Medan (SIB)
Ratu Sofia dari Kerajaan Spanyol, mempersingkat kunjungannya di Sumut karena salah seorang kerabat kerajaan meninggal dunia dan telah bertolak ke negaranya, Kamis (8/2) dari Apron Kelapa Sawit Lanud Medan. Padahal sesuai jadwal, Ratu Sofia masih akan berkunjung ke Bahorok.

Keberangkatan Ratu Sofia ini dilepas oleh Gubsu Drs Rudolf M Pardede dan unsur Muspida Sumut antara lain Kapoldasu Irjen Pol Nuruddin Usman SMIK, Kasdam I/BB Brigjen TNI Wilono Djati, Ketua Pengadilan Tinggi, Pangkosek Hanudnas Marsma I Wayan Suwitra SiP, Danlanud Medan.

Sebelum Ratu Sofia menaiki pesawat khusus kerajaan Spanyol Fuerza Aeria Espanola (sejenis Airbus), Gubsu Drs Rudolf M Pardede didampingi unsur Muspida Sumut memberikan seperangkat lukisan rumah adat Nias dan ‘mangulosi’ sang ratu.

Ratu Sofia kepada Gubsu menyampaikan rasa bangganya atas perhatian dan sambutan warga masyarakat Nias yang dikunjunginya dan juga Pemerintah Propsu. “Saya merasa tersanjung dan bangga diberikan lukisan rumah adat Nias dan ulos Batak dengan corak dan motif yang unik,” ujarnya melalui Kabid Humas Pimpinan Drs ML Tobing.

Kepada Gubsu juga, Ratu Sofia yang juga istri Raja Spanyol Juan Carlos menyampaikan kekagumannya atas keindahan alam dan potensi wisata di Nias dan alam sumut yang dikunjungi dan dilaluinya. Nias menurutnya masih menyimpan potensi karena keindahan alamnya padahal daerah itu baru dilanda tsunami.

Ratu Sofia mengharapkan agar bantuan yang telah diberikanoleh negaranya dapat menyejukkan dan meringankan beban masyarakat yang ditimpa tsunami. Untuk itu, dia meminta agar bantuan yang diberikan dapat bermanfaat dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Pada pertemuan singkat tersebut, Gubsu atas nama pemerintah dan masyarakat Sumut juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan dan bantuan yang telah diberikan oleh Kerajaan Spanyol khususnya bantuan bagi masyarakat Nias korban tsunami.

Menurut Kabid Humas Pimpinan Drs ML Tobing, seharusnya Ratu Sofia, Kamis (8/2) masih akan mengunjungi Bahorok Kabupaten Langkat untuk melihat Orang Utan dan ekosistem Bahorok. Disebutkan, setelah berkunjung ke Sumut, Ratu Sofia dengan 33 orang rombongan masih akan berkunjung ke Phenom Phen, Vietnam

RATU SOFIA TERTARIK DENGAN KEUNIKAN BUDAYA NIAS
Yang Mulia Ratu Sofia dari Spanyol didampingi Sekretaris Negara Spanyol untuk Kerjasama Internasional Ibu Leire Pajin, mengunjungi Teluk Dalam, Nias Selatan, hari Rabu, 7 Februari 2007. Kedatangan Ratu Sofia di Nias Selatan merupakan salah satu rangkaian kunjungannya ke Indonesia untuk melihat perkembangan kegiatan pemulihan pasca bencana yang didanai Pemerintah Spanyol di Aceh dan Nias setelah tsunami di 2004 dan gempa bumi di 2005.

Selain terkenal dengan keindahan alamnya, termasuk ombaknya yang telah dikenal para peselancar dunia, Nias juga dikenal memiliki kebudayaan yang unik. Kondisi geografis Nias yang berupa kepulauan menyebabkan keunikan ini dapat bertahan hingga sekarang.

UNESCO (badan PBB untuk Pendidikan, Sains dan Kebudayaan) di bawah UN Joint Programing (UNJP) telah melaksanakan program pengembangan wisata budaya di Nias Selatan sejak September 2006 melalui “Pengembangan Kembali Pariwisata Nias dengan tetap menjaga Warisan Budaya setempat”. Kegiatan yang difokuskan di Desa Bawomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan telah berhasil membentuk forum adat untuk warisan budaya di Desa Bawomataluo, pelatihan bagi para pengrajin kerajinan kayu dan batu, anyaman serta kerajinan perak dan emas serta pemetaan sumber daya budaya di beberapa desa adat di Nias Selatan. Kegiatan ini diharapkan dapat lebih ditingkatkan melalui kerjasama UNESCO dengan Badan Kerjasama Internasional Spanyol (AECI) untuk pengembangan wisata alam dan budaya yang berkelanjutan di Nias Selatan. Saat ini Nias telah dimasukkan oleh pemerintah Indonesia ke dalam daftar sementara (tentative list) nominasi Warisan Dunia.

Keunikan budaya Nias telah menarik perhatian Ratu Sofia yang mengunjungi Desa Bawomataluo yang terkenal dengan perkampungan tradisionalnya yang luar biasa serta budaya batu megalitiknya. Saat mengunjungi Bawomataluo, Ratu Sofia disambut dengan hangat oleh lebih dari 100 penari laki-laki yang menampilkan tarian perang yang disebut dengan Fatele dan Maluaya. Ratu Sofia kemudian menerima persembahan sekapur sirih dalam bola-bola (tas khusus tempat sirih) yang dibawakan oleh para penari wanita sebagai simbol penghormatan dan persahabatan. Pertunjukan budaya ini ditutup dengan atraksi lompat batu, suatu latihan fisik bagi para lelaki yang hanya ditemukan di Nias Selatan. Selama pertunjukan, Ratu Sofia duduk di atas singasana batu besar yang berumur lebih dari 300 tahun, di depan oma Sebua, rumah sang Raja Bawomataluo. Kunjungan ini diakhiri dengan menyaksikan pameran produk kerajinan dari penduduk desa yang telah berpartisipasi dalam pelatihan yang diberikan oleh UNESCO dan Yayasan Ramper Madani, sebuah LSM lokal di Teluk Dalam, Nias Selatan. Kunjungan ini menggembirakan para pengrajin karena Ratu Sofia membeli langsung beberapa hasil kerajinan yang dipamerkan sebagai buah tangan.

“Kunjungan ini akan mengangkat Nias Selatan di mata masyarakat internasional dan diharapkan dapat mendorong datangnya para wisatawan ke Nias Selatan sehingga pariwisata di Nias Selatan dapat lebih berkembang,” demikian harapan Solistis Dachi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Nias Selatan. Hal ini dikuatkan oleh Sitasi Zagoro, ketua Yayasan Ramper Madani, yang berharap Desa Bawomataluo dapat dijadikan sebagai heritage village dan living culture museum sehingga dapat mendukung Nias menjadi salah satu situs Warisan Dunia, seperti yang diusulkan oleh pemerintah Indonesia. UNESCO sebagai satu-satunya badan PBB dengan mandat untuk masalah kebudayaan akan tetap mendukung usaha masyarakat Nias dan pemerintah Indonesia untuk menjaga keunikan warisan budaya Nias. (A12/Rel/f/u)

sumber dari : www.hariansib.com
tanggal : Feb 09, 2007 at 09:23 AM

Facebook Comments