Suatu Kekeliruan Interpretasi

Tuesday, January 30, 2007
By nias

E. Halawa*

Ketika tulisan berjudul “Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis” ditayangkan dalam situs ini, para pengunjung mengait – ngaitkannya dengan terbitnya sebuah buku baru tentang Budaya Nias berjudul: “Ho Jendela Nias Kuno – Sebuah Analisis Kritis Mitologis” (selanjutnya disingkat HoJeNK dalm tulisan ini) karangan dr. Victor Zebua, M. Kes. Buku ini mendapat publikasi yang cukup luas sejak Zebua menginformasikan kehadiranya sebagai sebuah topik kese-kese di NiasIsland.

Redaksi Situs Yaahowu berhasil mendapat halaman perkenalan langsung dari pengarangnya pada akhir tahun 2006 dan segera meramaikan halaman Situs ini. Sejak itu, para pemerhati silih berganti mengunjungi kedua situs Nias (Yaahowu dan Nias Island) melihat perkembangan terakhir diskusi tentang buku itu.

Suasana menjadi semakin ramai semenjak Situs Museum Nias asuhan P. Johannes Hammerle OFM Cap, memunculkan tanggapannya terhadap kritik Zebua atas pemaknaan “Teteholi Ana’a” sebagai rahim (uterus). Ada kesan, Hammerle agak emosional menjawab kritik Zebua dalam bukunya. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan jawaban Hammerle berikut:

“Penulis hendak menguatkan pendapat itu dengan sekian kata yang bergaya ilmiah: semiotika, sign, signifier, signified, arbiter, sub-klas, konsep volume, dimensi interpretasi, penanda, petanda, denotative, konotatif, teori psikoanalisa, collective unconscious”, lagi dengan meminjam ilmu beberapa tokoh-tokoh Luar Negri seperti Arthur Asa Berger, Carl Gustav Jung, Mircea Eliade dll. (hlm. 113-116).”

Padahal, Hammerle sendiri dalam bukunya “Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” (selanjutnya disingkat Asal Usul …) halaman 3 menulis:

“Dalam hal ini ilmu-ilmu pengetahuan dapat berjalan serentak, saling berkomunikasi dan saling memberi inspirasi. Misalnya: Arkeologi, Linguistik, Semantik, Anthropologi, Sejarah. Khusus di Nias, lapangan penelitian masih luas terbuka bagi pelbagai disiplin ilmu. Dalam kekosongan ini boleh saja salah satu ilmu muncul dengan memamerkan atau memaparkan satu teori, satu pandangan baru tentang asal usul suku Nias dan sejarahnya, yang kemudian menjadi acuan untuk diskusi selanjutnya.”

***
Kehadiran buku HoJeNK patut kita (masyarakat Nias) sambut dengan baik. Dalam sebuah diskusi di Nias Community Forum (NCF) sekitar dua tahun lalu, saya pernah melemparkan istilah “tamparan budaya”. Tamparan budaya adalah pukulan bagi kita, masyarakat Nias, yang tahu serba sedikit (sangat minimal) tentang budaya kita sendiri. Kita hanya bisa mengatakan “ya” terhadap apa yang ditulis pihak lain tentang kita, entah itu benar atau tidak, entah itu hasil penelitian yang sahih atau manipulatif, dst. Kita tidak (merasa) mampu berdialog atau berkomunikasi dengan para pakar yang menyebut-nyebut “Nias” dalam setiap seminar atau bentuk pertemuan ilmiah lain. Kita hanya bisa mengatakan: “Amen ! Yaduhu !” walaupun kita sendiri kurang “mengimaninya”. Itulah temparan budaya yang mengenai “pipi-pipi” kita, Ono Niha.

Viktor Zebua telah melakukan terobosan psikologis, sebuah terobosan yang mendebarkan. Mengapa mendebarkan ? Karena Zebua menggunakan “pisau-pisau analisis” baru yang tidak digunakan para peneliti sebelumnya. Dalam menyiapkan naskah buku itu, barangkali Zebua menerapkan dengan sungguh – sungguh anjuran Hammerle yang dikutip di depan. Mendebarkan karena Zebua melalui “pisau-pisau analisis” itu coba membedah dan melakukan “protes” yang cukup keras terhadap pernyataan para peneliti pendahulu tentang budaya kita, orang Nias.

Saya tidak mau membual tentang isi buku Zebua; hingga detik ini, saya juga baru membaca halaman perkenalan yang dikirim oleh pengarangnya kepada saya (yang ditayangkan dalam topik “Publikasi” Situs ini). Akan tetapi dari halaman perkenalan ini kita bisa menduga-duga isi buku itu: pasti ada satu atau sejumlah hal yang baru yang mungkin tidak kita temukan dalam buku-buku pendahulunya.

***
Böli Hae ! Jangan terengah-engah dalam memikirkan kebudayaan Nias” Ini adalah pesan Hammerle dalam buku “Asal-Usul …”. Kita bisa mengartikan pesan ini sebagai pesan penggugah semangat, khususnya semangat generasi muda Nias: “Hai generasi muda Ono Niha … jangan loyo, minatilah dan cintailah budayamu !”. Orang yang meminati dan mencintai budayanya tentulah akan menjaga agar budayanya tidak tercemar oleh “polusi-polusi” yang merusak.

***
Lantas apa hubungan antara buku “Asal Usul …”, “HoJeNK”, dan “Kritik, Bersikap dan Berpikir Kritis” ? Harus diakui terjadi suatu kekeliruan interpretasi para pengunjung situs ini dan situs NiasIsland, yaitu mengaitkan dua yang pertama (kedua buku) dengan yang ketiga (artikel singkat itu).

“Kritik, Bersikap dan Berpikir Kritis” adalah sebuah “coretan” pribadi yang (berdasarkan tanggal file di CD di mana file itu disimpan) ditulis pada bulan November tahun 2000, barangkali lebih tua dari kedua buku Hammerle dan Zebua.

Apa mau dikata, suatu kekeliruan interpretasi telah terjadi. Akan tetapi, marilah kita ingat terus apa yang dikatakan Gede Prama yang dikutip dalam artikel kecil itu: “keliru itu indah!”. Indahnya keliru itu mewujud dalam bentuk 25 komentar di kaki artikel itu (ada 26 komentar, satu berasal dari penulisnya sendiri). Komentar-komentar itu sungguh memperkaya penulis.

Begitu kayanya isi komentar memaksa penulis artikel itu untuk melanggar janji: tidak merangkum isi dari komentar-komentar itu. Alasannya ? Takut menambah kekeliruan baru yang belum tentu indah.

Siapa Gerda, Saro, Nora, Danang, Piliang, Wiem Hoerst, Signor, Piet Manuhutu, Norbert, Uchi, Goddy, Dinar, Fatoni, Erman, Abadi, Otomend, Laso, Jerry, Ortega, Desi, Heru ?

Kita keliru kalau mengklaim bisa mengidentifikasi mereka satu persatu. Yang bisa kita pastikan ialah: mereka berminat tentang hal-hal yang terkait dengan kritik, kekeliruan, penelitian, kearifan, dan tentu saja: budaya Nias. Apakah mereka semua adalah orang Nias atau sebagian teman-teman dari luar pemerhati budaya Nias, itu bukan masalah. Kita sambut dengan gembira kehadiran dan kontribusi mereka dalam diskusi-diskusi lanjut di Situs ini.

Maka, dengan ini, penulis dari artikel “Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis” (dan sekaligus pemimpin Redaksi Situs ini) secara resmi menutup diskusi tentang artikel itu.

Situs ini telah menyediakan sebuah ruang khusus, ruang Budaya, untuk menampung berbagai berita dan artikel tentang budaya, khususnya budaya Nias. Redaksi menyambut kontribusi teman-teman yang telah ikut meramaikan diskusi tentang artikel singkat di atas serta seluruh pengunjung Situs Yaahowu untuk mengisi ruang khusus itu, serta ruang-ruang lain yang tersedia.

Situs Yaahowu berencana menayangkan secara berkala artikel yang terkait dengan budaya Nias, khususnya yang menjadi bahan kajian kedua buku yang disebut di depan. Para generasi muda Nias dan para pemerhati budaya Nias diharapkan berkontribusi secara aktif dengan mengirim tulisan atau memberi komentar atas tulisan lain. Jangan takut keliru. Keliru itu indah !

10 Responses to “Suatu Kekeliruan Interpretasi”

  1. 1
    Oni Harefa Says:

    Dalam buku “Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” P. Johannes Maria Harmmerle, OFMCap menulis: “Tentu penafsiran baru tentang Teteholi Ana’a ini mengejutkan kita. Bahkan boleh jadi, penafsiran ini ditolak secara bulat dan emosional”. (hal. 110).

    Tanggapan terhadap Hammerle dalam buku “Ho Jendela Nias Kuno” ada dalam bab “Makna Simbol Teteholi Ana’a” (hal 109-123) yang ditulis secara argumentatif dan tidak menunjukkan nada emosional penulisnya.

    Redaksi situs yaahowu: “Ada kesan, Hammerle agak emosional menjawab kritik Zebua dalam bukunya”.

    Kenapa yang agak emosional justru P. Johannes Hammerle? Saya tidak habis pikir. Keliru itu indah! Tapi emosional itu jelas tidak indah!

  2. 2
    Ribkah Lase Says:

    Judul “Gempa Bumi Dalam Sejarah Nias” (di niasisland.com) dari P. Johannes mengecoh pembacanya, karena isinya hanya alihbahasa dari buku Schröder, bukan hasil penelitian P. Johannes.

    Judul yang lebih tepat … “Gempa Bumi dalam Buku Schröder” … karena ternyata ada buku lain yang menyajikan data berbeda tentang tanggal kejadian gempa (mis. buku E. Fries).

    P. Johannes emosi ketika menjawab kritik Zebua dengan mengatakan “Sekali lagi kukatakan: penelitian di lapangan dan studi perpustakaan Nias!”

    Padahal dia sendiri tidak konsekuen pada omongannya itu ketika menulis “Gempa Bumi Dalam Sejarah Nias”. Tanpa melakukan “penelitian di lapangan dan studi perpustakaan Nias” dia sudah menentukan secara dogmatis dan indoktriner tentang “Gempa Bumi dalam Sejarah Nias”.

  3. 3
    Fatoni Z Says:

    Dalam buku “Daeli Sanau Talinga & Tradisi Lisan Onowaembo Idanoi” (2004) P. Johannes menulis: istri kedua Ho adalah Buruti Lama (hal. 27).
    P. Johannes memperkuat keterangan itu dengan mengatakan bahwa Faogöli Harefa juga menyebut istri kedua Ho adalah Buruti Lama (hal. 28).

    Padahal, dalam buku “Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias” (1939) Faogöli Harefa menulis Ho kawin dengan Sa’oesö Lama (hal. 21).

    Untuk memperkuat keterangan informannya, P. Johannes telah melakukan manipulasi data sumber rujukan pustaka dari karya Faogöli Harefa.

    Benarlah kata E. Halawa: Kita hanya bisa mengatakan “ya” terhadap apa yang ditulis pihak lain tentang kita, entah itu benar atau tidak, entah itu hasil penelitian yang sahih atau manipulatif, dst.

    Kritik atas kekeliruan (baca: manipulasi) data di atas disajikan dalam buku “Ho Jendela Nias Kuno” (hal. 18-20).

  4. 4
    Johannes Waruwu Says:

    Menurut P. Johannes dalam buku “Asal Usul Masyarakat Nias” (2001) hal. 67: Tradisi Nias dalam mite, menceritakan bahwa leluhur mereka diturunkan dari lapisan langit atau dari Teteholi Ana’a. Dalam hal ini dipakai dua istilah Nias yang sinonim, ladada, lafailo, yang berarti: mereka diturunkan.
    Selanjutnya pada hal. 68 ditulis: “… Kedua istilah di atas, ladala dan lafailo, melukiskan suatu kedatangan seorang leluhur yang pindah secara terhormat ke suatu tempat”.

    Mengapa di hal. 107 istilah Teteholi Ana’a berubah artinya menjadi Rahim Sang Ibu?

    Di hal 108 ditulis: “… Mayang itu akan menghasilkan buah kandungan yang pada waktunya akan jatuh pada kaki pohon Tora’a atau pohon Tori’i-tora’a, kalau Sang ibu dengan berlutut di lantai rumah (ba gahe mbatö) akan melahirkan anaknya”.
    Dalam keterangan di buku itu (hal. 108) P. Johannes tidak menjelaskan lebih jauh secara detil tentang istilah nidada (yang dihubungkan dengan rahim dan proses melahirkan).
    Kita mendapat kesan dari kutipan hal. 108 itu, nidada berarti “jatuh” bukan “diturunkan”.

  5. 5
    P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. Says:

    Berita Gembira

    Berita gembira pertama: pada tgl. 26 Januari 2007 sudah lahir anak kijang, ono nago, di Mini-Zoo Museum Pusaka Nias. Memang sudah beberapa kali lahir anak kijang di Mini-Zoo MPN. Tetapi sekali ini istimewa: Ono Nago Safusi, anak kijang yang putih melulu. Tentang itu terdapat juga tradisi lisan, entah mite atau sejarah. Mungkin lain kali dapat diceritakan.

    Berita gembira berikut: Baru hari ini, 31. Januari 2007, untuk pertama kalinya saya membuka http://www.niasonline.net. Sekretris Museum memberitahukannya kepada saya. Katanya, banyak tanggapan masuk, karena itu saya mengucapkan terima kasih banyak karena begitu banyak orang menaruh perhatian pada kedua buku “Ho, Jendela Nias Kuno” dan “Asal Usul Masyarakat Nias”. Dalam hal ini saya hendak menyampaikan beberapa hal saja:
    1. Seandainya tanggapan saya tentang penerbitan buku baru itu memberi kesan bahwa saya agak emosional, saya minta maaf, terutama kepada dr. Victor Zebua.
    2. Seterusnya saya melihat Respons begitu banyak, sehingga saya simpulkan, tulisan saya sudah menjadi reklame atau promosi untyuk membeli buku baru itu. Jadi dr. Victor Zebua seharusnya berterima kasih kepada saya. Dan kita semua harus bersyukur, kalau makin banyak orang tertarik untuk meneliti dan menghayati kebudayaan Nias.
    3. Beberapa orang mengutip tulisan saya dalam buku “Asal Usul Masyarakat Nias” hlm. 67/68 seolah-olah bertentangan dengan tulisan saya terakhir ini. Tetapi kalau anda membacanya dengan teliti, sesungguhnya tak ada kontradiksi. Saya mengawali bab “4.4. Keturunan dari langit” itu dengan mengatakan: “Tradisi Nias dalam mite menceritakan, bahwa leluhur mereka diturunkan dari langit atau dari Teteholi Ana’a …” – Dalam hal ini saya hanya menerangkan, apa yang selama ini hidup dalam tradisi lisan Nias sesuai dengan pengertian kebanyakan orang sekarang. Belum diuraikan disini penafsiran, dan disini saya tidak mengatakan, pendapat atau keyakinan saya sebagai berikut ini. – Hati-hati dong!

    Saya sarankan, bacalah sekali lagi dengan tenang dan teliti bab 4.4 dengan judul “Keturunan dari langit.” Anda akan menemukan bahwa justru dalam bab itu saya mulai membedakan dua pengertian yang berbeda.
    a. Pengertian mitis dari sekelompok orang yang mengagungkan kata nidada dan lafailo. Kelompok orang itu hidup jauh dari pusat perkembangan kebudayaan di Nias Tengah atau Gomo.
    b. Pengertian biasa berdasarkan hidup sehari-hari. Artinya kedua kata ini dipakai dalam hidup keseharian dan tidak merupakan bahasa mitis. Bacalah buku Asal-Usul Masyarakat Nias …” halaman 67-68, di Nias Tengah masih sering menyebut kata “milo….” dst. Bacalah; …….mailo mbawi, tidak berarti bahwa ada babi yang diturunkan dari langit.

    Contoh lain lagi: Dalam Bahasa Jerman ada kata yang persis sama dengan ladada, nidada, lafailo, dll. Dalam bahsa Jerman kata niederlassen adalah kata kerja yang berarti “let down” dan kata Niederlassung adalah kata benda yang berarti ‘settlement.’
    Kata itu dipakai untuk melukiskan colonization, kampung demi kampung didirikan, selalu terjadi “ladada, lafailo,” selalu terjadi kampung baru (=Niederlassung).

    4. Hallo, Ribkah Lase, selamat bertemu. Terima kasih atas teguran: “…bukan hasil penelitian P. Johannes, hanya alihbahasa dari buku Schröder.” Memang begitu ditulis pada akhir berita itu: “dialih bahasa oleh …” Jadi menurut Ribkah Lase mungkin lebih baik, kalau itu ditulis di sebelah atas berita itu, supaya sungguh kelihatan bahwa itu karangan Schröder dan bukan Johannes. Tidak apa. Kemudian Schröder juga menerima berita dari dua gempa bumi sebelumnya dari orang lain dan tidak merupakan hasil penelitiannya sendiri. O.K.
    5. Lagi Ribkah Lase berpendapat: “… karena ternyata ada buku lain yang menyajikan data berbeda tentang tanggal kejadian gempa (mis. Buku E.Fries). … Pada hal dia sendiri (maksudnya Johannes) tidak konsekuen pada omongannya… Tanpa melakukan penelitian di lapangan dan studi di perpustakaan Nias dia sudah menentukan secara dogmatis dan indoktriner tentang Gempa Bumi dalam Sejarah Nias.”
    Hopla! Apa yang saya harus katakan dalam hal ini?
    Pertama, tak ada buku Fries tentang itu, melainkan “Rundbriefe”, artinya surat edaran.
    Kedua, berita E.Fries tentang Gempa Bumi di Nias pada tahun 1907 sudah dialih bahasa oleh saya, dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia, kemudian diterbitkan dalam bulletin MEDIA WARISAN, kemudian diambil over oleh Geolog Yonatan Tarigan dan dipublikasikan dalam Koran.
    Ketiga, berita dari Schröder (bhs. Belanda) dan berita dari E.Fries sudah dialih bahasa oleh saya. Kalau tanggal yang mereka tulis berbeda, saya tidak berhak untuk mengubah itu. Dear Ribkah Lase, tolong beritahukan kepda saya, dimana saya “tidak konsekuen pada omongannya,” karena saya hanya menterjemahkannya. Lain soal, seandainya saya salah menterjemahkan sesuatu. Tolong kasih tahu, secara “dogmatis dan indoktriner” pun boleh, supaya dapat diperbaiki. Lagi kasih tahu kepada saya, mengapa saya harus melakukan “penelitian di lapangan,” kalau menterjemahkan sesuatu. Dan bagaimanakah menurut keyakinan Ribkah saya harus melakukan “penelitian di lapangan” dalam hal berita tentang gempa bumi di masa yang silam.

    6. Akhirnya saya mengusulkan, supaya kita membaca dulu buku dari dr. Victor Zebua, dan juga buku “Asal usul Masyarakat Nias….” dll secara teliti dan menyeluruh. Baru kemudian melanjutkan diskusi. Jangan hanya baca sampul dan judul, lalu mengambil kesimpulan dan berkomentar pahit untuk menyakiti perasaan orang.
    Saya mohon maaf, seandainya pada masa yang akan datang tidak (selalu) ada tanggapan dari saya. Hal ini bukan karena saya sombong atau tidak mau menjawab, bukan karena habis kamus. Mohon maaf, siapa tahu waktu saya tidak mengizinkannya. Hari ini sudah jam 16 Wib sore, belum makan siang. Ada tamu tadi siang di museum, cucu dari Pendeta Johannes Winkler, misionaris di daerah Batak yang sangat berjasa di bidang budaya orang Batak. Bukunya berjudul: “Di Toba-Batak in gesunden und kranken Tagen” (= Orang Toba sewaktu sehat dan sewaktu sakit).

  6. 6
    Yupiter Bago Says:

    P. Johannes menulis: 5. Lagi Ribkah Lase berpendapat: “… karena ternyata ada buku lain yang menyajikan data berbeda tentang tanggal kejadian gempa (mis. Buku E.Fries) … (dst) …
    Pertama, tak ada buku Fries tentang itu, melainkan “Rundbriefe”, artinya surat edaran.

    Sekedar info saja, buku E. Fries tentang “doeroe danö” memang ada, berbahasa Nias. Buku itu: “Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha”, nifa’anö E. Fries, Ombölata, Zendingsdrukkery, 1919 (hal. 12). Tebalnya: 175 + v halaman.

  7. 7
    Saro Z Says:

    E. Halawa: “Kehadiran buku HoJeNK patut kita (masyarakat Nias) sambut dengan baik. Dalam sebuah diskusi di Nias Community Forum (NCF) sekitar dua tahun lalu, saya pernah melemparkan istilah “tamparan budaya”. Tamparan budaya adalah pukulan bagi kita, masyarakat Nias, yang tahu serba sedikit (sangat minimal) tentang budaya kita sendiri. Kita hanya bisa mengatakan “ya” terhadap apa yang ditulis pihak lain tentang kita, entah itu benar atau tidak, entah itu hasil penelitian yang sahih atau manipulatif, dst. Kita tidak (merasa) mampu berdialog atau berkomunikasi dengan para pakar yang menyebut-nyebut “Nias” dalam setiap seminar atau bentuk pertemuan ilmiah lain. Kita hanya bisa mengatakan: “Amen! Yaduhu!” walaupun kita sendiri kurang “mengimaninya”. Itulah temparan budaya yang mengenai “pipi-pipi” kita, Ono Niha.”

    🙂 Tampaknya sekarang Nono Niha sudah gak mau lagi pipinya ditampar-tampar, Pak Halawa. Lihat lah berbagai artikel di situs ini, dialog dan komunikasi telah semakin berimbang. Orang Nias sudah tidak dapat “dikadalin” lagi. Bahkan, para pakar sekarang harus menuai badai atas argumentasinya yang selama ini relatif banyak (cenderung) bias.

    Ada sejumlah artikel yang responses-nya cukup menarik di situs ini:
    1. Pengertian “nidada”, “nifailo” dalam Buku Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi.
    2. Mari Memahami Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua”.
    3. Mari Memahami Hoho “Fomböi Böröta Niha”.
    4. Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias.
    5. Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen.
    6. “Orang Nias”, Tahun 1150 Masehi Masih Hidup di Dalam Gua.

    Selain itu, artikel lainnya juga cukup hangat dilimpahi responses, mis. tentang pro-kontra Proptap. Situs yaahowu tentu telah berjasa sebagai katalisator dialog dan komunikasi itu. Salut dan profisiat, Pak Halawa! 🙂

    Masih ditunggu artikel lain, khususnya tentang hasil-hasil studi para pakar untuk dapat disosialisasikan dan didiskusikan di situs ini. Beberapa studi mutakhir tentang Nias misalnya oleh: Jerome A. Feldman, Yoshiko Yamamoto, Thomas Markus Manhart, Dominik Bonatz, dan Lea Brown, tentu amat menarik perhatian orang Nias. Mereka itu ngomong apa saja sih tentang kita? Kita kan perlu tahu juga, ya gak Pak?

    Ya’ahowu!

  8. 8
    ehalawa Says:

    Dear Pak Saro,

    Terima kasih atas dukungan Anda terhadap kehadiran Situs Yaahowu. Saya mengikuti terus komentar-komentar Anda di sejumlah artikel, dan saya boleh mengatakan: saya tercerahkan olehnya.

    Lima tahun lalu, saya pribadi masih agak “pesimistis” melihat rendahnya perhatian Ono Niha terhadap budayanya sendiri. Akan tetapi lambat laun, pesimisme itu memudar, karena akhir-akhir ini Ono Niha seakan tersentak dari “tidur”nya yang cukup lama dan mulai “melirik” hal-hal yang berkaitan dengan budayanya sendiri.

    Semoga generasi muda kita semakin berkobar semangatnya untuk berbuat sesuatu untuk budayanya. Langkah awalnya ke arah itu kelihatannya sudah mulai nampak: generasi muda kita mulai menunjukkan minat berdiskusi tentang budaya Nias.

    Eh ngomong-ngomong, Pak Saro ini dari generasi mana ya ? 🙂

  9. 9
    Saro Z Says:

    Ya’ahowu Pak Halawa,

    Ada adik kita, namanya Esther Telaumbanua. Dia mendirikan sebuah yayasan bernama “Nias Bangkit”. Kita ini sekarang termasuk generasi “Nias Bangkit” dalam arti yang seluas-luasnya, termasuk Esther dengan yayasan-nya itu.

    Ada Ikatan Keluarga Nias (IKN) Yogyakarta, sedang menggodok sebuah semiloka untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kepemimpinan Nono Niha dari aspek budaya, agama, dan pendidikan. Mereka juga generasi “Nias Bangkit”.

    Ada para netters Nono Niha yang berdiskusi di situs ini dengan elegan dan penuh energi. Argumentasi mereka dibangun dengan ilmu dan pengetahuan yang dipelajari dengan sungguh-sungguh. Mereka pun komunitas “Nias Bangkit”.

    Ada para individu Nono Niha, sedang belajar di sebuah institusi pendidikan dengan sepenuh hati untuk meraih derajad sarjana, master, atau doktor. Mereka adalah komunitas intelektual dari generasi “Nias Bangkit”.

    Ada adik-adik yang tengah menyiapkan diri masuk perguruan tinggi dengan bermodal semangat, potensi kepintaran akademik, dan kemampuan finansial terbatas yang mereka punyai, mereka juga generasi “Nias Bangkit”.

    Ada sejumlah Nono Niha yang beruntung memperoleh beasiswa studi di perguruan tinggi sebagai dampak dari bencana alam, mereka juga generasi “Nias Bangkit”.

    Ada orang Nias yang terus-menerus dengan vokal menentang korupsi, kesewenang-wenangan, dan ambisi pribadi yang menindas kepentingan umum masyarakat Nias, mereka juga generasi “Nias Bangkit”.

    Ada para Nono Niha yang dengan bergairah berdiskusi secara kritis di berbagai medan dan media, mulai dari hoho hingga DNA, mulai dari fakta hingga tafsir, mereka juga termasuk generasi “Nias Bangkit”.

    Ada orang Nias yang marah-marah karena pembangunan fisik dan infrastruktur tidak sesuai dengan bestek, asalkan “marah-marah”-nya dalam semangat dan hati yang tulus untuk menegakkan kebenaran, tentu mereka juga merupakan generasi “Nias Bangkit”.

    🙂 Litani ini bisa terus dilanjutkan, dan semua itu adalah indikasi sebuah generasi “Nias Bangkit”. Generasi “Nias Bangkit” merupakan generasi orang Nias yang tidak mau lagi “dikadalin” oleh pihak-pihak yang memandang rendah Nias sebagai individu maupun Nias sebagai masyarakat. Saya termasuk sebuah anasir di dalam generasi “Nias Bangkit” itu, Pak Halawa.

  10. 10
    yustinus Says:

    Yang Terhormat resp no. 5 (P. Johannes M. Hämmerle OFMCap).

    Maaf ya Bapak Pastor, apakah acara makan siangnya dengan cucu Pendeta Johannes Winkler sudah selesai? Soalnya Bapak Pastor sudah ditunggu tanggapannya disejumlah artikel diwebsite ini:

    1.Pengertian “nidada”, “nifailo” dalam Buku Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpretasi
    2.Mari Memahami Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua”
    3.Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias
    4.Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen
    5.P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam
    6.The Genetics of Nias – Concepts and First Data

    Kalau makan siangnya belum selesai, yah silahkan dilanjut dulu. Yang pasti kami tetap menunggu Bapak Pastor. Saohagölö perhatian Bapak Pastor. Yaahowu!

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita