Salam Ya’ahowu Di Bumi Horas

Tuesday, January 16, 2007
By nias

WASPADA Online
Rabu, (10/1) kemarin, kami bertolak dari Padang Sidimpuan menuju Medan. Sengaja kami memilih jalur via Kab. Tapanuli Utara guna mempersingkat waktu perjalanan. Dua hari kemudian, Jumat (12/1) juga melintasi jalur yang sama.

Beberapa kilometer melewati perbatasan Tapanuli Selatan dan masuk Tapanuli Utara, kami dicengangkan spanduk berwarna kuning. Isinya, mengimbau warga untuk hadir beramairamai ke lapangan Tarutung dalam rangka pernyataan kebulatan tekad terhadap pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap), Jumat (12/1).

Begitu keluar dari jalan lingkar luar Tarutung, kami semakin tertegun. Banyak sekali spanduk warna kuning di pajang di atas jalan. Yang semakin mengherankan, kata-kata yang paling banyak bertuliskan “Ya’ahou Provinsi Tapanuli”.

Ingat punya ingat, Ya’ahou itu adalah ucapan salam dari Nias. Salam Horas yang merupakan ciri khas Tapanuli seakan tenggelam. Padahal daerah pemajangan spanduk Ya’ahou itu merupakan ‘daerah kelahiran’ Horas.

Awalnya saya bersama teman seprofesi yang mengemudikan mobil, saling bertanya-tanya apa maksud spanduk itu. Sebagai pekerja jurnalistik, kami mengulas tentang gembar-gembor rencana pembentukan Provinsi Tapanuli yang akan memisahkan diri dari Sumatera Utara.

Pikiran kami sama-sama tertuju pada pro kontra yang kini ‘mewabah’ di Kab. Tapanuli Tengah dan Nias beserta daerah pemekarannya.

Kaji punya kaji, bak diplomat ulung, tercapailah kesimpulan yang belum bisa dipastikan. Yakni, mereka yang mengaku pemrakarsa dan pejuang Protap mungkin telah kewalahan dengan sikap penolakan dibuat DPRD Sibolga.

Mungkin jika mereka mendapat dukungan dari Nias dan daerah di sekeliling Sibolga, maka tidak ada alasan untuk menolak Protap. “Biarlah untuk sesaat Horas ditenggelamkan Ya’ahou. Jika maksud hati telah terpenuhi, toh salam Horas akan dikibarkan lagi”.

Dari kesimpulan itu kami membuat analisa dan hasilnya, mereka yang getol akan pembentukan Protap sangat tergantung akan dukungan masyarakat Kab. Nias dan Nias Selatan.

Tanpa disadari, kami telah sampai di persimpangan yang di sampingnya terdapat baliho besar bergambar simbol partai. Setelah melihat merek salah satu toko ponsel, kami menyadari bahwa kendaraan yang ditumpangi telah sampai di Siborong-borong. Bagaikan pengamat politik tangguh, saya dan rekan seprofesi, teringat akan rencana ibukota Protap di Siborong-borong.

Salah satu yang kami bahas adalah, seorang pengusaha yang dikenal getol mengkampanyekan pembentukan Protap. Menurut bisik-bisik teman di kampung halaman, pengusaha ini katanya punya tanah luas di Siborong-borong. Bisa jadi kegetolan itu ada maksudnya. Ibarat kata orang, “ada udang di balik peyek. Jika dimakan sama-sama enak”.

Maksudnya, jika rencana pembentukan daerah otonom baru itu gagal atau tertunda, maka namanya akan dikenang dan jadi panutan. Tetapi jika rencana itu mulus walaupun dengan sedikit rintangan, maka tanahnya akan berharga. Mungkin bisa juga menjadi pejabat atau publik figur yang disegani.

Perbincangan berakhir sampai di situ saja, saatnya kami berhenti dan memasuki rumah makan Gumarang di Balige. Topik itu tidak kami bicarakan lagi hingga tiba di Medan. Kemudian mengulanginya ketika pulang melintasi jalan serupa.

Sebelumnya, Jumat (12/1), ada pertemuan besar-besaran antar warga dengan beberapa orang menteri dan pimpinan DPR RI di lapangan Tarutung.

Namun setibanya di jalan rusak Aek Latong kami kembali diherankan sekumpulan orang memakai kaos putih. Di belakangnya tertulis nama salah satu perusahaan perkebunan di Tapsel.

Menurut pengakuan salah seorang di antaranya, mereka baru pulang menghadiri pertemuan di Tarutung dan 7 bus yang ditumpangi terperangkap macet di Aek Latong. Katanya, di pertemuan dengan menteri dan pimpinan DPR RI itu mereka juga bergabung dengan warga Pematang Siantar juga diangkut 7 bus. “Oh…ada mobilisasi massa rupanya,” gumamku.
(Sukri Falah Harahap) ()

Sumber: Waspada Online, 15 Januari 2007

One Response to “Salam Ya’ahowu Di Bumi Horas”

  1. 1
    Anak Muda Says:

    HORAS====YA’AHOWU

    Mari kita jalin persatuan dan kesatuan suku bangsa di
    negeri kita tercinta ini,inilah saatnya kita mengerti
    apa yang terjadi sekarang ini,jangan hanya terpana bujukan,rayuan,kemurahan orang lain(mungkin ada)akan tetapi dibelakangnya ada suatu tujuan tertentu.

    pada masa2 sekarang ini telah terjadi perang dingin baik diantara kita maupun antar media(sebut saja SIB,ANALISA,WASPADA etc…..)tetapi mungkin kita bahkan kurang mengerti seperti saya sendiri dulunya jalan mana yang aku pilih,bahkan kita terdiam,termenung.tetapi setelah saya amati,amati dan amati lagi ada sesuatu yang hanya untuk mempropokasi kita,saudara kita di nias dan lae lae kita disana.

    Inilah saatnya kita untuk beerpikiran jernih dan bijaksana, bijak sana lagi,ada apa sebenarnya,jangan sampai ada di antara kita saling tidak mempercayai,dan hal yang orang lain buat supaya retak masuk kehati kita dengan mudahnya.

    Untuk itu marilah kita melihat dan melihat lagi dari harian mana dan backgroundnya siapa dan apa tujuannya,jangan kita kena getahnya yang hanya merugikan dan merendahkan kita.

    untuk itu marilah kita sama sama bekerja bersama saling berjabat tangan di garis depan bersama untuk mengolkan TAPANULI dan KEP NIAS.

    mohon maaf klo ada yang salah dan tdk berkenan dihati saudara.
    sekali lagi saya ucapkan

    Yaahowu Horas-Horas laee
    dari hati yang paling dalam.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita