Ini adalah judul dari sebuah laporan perjalanan yang diterbitkan dalam The Geographical Journal, Vol. 77, No. 4, April 1931. Penulisnya adalah Dr. F.A. Vening Meinez, seorang peneliti geodesi dari the Netherlands Geodetic Commission – Belanda. Dalam rangka penelitian anomali gravitas di Hindia Timur, Meinez melakukan pelayaran mengarungi samudera dengan kapal selam “Hr. Ms. K XIII” yang ditugaskan oleh Vice-Admiral Ten Broecke Hoekstra, Komandan Angkatan Laut Hindia Timur (East Indian Naval Forces). Pelayaran ini dilakukan pada tahun 1929. Di Hindia Belanda, Meinez dan timnya singgah di berbagai daerah di tanah air mulai dari daerah Indonesia Timur hingga ke Indonesia Barat.

Di Sumatera mereka singgah antara lain di Belawan, Sabang, Padang, Berastagi, Pulau Siberut dan Pulau Nias. Berikut adalah pengamatannya tentang Nias:

Penduduk Nias berkulit cerah dan memiliki peradaban yang lebih maju. Mereka tinggal di rumah-rumah yang berjejer mengitari sebuah ruang (lapangan) sentral yang dilapisi dengan batu. Di sekitar ruang ini dan sebelum rumah-rumah ini terdapat bangku-bangku dan tugu yang terbuat dari batu (lingga) yang dipahat secara kasar. Rumah-rumah juga memiliki ukiran-ukiran kayu yang cukup menarik; di bagian selatan bentuk rumah segi empat dan lebih berhias, di utara rumah berbentuk oval dengan atap menyerupai kubah. Pada upacara-upacara tertentu laki-laki memakai sejenis helm dan ornamen yang cukup asing di kepada dan di pundak.

Sistem sosial mereka tertata dengan baik. Masyarakat diperintah oleh suatu dewan yang dipilih oleh mereka sendiri yang dipimpin oleh seorang kepala. Hak-hak teritorial mereka terdefinisi secara baik dan mereka telah memiliki komite yang berperan dalam mendamaikan perbedaan-perbedaan pendapat. Lembaga-lembaga permusyawaratan ini sangat jadi mereka ciptakan sendiri tanpa pengaruh dunia luar.

Foto di atas adalah foto rumah tradisional Nias yang muncul dalam tulisan Meinez yang disebut di depan. Meinez tidak menjelaskan lokasi rumah tersebut. Bisa jadi rumah itu berlokasi di sekitar (atau tidak jauh dari) pantai tempat para peneliti itu singgah. Foto ini memberikan sedikit gambaran tentang situasi Nias sekitar 80 tahun yang lalu: rumah-rumah tradional yang terbuat dari kayu beratap rumbia, pohon-pohon kelapa yang besar dan banyak, hutan lebat, alam yang masih bebas dari segala cemaran.

Besar kemungkinan rumah itu tinggal sejarah (alias tidak ada lagi). Adakah yang tahu lokasi pasti dari rumah ini ? (brk)

* Dimuat dalam “blog” Yaahowu, 21 April 2006

Facebook Comments