Sejarah Perkembangan Fa’awösa

Tuesday, January 9, 2007
By nias

*Cuplikan halaman Buku Catatan Tentang Gerakan “Fa’awösa” di Nias (“Nota over de “Fa’awösa Beweging op Nias”) – oleh Dr. W.A. Ginsel (Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Pastor Johannes Hammerle OFM Cap. – Yayasan Pusaka Nias, 2003)*

Seperti sudah diberitahukan, Fa’awösa lahir pada masa berlangsung pembaharuan Iman skala besar di Nias, sebagai inti karya dari beberapa perkumpulan orang beriman dengan tujuan untuk memperoleh pendalaman iman melalui kelompok kitab suci dan kelompok doa, di bawah kepemimpinan Ama Wohakhi, yang sebelumnya penganut aliran animisme.

Kelompok atau perkumpulan ini, mereka membentuk suatu gerakan persekutuan, semula gerakan ini diterima oleh Misionaris dengan rasa syukur sebagai suatu buah gerakan pembaharuan. Dalam grup kecil dari jemaat Zending di Hilibadalu untuk pertama kalinya dalam sejarah Zending di Nias unsur-unsur kaum awam menjadi dinamis.

Terutama sesudah perpisahan pada tahun 1933 gerakan itu berkembang dengan pesat dan dalam waktu singkat 14 losu Gerejawi didirikan, satu pimpinan persekutuan dipilih, para Sinenge (yakni pemimpin – pemimpin resmi dari jemaat-jemaat Fa’awösa) dan Penatua-penatua diangkat, dan sekaligus diorganisir tournee – tournee propaganda ke Onderdistrict yang lain di luar Idanö Gawo. Sejauh diketahui, ibadat-ibadat di jemaat-jemaat Fa’awösa sampai hari ini dikunjungi dengan sangat ramai.

Yang menarik perhatian ialah perbedaan-perbedaan yang khas pada Fa’awösa sebagaimana sudah dicantumkan di sebelah atas ini (tiada permandian anak, tiada perjabatan tangan pada upacara perkawinan), yang menunjukkan pengertian tersendiri tentang ibadat keagamaan.

Memperhatikan semuanya itu, tentu dapat dipertanggung jawabkan dengan baik untuk meneruskan satu permohonan guna memperoleh status sebagai Rechtsperson bagi Fa’awösa kepada pemerintah, dilengkapi dengan satu advis yang mendukung.

Tetapi untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi ketidak-amanan dan perkelahian, lebih baik kalau dengan pengakuan sebagai Rechtsperson untuk persekutuan itu masih ditunggu beberapa waktu, sampai Gereja Nias yang sedang dalam proses kemandirian sudah memohon dan memperoleh pengakuan sebagai Rechtsperson Seandainya hal ini tidak terjadi terdapat kemungkinan, bahwa beberapa Kepala Negeri dan Kepala Kampung, sambil pindah ke Fa ‘awösa yang pada waktu itu sudah diakui, sekaligus mengklaim sebagai pemilik gedung-gedung Gereja, tanah-tanah Gereja serta harta milik lainnya dari jemaat-jemaat Zending, artinya dalam nama Fa’awosa. Seandainya terjadi, bahwa satu jemaat seluruhnya pindah ke Fa’awösa, hal semacam ini masin dapat diterima. Tetapi di kebanyakan kasus mungkin akan terjadi satu perpecahan dalam jemaat, dan sebagian yang tetap setia kepada Zending tidak akan menerima perubahan dalam hak milik. Hal ini pasti akan menyebabkan munculnya banyak tuntutan.

Satu surat permohonan untuk memperoleh pengakuan sebagai Gereja melalui pemerintah (berdasarkan ketentuan dalam Staatsblad 1927 Nr. 156 jo. 532 yang sekaligus meliputi pengakuan sebagai Rechtsperson) sampai hari ini belum disampaikan oleh pimpinan Fa’awösa.

Pengakuan sebagai Gereja berarti pengakuan sebagai Gereja Kristiani. Dalam hal ini dapat disampaikan keberatan, karena pimpinan Fa’awosa menerima juga kepala-kepala masyarakat dalam gerakan itu, yang sudah dikucilkan dari jemaat-jemaat Zending berdasarkan bi- dan poligami.

Dengan memperhatikan, bahwa agama Kristen sama sekali menolak bi- dan poligami, guna menghindari satu anomali yang tidak tepat jika dikehendaki pengakuan gerakan Fa’awösa sebagai Gereja (Kristiani), selama dia tidak dengan jelas mengubah kelakuannya.

Gunungsitoli, tgl. 10 Juli 1937

Controleur t/b.
dto.
Ginsel

*Buku ini dapat diperoleh di Kantor Yayasan Pusaka Nias, Jl. Yos Sudarso, Gunungsitoli, Nias.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita