*Masyarakat Diimbau Hati-hati

Medan, (Analisa)

Masyarakat Sumatera Utara diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana khususnya gempa bumi. Apalagi, Sumatera Utara dilalui tiga segmen patahan yakni Patahan Renun, Patahan Toru dan Patahan Angkola sepanjang 475 kilometer, di mana ketiga segmen patahan ini merupakan sumber dan jalur perambatan gempa bumi di darat.

“Berdasarkan data BMG, daerah yang berada dalam pengaruh tiga patahan tersebut yakni Kabupaten Pakpak Bharat, Dairi, Karo, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal,” ujar Kepala Badan Informasi dan Komunikasi (Bainfokom) Provinsi Sumatera Utara Drs H Eddy Syofian MAP kepada wartawan melalui Government Information Service (GIS) di Medan, Minggu (28/1).

Eddy menjelaskan, selain jalur gempa di darat, di Sumatera Utara juga dijumpai pusat-pusat gempa di laut. Pusat-pusat gempa di laut ini ditemukan wilayah di pantai Barat Sumatera Utara dengan panjang 400 kilometer, serta dapat menimbulkan tsunami.

“Untuk itulah, Gubsu sudah mengeluarkan surat edaran Nomor 360/169 tertanggal 9 Januari 2007 ke seluruh bupati/walikota se-Provinsi Sumut untuk mengambil langkah-langkah antisipasi. Langkah tersebut diperlukan untuk meminimalisir kerusakan sarana dan prasarana serta korban jiwa,” kata Eddy.

Dalam surat tersebut, lanjut Eddy, Gubsu menegaskan bahwa gempa bumi berskala kuat pernah beberapa kali terjadi pada patahan Renun, Toru, dan Angkola, di antaranya di Kabupaten Karo tahun 1936 berkekuatan 7,2 SR, Dairi tahun 1921 kekuatan 6,8 SR, Taput-Humbahas-Toba Samosir tahun 1941 dan 1975 kekuatan 6,0 SR serta tahun 1987 berkekuatan 6,4 SR, Kabupaten Tapsel tahun 1873 kekuatan 6,0 SR, Madina tahun 1892 kekuatan 6,0 SR dan Tapteng tahun 1934 berkekuatan 8,0 SR.

Bahkan, kata Eddy mengutip surat Gubsu itu, mencermati kejadian gempa bumi di Desa Guru Kinayan Kabupaten Karo 19 Desember kekuatan 4,2 SR, Padangsidimpuan 9 September 2006 kekutan 5,2 SR, Tebing Tinggi 1 Desember 2006 berkekuatan 6,3 SR, Nias 2 November 2006 5,5 SR dan Muara Sipongi Madina 18 Desember 2006 5,6 SR, diperkirakan mulai terjadi pengulangan siklus gempa bumi di sepanjang patahan Renun, Tori dan Angkola serta aktivitas zona subduksi di pantai Barat Sumatera Utara.

“Gempa bumi sampai saat ini tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Karena itu, Gubsu meminta bupati/walikota melakukan pemetaan zona kerawanan di sepanjang patahan Renun, Toru dan Angkola. Selain itu juga perlu dipetakan resiko bencana gempa terhadap tata ruang kabupaten/kota,” sebut Eddy.

Semua itu, lanjutnya, merupakan langkah jangka panjang. Sedangkan jangka pendek, kepala daerah di Sumut diminta melakukan kegiatan mitigasi berbasis masyarakat khususnya di daerah yang berada di jalur patahan. “Juga perlu sosialisasi ke masyarakat tentang upaya-upaya penyelamatan jiwa manusia bila bencana gempa terjadi,” ungkapnya.

CUACA
Sementara itu, selama bulan Januari hujan masih tetap berpeluang terjadi di Sumatera Utara. Karenanya, bupati/walikota selaku Ketua Satlak diminta melakukan kesiapsiagaan dan meningkatkan kewaspadaan di lokasi-lokasi rawan bencana di daerahnya masing-masing.

Menurut Eddy Syofian, berdasarkan surat Sakorlak PBP (Satuan Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Pengungsi) Sumut Nomor 321/SKP-PBP/I/2007 tanggal 9 Januari 2007, wilayah Sumatera bagian Utara masih dipengaruhi oleh Monsoon Timur Laut sehingga pertumbuhan awan-awan konvektif masih aktif dan peluang terjadinya hujan disertai guntur masih tinggi.

Pias konvergensi (pertemuan arus angin-red) antar tropis yang berada di Pantai Barat Sumatera, Sumbar, Sumsel, Laut Jawa hingga perairan Nusa Tenggara juga masih terjadi. Akibatnya, di Pantai Barat Sumut yang dipengaruhi pias konvergemnsi menyebabkan pertumbuhan awan-awan konvektif dan berpeluang menimbulkan cuaca buruk. “Namun kondisi ini diperkirakan segera berakhir,” katanya. (nai)

Sumber: Analisa Online, 28 Januari 2007

Facebook Comments