh (Kristen), disusul kata pembukaan oleh Ketua Panitia Eron Lumbangaol SE, kemudian arahan dan wejangan yang sudah dinanti-nantikan dari Jenderal TNI (pur) Luhut Panjaitan, dan ada acara nyanyi-nyanyi oleh artis-artis top Tapanuli dari Jakarta, maka jadilah, sekitar 300 hadirin secara spontan memberikan sumbangan ikhlas disemangati dengan suatu tekad yang bulat, yaitu Propinsi Tapanuli harus jadi!

Kok bisa? Ya,- ini betul-betul mujizat dari Tuhan, kata Netty Vera Panggabean pimpinan Silver Production, yang dipercayai panitia mengkemas acara – acara di malam keakraban itu. Jerih payah panitia antara lain Budiman Nadapdap (anggota DPRDSU), Hasudungan Butarbutar (Dosen USU), Ruben Simangunsong, dan Chandra Panggabean sendiri, yang pontang – panting mempersiapkan acara ini ternyata tidak sia-sia.

Namun lebih dari itu, kata Pak GM kepada SIB, kesuksesan itu karena para penyumbang dan masyarakat umumnya sudah sangat meyakini, bahwa pembentukan Propinsi Tapanuli adalah suci murni. Yaitu untuk percepatan pembangunan di Tapanuli bagi membebaskan masyarakat dari ketertinggalan dan kemiskinan. Dan usaha menghapuskan kemiskinan adalah mulia di mata Tuhan. Peraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu pun, bukan tokoh yang berhasil mendamaikan suatu perang atau konflik, melainkan seorang tokoh yang berjuang dan berhasil memerangi kemiskinan, kata Pak GM.

Di antara penyumbang dana untuk perjuangan Propinsi Tapanuli itu, lima orang tercatat sebagai penyumbang terbesar (Top Five Donateurs) yang terdiri dari Yayasan Pendidikan Informatika/Institut Teknologi DEL pimpinan Pak Luhut Panjaitan sebesar Rp 250 juta, Tommy Winata Rp 150 juta, Martua Sitorus Rp 100 juta. Ketiga sumbangan itu yang berjumlah Rp 500 juta diterima melalui Pak Luhut Panjaitan.

Menyusul DR GM Panggabean (SIB) Rp 100 juta, anggota DPR-RI Panda Nababan Rp 100 juta.
Peran dari para artis top Jakarta untuk mensukseskan acara spektakuler ini, cukup besar, seperti Diana Nasution & suami Minggus Tahitoe, Trio Lasidos: (Buntora Situmorang, Jack Marpaung, Hilman Padang), Tetty Manurung, Nauli Sisters: (Elyta Sinaga, Almanda Willem, Enny Sinaga, Sempurna Manik), Rita Butar-butar, Herty Sitorus, Achmad Reinhard Nainggolan (Amigos) & Dewi Marpaung (putri Jack Marpaung) Juara Dunia pada Grand Prix Winner of Astana International Song 2005 Festival Kazakhzstan, Rusia.

Buntora Situmorang khusus menciptakan lagu “Menyongsong Propinsi Tapanuli” untuk Panitia Pembentukan Propinsi Tapanuli juga diperdengarkan pada acara ini.

Dan yang juga surprise, seluruh pengurus Panitia Pembentukan Propinsi Tapanuli yang diketuai Ir GM Chandra Panggabean, pun tampil bernyanyi di atas panggung menyanyikan “Parsonduk Bolon Na Burju”…Luar biasa.

Yang istimewa, acara hebat ini, bukan saja diisi dengan pidato dan nyanyi-nyanyi, tapi juga ditampilkan fashion show oleh Perancang Busana terkenal dari Jakarta Valentino Napitupulu, dengan menampilkan pakaian – pakaian sangat bagus bermotifkan Ulos Batik Toba.

Di penghujung acara, tokoh masyarakat Sumut yang juga Ketua Umum Dewan Penasehat Panitia Pembentukan Propinsi Tapanuli, DR GM Panggabean didampingi Pdt Midian KH Sirait, menyerahkan Ulos kepada Jenderal TNI (pur) Luhut Panjaitan.

Dalam kata pengantarnya, Pak GM berkata: ada rasa bangga, ada rasa haru, ada rasa yakin dan percaya dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa perjuangan pembentukan Propinsi Tapanuli kini semakin jelas wujudnya karena diridhoi oleh Tuhan.

“Acara malam ini sangat sukses. Dan sukses ini dimungkinkan karena kehadiran Pak Luhut Panjaitan. Karena kehadiran Pak Luhut, acara ini menjadi “martondi”, kata Pak GM.

“Pak Luhut sudah memberikan kami arahan dan wejangan. Pak Luhut sudah memberikan kami selain semangat juga dana”.

“Seruan Pak Luhut supaya kekompakan di antara masyarakat Tapanuli yang sudah semakin kuat sekarang ini, supaya terus dikembangkan, dan blueprint pembangunan Tapanuli ke depan supaya segera disusun dengan mengundang para pakar, akan menjadi bekal perjuangan kami selanjutnya.

“Perjuangan ini sangat besar dan cukup berat yang tidak dapat dipikul oleh satu pundak saja, tetapi kalau dipikul oleh lebih banyak pundak, tentu yang berat akan terasa ringan”, kata Pak GM.

Lebih lanjut Pak GM berkata, Pak Luhut Panjaitan adalah orang yang diberkati Tuhan. Berpangkat Jenderal, pernah Dutabesar, pernah Menteri, tapi tak pernah lupa kepada Bona Pasogit Tapanuli.

“Bangsa ini memerlukan tokoh-tokoh pemimpin seperti Pak Luhut Panjaitan. Oleh karena itu, kami berdoa, kiranya dalam reshuffle kabinet nanti (kalau jadi), atau setelah Pemilu 2009 nanti, Pak Luhut dapat lagi dipercayai negara untuk diangkat sebagai Menteri, kata Pak GM disambut tepuk tangan.

Untuk itulah semua, sebagai ucapan terimakasih dan agar semua niat dan cita-cita kita yang baik dikabulkan oleh Tuhan, sesuai adat dan budaya kita, maka kami serahkan Ulos ini kepada Pak Luhut Panjaitan. Supaya tetap berada dalam lindungan Tuhan, mendapat kelimpahan berkah, sehat dan panjang umur, dan dapat memimpin bangsa ini selanjutnya, khususnya membawa kemajuan dan kemakmuran bagi masyarakat Tapanuli. Demikian juga Ibu dan segenap keluarga kiranya tetap dalam lindungan Tuhan.

Ketika menyerahkan Ulos kepada anggota DPR-RI Drs Saidi Butarbutar, Pak GM berkata, “bola sekarang sudah di tangan Bapak-Bapak di DPR. Perjuangan mewujudkan Propinsi Tapanuli tinggal selangkah lagi.

Seraya menyerahkan Ulos ini, kami berdoa kepada Tuhan, agar kiranya Bapak-bapak di DPR dikuatkan oleh Tuhan dan tetap komit untuk memperjuangkan pembentukan Propinsi Tapanuli.

Kepada para Bupati/Walikota, antara lain Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus MBA, Bupati Samosir Mangindar Simbolon, dan Walikota Sibolga Drs Sahat P Panggabean MM, DR GM Panggabean ketika menyerahkan Ulos mengucapkan terimakasih, karena tanpa bantuan para Kepala Daerah dan DPRD, perjuangan pembentukan Propinsi Tapanuli ini tidak akan mungkin mencapai hasil seperti sekarang ini.

Pak GM berharap kiranya perjuangan ini terus mendapat dukungan dari para Bupati/Walikota terkait, sehingga apa yang kita cita-citakan suatu Propinsi Tapanuli yang sejahtera, dapat terwujud.

Nampaknya, acara penyerahan Ulos tersebut, menjadi penutup acara. Tak ada lagi pidato penutup. Rasa sukacita sudah menguasai suasana. Karena acara sudah berlangsung bagus, lancar, bersemangat dan berhasil. Ketika para artis semuanya naik panggung dan Diana Nasution bersama suaminya Minggus Tahitoe, mengajak seluruh hadirin berdiri menyanyikan lagu “O Tano Batak”, tercapailah klimaks.

Semua melambaikan tangan ke atas, bahkan ada yang mengepal-ngepalkan tinju. Terlihat ada yang menangis, melap air mata.

Gembira bercampur haru menyelimuti suasana di Convention Hall Tiara Medan.

O Tano Batak
Haholonganku……………….
Sai Namasihol do ahu tu ho……
………….
…………
O Tano Batak
Andingan sahat……….

Itulah penutup. Semua saling bersalaman dan saling berpelukan. Tak ada lagi pidato penutup. Sebab semua sudah disempurnakan oleh Tuhan.

KATA SAMBUTAN PAK LUHUT PANJAITAN
Jenderal (TNI) pur Luhut Binsar Panjaitan dalam kata sambutannya pada acara Malam Kebersamaan Menyongsong Propinsi Tapanuli di Medan, Sabtu (10/2) mengatakan, Propinsi Tapanuli yang tengah diperjuangkan ‘mekar dan mandiri’ dari Propinsi Sumatera Utara (Sumut), dinilai dan dipandang harus segera terwujud dan harus bisa menjadi propinsi model bahkan sekaligus menjadi propinsi teladan dalam sejarah pemekaran daerah di Indonesia. Polemik yang mengemuka selama ini tentang kondisi kemiskinan ekonomi yang menjadi alasan belum saatnya Propinsi Tapanuli dibentuk, sebenarnya keliru, karena sesungguhnya daerah atau kawasan Tapanuli sejak dulu memiliki potensi ekonomi yang handal untuk memajukan Propinsi Tapanuli nantinya.

Luhut Panjaitan mengungkapkan adanya lima sektor yang bisa akan mempercepat pembangunan ekonomi Propinsi Tapanuli nantinya, bila kelak dikelola dengan baik. Ke-5 sektor itu adalah pertanian, pendidikan, pertambangan dan energi yang dicontohkan sebagai sumber geothermal (energi panas bumi di Sarulla) yang terbesar ke-2 di dunia, pariwisata, dan perikanan/kelautan.

“Saya kira sudah saatnya Propinsi Tapanuli diwujudkan. Sejarah mencatat, ternyata hanya wilayah eks Keresidenan Tapanuli ini yang belum menjadi propinsi di antara semua daerah eks keresidenan di Sumatera ini. Sekali lagi, Propinsi Tapanuli harus jadi, dan harus bisa menjadi propinsi model dan sekaligus propinsi tauladan di Indonesia,” ungkap Luhut Panjaitan di Medan, Sabtu malam (10/2) .

Di awal acara, paparan Luhut Panjaitan yang juga mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) di zaman Presiden Gus Dur itu dinilai sangat bernas dan mengundang semangat sehingga disambut tepuk tangan riuh oleh para hadirin. Mantan Dubes RI di Singapura itu antara lain menegaskan pentingnya enam hal yang harus diperhitungkan dalam upaya mewujudkan Propinsi Tapanuli. Hal pertama ialah pentingnya persatuan dan kesatuan sesama orang Batak untuk ikut ambil peran dan bagian dalam upaya menjadikan Tapanuli menjadi sebuah propinsi (baru).

Selama ini kita tahu orang Batak itu banyak yang tahunya cuma ber’tumbuk’ (baca berkelahi) saja, tapi saya bangga di acara ini saya lihat kita orang Batak ini bisa kompak dan bersatu. Kabar terakhir saya dengar sudah tujuh daerah (kabupaten)/kota) yang siap bergabung dalam Propinsi Tapanuli dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta orang. Kalau nantinya memang jadi 10 daerah, maka penduduknya tak kurang dari 2,1 juta orang”, katanya dengan nada bangga. Dengan jumlah itu, untuk memenagenya akan lebih mudah.

Hal kedua, katanya, dia berharap bisa muncul ‘GM-GM’ baru yang akan meneruskan perjuangan dan keuletan kinerja Bapak DR GM Panggabean (tokoh masyarakat Sumut dari kalangan sesepuh Batak.)

Amang GM sekarang sudah berumur 78 tahun, harus ada penerusnya yang bisa menjadi sesepuh masyarakat Batak.
Luhut menggambarkan semangat dan tingginya dukungan Pak GM dalam upaya pembentukan Propinsi Tapanuli, sampai-sampai datang ke Jakarta menemui para tokoh Batak termasuk ke rumah Luhut Panjaitan sendiri. Sehingga, Luhut mengakui pihaknya terpaksa mengabaikan kegiatan lainnya di Jakarta hanya untuk bisa datang hadir di acara Malam Keakraban Menyongsong Propinsi Tapanuli di Medan.

Hal ke-3 adalah pentingnya sikap toleransi penuh untuk tidak mengangkat-angkat isu atau soal agama dalam proses pemekaran daerah seperti pembentukan Propinsi Tapanuli ini. Dia juga menyatakan bangga atas ‘kebersamaan’ dalam acara ini yang dibuka dengan doa Muslim oleh H Ahmad Jumala Wijaya SPd dari KBIH Al Qaanituun, dan doa Nasrani yang dipimpin Praeses HKBP Dr Midian KH Sirait STh.

Hal ke-4, masalah ibukota Propinsi Tapanuli nantinya dimana, tak perlu dipersoalkan karena fokus yang terpenting saat ini adalah bagaimana agar Propinsi Tapanuli jadi (terwujud) dulu dengan segera.

Hal ke-5 adalah perlunya mencari ‘anak-anak’ (baca: sosok atau figur) yang memiliki pengetahuan bagus (good knowledge) untuk berperan dalam Propinsi Tapanuli nantinya. Dia mencontohkan metode penjajakan seorang ahli fisika Johannes Surya dari Jakarta terhadap 300-an anak sekolah di Tapanuli, dengan hasil 30-an orang ternyata memiliki IQ tinggi antara 140 hingga 150. Anak-anak yang dinilai jenius itu kemudian disekolahkan ke Australia dengan catatan harus kembali untuk mengabdi ke daerahnya (Tapanuli) setelah tammat nantinya.

Sedangkan hal ke-6, adalah pentingnya kesepahaman dalam menjajaki atau menentukan kriteria calon Gubernur Propinsi Tapanuli nantinya. Kriteria tersebut dinilai penting agar jangan salah meletakkan landasan awal dalam membangun Tapanuli sebagai propinsi baru. Selain harus mengerti soal birokrasi, calon gubernur di Propinsi Tapanuli nantinya haruslah juga orang yang “mau turun ke bawah” untuk melihat langsung kondisi masyarakatnya.

Pak Luhut juga mengingatkan pentingnya pendidikan di Tapanuli. Sebab hanya dengan knowladge lah kita bisa maju. “Saya bukan hanya omong, tapi saya langsung berbuat. Kita bisa mengirim orang-orang berbakat ke luar negeri. Di Tobasa sekarang kita berusaha membuat hasil pertanian dari 4,7 ton per HA menjadi 10 ton per HA. Itu hanya bisa dicapai dengan ilmu pengetahuan. Kami bekerjasama dengan IPB.

Acara Spektakuler
Sejumlah hadirin, baik dari kalangan undangan maupun panitia, mengakui acara sukses yang berlangsung meriah dan khitmad itu terbilang spektakuler (luar biasa). Selain dihadiri para kepala daerah (bupati / walikota) dari daerah kawasan Tapanuli, juga karena target panitia dalam hal pengumpulan dana itu telah melebihi prediksi atau target semula.

Hal senada, bahwa acara itu terbilang spektakuler, juga dicetuskan Ketua DPP KNPI Drs Edison Manurung MM, antara lain karena banyaknya pengusaha dari kalangan non-Batak yang ikut menyumbang pembentukan Propinsi Tapanuli. Pejabat sementara Ketua DPD Partai Demokrat Propinsi Sumatera Drs Tahan M Panggabean juga menilai acara itu spektakuler karena para pendukung yang tidak hadir mulai dari pejabat seperti Bupati hingga masyarakat awam yang tidak hadir pun ternyata ikut menyumbang dengan cara menitipkan kepada utusannya. Para pendukung yang tak hadir tapi ikut menyumbang antara lain pengusaha tenar di Jakarta Tommy Winata, Bupati Tapteng Tuani L Tobing, anggota DPD RI Nurdin Tampubolon dll.

Selain ke-5 penyumbang terbesar (top five donateur) itu, para penyumbang lainnya adalah Pemkab Tobasa Rp 50 juta, DPRD Tapanuli Utara, Bupati Tapteng Tuani L Tobing, CV Makmur, Bupati Langkat Syamsul Arifin SE, pengusaha Nelson Matondang masing-masing Rp. 25 juta, Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan dan isteri pengusaha CV Makmur James Maja Hutapea (Intan Panggabean) masing-masing Rp. 20 Juta, Komisi Tinju Indonesia (KTI) Pusat atau Capt. Anton Sihombing Rp. 15 Juta, Wakil Ketua Organda Sumut dan Ketua DPD Apersi Sumut Jumongkas Hutagaol, Juswan, Bunbunan EJ Hutapea dari BI Jakarta, Banjir Simanjuntak, Kepala Bappeda Sumut Drs RE Nainggolan MM, Effendi Sianipar, dan perusahaan PT Musim Mas Medan, masing-masing menyumbang Rp. 10 Juta. Lalu, anggota DPR RI Saidi Butar-butar, Kepala Dinas PU dan Perhubungan Kab. Pakpak Bharat Ir M Simanjuntak, Leo Nababan dan Subur Nababan dari Jakarta, anggota DPRD Sumut Aliozisokhi Fau, Ny Toga Sianturi, Binsar Situmorang, Drs Hukuasa Ndruru, Ir Nitema Gulo MSi, Ir Rempa Nababan, Darwin Panjaitan, Ricky Sutanto, Kepala Dinas Pertambangan & Energi Sumut Ir Washington Tambunan, anggota DPR RI Hasurungan Simamora, dan Ketua Panitia John Eron Lumban Gaol, masing-masing menyumbang Rp. 5 juta. Puluhan donatur lainnya yang menyum bang Rp. 500.000 hingga Rp3 juta mohon agar identitasnya tak disebutkan, misalnya Herman H yang khusus datang dari Tanjung Pinang Riau untuk menyampaikan ‘dukungan’nya pada acara tersebut. Demikian juga dengan Ketua DPW Aspekindo Sumut Dr Ir KCT Sianturi yang menyumbang Rp3 Juta.

Semula, total dana yang terhimpun adalah Rp. 1.958.800.000. Namun pemandu acara lelang lagu yang kebetulan artis senior Diana Nasution mengumumkan bahwa pengusaha James Maja Hutapea telah menggenapkan angka itu menjadi Rp2 miliar, sehingga pengusaha dan pemilik perusahaan angkutan CV Makmur itu dijuluki ‘the final donateur’.

Dari perolehan lelang lagu khusus yang dikumandangkan para panitia yang dipimpin John Eron Lumban Gaol SE berjudul ‘Parsonduk Bolon’ itu, hanya dalam dua sesi yang dipandu Diana Nasution, seketika menghimpun dana sebesar Rp115 juta. Lelang terbesar dari Walikota Sibolga Drs Sahat P Panggabean sebesar Rp15 juta. Terbanyak adalah lelang Rp10 juta, masing-masing dari Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus, GM PLN Kitlur Ir Albert Pangaribuan, Ketua Gakeslab Sumut Guntur Manurung SH, tokoh olahraga karate Benny Pasaribu, Ketua KTI Pusat Capt. Anton Sihombing, Calon Ketua Kadin Propinsi Sumut Dr Ir Jonner Napitupulu, Banjir Simanjuntak, dan pengusaha Nelson Matondang. Sedangkan Kepala Bappeda Sumut Drs RE Nainggolan MM, Bupati Samosir Ir Mangindar Simbolon, anggota DPR RI Saidi Butar-butar, dan Kadis Kehutanan Sumut JB Siringo-ringo masing-masing menyumbang lelang lagu tersebut Rp. 5 juta.

Nuansa spektakuler itu juga tampak dari komposisi hadirin yang tampak hadir mayoritas. Para tokoh dan pengusaha dari Jakarta yang hadir antara lain Luhut Panjaitan, Anton Sihombing, Sabar Martin Sirait, Saidi Butar-butar, Edison Manurung, Monang Sianipar (pengusaha MSA Cargo), Panda Nababan, Leo Nababan, dll.

Para tokoh di Sumut antara lain DR GM Panggabean, Lundu Panjaitan SH, Juswan, Tahan M Panggabean, Tuan Nanser Sirait, dll. Para pejabat antara lain Asisten I Pemprop SU Drs Edward Simanjuntak, Kepala Badan Investasi & Promosi (Bainprom) SU Drs Gandhi Diapari Tambunan, Kepala Bappeda Sumut RE Nainggolan, Asisten I Pemko Medan Hasiholan Silaen, Bupati Tobasa Monang Sitorus, Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Wakil Bupati Taput Drs Frans A Sihombing, Walikota Sibolga Sahat P Panggabean, Sarlandi Hutabarat, Sekda Kota Sibolga Drs Darwin Nasution.

Kalangan pengusaha yang hadir antara lain Dirut CV Makmur James Maja Hutapea, Ketua KUPJ Sumut Usmey Sianturi, pengusaha pipa Invilon Leo Darmadi, pengelola IBBI Amrin Susilo Halim, Dr Binsar Marbun, Ketua Aspekindo Sumut Edward Torpana Pangaribuan, Ir Surung Panjaitan, Berman Pasaribu (Hotel Traveller Suites), plus sejumlah pengusaha dari daerah Tapanuli seperti Maradu Nainggolan (Taput), SP Simamora (Kadin Humbang), dll.

Para legislatif daerah Tapanuli yang hadir antara lain Ketua DPRD Sibolga Pak Situmeang, Ketua DPRD Taput Fernando Simanjuntak SH, Wakil Ketua DPRD Dairi Yahya Yosua Sianturi, serta sejumlah anggota DPRD dari Tobasa, Humbang, Samosir, Tapteng, plus delegasi masyarakat pendukung Propinsi Tapanuli dari Dairi yaitu Tumbur Ranger Simorangkir dan Dairi Lingga, serta Hendra Habeahan dari Pakpak Bharat.

Acara semarak itu diisi dengan acara yang multi-sesi, mulai dari sesi kultural, formal, dan fashional. Mukadimah acara diwarnai dengan atraksi tari dan lompat batu Nias yang dibarengi atraksi sendratari bernuansa beberapa sub-etnis Batak (Tapanuli). Ditengah-tengah acara, secara bergantian tampil grup penyanyi Nauli Sisters, Trio Lasidos dengan dedengkot artis Batak Bunthora Situmorang bersama Jack Marpaung dan Hilman Padang (putra asli Pakpak Bharat dari kota Salak), artis Tetty Manurung, Diana Nasution, Dewi Marpaung (putri Jack Marpaung), plus grup khusus Artis Batak Bermazmur (ARBAB) yang dipandu penyanyi Rita Butar-butar. Selain itu, sejumlah dara jelita juga tampil dalam peragaan busana (fashion show) yang khusus menampilkan aneka model busana karya putra asli Tapanuli… Valentino Napitupulu.

Selain pengumpulan dana, acara formal dalam acara itu adalah penayangan film dokumenter tentang kondisi serta potensi daerah Tapanuli selama ini dan sekarang ini. Kondisi itu antara lain menggambarkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang

sumber dari: www.hariansib.com
tanggal : Feb 12, 2007 at 10:26 AM

Komentari

Kalender Berita

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728