Gempa dan Tsunami di Nias dalam Buku “Nias – Amoeata Hoelo Nono Niha” karangan E. Fries

Tuesday, January 16, 2007
By nias

E. Halawa

Penulis secara kebetulan menemukan sebuah fotokopi buku Eduard Fries, seoarang misionaris Jerman dan pelukis yang berkarya di Nias di awal abad 20. Buku dengan judul Nias Amoeata Hoelo Nono Niha (Karakteristik Pulau Nias – Characteristics of Nias Island) memuat berbagai informasi ilmiah, sejarah, pemerintahan, pembangunan dan budaya Nias.

Buku itu antara lain membicarakan letak geografis dan iklim, flora dan fauna, asal-usul masyarakat Nias, sejarah pembuatan jalan-jalan ke berbagai daerah di Nias dan lain-lain. Buku ini cukup menarik karena ditulis oleh seorang misionaris yang sangat faham tentang bahasa Nias. Barangkali, boleh dikatakan bahwa buku ini merupakan buku pertama yang menggunakan bahasa Nias sebagai bahasa ilmiah.

Melalui buku ini, sekitar 100 tahun lalu, Fries (1877-1923) membuktikan bahwa Li Niha ternyata bisa juga dipakai untuk mengungkapkan informasi ilmiah, sejarah dan budaya. “Terobosan” Fries ini langsung kelihatan pada penggunaan kata “amuata” pada judul buku tersebut. Dalam bahasa Nias sehari-hari, “amoeata” adalah kelakuan, seperi dalam kalimat: Sökhi si’ai gamuata nono da’ö (Baik sekali kelakuan anak itu). Dalam judul buku ini, Fries memperluas pengertian “amuata” menjadi sifat atau karakteristik yang ditempelkan pada benda, bukan hanya pada manusia.

Salah satu topik yang menarik dalam buku tersebut adalah gempa dan tsunami yang ternyata telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Nias sejak ratusan tahun yang lalu.
Gambar di sebelah kiri adalah hasil scanning sebuah halaman dari buku tersebut yang menceritakan gempa bumi (Duru Danö) dan tsunami (oloro, galoro) yang terjadi dalam kurun waktu 64 tahun (1843 – 1907). Fries yang tinggal di Nias dalam kurun waktu 1904 – 1920, sangat mungkin mengalami sendiri gempa dan tsunami 1907.

Berikut adalah salinan lengkap dari teks yang ada dalam gambar. Pada bagian akhir diberikan terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia.

2. Doeroe Danö
Börö me oi fachai manö hoelo side’ide andrö site’oli ba Soematrans W. Kust, ba me faböbö göi da’ö ba Soematra, wa modoeroe hoelo Nias göi, he wa’ae lö hili Vulkan. Ero röfi so sa ndoeroe, ba lö abölö-bölö. Ba itaria so göi ndroeroe sabölö-bölö, si nangea lö olifoelifoe niha ba danö.

Si samoeza ba so ziheoe ba mbawa Mareti 1843. Iroegi ma’öchö, ba so na zatua ösa, zi no mamondrongo da’ö, ba si lö olifoe, wa ahori manö aso’a nomo niha; no abölöbölö mafi ba gatumbucha; me loeo andrö adoedoe Miga, ba ahöndrö Lambaroe ösa.

Si samoeza ba so zoei ziheoe nasi awö nduru danö ba zi 10 Febr. 1861. No tesao moroi ba ZW, ba abölö ihawoei labua Lagoendri oloro sebua, irege anönö doeloe nasi zalo’o tanö andrö, si so tangsi Niha Hoelöndra me loeo andrö (1856 – 1861); ahori tekiko da’ö, adoedoe nomora, ba maoso göi Niha raja, latema molawa na sa; tobali laröi sa’ae benteng andrö saradadu.

Ba safoeria no andrö, ba ifuli tesao ba zi 4 Jan. 1907, oi dozi ta’ila Tanö Nias ma’asambua moeheoeheoe, tobali molose manö zato ba danö tooe, laröi nomora. Doeroe danö andrö ba oroma göi si jefo ba danö Batak irugi nasi Toba mafi jöu. Ba aefa nduru ba ofeta goloro, eboea si’ai moroi ba NW, ihawoei manö hoelo Woenga andrö ba gaechoela, i’oloi’ö ba nasi zinanönia fefu, oi afatö nohi ba oi mate niha; 15 m wa’alawa ndroeloe nasi si tataloe, ba inönöi göi mbewe nasi ba Doemoela ba ba Gafoeloe, 1 paal wa’aröu, ba ifoefoe zinanö, tobali owoelo mboto geu ba gahe hili, tooe mbanoea Hilimböwö, ba tekiko niha ba da’ö göi. Töra 200 niha si mate ba ziheoe andrö lawa’ö.

I’otarai da’ö, ba no ahono sa’ae, gasagasa, ba lö moe’ila ginötö wa’atesao ndoeroe si manö; ba me no ahatö danö si so Vulkan, ba ma so zoei na foeri, lö moedönadöna.

Terjemahan bebas:
Oleh karena pulau-pulau yang berjejer di pantai barat Sumatera ini berkaitan satu dengan yang lain dan juga dengan daratan Sumatra, maka Nias bisa dilanda gempa walau tidak memiliki gunung berapi aktif. Setiap tahun ada gempa walau tidak kuat. Terkadang ada juga gempa hebat yang tidak mudah dilupakan orang.

Salah satunya adalah gempa yang terjadi pada bulan Maret 1843. Sampai sekarang, orang tua yang sempat mendengar tentang gempa itu tidak akan lupa bahwa rumah-rumah pada runtuh; gempa hebat terasa di daerah bagian timur; ketika itu Miga hancur dan sebagian Lambaru tenggelam.

Satu lagi adalah gempa dan tsunami yang terjadi pada tgl 10 Febr. 1861. Tsunami datang dari arah barat daya dan menghantam dengan dahsyat pelabuhan Lagundri sehingga seluruh dataran rendah tergenang termasuk tangsi tentara Belanda (1856-1861). Dengan rusaknya tangsi dan rumah-rumah mereka, di tambah lagi dengan pemberontakan orang Nias Selatan, maka akhirnya tentara Belanda meninggalkan benteng itu.

Yang terakhir adalah gempa dan tsunami yang terjadi pada tgl 4 Januari 1907, semua kita tahu (mengalami): seluruh daratan Pulau Nias goncang sehingga masyarakat meninggalkan rumahnya dan membuat tenda-tenda kecil di tanah. Gempa tersebut dirasakan juga di tanah Batak hingga sebelah utara Danau Toba. Sesudah gempa, tsunami dahsyat menyusul yang datang dari arah barat laut. Tsunami ini menengelamkan P. Wunga (Hulo Wunga) di sebelah barat, seluruh tanaman dan tumbuhan dihanyutkan ke laut, batang-batang kelapa pada patah dan banyak orang meninggal. Tinggi ombak pertengahan adalah 15 m yang menggenangi pantai Tumula dan Afulu sepananjang 1.5 km. Tsunami ini merusak tanaman, batang-batang pohon yang tumbang mengumpul di lereng-lereng gunung di bawah desa Hilimböwö dan banyak orang meninggal di sana. Konon ada sekitar 200 orang meninggal dari gempa tersebut.

Sejak itu, untuk sementara Pulau Nias terbebas dari goncangan gempa, dan kita tidak tahu kapan akan terjadi lagi, karena P. Nias dekat dengan daratan yang banyak gunung apinya.

*Artikel ini muncul dalam blog Yaahowu 8 April 2006.

Tags:

7 Responses to “Gempa dan Tsunami di Nias dalam Buku “Nias – Amoeata Hoelo Nono Niha” karangan E. Fries”

  1. 1
    Oni Harefa Says:

    Kejadian gempa bumi di Nias dalam tulisan ini pada bulan Maret 1843 dan 10 Februari 1861.
    Sedangkan dalam tulisan berjudul “Gempa Bumi Dalam Sejarah Nias” di niasisland.com yang ditulis P. Johannes, gempa bumi di Nias terjadi 5-6 Januari 1843 dan 16 Februari 1861.

    Pasti ada yang salah. Mana yang benar ini?

  2. 2
    Firman Hia Says:

    For Mis oni Harefa
    Sejarah/kejadian masa lalu, kita tidak bisa memastikan benar 100%. Karena pada waktu itu teknologi masih belum canggih. Yang perlu diperhatikan adalah Gempa dahsyat pernah terjadi di Pulau Nias pada ratusan tahun yang lalu. Dan hal itu bisa masuk akal dan benar, cuma waktu terjadinya gempa (Thnnya) tidak perlu dimasalahkan. Yang penting kita harus bersyukur dan berterimakasih kepada penulis atas perhatiannya dengan kondisi alam Pulau Nias, baik yang dulu-dulu maupun kedepan. Kalau beda sedikit yah ga masalah khan. Tq

  3. 3
    Helen Says:

    Saya tertarik mengetahui efek tsunami dan gempa di Nias terhadap kerusakan alamnya, khususnya kekayaan laut. Jika ada narasumber yang bersedia memberi penjelasan, saya akan sangat berterimakasih.

  4. 4
    dhennie Says:

    Kitanae

  5. 5
    mist curhat Says:

    maaaaaadjuuuuuE aEew

  6. 6
    Gempabumi Nias 20 April 2014 M5.5 | Dimas Salomo Says:

    […] – Gempa dan Tsunami di Nias dalam Buku “Nias – Amoeata Hoelo Nono Niha” karangan E. Fries […]

  7. 7
    Yosua S. Telaumbanua Says:

    Tsunami dari perbuatan manusia. Mungkin saja mereka telah berhasil mencuri hasil bumi (minyak bumi) melalui penambangan bawah tanah yang tidak bisa dideteksi oleh teknologi Indonesia.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita