E. Halawa*

Ketika tulisan berjudul “Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis” ditayangkan dalam situs ini, para pengunjung mengait – ngaitkannya dengan terbitnya sebuah buku baru tentang Budaya Nias berjudul: “Ho Jendela Nias Kuno – Sebuah Analisis Kritis Mitologis” (selanjutnya disingkat HoJeNK dalm tulisan ini) karangan dr. Victor Zebua, M. Kes. Buku ini mendapat publikasi yang cukup luas sejak Zebua menginformasikan kehadiranya sebagai sebuah topik kese-kese di NiasIsland.

Redaksi Situs Yaahowu berhasil mendapat halaman perkenalan langsung dari pengarangnya pada akhir tahun 2006 dan segera meramaikan halaman Situs ini. Sejak itu, para pemerhati silih berganti mengunjungi kedua situs Nias (Yaahowu dan Nias Island) melihat perkembangan terakhir diskusi tentang buku itu.

Suasana menjadi semakin ramai semenjak Situs Museum Nias asuhan P. Johannes Hammerle OFM Cap, memunculkan tanggapannya terhadap kritik Zebua atas pemaknaan “Teteholi Ana’a” sebagai rahim (uterus). Ada kesan, Hammerle agak emosional menjawab kritik Zebua dalam bukunya. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan jawaban Hammerle berikut:

“Penulis hendak menguatkan pendapat itu dengan sekian kata yang bergaya ilmiah: semiotika, sign, signifier, signified, arbiter, sub-klas, konsep volume, dimensi interpretasi, penanda, petanda, denotative, konotatif, teori psikoanalisa, collective unconscious”, lagi dengan meminjam ilmu beberapa tokoh-tokoh Luar Negri seperti Arthur Asa Berger, Carl Gustav Jung, Mircea Eliade dll. (hlm. 113-116).”

Padahal, Hammerle sendiri dalam bukunya “Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” (selanjutnya disingkat Asal Usul …) halaman 3 menulis:

“Dalam hal ini ilmu-ilmu pengetahuan dapat berjalan serentak, saling berkomunikasi dan saling memberi inspirasi. Misalnya: Arkeologi, Linguistik, Semantik, Anthropologi, Sejarah. Khusus di Nias, lapangan penelitian masih luas terbuka bagi pelbagai disiplin ilmu. Dalam kekosongan ini boleh saja salah satu ilmu muncul dengan memamerkan atau memaparkan satu teori, satu pandangan baru tentang asal usul suku Nias dan sejarahnya, yang kemudian menjadi acuan untuk diskusi selanjutnya.”

***
Kehadiran buku HoJeNK patut kita (masyarakat Nias) sambut dengan baik. Dalam sebuah diskusi di Nias Community Forum (NCF) sekitar dua tahun lalu, saya pernah melemparkan istilah “tamparan budaya”. Tamparan budaya adalah pukulan bagi kita, masyarakat Nias, yang tahu serba sedikit (sangat minimal) tentang budaya kita sendiri. Kita hanya bisa mengatakan “ya” terhadap apa yang ditulis pihak lain tentang kita, entah itu benar atau tidak, entah itu hasil penelitian yang sahih atau manipulatif, dst. Kita tidak (merasa) mampu berdialog atau berkomunikasi dengan para pakar yang menyebut-nyebut “Nias” dalam setiap seminar atau bentuk pertemuan ilmiah lain. Kita hanya bisa mengatakan: “Amen ! Yaduhu !” walaupun kita sendiri kurang “mengimaninya”. Itulah temparan budaya yang mengenai “pipi-pipi” kita, Ono Niha.

Viktor Zebua telah melakukan terobosan psikologis, sebuah terobosan yang mendebarkan. Mengapa mendebarkan ? Karena Zebua menggunakan “pisau-pisau analisis” baru yang tidak digunakan para peneliti sebelumnya. Dalam menyiapkan naskah buku itu, barangkali Zebua menerapkan dengan sungguh – sungguh anjuran Hammerle yang dikutip di depan. Mendebarkan karena Zebua melalui “pisau-pisau analisis” itu coba membedah dan melakukan “protes” yang cukup keras terhadap pernyataan para peneliti pendahulu tentang budaya kita, orang Nias.

Saya tidak mau membual tentang isi buku Zebua; hingga detik ini, saya juga baru membaca halaman perkenalan yang dikirim oleh pengarangnya kepada saya (yang ditayangkan dalam topik “Publikasi” Situs ini). Akan tetapi dari halaman perkenalan ini kita bisa menduga-duga isi buku itu: pasti ada satu atau sejumlah hal yang baru yang mungkin tidak kita temukan dalam buku-buku pendahulunya.

***
Böli Hae ! Jangan terengah-engah dalam memikirkan kebudayaan Nias” Ini adalah pesan Hammerle dalam buku “Asal-Usul …”. Kita bisa mengartikan pesan ini sebagai pesan penggugah semangat, khususnya semangat generasi muda Nias: “Hai generasi muda Ono Niha … jangan loyo, minatilah dan cintailah budayamu !”. Orang yang meminati dan mencintai budayanya tentulah akan menjaga agar budayanya tidak tercemar oleh “polusi-polusi” yang merusak.

***
Lantas apa hubungan antara buku “Asal Usul …”, “HoJeNK”, dan “Kritik, Bersikap dan Berpikir Kritis” ? Harus diakui terjadi suatu kekeliruan interpretasi para pengunjung situs ini dan situs NiasIsland, yaitu mengaitkan dua yang pertama (kedua buku) dengan yang ketiga (artikel singkat itu).

“Kritik, Bersikap dan Berpikir Kritis” adalah sebuah “coretan” pribadi yang (berdasarkan tanggal file di CD di mana file itu disimpan) ditulis pada bulan November tahun 2000, barangkali lebih tua dari kedua buku Hammerle dan Zebua.

Apa mau dikata, suatu kekeliruan interpretasi telah terjadi. Akan tetapi, marilah kita ingat terus apa yang dikatakan Gede Prama yang dikutip dalam artikel kecil itu: “keliru itu indah!”. Indahnya keliru itu mewujud dalam bentuk 25 komentar di kaki artikel itu (ada 26 komentar, satu berasal dari penulisnya sendiri). Komentar-komentar itu sungguh memperkaya penulis.

Begitu kayanya isi komentar memaksa penulis artikel itu untuk melanggar janji: tidak merangkum isi dari komentar-komentar itu. Alasannya ? Takut menambah kekeliruan baru yang belum tentu indah.

Siapa Gerda, Saro, Nora, Danang, Piliang, Wiem Hoerst, Signor, Piet Manuhutu, Norbert, Uchi, Goddy, Dinar, Fatoni, Erman, Abadi, Otomend, Laso, Jerry, Ortega, Desi, Heru ?

Kita keliru kalau mengklaim bisa mengidentifikasi mereka satu persatu. Yang bisa kita pastikan ialah: mereka berminat tentang hal-hal yang terkait dengan kritik, kekeliruan, penelitian, kearifan, dan tentu saja: budaya Nias. Apakah mereka semua adalah orang Nias atau sebagian teman-teman dari luar pemerhati budaya Nias, itu bukan masalah. Kita sambut dengan gembira kehadiran dan kontribusi mereka dalam diskusi-diskusi lanjut di Situs ini.

Maka, dengan ini, penulis dari artikel “Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis” (dan sekaligus pemimpin Redaksi Situs ini) secara resmi menutup diskusi tentang artikel itu.

Situs ini telah menyediakan sebuah ruang khusus, ruang Budaya, untuk menampung berbagai berita dan artikel tentang budaya, khususnya budaya Nias. Redaksi menyambut kontribusi teman-teman yang telah ikut meramaikan diskusi tentang artikel singkat di atas serta seluruh pengunjung Situs Yaahowu untuk mengisi ruang khusus itu, serta ruang-ruang lain yang tersedia.

Situs Yaahowu berencana menayangkan secara berkala artikel yang terkait dengan budaya Nias, khususnya yang menjadi bahan kajian kedua buku yang disebut di depan. Para generasi muda Nias dan para pemerhati budaya Nias diharapkan berkontribusi secara aktif dengan mengirim tulisan atau memberi komentar atas tulisan lain. Jangan takut keliru. Keliru itu indah !

Facebook Comments