Oleh Pdt. Em. BUDHIADI HENOCH

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3 : 23, 24)

BANGSA Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bertuhan (teis), bukan bangsa yang tidak bertuhan (ateis). Karenanya, kehidupan beragama marak di mana-mana. Tentu pernyataan sebagai bangsa yang bertuhan diharapkan tercermin juga dalam pekerjaan dan kegiatan bekerja. Untuk masalah ini, kita perlu mencermatinya dan bertanya : “Sudah sesuaikah dengan pernyataan itu?”. Sampai di sini, kita sering merasa ragu-ragu, karena pernyataan tersebut terasa tidak sejalan dengan kenyataannya.

Hal ini kita coba menelusurinya berdasarkan beberapa peristiwa kecelakaan yang diberitakan media massa pada akhir-akhir ini. Sebagai contoh, pada setiap pasca peristiwa kecelakaan, baik mobil/bus, kereta api, kapal api, maupun pesawat terbang; juga kecelakaan kerja di gedung-gedung bertingkat, pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan, selalu saja dikatakan masih dalam penyelidikan. Atau masih diteliti sebab-sebabnya. Menyusul juga dikatakan, dugaan karena ini dan itu, misalnya human error, buatan pada zaman Belanda, atau usia kendaraannya yang terlalu tua. Kesemuanya ada hikmahnya, tak pernah tuntas.

Kasihan benar, mereka yaitu para korban yang menjadi bagian dari hikmah itu. Praktis kegiatan banyak orang kita adalah sibuk dengan pemeriksaan; penyelidikan; penyidikan; proses menjatuhkan sanksi, baik administratif, maupun pengadilan. Proses itu makan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menguras tenaga dan pikiran para petugas dan begitu melelahkan, juga menghabiskan dana bermilyar-milyar rupiah.

Kenapa kita tidak berpikir sebaliknya, misalnya mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dengan memeriksa kendaraan dan memperbaiki sarananya, yang kita kerjakan dengan jujur? Memang dalam waktu singkat masyarakat pun melupakannya, hingga terjadi lagi peristiwa-peristiwa yang lain, susul menyusul dengan korban-korban kecelakaan lagi.

Contoh lain, berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari, kecerobohan, keteledoran dan sikap mengabaikan, tak asing bagi kita. Sering berakibat membahayakan nyawa dan merugikan kepentingan orang lain. Misalnya, penyediaan makanan ketering yang ternyata telah basi berakibat keracunan bagi orang-orang yang menyantapnya; kecerobohan perawat hingga tertukarnya bayi di klinik bersalin berakibat hilangnya jati diri si bayi; kelalaian petugas kurir akibat keterlambatan penyampaian surat panggilan, menggagalkan orang yang melamar pekerjaan; sikap tidak peduli dalam urusan orang lanjut usia, tuna netra, penderita sakit gawat, dan para pengungsi, mengakibatkan mereka terlunta-lunta menambah penderitaan mereka; perbaikan sarana-sarana umum seperti jalan rusak, got mampet, rambu-rambu lalu lintas belel, dan lain-lain, dikatakan tak ada dananya, namun kenapa para koruptor leluasa memperoleh dana itu?

Bagaimana sebenarnya etika orang bekerja, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi kepentingan masyarakat pada umumnya? Kedua ayat di atas mengarahkan hati kita, agar kita punya sikap yang baik dan benar. Pertama-tama, hendaknya kita bekerja seperti untuk Tuhan. Artinya, kita bekerja jujur untuk menghasilkan pekerjaan yang terbaik demi Junjungan kita, kendati kita berhubungan dengan sesama manusia dan masyarakat. Jika kita benar-benar menghargai, menghormati dan menyembah Tuhan, kita pasti dengan segenap hati akan melakukan semua pekerjaan yang serba prima.

Berikutnya, ada sikap penghambaan kita yang tulus kepada Tuhan, karena Dialah yang berkuasa untuk menilai mutu pekerjaan kita. Itu berarti, penilaian-Nya jauh melebihi penilaian, jika kita bekerja untuk lembaga dan perusahaan, untuk bangsa dan negara, untuk atasan dan juragan kita. Sayang, dalam praktik kita jumpai, betapa untuk lembaga dan negara dengan mandor dan inspektur yang mengontrol, untuk bangsa dan negara dengan waskat (pengawasan melekat) sekali pun, orang sering bekerja acak-acakan, tak jujur dan asal-asalan.

Apa lagi perintah bekerja bagi Tuhan yang kehadiran-Nya tidak tampak. Pada hal semestinya, orang lebih takut kepada Tuhan ketimbang kepada atasan, direktur atau juragan. Karenanya, tahulah kita mengapa sebuah lembaga, organisasi atau perusahaan, bahkan sebuah negara tidak maju, kendati usianya telah bertahun-tahun.

Panggilan untuk bekerja seperti untuk Tuhan membuat kita mawas diri. Benarkah kita menjadi orang yang ber-Tuhan? Jika benar, lakukan semua pekerjaan yang menjadi tugas kita sehari-hari dengan penuh rasa tanggung jawab. Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, bersyukurlah jika kita mempunyai pekerjaan, baik di tengah keluarga, di lembaga keumatan, di perusahaan, maupun bagi bangsa dan negara. Lakukan pekerjaan kita seperti untuk Tuhan, sehingga kita pun melakukan yang terbaik dengan tenaga dan pikiran yang segar. Jangan kita bekerja dengan tenaga dan pikiran sisa, karena selama ini kita lebih dahulu menggunakan keduanya untuk “nyambi” atau “ngobyek” di luar pekerjaan pokok kita.

Memang kita dapat mengibuli dan main petak umpet dengan atasan kita, atau “kong kaling kong’ dengan teman sejawat kita, lalu lembaga tempat kita bekerja dirugikan. Peduli amat dengan lembaga itu! Akibatnya, lembaga itu bangkrut dan pada akhirnya kita sendiri pun di-PHK. Sungguh, amat buruk sekiranya kita memiliki kinerja semacam itu. Alangkah baiknya, jika kita memiliki semangat bekerja seperti untuk Tuhan, sesuai dengan pernyataan, bahwa kita adalah manusia ber-Tuhan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan kita.

Kita berharap, bahwa apa pun pekerjaan kita, baik di lingkungan sempit, atau di lingkungan luas; baik berpangkat rendah, terlebih berpangkat tinggi; hendaknya bekerja seperti untuk Tuhan, agar menghasilkan kemaslahatan bagi sesama. Lalu penghargaan itu pun datang bukan dari manusia, melainkan dari Tuhan yang akan memercayakan pekerjaan yang lebih besar lagi kepada kita.

Banyak pihak menanti hasil kerja kita. Keluarga kita masing-masing, kelompok umat yang menugaskan kita, bangsa dan negara yang memilih kita dengan memercayakan pelbagai macam jabatan prestisius, juga Tuhan yang dari surga melihat kita hidup dan bekerja di dalam dunia ini. Silakan mereka ada dalam pikiran kita, agar kita dapat mempersembahkan hasil kerja yang terbaik bagi pihak-pihak itu. Amin.

Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 10 Februari 2007

Facebook Comments