* Sumber: Koran Süddeutsche, Ulrich Hartmann, 27 Desember 2006, terjemahan Autha Zega

Apa yang bisa dilakukan juga dalam sepakbola
Upaya membantu mempersatukan desa-desa yang terkena bencana alam di Indonesia dengan olahraga

Rainer Bonhof bekerja untuk klub sepakbola raksasa yang dimiliki Roman Abramowitsch. Abramowitsch yang asal Rusia ini mempunyai uang dari minyak bumi, sehingga ia mampu (dan juga cukup berkuasa) untuk membeli klub sepakbola London FC. Chelsea pada tahun 2003.

Abramowitsch menyalurkan uang ke klub sepakbola ini hampir setengah milyar Ponsterling dalam 3 tahun, sehingga pemain sekelas Michael Ballack bisa berpenghasilan sekitar € 180 ribu seminggu. Bonhof bekerja sebagai pencari pemain berbakat untuk klub ini sejak September 2006. Ia bertugas menemukan Ballack-Ballack baru untuk klub itu dengan cara berkeliling ke Jerman, Austria dan Swiss. Oleh karena calon pemainnya harus tetap menjadi rahasia sampai mereka menerima tawaran resmi dari klubnya, ia tak suka bicara banyak tentang kegiatannya. Ini berkaitan tentang informasi eksklusif dan tentunya berkaitan dengan banyak uang.

Tokoh lain lagi, Lutz Udally bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Help dari Jerman. Pria berusia 28 tahun yang berasal dari kota Bonn, Jerman, ini membangun kembali pulau Nias sejak November 2005 bersama dengan 8 LSM dari Jerman dan banyak LSM lainnya dalam dan luar negeri. Pulau Nias terletak di pantai barat Sumatra di Samudra Hindia. Pulau ini pertama-tama dibanjiri tsunami pada 26 Desember 2004, lalu dilanda gempa besar yang memakan korban jiwa setidaknya seribu orang pada 28 Maret 2005. Banyak bangunan yang roboh. Di ibu kota kabupaten Gunung Sitoli saja, empat dari lima rumah rusak. Udally bertugas membangun kembali Nias. 700 rumah harus dibangun, 400 rumah perlu diperbaiki.

Di waktu luangnya Udally bermain sepakbola dengan orang-orang Nias. Saat remaja ia bergabung di FC. Köln, Jerman, dan berhasil mengantongi sertifikat pelatih sepakbola tingkat C. Udally menjadi semacam “bintang sepakbola” di Gunung Sitoli dan bermain untuk FC. Tirta. Ia bercita-cita membawa kembali sepakbola ke seluruh pulau Nias. Ia ingin membantu memperbaiki lapangan dan memperhatikan perlengkapan sepakbola. Ia tak mau orang Nias meninggalkan sepakbola karena itu bisa membantu melupakan kesulitan, memerangi krimina­litas, memperkecil perbedaan budaya, dan memperbaharui persahabatan. Organisasi tempat bekerja orang asal Bonn ini, Help, membiayai aksi ini. Untuk itu Help perlu € 2 milyar.

Kembali ke Rainer Bonhof. Ia menjadi anggota tim nasional Jerman ketika Jerman menjuarai piala dunia tahun 1974 di München. Ia bertanding di tim usia 17 di Borussia-Mönchengladbach dan FC. Valencia, bergabung di tim usia 18 di di FC. Köln I, dan bermain satu musim pertandingan di Hertha BSC Berlin, sebelum karirnya sebagai pemain berakhir. Kemudian ia bekerja sebagai pelatih pemuda di Persatuan Sepakbola Jerman dan lalu menjadi pelatih tim nasional yunior Skotlandia. Bonhof yang tinggal di propinsi Jerman Niederrhein ini pernah mengatakan bahwa ia ingin menjadi pelatih nasional tim Jerman. Impian itu tak menjadi kenyataan, sekarang ia menjadi pencari bakat untuk tim paling top di Inggris. Dulu ada lebih banyak pencari bakat sehingga Bonhof perlu bersaing dengan pencari bakat lain dari berbagai klub sepakbola di Jerman. Namun kekuatan finansial klubnya menjadi senjata pekerjaannya. Jika ia menemukan pemain muda yang bagus di suatu klub, itu bisa membahayakan posisi klub lain. Klub yang mengutus Bonhof tak mau berhemat dalam mencari pemain baru.

Di Nias, keprihatinan untuk berhemat juga tak muncul. Masyarakat di sana tak punya sesuatu, apalagi yang masih bisa dihemat? “Di desa-desa terpencil, gambarannya mengejutkan,” papar Lutz Udally. Pulau Nias memiliki 700 ribu penduduk yang tersebar di 20 kecamatan. Semuanya sama-sama mengalami tsunami dan gempa, namun gerakan solidaritas sosial tak lantas muncul akibat bencana alam ini. Beberapa desa, yang terletak tak jauh dari desa lainnya, belum tentu bisa hidup bersama dengan damai. Udally harus memperhatikan kesulitan semacam ini dalam menjalankan proyek pembangunan kembali. “Saya mengalami suatu kali mendapat peringatan agar tak makan di desa tertentu karena bisa diracun,” jelasnya. Ketidakpercayaan di pulau ini sangat besar, juga perbedaan budaya. Sepakbola, menurut Udally, bisa membantu dalam konflik ini. “Sepakbola bisa membawa suatu perubahan besar.” Ia bisa menyatukan orang-orang yang merasa kurang memiliki ikatan.

Sepakbola adalah olahraga terpopuler di Indonesia, lebih populer daripada badminton, voli, dan tenismeja. Alasannya sederhana saja, sepakbola bisa dimainkan di mana saja. Orang Nias bermain sepakbola di tanah lapang atau di pantai, dengan bersandal jepit atau bertelanjang kaki. Tentu susah mengharapkan sepakbola dimainkan dengan standar yang baku. Dalam hal inilah Udally memberikan perhatian. LSM Help Jerman akan membangun kembali lapangan di Gunung Sitoli, menyeleksi pemain yang akan mengambil bagian di pertandingan tingkat Sumatra Utara, membantu membangun infrastruktur untuk kesebelasan Nias, membuat klub sepakbola, menyelenggarakan turnamen tingkat Nias dan kursus manajemen persepakbolaan. Sementara relawan dari proyek Help dalam bidang pembangunan rumah, pengelolaan sampah dan pendampingan hastakarya (handmade) bekerja agar kehidupan sehari-hari kembali normal, proyek sepakbola ini mendorong sekali kemajuan proyek-proyek lainnya, karena sepakbola mempersatukan. “Di tempat ini juga terjadi situasi seperti yang berlangsung di mana-mana,” kata Udally. Situasi itu juga terjadi pada dirinya. “Sepakbola adalah satu-satunya cara bagaimana saya bisa menjalin hubungan langsung dengan orang Nias,” katanya lagi. Sepakbola juga menjadi salah satu cara bagi Nias untuk unjuk gigi di Sumatra. Mayoritas penduduk Nias Kristen, sedangkan mayoritas penduduk Sumatra beragama Muslim. “Dengan kesebelasannya, Nias bisa menampilkan diri,” ujar Udally lagi, “itu akan menjadi suatu kesempatan besar bagi kesebelasan Nias.”

Rainer Bonhof, 54, masih ingat bagaimana dulu ketika masih bocah bermain di lapangan yang becek kelas kampung di kota asalnya, Emmerich. Pada usia 22 tahun, ia menjadi bagian tim juara dunia. “Saya memulai karier di lapangan yang becek dan mengakhiri karier di karpet hijau,” ucapnya.

Ketika Jerman pertama kali menjuarai Piala Dunia di tahun 1954, ia berusia 2 tahun. Ia pertama kali mendengar kisah kemenangan itu hanya sebagai sejarah masa lalu. Tetapi ketika ia berusia 15 tahun, ia dapat merasakan semangat yang bergelora yang dikobarkan sepakbola, lewat film dokumenter tentang peristiwa kemenangan itu, Keajaiban dari Bern. Film itu juga bisa menggambarkan semangat dan keadaan orang Nias dalam bermain sepakbola. “Sepakbola di Nias seperti sepakbola di Jerman setelah kita kalah perang dunia II,” katanya. “Orang bermain sepakbola dengan bertelanjang kaki atau entah dengan doping apa, tetapi pokoknya, main sepakbola! Sepakbola bagi pengharapan dan keberanian hidup.” Sisi ini yang membuat Bonhof bersemangat. “Saya mengambil keputusan untuk membantu proyek sepakbola di Nias,” ucap Bonhof yang memutuskan bergabung menjadi pengurus LSM Help.

Sepakbola di Nias juga bisa memberikan suatu pengalaman yang cukup menyakitkan. Udally mengalami apa yang disebut oleh Pak Ferry, manajer tim, kena guna-guna. Akhir Oktober 2006 Udally ikut bergabung dengan FC. Tirta pada turnamen Piala Bupati Nias, turnamen pertama setelah gempa. Di hadapan 4.500 penonton di lapangan Gunung Sitoli, kesebelasannya maju terus sampai ke perempatfinal.

Pada pertandingan perpanjangan tiba-tiba ia merasakan kram kaki (walau menurut penerjemah mengalami kram otot adalah hal yang biasa jika orang berolahraga cukup keras). Keadaan lapangan buruk dan ototku melemah,” jelasnya. Ia harus menembak tendangan penalti pertama sebelum kakinya mendapatkan es dan diperban. Tim manajer tak ragu mengatakan bahwa Udally terkena guna-guna yang dilemparkan oleh pihak lawan. “Pengobatan kram itu,” kenang Udally, “campuran dari doa dan pengusiran roh jahat, dengan gerakan seakan-akan mengusir atau gerakan meniup ke atas.” Penyembuhan berlangsung perlahan-lahan. “Saya mulai berlari lagi,” tambah Udally.

Turnamen sepakbola merupakan suatu peristiwa besar di Nias. Penonton berduyun-duyun memenuhi lapangan. “Ada teriakan penonton dengan komentar yang luar biasa dan ada juga berbagai macam aktivitas di pinggir lapangan,” Udally menggambarkan. Hal ini juga yang menyentuh Bonhof. “Sepakbola bisa begitu luar biasa mengembalikan rasa percaya diri.” Bonhof menganggap sepakbola sebagai “bagian dari penyatuan masyarakat”.

Lebih lanjut ia berharap proyek ini bisa membuka lapangan kerja dan menumbuhkan rasa percaya diri. Bonhof memutuskan menyingsingkan lengan. Ia kadang-kadang bermain golf bersama pemain sepakbola profesional lain. Dari situ ia akan menyelenggarakan pertandingan golf tahun 2007 yang hasilnya akan disalurkan untuk mendukung proyek LSM Help. Ia juga mengumpulkan bola, jaring gawang & kaus ke berbagai klub sepakbola, juga sumbangan, dan akan mengantarnya ke Nias pada tahun 2007 bersama seorang pendamping. “Sepakbola sebaiknya membantu orang Nias melupakan,” tegas Rainer Bonhof, “kadangkala sepakbola juga bisa menanggulangi trauma.”

Facebook Comments