Pengertian “nidada”, “nifailo” dalam Buku Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpetasi

Wednesday, January 31, 2007
By nias

Dalam kritiknya terhadap P. Johannes Hammerle, Victor Zebua (penulis buku HoJeNK) membuat suatu kesilafan kecil, yakni lupa bahwa dalam buku “Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpetasi” (selanjutnya disingkat “Asal Usul …”) tafsiran kada “ladada” atau “lafailo” telah ada. Hal ini telah diungkapkan oleh Johannes Waruwu dalam komentarnya pada kaki tulisan “Suatu Kekeliruan Interpretasi”.

Mari kita melihat kembali apa yang ditulis dalam halaman 67-68 buku “Asal Usul …” sebagaimana diingatkan oleh Johannes Waruwu:

“Tradisi Nias dalam mite, menceritakan bahwa leluhur mereka diturunkan dari lapisan langit atau dari Teteholi Ana’a. Dalam hal ini dipakai dua istilah Nias yang sinonim, ladada, lafailo, yang berarti: mereka diturunkan.” (hal. 67)

“Kedua istilah di atas, ladala dan lafailo, melukiskan suatu kedatangan seorang leluhur yang pindah secara terhormat ke suatu tempat”. (hal. 68).

Kesilafan Zebua ini sebenarnya justru menjadi semacam “rahmat terselubung” (blessing in disguise). Mengapa menjadi rahmat terselubung ? Karena ternyata, dalam jawabannya terhadap Zebua (lihat artikel: Buku Baru: Ho, Jendela Nias Kuno di Situs Museum Nias), Hammerle justru sama sekali tidak menyinggung-nyinggung pengertian yang diberikannya pada hal 67-68 buku “Asal Usul …” itu.

Alih-alih, Hammerle justru merujuk pada dua buku, (1) “Nias, eine eigene Welt. Sagen, Mythen, Überlieferungen” karangan Hammerle sendiri dan, (2) “Die Heilkunde der Niasser” (Ilmu Pengobatan Orang Nias) karangan Dr. Kleiweg de Zwaan (1913).

Kita tidak tahu persis apa pengertian kata “nidada” dalam buku “Nias, eine eigene Welt. Sagen, Mythen, Überlieferungen” karena Hammerle tidak menjelaskannya dalam artikel Buku Baru: Ho, Jendela Nias Kuno. Namun, dari terjemahan buku Dr. Kleiweg de Zwaan yang dipakai Hammerle untuk membela pendapatnya, kita bisa menyimpulkan bahwa Hammerle mengartikan “nidada” atau “nifailo” sebagai “diturunkan”. “Diturunkan” dari dan ke mana ? Jawabannya adalah: “diturunkan” dari rahim ibu ke lantai tempat ibu sedang melahirkan sang bayi. Dengan kata lain, Hammerle mengartikan “nidada” sebagai “dilahirkan”.

Dalam komentar atas artikel Buku Baru: Ho, Jendela Nias Kuno, Fidelis memberikan kesaksian berikut:

“Saya sebagai orang Nias, membaca tanggapan Pastor Johannes Hämmerle, dengan kutipan-kutipan bagaimana anak-anak lahir di Nias, sejauh saya alami (selama berada di Nias), maka dapat saya memberikan kesaksian sebagai berikut:Bila anak-anak lahir di Nias Barat (Mandrehe) dan ditolong oleh “dukun kampung” biasanya ibu dalam keadaan jongkok dan dibantu oleh beberapa ibu lain yang menopang ibu yang melahirkan. Jadi biasanya bayi jatuh ke bawah dan diterima oleh dukun yang langsung mengikat tali pusatnya dengan rambut ibunya untuk kemudian nanti dilakukan pemotongan tali pusatnya. Ini kira-kira gambaran kelahiran tradisional di Nias Barat, kecamatan Mandrehe.

Setelah modern kemudian, di beberapa puskesmas bersalin, khususnya di poliklinik yang dikelola oleh Suster-Suster yang berpendidikan modern, baru kita kenal kelahiran di tempat tidur. Dan agar air susu Ibu langsung keluar, maka bayi yang telah lahir segera ditidurkan di perut ibunya, dan dibiarkan menyusu. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan modern dan menjadi praktek dalam bersalin modern.”

Kesaksian Fidelis adalah kesaksian saya juga. Ketika saya masih kecil, saya juga pernah menyaksikan proses kelahiran bayi Nias sebagaimana diceritakan Fidelis. Proses kelahiran semacam itu bukan hanya pada kelahiran bayi Nias kuno, tetapi juga hingga sekarang di desa-desa di Nias yang belum memiliki Puskesmas.

Akan tetapi persoalannya bukan terletak pada benar tidaknya kesaksian Fidelis dan kesaksian saya.

Persoalan sebenarnya terletak pada kemenduaan tafsiran Hammerle terhadap kata “nidada – ladada” atau “nifailo – lafailo” yang bisa bermakna (1) “kedatangan seorang leluhur yang pindah secara terhormat ke suatu tempat” (hal. 68 buku Asal Usul …) atau (2) “diturunkan” dari rahim ibu alias “dilahirkan”.

Tafsiran kedua jelas-jelas dipakai oleh Hammerle untuk mendukung interpretasinya akan makna “Teteholi Ana’a” sebagai “rahim”. Namun, ada kesan bahwa Hammerle sendiri ragu-ragu terhadap interpretasi ini, sebagaimana terungkap dalam kalimat berikut dalam hal. 46 buku “Asal Usul …”:

“Lantas apa artinya kalau dikatakan bahwa Luo Mewöna diizinkan tinggal di Teteholi Ana’a ? Pertanyaan ini kami masih biarkan terbuka saja”

Sekali lagi, mengapa Hammerle menghindari makna pertama sebagaimana ditulisnya dalam buku “Asal Usul …” dan justru “lari” ke makna yang diberikan dalam kedua buku lain ketika menjawab kritik Zebua ? Inilah pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Hammerle untuk menghindari kesimpulan pembaca bahwa beliau telah melakukan suatu kekeliruan interpretasi terhadap makna Teteholi Ana’a.

E. Halawa*

12 Responses to “Pengertian “nidada”, “nifailo” dalam Buku Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpetasi”

Pages: [1] 2 » Show All

  1. 1
    Saro Z Says:

    Dalam kritiknya terhadap P. Johannes Hammerle, Victor Zebua (penulis buku HoJeNK) tidak membuat suatu kesilafan kecil, karena dalam hal. 42 buku HoJeNK ditulis: “Menurut Pastor Johannes, istilah ladada dan lafailo melukiskan suatu kedatangan seorang leluhur yang pindah secara terhormat ke suatu tempat. Pastor Johannes tentu sedang menafsirkan sesuatu kata atau istilah secara konotatif”.

    Keheranan Johannes Waruwu sama dengan keheranan Victor Zebua: “Mengapa di hal. 107 (buku “Asal Usul Masyarakat Nias” istilah Teteholi Ana’a berubah artinya menjadi Rahim Sang Ibu?

    Hal. 108 buku “Asal Usul Masyarakat Nias” memang bercerita tentang ibu melahirkan ba gahe mbatö. Tapi tidak dijelaskan lebih lanjut bahwa itu pengertian nidada. Dari hal. 108 itu Johannes Waruwu mendapat kesan nidada berarti “jatuh” bukan “diturunkan”.

    Buku HoJeNK hal. 112 menulis: Pastor Johannes telah dengan gemilang memberi tafsir (interpretasi) baru bahwa “Teteholi Ana’a adalah simbol dari uterus (rahim)”. Namun, beliau lupa menafsirkan simbol sebuah kata yang juga amat populer dalam hoho, yaitu: nidada (diturunkan).

    Kritik buku HoJeNK ditujukan pada buku “Asal Usul Masyarakat Nias” di subjudul “Dimanakah Teteholi Ana’a Terletak?” (hal. 105-110). Dan konteksnya adalah interpretasi syair hoho. Mengapa pustaka lain (yang tidak berisi syair hoho) yang dijadikan “baluse” penangkis kritik?

  2. 2
    otomend Says:

    Kritik buku HoJeNK terhadap “teori rahim”-nya P. Johannes Hammerle sebenarnya berdasarkan semiotika, psikoanalisa, dan hermeneutika.

    Dengan hanya menanggapi teori obstetri (yang bersifat pembanding), P. Johannes Hammerle ternyata tidak tuntas menanggapi kritik yang ditujukan buku HoJeNK kepadanya.

  3. 3
    Toni Hia Says:

    Pastor Johannes merujuk buku “Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias” (1981) karya Bapak Sökhiaro Welter Mendröfa, ketika menginterpretasi Teteholi Ana’a sebagai rahim (Rahim Sang Ibu).

    Buku yang diterbitkan Inkultra Fondation Inc itu bercerita tentang fomböi (penciptaan): bumi dengan langit, iblis dan bala penyakit kedengkian setan, alam semesta, dan manusia pertama.

    Dalam interpretasi hoho di buku “Asal Usul Masyarakat Nias” (hal. 107-110), ternyata Pastor Johannes merujuk “Fomböi Tanö Awö Mbanua” (Penciptaan Bumi Dengan Langit) pada halaman 18-24 buku S.W. Mendröfa, sehingga dia sampai pada kesimpulan bahwa Teteholi Ana’a adalah rahim dan hoho itu menceritakan kelahiran manusia.

    Ketika dipertanyakan istilah “nidada” dia (Pastor Johannes) bingung, karena dalam bagian yang dirujuk itu tidak dijumpai istilah “nidada”.

    Kelahiran manusia dalam hoho S.W. Mendröfa dijumpai pada “Fomböi Böröta Niha” (hal. 35-39), yang ringkasannya sebagai berikut:
    Sihai Uwu Nangi, Sihai Uwu Mbara memungut sebiji sawi, sebiji bayam, disemai di halaman Balai. Selanjutnya batang membesar langsung meninggi. Pohon itu diberi nama Tora’a Tora’i. Dari pohon itu diciptakan manusia laki-laki. Töinia “TUHASANGAHANGEHAO“, da’ö wö “Duha Sangaewangaewa“.

    Juga diciptakan wanita. Ifatörö döi wanitiniti, ibe’e dِöi ogaonita. Buruti Sangazöngaökhi, Buruti So’ungoi Ngaoma.

    Selanjutnya, istilah “nidada” baru muncul pada sub-bab “Famalö Böröta Niha” (Penurunan Leluhur Manusia) di halaman 128-137 buku S.W. Mendröfa.

    Pantaslah kalau Pastor Johannes goyah dan terguncang dengan teori rahim nya itu.

  4. 4
    Yupiter Bago Says:

    Rujukan P. Johannes yang lain (untuk menjelaskan teori rahim) adalah mite yang diceritakan oleh Ama Waogö Waruwu alm. dalam buku “Hikaya Nadu” (lih. “Asal Usul Masyarakat Nias” hal. 109).

    Hoho Bapak Petrus Fati’aro Waruwu (alias Ama Waogö) tentang “Böröta Niha” di “Hikaya Nadu” ada 2 versi, versi A (hal. 432-446) dan versi B (hal. 447-454).

    Isi hoho itu tentang awal mula orang di Teteholi Ana’a, perebutan kekuasaan, dan penurunan leluhur dari Teteholi Ana’a.

    Setiap penurunan leluhur disebutkan: “Ladada ia ba danö si sagörö, ladada ia ba danö sebolo”.

    Ama Waogö: “… Ba hiza, me no so khöda genoni Zo’aya sanuturu khöda sindruhu lala, lala ba wogamö sorugo, amaedola Deteholi Ana’a niwa’ö zatua föna andrö, tamane datatuhoni wanutunö ya’ia fa böi hulö zi lö ta’ila manö mböröta danö andre”. (Hikaya Nadu hal. 427).

    Tampaknya, Bapak Ama Waogö alm. (informan P. Johannes) pun tidak mempersepsikan Teteholi Ana’a sebagai rahim, dan nidada adalah proses kelahiran.

  5. 5
    Laso Says:

    Pastor Johannes MEMANIPULASI Syair Hoho Ama Rozaman.

    Dalam ”Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” (hal. 108) Pastor Johannes mengutip satu baris syair hoho dari ”Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias” (hal. 23) karya S.W. Mendröfa (Ama Rozaman):
    ”Ba mifurinia me so niha”.

    Syair tersebut diterjemahkan Pastor Johannes: ”Dan sesudahnya menyusul manusia”. Kemudian ditambah keterangan: ”Artinya sesudah ketuban pecah keluarlah air yang diiringi lahirnya bayi” (”Asal Usul…” hal. 108-109).

    Padahal, terjemahan Ama Rozaman terhadap syair itu: ”Setelah adanya insan di belakang hari” (”Fondrakö…” hal. 23).

    Konteks syair hoho Ama Rozaman tersebut adalah ”Fomböi Tanö Awö Mbanua”. Khususnya penciptaan bumi, yaitu: (setelah adanya insan di belakang hari) diambil segenggam tanah Teteholi Ana’a, dan kemudian dijadikan bumi yang dihuni oleh manusia (”Fondrakö…” hal. 23-24).

    Di buku ”Fondrakö…” hal. 24 ditulis:
    ”Da’ö danöda si sagörö, tanöda sowanua niha soya”.
    (Itulah bumi kita nan selapis, yang dihuni oleh manusia).

    Pastor Johannes ternyata telah MEMANIPULASI terjemahan sebaris syair hoho Ama Rozaman, ”Ba mifurinia me so niha”.

  6. 6
    Toni Hia Says:

    Syair hoho S.W. Mendröfa (Ama Rozaman) pada bait (i) dalam ”Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias” (hal. 23) berbunyi:

    Da’ö ia Zea siegetegete, idanö si rara
    (Itulah Zea yang menggemuruh, itulah Zea yang membahana)

    Syair itu adalah akhir kisah penciptaan bumi nan setingkat di atas kita.
    Da’ö ia Deteholi Balaki, Ya’ia Deteholi Ana’a
    (Itulah Teteholi Balaki, itulah Teteholi Ana’a)

    Selanjutnya, diteruskan bait (j) yang dimulai dengan syair:
    ”Ba mifurinia me so niha”.
    (Setelah adanya insan di belakang hari)

    Terjemahan Ama Rozaman terhadap syair itu tepat, ”di belakang hari”, karena di antara bait (i) dan bait (j) itu terbentang waktu yang sangat lama.
    Bait (j) terjadi setelah 38 keturunan sejak penciptaan manusia pertama, yaitu saat Sirao Uwu Zihönö jadi raja di Teteholi Ana’a (”Fondrakö…” hal. 47-48).
    Dengan Tanömö Danö (biji bibit tanah bumi) raja Sirao menyuruh Tulimomböi Sila’uma – Silawö Uwu Gölia untuk menempa selapis lagi tanah di bawah tanah Teteholi Ana’a, itulah Tanö Niha (”Fondrakö…” hal. 120-124).

    Bagi Pastor Johannes bait (i) dan bait (j) adalah peristiwa hampir bersamaan, dengan menulis:

    Dan sesudahnya mite bicara tentang air sungai Sea (idanö zea), karena sekarang sudah tiba waktunya untuk melahirkan. Ketuban pecah dan air ketuban keluar. Zea yang menggemuruh melambangkan kesakitan wanita yang mengawali kelahiran. Dan tanpa keterangan lebih lanjut katanya: ”Ba mifurinia me so niha” -”Dan sesudahnya menyusul manusia”. Artinya sesudah ketuban pecah keluarlah air yang diiringi lahirnya bayi (”Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” hal. 108-109).

    Bait (i) dan bait (j) dihubungkan oleh Pastor Johannes secara kreatif dengan menulis kalimat: ”Dan tanpa keterangan lebih lanjut katanya: …”.

    Ada tiga kemungkinan yang terjadi dalam diri Pastor Johannes:
    1.Beliau tidak membaca dengan cermat seluruh isi buku Ama Rozaman, atau
    2.Beliau membaca dengan cermat seluruh isi buku Ama Rozaman, tapi tidak memahaminya dengan baik, atau
    3.Beliau memanipulasi alur cerita hoho Ama Rozaman demi teori rahim.

  7. 7
    A. Waruwu Says:

    Ada dua persoalan besar : Teteholi Ana’a dan Nidada/ladada atau nifailo/lafailo.

    P.Yohanes Hammerle menafsirkan bahwa Teteholi Ana’a adalah Uterus/rahin seorang ibu. Penafsiran ini memicu kita mempertanyakan benar demikian adanya?

    Setelah membaca buku Pak V. Zebua(sayang sekali..bahwa saya belum bisa memiliki buku2 karangan P. Yohanes Hammerle yang menjadi rujukan dalam diskusi ini) terbersit dalam pikiran saya beberapa gagasan berikut :

    1. Teteoli Ana’a (mungkin..?) adalah gambaran Simbolik yang menandakan ‘adanya’ suatu tempat tertentu yang ‘suci’ dan megah dan tentu saja makmur yang menjadi tempat ‘asal’ dari nenek moyang Nias (Tuada HO) sebelum menginjakkan kaki di daratan Nias.

    2. “Nidada atau nifailo” adalah kata yang bisa diartikan sebagai ‘proses hadir atau datang”. Arti harafiah “yang diturunkan”.
    Kata ini menggambarkan “cara” datangnya seseorang di daratan Nias.

    Nah, kalau betul kapasitas kata Nidada setara dengan tola hoho (sebagaimana ditegaskan oleh pak V. Zebua, hal. 112) merangsang pemikiran saya lebih lanjut:

    a. Rahim (spt dijelaskan p. Johanes hammerle) adalah gambaran simbolik dari ‘suatu tempat’, bukan rahin dalam arti harafiah meurut ilmu obstetri. Rahim dalam hal ini menjelaskan ‘bagaimananya’ suatu tempat dengan keadaan seperti rahim : suci, aman, sejahtera….. Dan dari ‘tempat’ yang keadaannya seperti rahim ibu itulah berasal orang yang dimaksud dalam hoho (Tuada HO), yaitu orang yang menjadi Tua Furugo Nono Niha (istilah ini saya buat sendiri). Dengan kata lain, rahim adalah analogi teteholi ana’a yang mau melukiskan ‘bagaimana” dulu keadaan tempat asal sesorang itu sebelum mendiami Nias BUKAN mau menunjuk “dimana” tempat itu.

    b. Nidada adalah analogi untuk menjawab “dengan cara apa” ia tiba di daratan Nias (bandingkan dengan tafsiran pertama : pindah secara terhormat). Dan kata nidada ini sangat penting untuk menjelajahi ‘ruang gelap’ berikutnya. Ada satu perbandingan : Di suku Asmat (Papua) ada paham ‘dilahirkan’ dalam satu upacara mengangkat anak (sesorang yang berasal dari suku lain, atau orang daratan lain di luar Papua). Orang luar ini harus ‘menyusu’ secara harafiah seperti bayi yang baru lahir. Pada hal anak angkat itu sudah dewasa bahkan bisa jadi lebih tua dari ibu angkatnya. Dengan demikian anak angkat ini ‘telah lahir’ dalam kelaurga angkatnya. ‘Lahir’ yang dimaksud di sini bukan lahir dari rahim ibu angkat secara harafiah tetapi analogi bagaimana anak angkat itu (menjadi anak (hadir, pindah) di dalam kelauarga barunya. Anak itu datang dengan ‘dilahirkan”.

    “Ruang gelap” dala syair hoho yang saya maksud adalah

    1. DIMANA letak geografis tempat yang disimbolkan sebagai Teteholi Ana’a itu? Pengandaian saya: mite Nias yang terdapat dalam syair hoho (sejauh yang saya tangkap dari pembahasan P. Johannes Hammerle dan Pak V. Zebua) mau menjelaskan ‘keadaan’ teteholi ana’a. Belajar dari syair hoho, ada beberapa kemungkinan : a) syair hoho yang kita kenal sekarang ini menitik beratkan penjelasan pada ‘silsilah’ keturuan Tuada Ho sejak menghuni Nias dan hanya sedikit menyinggung darimana dia berasal.Maka, syair ini tidak bertujuan menjelaskan ‘darimana” asal usul Tuada HO sebelum ada di Nias, kecuali ‘sejarah’ Tuada HO sejak ada di Nias. apakah ada syair hoho lain yang mengupas asal muasal tuada Ho?; b) mite yang kita warisi bertujuan memperkokoh posisi tuada Ho sebagai orang suci, golongan terhormat, dan pantas dibanggakan;c) mite ini menjadi unsur pemersatu keturunan Ho yang tersebar di pulau Nias.

    2. MENGAPA Konsep “nidada” ini dipakai dalam syair Hoho?
    Pengandaian saya : tuada furugo nono niha (entah siapa nama yang sebenarnya….HO?) bukanlah manusia pertama di bumi ini. dan, bukan juga juga makhluk pertama sebagai hasil teori evolusi Darwin.
    Ada beberapa kemungkinan:a)konsep ‘nidada’ dipakai untuk menyentuh rentang sejarah yang sangat jauh antara pencipta syair hoho tersebut dengan sang Tuada Ho? b)’nidada’ sengaja dipakai untuk menegaskan bahwa Tuada Ho datang begitu saja di Nias tanpa perlu mencari tau lagi asal muasalnya. Perlu ‘dicurigai’ kesengajaan ini. “jangan-jangan” konsep nidada justru cara yang efektif untuk ‘mengaburkan asal-usul” Tuada Ho yang sebenarnya. Dengan demikian maka Teteholi ana’a semakin mantap posisinya sebagai realita imajiner yang tidak bisa disentuh lagi. Padahal secara faktual, Tuada Ho itu adalah manusia insani bukan hanya makhluk imajener (dewa belaka). Pertanyaan selanjutnya ialah mengapa ‘asal-usul” tuada Ho ini disembunyikan? apakah dari tempat asalnya itu (Tetaholi ana’a) ada scandalum sehingga ia menyembunyikan jati dirinya di tempat baru (Nias)? apakah hal ini mengindikasikan bahwa di tempat baru ini sudah ada orang lain yang lebih dahulu menghuninya sehingga identitas dirinya disembunyikan kepada penghuni terdahulu itu?

    Marilah kita telusuri terus….

    Simano ua mbua gera-eragu he.

    Yaahowu

  8. 8
    otomend Says:

    A. Waruwu menulis: a. Rahim (spt dijelaskan p. Johanes hammerle) adalah gambaran simbolik dari ’suatu tempat’, bukan rahin dalam arti harafiah meurut ilmu obstetri.

    Pastor Johannes menafsirkan syair hoho sebagai lambang seksualitas, mulai dari sumber seksualitas, tubuh wanita, persetubuhan, kehamilan, kelahiran, dan rahim. Tulisnya, Teteholi Ana’a adalah Rahim Sang Ibu, jadi rahim beneran nih Pak Waruwu.
    Disarankan Pak Waruwu baca buku ”Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” karya Pastor Johannes, khususnya subjudul ”Dimanakah Teteholi Ana’a Terletak?” (hal. 105-110).

    Mite tentang Ho ada di kawasan Maenamölö. Disarankan Pak Waruwu baca buku ”Famatö Harimao” karya Pastor Johannes.

    Agar Pak Waruwu tidak meraba-raba di ”ruang gelap”.

    Yaahowu.

  9. 9
    A. Waruwu Says:

    Terima kasih Sdr Otomnend atas sarannya. Benar, saya belum membaca kedua buku yang anda maksud. Saya berusaha mendapatkan buku itu secepatnya….siapa bisa membantu saya?)

    Yang saya maksud dengan kalimat saya “Teteholi ana’a (seperti dijelaskan P. Johanes)…..”: saya mau menjelaskan penafsiran saya sendiri bahwa Teteholi Ana’a BUKAN rahim sebagaimana dikutip dari buku P. Johannes, tetapi merujuk suatu tempat tertentu yang keadaannya aman, molakhomi, makmur…. Dan, bahwa di dalam buku P Johannes ada penjelasan rahim itu sebagai penafsiran dari Teteholi ana’a tidak mempengaruhi penafsiran saya. Maaf ya, saya tidak bermaksud mengatakan ‘ada’ atau “tidak ada’ pendapat dalam buku itu Teteholi ana’a ditafsirkan Rahim. sorry, kalau kalimat saya (dalam tanda kurung itu) mengaburkan.

    Baru saja (15 menit yang lalu) saya mengadakan wawancara via telp dengan seorang ibu yang menguasai syair Maena dan pernah menghafal beberapa syair Hoho (yang dipakai pada pesata Owasa). Ibu itu tinggal di Tapanuli sekarang.

    Ada hal menarik yang dijelaskan ibu itu:

    1. Teteholi Ana’a itu bukan rahim (naha nono) tetapi NAHA NOMO. Artinya Teteholi Ana’a adalah nama Kampung Sirao.
    2. Nah, ada hal lain lagi yang menarik: Kata ibu itu: Tuada HO adalah nama Sirao ketika dia beristri Nandrua (anaknya tiga laki-laki dan satu perempuan; perempuan ini menjadi teka-teki karena tidak pernah disebut siapa namanya… bahkan tidak boleh diceritakan katanya). ….kemudian dia pergi dari kampungnya dan menikah lagi dengan Sa’uso Lama (istri keduanya dan mempunyai sembilan anak; Tuada Ho berganti nama menjadi Hia).
    3. Nidada-nifailo… menurut Ibu tadi, bukan diturunkan dari langit tetapi yang dimaksud adalah ‘bahasa simbol’ (atau apa namanya) untuk mennggambarkan silsilah Luo Holi Mewona (anak Sirao) ketika mempersunting Ina Hezara Balaki-Ina Hezara Gana’a. Menurut Ibu tadi, Luo Mewona nidada moroi ba Deteholi ana’a, artinya Luo mewona keturunan (diturunkan) dari Kampung Teteholi Ana’a. Sedangkan Tano Si sagoro yawa …(sebagai tempat beradanya Teteholi Ana’a) mau menjelaskan suatu masa tertentu sebelum nya (‘entah itu satu generasi atau satu tingkat yang masih bisa diingat…?)
    4. Siapa Sirao? Menurut syair yang dihafal oleh ibu itu, Sirao adalah Nama (baru) Tuada Ho setelah mengadakan pesta (Owasa). Bukankah setiap orang yang mengadakan Owasa diberi nama baru?

    jadi, dalam versi IBU tadi: HO, Hia, dan Sirao adalah tiga nama untuk orang yang sama. Luo Mewona yang menjadi ‘subjek’ Nidada, bukan tuada HO. Sedangkan bagaimana Tuada Ho menginjakkan kaki di daratan Nias lain kali aku ceritakan. Mari kita telusuri terus ya….dengan mengumpulkan banyak informasi.

    Begitu dulu sekilas info. “Ruang gelap” yang saya maksud di atas semakin menarik untuk diselami.

    Yaahowu.

  10. 10
    otomend Says:

    Saohagölö Pak Waruwu atas infonya. Kita tahu Ho hidup di dunia nyata dan juga di dunia cerita. Wajar banyak versi cerita tentang Tuada Ho. Info yg diperoleh Pak Waruwu didasarkan syair maena dan syair hoho yg dihafal seorang informan (Ibu yg tinggal di Tapanuli sekarang). Alangkah berharganya bila syair itu dapat ditayangkan (walau mungkin sebagian, tentang yg diceritakan via telp).

    Syair itu dipakai pada pesta Owasa di kawasan mana di Nias?

    Yaahowu.

Pages: [1] 2 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita