Soal Provinsi Tapanuli: Masyarakat Kecam Pernyataan Oknum Mengatasnamakan Nias

Tuesday, February 6, 2007
By nias

Gunungsitoli, WASPADA Online
Sejumlah elemen masyarakat mengecam keras pernyataan oknum yang menganggap dirinya tokoh dan mengatasnamakan masyarakat Nias, seakanakan Kabupaten Nias bergabung dengan Provinsi Tapanuli (Protap).

Sesuai aspirasi masyarakat Nias melalui Sidang Paripurna DPRD Nias telah memutuskan Kabupaten Nias menolak bergabung dengan Protap, dan tetap berada didalam pemerintahan Provinsi Sumatera Utara. Ir. Otorius Harefa kepada Waspada, Jumat (2/2) di Gunungsitoli mengatakan sangat mengecam pernyataan kebulatan tekad oleh oknum yang mengatasnamakan masyarakat Nias, seakan-akan Nias mau bergabung dengan Protap apalagi sampai menghadap ke DPR RI seperti yang dilakukan Nitema Gulo.

Dia mempertanyakan dasar apa Nitema Gulo menganggap dirinya tokoh masyarakat Nias, berani mengatasnamakan masyarakat Nias pada pertemuan penyampaian kebulatan tekad dihadapan Komisi II DPR RI di Tarutung pada 12 Januari 2007. Padahal pada hari yang sama DPRD Nias melalui Sidang Paripurna berdasarkan aspirasi seluruh masyarakat membuat Keputusan Kabupaten Nias Menolak Bergabung dengan Provinsi Tapanuli dan tetap berada di dalam pemeintahan Provinsi Sumatera Utara. Otorius mendesak pimpinan DPRD Nias menindaklanjuti hasil keputusan DPRD Nias tentang penolakan bergabung dengan Protap dengan menyampaikan secara langsung kepada DPR RI dan Menteri Dalam Negeri agar semua statemen oknum mengatasnamakan masyarakat Nias selama ini dapat diluruskan, dan menjadi bahan pertimbangan kepada kedua lembaga tersebut.

Dia juga mendesak DPRD Nias mengundang Nitema Gulo melakukan klarifikasi pernyataannya pada acara kebulatan tekad itu, agar masyarakat Nias jangan disesatkan akibat ulah oknum yang hanya mengutamakan kepentingan pribadinya dari pada nasib 400 ribu lebih masyarakat Nias. Ketua Komisi D DPRD Nias, Armansyah Harefa juga menyesalkan pernyataan atau statemen seakan-akan Nias bergabung dengan Protap. “Pernyataan Nitema Gulo merupakan pernyataan pribadi dan bertolak belakang dengan aspirasi seluruh masyarakat Nias,” tandasnya. Menurutnya, Nitema Gulo selama ini tidak berdomisili di Nias dan lebih lama di luar daerah dan tidak dikenal sebagai tokoh masyarakat Nias. Dia yakin Nitema Gulo membuat statemen hanya karena kepentingan pribadinya.

Diharapkan kepada DPR RI jangan hanya mendengar aspirasi satu dua orang yang mengatasnamakan masyarakat Nias serta tidak memaksakan kehendak agar Nias harus bergabung dengan Protap, karena hal itu dapat memicu pergolakan ditengah masyarakat yang selama ini sangat kondusif.
(cbj) (wns)

7 Responses to “Soal Provinsi Tapanuli: Masyarakat Kecam Pernyataan Oknum Mengatasnamakan Nias”

  1. 1
    Postinus Gulo Says:

    Klarifikasi dulu!

    Keputusan DPRD Kab. Nias, harus dihormati. Itu kata oknum yang mengatasnamakan masyarakat Nias. Dan, keputusan itu, dianggap keputusan “semua” masyarakat Kab. Nias. Oleh karena itu, “kecaman” adalah sesuatu yang wajar terlontar ketika ada oknum lain yang mencampuri seolah menggugat keputusan DPRD Kab. Nias itu. Namun, yang kadang saya heran sendiri adalah bahwa orang Nias yang mendukung keputusan DPRD Kab. Nias tidak mengklarifikasi dulu apa latar belakang bahwa ada okmun tertentu yang seolah menggugat keputusan DPRD Kab. Nias. Seolah duduk bersama sangat sulit, seolah bicara empat mata, sesuatu yang tidak dapat dilakukan.

    Kecaman demi kecaman hanya melahrikan kecaman. Jika masalah ditanggapi dengan mempermasalahkannya hanya berakhir pada sebuah masalah. Sekarang, yang terpenting adalah mencari solusi yang tepat, bijak dan merupakan aspirasi seluruh elemen masayarakat Nias. Sangat disayangkan jika ada Ono Niha yang menanggapi Protap (yang notabene tinggal di negeri orang) cepat-cepat ditolak (terutama jika mereka itu berbeda pendapat), dirasa bahwa ono Niha itu hanya mementingkan kepentingan pribadinya. Saya harap semoga kita bebas berpikir tetapi dalam bertindak hendaklah disiplin. Ini yang terpenting. GBU

  2. 2
    M. J. Daeli Says:

    Saudara Postinus,

    Kita semua mempunyai posisi dari mana kita memandang keadaan. Setuju ?

    Untuk berubah, yang paling dibutuhkan bukanlah tenaga, bukan kekuatan, bukan jiwa muda dan bahkan bukan IQ, EQ, dan SQ yang tinggi. Yang paling dibutuhkan adalah kesediaan untuk mempelajari sesuatu yang baru.

    Kemungkinan berubah atau tidak, sebanding dengan banyaknya kebenaran yang siap kita terima tanpa melarikan diri dari kenyataan. Berapa banyak kita siap menerima kebenaran ? Berapa banyak kita siap kehilangan hal-hal yang selama ini kita pertahankan dengan penuh kesungguhan, tanpa melarikan diri dari kenyataan ? Sejauh mana kita siap untuk memikirkan sesuatu yang belum pernah kita kenal ? Memang, kata orang bijak, mendengarkan dan mengamati adalah kegiatan yang paling sulit dalam hidup ini.

    Karenanya marilah kita memperkembangkan kesadaran yang benar dengan menambah intensitas dan perhatian jujur (bareness) terhadap masalah yang kita hadapi. Misalnya : Protap ini.
    Kalau kita memiliki kesadaran yang jernih dan tulus mengenai apa yang sedang kita hadapi (atas dan dalam diri kita), maka tidak akan muncul “kesadaran palsu” (Camus) yaitu penyusunan logika artifisial.

    Semoga bermanfaat.

  3. 3
    Postinus Gulo Says:

    Saudara Mathias J. Daely, Ya’ahowu talifuso

    Komentar I: Albert Camus (yang notabene Anda kutip juga) pernah berkata: dalam hidup ini, yang lebih penting adalah “perjuangan”, bukan hasil. Artinya, jangan hanya bahagia ketika Anda telah behasil, atau telah meraih sesuatu. Keputusan DPRD Kab. Nias adalah juga hasil, dan harus diingat bawa sebuah keputusan pasti melahirkan berbagai interpretasi yang ujung-ujungnya saling menyatakan sikapnya: setuju atau tidak. Pihak yang “tidak setuju” bukan berarti menolak atau menentang keputusan itu, melainkan mencoba melihat sebuah keputusan dalam perspektifnya sendiri, dan itu tentu unsur subjektivisme sangat dominan, walaupun unsur objektif terdapat juga di sana.

    Komentar II: Saya (dan “mungkin” Anda tidak seperti saya)hanya sebagai penonton “layang-layang”, saya bukan pemegang tali layang-layang. Jadi, dalam perspektif semacam ini, memang “saya” tak berarti sama sekali dalam menentukan mana yang harus dipilih oleh Nias, yang menentukan adalah anggota DPRD Nias (menurut Anda keputusan itu sudah final dan tidak perlu didiskusikan lagi). Namun, alangkah, baiknya, jika kita juga berusaha menempatkan diri sebagai “angin” yang dapat “menaikkan” layang-layang ke atas awan.

    Komentar III: Ada yang mengklaim bahwa semua makhluk mampu ber-autopoiesis (menciptakan, dan memaknai hidupnya sendiri, dan itu yang membuktikan bahwa setiap manusia memiliki kompas dalam bertindak dan berpikir). Amuba, yang tak punya otak pun “seolah” mampu berpikir ketika amuba tersebut mampu membedakan mana daerah panas dan mana daerah yang dingin (ia mampu selektif). Oleh karena itu, saya kurang tahu, kok Anda mengatakan (dalam tulisan Anda ketika menegasi opini saya) bahwa saya ibarat anak muda yang tak memiliki kompas.Dan sebagai anak muda, saya menerima kritik Anda. Sekali lagi, saya sadar diri, bahwa saya bukan pemegang tali layang-layang.

    Komentar IV: Sebuah perdebatan adalah pertempuran antara ego-ego. Ketika Anda menerima persetujuan, Anda terkesan menyerah pada sudut pandang orang lain, yang berarti Anda kalah. Ketika Anda tidak setuju, Anda sedang menampilkan ego Anda dan menunjukkan bahwa Anda mungkin lebih unggul (kata-kata ini saya pinjam dari Edward de Bono dalam bukunya “How to Have a Beatiful Mind”)

    Komentar V: Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak Anda sukai atau yang tidak Anda setujui, mudah bagi Anda untuk mengecap orang itu bodoh, kurang wawasan, atau bisa menjerumuskan. Namun, orang tersebut bisa jadi bertindak secara logis dalam gelembung logikanya. Gelembung itu berisi persepsi-persepsi, nilai-nilai, kebutuhan-kebutuhan, dan pengalaman-pengalaman orang tersebut. Jika Anda berusaha sungguh-sungguh melihat ke dalam gelembung itu dan berusaha untuk melihat dari mana orang tersebut berasal, biasanya Anda akan dapat memahami logika dari pendapat orang tersebut (Edward de Bono, Op. cit).

    Saohagolo, Ya’ahowu

  4. 4
    Iraono Sambö Tödö Na Says:

    So what, gitu lho?

  5. 5
    Jenk Iskhan Says:

    Dua insan diperlukan untuk menemukan kebenaran:
    seorang mengucapkannya,
    seorang lagi memahaminya.

    (Kahlil Gibran, “Pasir dan Buih”)

  6. 6
    M. J. Daeli Says:

    Talifusogu Postinus,

    Saohagolo.

    Saya menghargai dan setuju prinsip Postinus bahwa yang penting bukan hasil melainkan “proses”. Sehingga jangan terjadi “tujuan menghalalkan segala cara”.

    Saya katakan “final” karena PEMDA dan DPRD yang memiliki “kompetensi hukum” untuk itu. Dan, saya berpendapat dan mengajak agar dari yang “final” (tidak absolut)itu menjadi “tanda gahe” kita bersama untuk menyikapi masa depan Tano Niha. Betapa baiknya kalau yang disaranan Postinus “menaikkan layang-layang ke atas awan” secara bersama-sama.

    Kata “kompas” saya pakai dalam hubungan : masih muda dengan semangat “mencari dan mencari lagi, tanpa kenal lelah, dan dengan tetap “tanda diri” (percaya diri).

    Pos, terus terang saya tidak merasa ada yang kalah dan atau menang dalam hal ini. Tetapi saya selalu mengajak : marilah menggunakan perjumpaan-perjumpaan seperti ini dengan baik agar memungkinkan informasi berinteraksi dan membangkitkan gagasan baru (Menurut Edwad De Bono,dalam bukunya Lateral Thinking, cara ini merupakan cara berpikir lateral).

    Saya berpendapat bahwa kegiatan berpikir yang kita lakukan seperti ini merupakan usaha pemecahan masalah (masa depan Tano Niha) dalam dimensi objektif. Kalau dilakukan dengan baik maka terhindar dari hambatan emosional yang dibawa oleh kecenderungan subjektivis. Hal ini menuntut kesadaran pada kekurangan sistem memori pemaksimalan diri. Apabila menempuh kebijakan ini, memungkinkan untuk memanfaatkan kesalahan sebagai sarana kemajuan. Karena itu, seperti yang saya katakan diatas, tidak menutup kemungkinan pada interaksi seperti ini (kita)menemukan dan menyusun pemahaman baru dengan memanfaatkan sebaik-baiknya setiap sumber informasi yang bisa diperoleh. Semoga dapat terwujud.

    Selamat berjuang.

    M. J. Daeli

  7. 7
    Orang Tua Says:

    Semoga dengan diskusi pendek diatas menyadarkan intelektual Ono Niha untuk berjuang bersama-sama demi masa depan Tano Niha dalam negara RI.

    ORTU

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728