Bertelanjang Kaki & Entah dengan Doping Apa

Sunday, January 28, 2007
By nias

* Sumber: Koran Süddeutsche, Ulrich Hartmann, 27 Desember 2006, terjemahan Autha Zega

Apa yang bisa dilakukan juga dalam sepakbola
Upaya membantu mempersatukan desa-desa yang terkena bencana alam di Indonesia dengan olahraga

Rainer Bonhof bekerja untuk klub sepakbola raksasa yang dimiliki Roman Abramowitsch. Abramowitsch yang asal Rusia ini mempunyai uang dari minyak bumi, sehingga ia mampu (dan juga cukup berkuasa) untuk membeli klub sepakbola London FC. Chelsea pada tahun 2003.

Abramowitsch menyalurkan uang ke klub sepakbola ini hampir setengah milyar Ponsterling dalam 3 tahun, sehingga pemain sekelas Michael Ballack bisa berpenghasilan sekitar € 180 ribu seminggu. Bonhof bekerja sebagai pencari pemain berbakat untuk klub ini sejak September 2006. Ia bertugas menemukan Ballack-Ballack baru untuk klub itu dengan cara berkeliling ke Jerman, Austria dan Swiss. Oleh karena calon pemainnya harus tetap menjadi rahasia sampai mereka menerima tawaran resmi dari klubnya, ia tak suka bicara banyak tentang kegiatannya. Ini berkaitan tentang informasi eksklusif dan tentunya berkaitan dengan banyak uang.

Tokoh lain lagi, Lutz Udally bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Help dari Jerman. Pria berusia 28 tahun yang berasal dari kota Bonn, Jerman, ini membangun kembali pulau Nias sejak November 2005 bersama dengan 8 LSM dari Jerman dan banyak LSM lainnya dalam dan luar negeri. Pulau Nias terletak di pantai barat Sumatra di Samudra Hindia. Pulau ini pertama-tama dibanjiri tsunami pada 26 Desember 2004, lalu dilanda gempa besar yang memakan korban jiwa setidaknya seribu orang pada 28 Maret 2005. Banyak bangunan yang roboh. Di ibu kota kabupaten Gunung Sitoli saja, empat dari lima rumah rusak. Udally bertugas membangun kembali Nias. 700 rumah harus dibangun, 400 rumah perlu diperbaiki.

Di waktu luangnya Udally bermain sepakbola dengan orang-orang Nias. Saat remaja ia bergabung di FC. Köln, Jerman, dan berhasil mengantongi sertifikat pelatih sepakbola tingkat C. Udally menjadi semacam “bintang sepakbola” di Gunung Sitoli dan bermain untuk FC. Tirta. Ia bercita-cita membawa kembali sepakbola ke seluruh pulau Nias. Ia ingin membantu memperbaiki lapangan dan memperhatikan perlengkapan sepakbola. Ia tak mau orang Nias meninggalkan sepakbola karena itu bisa membantu melupakan kesulitan, memerangi krimina­litas, memperkecil perbedaan budaya, dan memperbaharui persahabatan. Organisasi tempat bekerja orang asal Bonn ini, Help, membiayai aksi ini. Untuk itu Help perlu € 2 milyar.

Kembali ke Rainer Bonhof. Ia menjadi anggota tim nasional Jerman ketika Jerman menjuarai piala dunia tahun 1974 di München. Ia bertanding di tim usia 17 di Borussia-Mönchengladbach dan FC. Valencia, bergabung di tim usia 18 di di FC. Köln I, dan bermain satu musim pertandingan di Hertha BSC Berlin, sebelum karirnya sebagai pemain berakhir. Kemudian ia bekerja sebagai pelatih pemuda di Persatuan Sepakbola Jerman dan lalu menjadi pelatih tim nasional yunior Skotlandia. Bonhof yang tinggal di propinsi Jerman Niederrhein ini pernah mengatakan bahwa ia ingin menjadi pelatih nasional tim Jerman. Impian itu tak menjadi kenyataan, sekarang ia menjadi pencari bakat untuk tim paling top di Inggris. Dulu ada lebih banyak pencari bakat sehingga Bonhof perlu bersaing dengan pencari bakat lain dari berbagai klub sepakbola di Jerman. Namun kekuatan finansial klubnya menjadi senjata pekerjaannya. Jika ia menemukan pemain muda yang bagus di suatu klub, itu bisa membahayakan posisi klub lain. Klub yang mengutus Bonhof tak mau berhemat dalam mencari pemain baru.

Di Nias, keprihatinan untuk berhemat juga tak muncul. Masyarakat di sana tak punya sesuatu, apalagi yang masih bisa dihemat? “Di desa-desa terpencil, gambarannya mengejutkan,” papar Lutz Udally. Pulau Nias memiliki 700 ribu penduduk yang tersebar di 20 kecamatan. Semuanya sama-sama mengalami tsunami dan gempa, namun gerakan solidaritas sosial tak lantas muncul akibat bencana alam ini. Beberapa desa, yang terletak tak jauh dari desa lainnya, belum tentu bisa hidup bersama dengan damai. Udally harus memperhatikan kesulitan semacam ini dalam menjalankan proyek pembangunan kembali. “Saya mengalami suatu kali mendapat peringatan agar tak makan di desa tertentu karena bisa diracun,” jelasnya. Ketidakpercayaan di pulau ini sangat besar, juga perbedaan budaya. Sepakbola, menurut Udally, bisa membantu dalam konflik ini. “Sepakbola bisa membawa suatu perubahan besar.” Ia bisa menyatukan orang-orang yang merasa kurang memiliki ikatan.

Sepakbola adalah olahraga terpopuler di Indonesia, lebih populer daripada badminton, voli, dan tenismeja. Alasannya sederhana saja, sepakbola bisa dimainkan di mana saja. Orang Nias bermain sepakbola di tanah lapang atau di pantai, dengan bersandal jepit atau bertelanjang kaki. Tentu susah mengharapkan sepakbola dimainkan dengan standar yang baku. Dalam hal inilah Udally memberikan perhatian. LSM Help Jerman akan membangun kembali lapangan di Gunung Sitoli, menyeleksi pemain yang akan mengambil bagian di pertandingan tingkat Sumatra Utara, membantu membangun infrastruktur untuk kesebelasan Nias, membuat klub sepakbola, menyelenggarakan turnamen tingkat Nias dan kursus manajemen persepakbolaan. Sementara relawan dari proyek Help dalam bidang pembangunan rumah, pengelolaan sampah dan pendampingan hastakarya (handmade) bekerja agar kehidupan sehari-hari kembali normal, proyek sepakbola ini mendorong sekali kemajuan proyek-proyek lainnya, karena sepakbola mempersatukan. “Di tempat ini juga terjadi situasi seperti yang berlangsung di mana-mana,” kata Udally. Situasi itu juga terjadi pada dirinya. “Sepakbola adalah satu-satunya cara bagaimana saya bisa menjalin hubungan langsung dengan orang Nias,” katanya lagi. Sepakbola juga menjadi salah satu cara bagi Nias untuk unjuk gigi di Sumatra. Mayoritas penduduk Nias Kristen, sedangkan mayoritas penduduk Sumatra beragama Muslim. “Dengan kesebelasannya, Nias bisa menampilkan diri,” ujar Udally lagi, “itu akan menjadi suatu kesempatan besar bagi kesebelasan Nias.”

Rainer Bonhof, 54, masih ingat bagaimana dulu ketika masih bocah bermain di lapangan yang becek kelas kampung di kota asalnya, Emmerich. Pada usia 22 tahun, ia menjadi bagian tim juara dunia. “Saya memulai karier di lapangan yang becek dan mengakhiri karier di karpet hijau,” ucapnya.

Ketika Jerman pertama kali menjuarai Piala Dunia di tahun 1954, ia berusia 2 tahun. Ia pertama kali mendengar kisah kemenangan itu hanya sebagai sejarah masa lalu. Tetapi ketika ia berusia 15 tahun, ia dapat merasakan semangat yang bergelora yang dikobarkan sepakbola, lewat film dokumenter tentang peristiwa kemenangan itu, Keajaiban dari Bern. Film itu juga bisa menggambarkan semangat dan keadaan orang Nias dalam bermain sepakbola. “Sepakbola di Nias seperti sepakbola di Jerman setelah kita kalah perang dunia II,” katanya. “Orang bermain sepakbola dengan bertelanjang kaki atau entah dengan doping apa, tetapi pokoknya, main sepakbola! Sepakbola bagi pengharapan dan keberanian hidup.” Sisi ini yang membuat Bonhof bersemangat. “Saya mengambil keputusan untuk membantu proyek sepakbola di Nias,” ucap Bonhof yang memutuskan bergabung menjadi pengurus LSM Help.

Sepakbola di Nias juga bisa memberikan suatu pengalaman yang cukup menyakitkan. Udally mengalami apa yang disebut oleh Pak Ferry, manajer tim, kena guna-guna. Akhir Oktober 2006 Udally ikut bergabung dengan FC. Tirta pada turnamen Piala Bupati Nias, turnamen pertama setelah gempa. Di hadapan 4.500 penonton di lapangan Gunung Sitoli, kesebelasannya maju terus sampai ke perempatfinal.

Pada pertandingan perpanjangan tiba-tiba ia merasakan kram kaki (walau menurut penerjemah mengalami kram otot adalah hal yang biasa jika orang berolahraga cukup keras). Keadaan lapangan buruk dan ototku melemah,” jelasnya. Ia harus menembak tendangan penalti pertama sebelum kakinya mendapatkan es dan diperban. Tim manajer tak ragu mengatakan bahwa Udally terkena guna-guna yang dilemparkan oleh pihak lawan. “Pengobatan kram itu,” kenang Udally, “campuran dari doa dan pengusiran roh jahat, dengan gerakan seakan-akan mengusir atau gerakan meniup ke atas.” Penyembuhan berlangsung perlahan-lahan. “Saya mulai berlari lagi,” tambah Udally.

Turnamen sepakbola merupakan suatu peristiwa besar di Nias. Penonton berduyun-duyun memenuhi lapangan. “Ada teriakan penonton dengan komentar yang luar biasa dan ada juga berbagai macam aktivitas di pinggir lapangan,” Udally menggambarkan. Hal ini juga yang menyentuh Bonhof. “Sepakbola bisa begitu luar biasa mengembalikan rasa percaya diri.” Bonhof menganggap sepakbola sebagai “bagian dari penyatuan masyarakat”.

Lebih lanjut ia berharap proyek ini bisa membuka lapangan kerja dan menumbuhkan rasa percaya diri. Bonhof memutuskan menyingsingkan lengan. Ia kadang-kadang bermain golf bersama pemain sepakbola profesional lain. Dari situ ia akan menyelenggarakan pertandingan golf tahun 2007 yang hasilnya akan disalurkan untuk mendukung proyek LSM Help. Ia juga mengumpulkan bola, jaring gawang & kaus ke berbagai klub sepakbola, juga sumbangan, dan akan mengantarnya ke Nias pada tahun 2007 bersama seorang pendamping. “Sepakbola sebaiknya membantu orang Nias melupakan,” tegas Rainer Bonhof, “kadangkala sepakbola juga bisa menanggulangi trauma.”

3 Responses to “Bertelanjang Kaki & Entah dengan Doping Apa”

  1. 1
    Fatoni Z Says:

    Saohagölö kak Autha Zega atas terjemahannya tentang sepakbola yang bertelanjang kaki. Ini mengingatkan saya ketika bocah dan remaja, main sepakbola kiyam (kaki ayam) dalam pertandingan tarkam (antar kampung). Bahkan saya pernah ikut pertandingan kiyam melawan sebuah tim sepakbola wanita profesional (pertandingan eksibisi) di Stadion Teladan Medan. Kami kiyam, lawan kami pakai sepatu bola, skor waktu 1-1.

    Kata Rainer Bonhof “kadangkala sepakbola juga bisa menanggulangi trauma.” “Sepakbola bisa begitu luar biasa mengembalikan rasa percaya diri.” Bonhof menganggap sepakbola sebagai “bagian dari penyatuan masyarakat”. Pernyataan tersebut betul sejauh sepakbola itu berbentuk permainan.

    Bila sepakbola menjadi sebuah kompetisi, penyatuan masyarakat terjadi, namun disusul polarisasi masyarakat dan kemudian bentrok antar masyarakat (ingat suporter bonek di Indonesia, atau hooliganisme di tingkat dunia). LSM Help Jerman tentu tidak bermaksud mereproduksi tragedi Heissel ke Nias.

  2. 2
    autha Says:

    Yaahowu Kak Fatoni!
    Terima kasih membaca terjemahannya, walaupun terjemahannya belum halus. Saya kadang bingung bagaimana mengalihpikirkan pola pikir Jerman ke nuansa pola pikir Indonesia. Yah, jadinya begitulah ….

    Saya baru tahu ada istilah kiyam 😀 …. Berarti sepak bola perempuan Nias cukup maju, ya? Hebat!

    Saya setuju dengan pengamatan Kak Fatoni tentang gejala Bonek & Hooligan. Cuma menurut saya itu bukan karena sepakbola menjadi kompetisi, tetapi karena tim/suporter (baca: kita semua) seringkali salah memahami makna solidaritas. Kalau solidaritas dipahami sebagai membela yang benar dan membereskan yang salah demi kemajuan kelompok kita (bukan membela yang satu kelompok dengan saya, entah benar/salah), maka kekalahan pertandingan diterima sebagai sesuatu yang wajar dalam kompetisi (siap tanding, siap menang/kalah), pelaku korupsi malu, hukum ditegakkan, Nias lebih maju, dst (kok jadi jauh, ya?). Setuju?

  3. 3
    Onny Kresnawan Says:

    Perkawinan Dini di Nias Dalam Sketsa Film

    Yanti, anak perempuan Nias berusia 15 tahun yang cantik, energik dan cerdas, ingin melanjutkan pendidikan ke SMA favorit dengan beasiswa yang ia peroleh karena prestasinya. Namun, keinginannya tersebut terkendala karena tiba-tiba ia mendengar bahwa dirinya akan segera dinikahkan dengan keluarga terpandang di desa mereka.
    Bahkan, jujuran (uang pinangan) sudah dipersiapkan. Tak ingin adiknya mengalami pernikahan dini yang bakal menyeretnya dalam penderitaan yang dialaminya, Mira, sang kakak mencoba berbagai cara untuk menggagalkan rencana yang sudah disusun sang ayah meski harus mengalami berbagai perlakuan kasar dan kekerasan.

    “Sebuah ironi kebudayaan yang semestinya menjadi bagian dari kumpulan cerita rakyat.” (Onny Kresnawan, Sutradara “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan”)

    Kisah Yanti dari daerah Kabupaten Nias di atas tentu merupakan fakta yang semestinya tidak boleh terjadi lagi di saat dunia menjunjung tinggi derajat perempuan. Tapi, di beberapa daerah di Indonesia, fakta-fakta ini masih dapat diendus dengan begitu mudah. Di Nias, kawin paksa yang lebih identik dengan kekerasan terhadap perempuan lebih cenderung dilatarbelakangi penafsiran adat dan agama yang bias gender. Berdasarkan penelitian Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), sepanjang 2005 – 2007 tercatat 109 kasus kekerasan terhadap perempuan.
    Kisah Yanti inilah yang kemudian menggerakkan PKPA bekerjasama dengan Sineas Film Documentary (SFD) dan didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan untuk membuat sebuah film dokudrama bergenre edukasi berjudul “Perempuan Nias, MERETAS JALAN KESETARAAN ” (MJK), berdurasi 35 menit.
    “Film yang diilhami dari kisah nyata serta berangkat dari hasil penelitian PKPA ini diharap bisa menjadi media kampanye betapa kekerasan dalam rumahtangga seharusnya tidak terjadi lagi,” kata Direktur PKPA, Ahmad Sofyan.
    Film dokudrama ini diproduksi untuk tidak dikomersilkan. Film ini diproduksi sebagai media kampanye PKPA menolak segala bentuk kekerasan terhadap anak dan perempuan terutama menolak pernikahan di usia dini.
    Di mata sutradara dokudrama ini, Onny Kresnawan, ada fenomena sosial yang terjadi di Nias yang menggerakkannya dan PKPA untuk membuat film dokudrama, dimana 50 persen di antaranya merupakan fakta dan 50 persen lainnya merupakan bumbu-bumbu dari senimatografi.
    Penggarapan fim ini memakan waktu 13 hari (10 shooting di lapangan dan 3 hari mencari pemain). Pemain-pemain sendiri berasal dari daerah yang dalam penelitian PKPA termasuk daerah dengan angka tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan, di antaranya di Desa Sawo, Kecamatan Tuhemberua, Kab. Nias.
    Meski bukan aktor dan aktris, namun dengan semangat yang cukup tinggi, sejumlah pemain yang direkrut dengan tokoh utama Vini S Zega sebagai Yanti dan Noveria Zega sebagai Mira serta dibantu beberapa warga setempat serta personil PKPA, dapat menghasilkan film dokudrama yang cukup membanggakan.
    Saat SFD melakukan draft edting film 75 persen, dilakukan evaluasi yang melibatkan beberapa tokoh masyarakat, pihak kepolisian dan stakeholder di Gunung Sitoli. “Ternyata film ini mendapat sambutan positif, bahwa film ini merupakan karya anak Nias yang cukup membanggakan. Dan mereka meminta agar film ini diputar secara umum,” ujarnya.
    Film ini sendiri akan ditayangkan di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli, Sabtu (25/10), setelah sebelumnya ditayangkan di Kecamatan Lahewa pada Selasa (21/10) dan di Desa Sawo, Rabu (23/10).
    Menurut Onny Film MJK ini juga menjadi pemicu bagi dirinya untuk memproduksi film-film dokudrama sejenis bersama anak-anak di tingkat II se-Sumatera Utara dengan thema “Suara Anak Bawah Langit”.

    “Film ini akan berkonsep tentang kisah anak-anak di beberapa daerah, yang punya persoalan masing-masing. Misalnya di Labuhan Batu, kita bisa membuat dokudrama tentang buruh anak di perkebunan. Di Langkat, bisa diangkat kehidupan anak-anak pekerja jermal,” jelas Onny yang tahun lalu karya film dokumenternya “Pantang di Jaring Halus” dan “BADAI” meraih anugrah film terbaik J-Festival di Jawa Timur dan juara III di Jakarta.
    Misran Lubis, Manager Area PKPA Nias yang merangkap produser dokudrama ini, menyatakan bahwa film ini merupakan sebuah bentuk pembelajaran yang patut untuk ditonton. “Saya optimis masyarakat Nias akan tumpah ke Lapangan Merdeka Gunung Sitoli karena film ini berbau edukasi dan sekaligus menggambarkan keindahan fanorama alam dan kebudayaan di Nias. Saya optimis ini akan disambut baik masyarakat Nias,” ujar Misran. ***

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita