Bergumul Dengan Irasionalitas

Thursday, January 11, 2007
By nias

*Pengantar Rangkaian Tulisan

E. Halawa*

Irasionalitas sebenarnya bukan hal yang baru dalam masyarakat kita, juga masyarakat dunia. Sejarah peradaban manusia juga menunjukkan bahwa sebenarnya kemanusiaan kita sedari awal telah bergumul dengan irasionalitas.

Tahap-tahap kebudayaan sebagaimana dibagankan Peursen (1980) dapat kiranya membantu kita melihat kembali bagaimana manusia bergumul dengan irasionalitas. Peursen membagi tiga tahap kebudayaan, yaitu: tahap mitis, tahap ontologis dan tahap fungsional. Dalam tahap mitis, manusia masih dikepung dan ditawan oleh kekuatan-kekuatan ‘misterius’ yang tidak dia kenal, yang belum mampu dicirikannya. Dengan demikian manusia memasrahkan diri terhadap daya-daya misterius itu. Ciri manusia yang berada dalam tahap mitis ini dengan sangat baik dilukiskan oleh Peursen (p.42):
“Dalam dunia mitis manusia belum merupakan seorang individu (subjek) yang bulat, ia dilanda oleh gambaran-gambaran dan perasaan-perasaan ajaib, seolah-olah dia diresapi oleh roh-roh dan daya-daya dari luar.”

Dalam tahap ontologis, manusia telah mengenal dirinya; ia juga telah mulai mengambil jarak terhadap daya-daya ‘misterius’ itu. Artinya, ia mulai melepaskan diri dari padanya dan mencoba memahaminya dengan menggunakan akalnya. Manusia mulai coba memahami siapa dirinya dan alam lingkungnnya. Tahap ontologis merupakan tahap di mana rasionalitas manusia mulai bertumbuh. Berbagai fenomena irasional, yang dulu dianggap ‘misterius’ satu per satu mulai disingkap, dicirikan, ditelanjangi, sehingga sisi-sisi yang banyak tersembunyi selama ini tersingkap dan terpapar secara kasat mata. Akal dan pikiran manusia mulai berperan secara pelan-pelan dalam pergulatan hidupnya, dalam interaksinya dengan alam, lingkungannya dan dengan dirinya sendiri.

Tahap mitis dapat dianggap sebuah ekstrim, di mana manusia “menyatu” dengan alam dengan segala misterinya. Tahap ontologis bisa juga dianggap sebagi eskrim lain, karena manusia berhadapan dengan alam, menantangnya, mengambil jarak darinya. Tahap fungsional boleh dianggap sebagai koreksi terhadap kedua ekstrim itu. Manusia tidak lagi menganggap alam sekadar barang “mainan” observasinya. Manusia mulai mengulurkan tangannya dan menciptakan relasi-relasi yang penuh makna, kreatif dan apresiatif dengan alam.

Sayangnya, sebagaimana dinyatakan Peursen, ketiga tahapan kebudayaan itu tidak berada dalam satu garis lurus – yang satu tidak terletak sebelum atau sesudah tahap yang lain. Artinya, tahap mitis tidak mendahului tahap ontologis, dan tahap fungsional tidak muncul sesudah tahap ontologis. Ternyata, dalam zaman dan waktu yang sama, manusia dari pelbagai peradaban dan budaya sedang mengalami tahap-tahap yang berbeda-beda. Maka, pada waktu yang bersamaan, orang dari latar belakang ‘budaya’ dan ‘peradaban’ yang berbeda misalnya mengobati penyakit yang sama dengan cara yang berbeda – dengan sinar laser yang ‘rasional’ atau sinar ‘misterius’ sang paranormal. Kontras dari tahap kebudayaan itu misalnya masih dapat dilihat pada penyikapan manusia atas berbagai peristiwa alam, semisal gerhana bulan. Kalangan tertentu menyambut gerhana bulan dengan teropong di lokasi pengamatan sambil menikmati keindahan alam, sementara kalangan lain sibuk memukul kentong untuk membujuk si pemegang daya misterius yang sedang mengepung sang bulan untuk meredakan amarahnya.

Irasionalitas adalah sisi gelap dari eksistensi manusia. Sama seperti “kegelapan” tidak mempunyai “eksistensi” riil (karena keberadaan kegelapan tiada lain adalah ketiadaan cahaya) demikian juga irasionalitas merupakan kondisi kevakuman atau lemahnya rasionalitas. Sama seperti mustahilnya kita meniadakan kegelapan, demikian juga mustahilnya kita menghalau irasionalitas dalam diri manusia. Dengan kata lain, dalam keseharian kita, sepanjang hidup, kita akan terus bergumul dengan irasionalitas.

Pergumulan menuntut energi dan stamina. Dan kini banyak kalangan yang menawarkan “energi positip”, banyak juga yang berminat mencobanya, terpukau oleh tawaran-tawaran yang menjanjikan hasil yang instan, untuk mengobati segala macam penyakit dan persoalan hidup: kurangnya kepercayaan diri, “ketidakmulusan” perjalanan karir atau jabatan, krisis jati diri, kesulitan mendapat jodoh, hidup serba kekurangan, dan sebagainya.

Tetapi kalau kita menyisihkan sedikit waktu untuk mengadakan permenungan, maka kita akan melihat sebuah kontradiksi: semakin banyak tawaran-tawaran menggiurkan macam itu muncul dalam masyarakat, semakin banyak pula muncul persoalan atau penyakit dalam masyarakat. Bukan hanya itu, tawaran-tawaran yang menggiurkan tadi malah semakin menjerumuskan kita ke dalam lingkaran masalah dan irasionalitas yang semakin kental. Dengan kata lain, tawaran-tawaran itu bukannya membantu kita dalam pergumulan melainkan semakin mendekatkan kita ke kutup irasionalitas hingga akhirnya kita tidak berdaya melepaskan diri dari padanya.

Di depan dikatakan bahwa dalam pergumulan dengan irasionalitas kita membutuhkan energi dan stamina yang cukup. Dari manakah kita memperoleh energi dan stamina itu ? Jawabannya adalah: dalam kesadaran.
Dalam rangkaian tulisan ini akan diperlihatkan bagaimana kesadaran yang terlatih dapat menekan pengaruh irasionalitas ke tingkat di mana ia tidak lagi menjadi ancaman yang berarti. Juga akan diuraikan bagaimana irasionalitas coba merasuki relung-relung jiwa dan hati manusia sebagai individu dan sebagai kelompok. Secara khusus akan disajikan pembahasan yang cukup panjang tentang salah satu bentuk irasionalitas yang kini semakin menancapkan kuku dalam diri manusia, yaitu yang oleh sementara kalangan disebut: gejala “supranatural” atau “paranormal”. Maka dalam rangkaian tulisan ini istilah-istilah seperti tenaga dalam, energi positip, mantra, aura, dan istilah-istilah lain yang terkait akan sering muncul. Kita perlu “mengenal” gejala-gejala itu. “Mengenal” berkonotasi “mengetahui”. “Pengetahuan” kita tentang gejala-gejala itu diharapkan menjadi “modal” kita untuk menjauhkan diri dari daya-daya itu, yang menurut hemat penulis “menjerumuskan”.

“Keberadaan” daya-daya itu masih menjadi bahan kontroversi. Pada satu kutup ektrim, para skeptik menganggap daya-daya itu tidak ada sama sekali. Pada kutup lain, kehadiran daya itu dalam diri manusia yang “mengagungkannya” adalah seperti udara: tanpa daya itu mereka tidak bisa “bernafas”. Di kutup mana Anda berada ?

*) Tulisan ini dimuat di Nias Portal, 15 Mei 2004, disusul dengan beberapa tulisan lain yang berhubungan. Dalam topik “Rasionalias”, tulisan-tulisan lama tersebut akan dimuat secara berkala, ditambah dengan sejumlah tulisan yang belum pernah dipublikasikan yang merupakan hasil riset pribadi penulis.

Tags:

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita