Dalam kritiknya terhadap P. Johannes Hammerle, Victor Zebua (penulis buku HoJeNK) membuat suatu kesilafan kecil, yakni lupa bahwa dalam buku “Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpetasi” (selanjutnya disingkat “Asal Usul …”) tafsiran kada “ladada” atau “lafailo” telah ada. Hal ini telah diungkapkan oleh Johannes Waruwu dalam komentarnya pada kaki tulisan “Suatu Kekeliruan Interpretasi”.

Mari kita melihat kembali apa yang ditulis dalam halaman 67-68 buku “Asal Usul …” sebagaimana diingatkan oleh Johannes Waruwu:

“Tradisi Nias dalam mite, menceritakan bahwa leluhur mereka diturunkan dari lapisan langit atau dari Teteholi Ana’a. Dalam hal ini dipakai dua istilah Nias yang sinonim, ladada, lafailo, yang berarti: mereka diturunkan.” (hal. 67)

“Kedua istilah di atas, ladala dan lafailo, melukiskan suatu kedatangan seorang leluhur yang pindah secara terhormat ke suatu tempat”. (hal. 68).

Kesilafan Zebua ini sebenarnya justru menjadi semacam “rahmat terselubung” (blessing in disguise). Mengapa menjadi rahmat terselubung ? Karena ternyata, dalam jawabannya terhadap Zebua (lihat artikel: Buku Baru: Ho, Jendela Nias Kuno di Situs Museum Nias), Hammerle justru sama sekali tidak menyinggung-nyinggung pengertian yang diberikannya pada hal 67-68 buku “Asal Usul …” itu.

Alih-alih, Hammerle justru merujuk pada dua buku, (1) “Nias, eine eigene Welt. Sagen, Mythen, Überlieferungen” karangan Hammerle sendiri dan, (2) “Die Heilkunde der Niasser” (Ilmu Pengobatan Orang Nias) karangan Dr. Kleiweg de Zwaan (1913).

Kita tidak tahu persis apa pengertian kata “nidada” dalam buku “Nias, eine eigene Welt. Sagen, Mythen, Überlieferungen” karena Hammerle tidak menjelaskannya dalam artikel Buku Baru: Ho, Jendela Nias Kuno. Namun, dari terjemahan buku Dr. Kleiweg de Zwaan yang dipakai Hammerle untuk membela pendapatnya, kita bisa menyimpulkan bahwa Hammerle mengartikan “nidada” atau “nifailo” sebagai “diturunkan”. “Diturunkan” dari dan ke mana ? Jawabannya adalah: “diturunkan” dari rahim ibu ke lantai tempat ibu sedang melahirkan sang bayi. Dengan kata lain, Hammerle mengartikan “nidada” sebagai “dilahirkan”.

Dalam komentar atas artikel Buku Baru: Ho, Jendela Nias Kuno, Fidelis memberikan kesaksian berikut:

“Saya sebagai orang Nias, membaca tanggapan Pastor Johannes Hämmerle, dengan kutipan-kutipan bagaimana anak-anak lahir di Nias, sejauh saya alami (selama berada di Nias), maka dapat saya memberikan kesaksian sebagai berikut:Bila anak-anak lahir di Nias Barat (Mandrehe) dan ditolong oleh “dukun kampung” biasanya ibu dalam keadaan jongkok dan dibantu oleh beberapa ibu lain yang menopang ibu yang melahirkan. Jadi biasanya bayi jatuh ke bawah dan diterima oleh dukun yang langsung mengikat tali pusatnya dengan rambut ibunya untuk kemudian nanti dilakukan pemotongan tali pusatnya. Ini kira-kira gambaran kelahiran tradisional di Nias Barat, kecamatan Mandrehe.

Setelah modern kemudian, di beberapa puskesmas bersalin, khususnya di poliklinik yang dikelola oleh Suster-Suster yang berpendidikan modern, baru kita kenal kelahiran di tempat tidur. Dan agar air susu Ibu langsung keluar, maka bayi yang telah lahir segera ditidurkan di perut ibunya, dan dibiarkan menyusu. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan modern dan menjadi praktek dalam bersalin modern.”

Kesaksian Fidelis adalah kesaksian saya juga. Ketika saya masih kecil, saya juga pernah menyaksikan proses kelahiran bayi Nias sebagaimana diceritakan Fidelis. Proses kelahiran semacam itu bukan hanya pada kelahiran bayi Nias kuno, tetapi juga hingga sekarang di desa-desa di Nias yang belum memiliki Puskesmas.

Akan tetapi persoalannya bukan terletak pada benar tidaknya kesaksian Fidelis dan kesaksian saya.

Persoalan sebenarnya terletak pada kemenduaan tafsiran Hammerle terhadap kata “nidada – ladada” atau “nifailo – lafailo” yang bisa bermakna (1) “kedatangan seorang leluhur yang pindah secara terhormat ke suatu tempat” (hal. 68 buku Asal Usul …) atau (2) “diturunkan” dari rahim ibu alias “dilahirkan”.

Tafsiran kedua jelas-jelas dipakai oleh Hammerle untuk mendukung interpretasinya akan makna “Teteholi Ana’a” sebagai “rahim”. Namun, ada kesan bahwa Hammerle sendiri ragu-ragu terhadap interpretasi ini, sebagaimana terungkap dalam kalimat berikut dalam hal. 46 buku “Asal Usul …”:

“Lantas apa artinya kalau dikatakan bahwa Luo Mewöna diizinkan tinggal di Teteholi Ana’a ? Pertanyaan ini kami masih biarkan terbuka saja”

Sekali lagi, mengapa Hammerle menghindari makna pertama sebagaimana ditulisnya dalam buku “Asal Usul …” dan justru “lari” ke makna yang diberikan dalam kedua buku lain ketika menjawab kritik Zebua ? Inilah pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Hammerle untuk menghindari kesimpulan pembaca bahwa beliau telah melakukan suatu kekeliruan interpretasi terhadap makna Teteholi Ana’a.

E. Halawa*

Facebook Comments