Ya’aga iraono sihino dõla,
saohagõlõma mboto na moguna
Tuyu mbaluse awõ doho,
he ha lewuõ ha ono gauko
Na oi ha sara oi awula,
fana maria fana sesolo
Moloi nudu ba lakhõmi zato

Bait lagu yang sangat sederhana ini mengandung makna filosofi yang sangat dalam bagi orang Nias. Pada tahun 1980an, lagu ini masih sering dinyanyikan oleh kelompok-kelompok kecil yang mengadakan pawai pada malam 17 Agustus di kecamatan-kecamatan. Lagu ini menggambarkan semangat putra Nias yang membara dalam membela tanah airnya. Merelakan jiwa dan raga adalah ungkapan yang biasa diucapkan oleh orang yang tidak kenal lelah dalam perjuangan.

Tapi, bait lagu sederhana di atas menuntut satu syarat keberhasilan yang cemerlang. Syarat tersebut adalah persatuan. Sarana dan alat apapun yang dipakai dalam peperangan, kalau persatuan itu ada, musuh pun akan lari dan takut.

Lagu ini semakin jarang dilantunkan karena munculnya beberapa lagu baru yang selalu mendominasi dan memegang peranan penting dalam hal sensasi bagi kaum muda. Lagu ini sering diganti dengan lagu perjuangan berbahasa Indonesia. Bahkan kalau pada zaman orde baru, lagu ini diketahui oleh anak-anak berumur 9 tahun ke atas. Sekarang, lagu ini pelan-pelan hilang dari ingatan. Ada anak-anak usia sekolahan yang tidak tahu syair lagu sederhana ini.

Mudah-mudahan dalam usaha penggalian budaya Nias yang semakin punah, hal-hal sederhana ini pun mendapat perhatian untuk disosialisasikan kembali.

Facebook Comments