T. Dalam, Nisel WASPADA Online
Ratusan pengungsi di penampungan sementara, saat ini menderita berbagai penyakit karena lokasinya selalu digenangi air, dan tidak memenuhi standar kesehatan. Kondisi ini dialami kurang lebih 110 kepala keluarga korban gempa Nias Selatan yang direlokasi ke tempat penampungan perumahan sementara, menunggu pembangunan rumah permanen yang dijanjikan BRR Nias.

Lokasi penampungan di Desa Saonigeho merupakan bekas rawa-rawa, sehingga setiap hari digenang air bagaikan kubangan, ditambah lagi harus menghirup bau tidak sedap. Akibat lingkungan tempat relokasi penampungan pengungsi tidak memenuhi standar kesehatan, sejumlah keluarga pengungsi terutama anak-anak dijangkiti berbagai penyakit seperti malaria, cacar air maupun mencret.

Ina Apo Sarumaha, seorang pengungsi ditemui Waspada, Sabtu (20/1), di penampungan pengungsi Desa Saonigeho, Kec. Teluk Dalam menuturkan, mereka bosan menunggu janji BRR, karena tidak pernah ditepati. Bila rumah permanen bantuan BRR tidak terealisasi dalam waktu dekat, mereka khawatir karena menurut informasi, tanah penampungan pengungsi yang disewa dari warga belum dibebaskan BRR. “Jika masa sewa lahan berakhir, kemana lagi pengungsi pindah,” ujar Ina Apo.

Kepala Distrik BRR Kab. Ir. Siduhu Aro Dachi, MM dihubungi, Senin (21/1) mengakui, BRR menghadapi kendala membangun rumah permanen pengungsi karena sebagian dari mereka tidak punya tanah. Distrik BRR Nisel tengah mencari solusi mengatasi permasalahan ini.
(cbjh) (wns)

sumber dari :www.waspada.co.id

Facebook Comments