*Bahan untuk Diskusi Online II Situs Yaahowu

Oleh Emanuel Migo
Manager Komunikasi dan Informasi Publik BRR Perwakilan Nias
(22 Desember 2006)

[Catatan Redaksi: Sebagai Respons atas undangan Situs Yaahowu kepada BRR Nias untuk ikut ambil bagian dalam Diskusi Online II, Emanuel Migo (Manajer Komunikasi dan Informasi Publik BRR Perwakilan Nias) mengirim tulisan berikut kepada Situs Yaahowu. Kita sangat menghargai respons ini. Tanggapan atas tulisan ini dapat dikirim dalam bentuk tulisan kepada Redaksi (nias.online@gmail.com). Tanggapan dapat juga disampaikan dalam bentuk komentar di akhir tulisan. Redaksi lebih menyukai opsi pertama (tulisan yang dikirim ke Redaksi). Diskusi Online II diperpanjang sampai 31 Januari 2007 untuk memberikan kesempatan kepada yang berminat ikut ambil bagian.

PENGANTAR
Kepulauan Nias tertinpa bencana 2 bencana beruntun sepanjang akhir tahun 2004 dan awal tahun 2005. Tsunami pada 26 Desember 2006 menimbulkan korban jiwa 122 orang dan 18 orang dinyatakan hilang.

Belum berhenti dari kepedihan akibat bencana tsunami, pada 28 Maret 2005 muncul lagi bencana gempa bumi dasyat berkekuatan 8,7 SR yang berdampak jauh lebih mengerikan yang meliputi hampir seluruh penduduk Kepulauan Nias. Tercatat 839 jiwa meninggal dunia, labih dari 6,279 terluka, 15.000 rumah hancur dan lebih dari 30.000 rumah rusak berat dan ringan. Infrastruktur vital yang dimiliki masyarakat kepulaun terpencil ini pun ikut hancur, seperti 12 pelabuhan dan pangkalan ikan, 800 km jalan kabupaten dan 266 km jalan propinsi. Lebih 700 unit gedung sekolah atau 90 persen gedung sekolah di Nias, 2 rumah sakit dan ratusan puskesmas dan ribuan gedung peribadatan.

Namun demikian, selain penderitaan, bencana ini pun membalikan keadaan Nias yang seperti terlupakan dalam sejarah pembabangunan Indonesia. Kepulauan Nias mendadak sontak terkenal di seantero bumi. Setelah bencana, Nias mendapat perhatian besar, bukan hanya dari pemerintah Indonesia tetapi juga masyarakat internasional. Segera setelah bencana, berbagai lembaga internasional, seperti PBB, NGO Internasional dan nasional bahu membahu bersama pemerintah Indonesia membantu menyelamatkan korban dan hingga kini tetap berusaha memulihkan kehidupan masyarakat Nias.

Periode tanggap darurat (emergncy) telah berlalu, tepatnya pada bulan Juni 2005, saat dimana pemerintah mengumumkan berakhirnya masa emergency (tanggap darurat). Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pemerintah Indonesia membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias (BRR NAD-Nias), melalui PERPU No. 2 Tahun 2005 dan ditetapkan dengan UU No. 10 Tahun 2005. BRR NAD-Nias akan mengkoordinir kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sampai tahun 2009 mendatang. Kata Nias yang melekat pada BRR menunjukan besarnya perhatian dan komitmen pemerintah Indonesia, bukan hanya terhadap Aceh, tetapi juga terhadap Nias.

Komitmen pemerintah Indonesia dan masyarakat Internasional ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Memanfaatkan peluang ini berarti, seluruh masyarakat Nias harus bahu-membahu untuk berperan serta dalam setiap upaya pemulihan Nias. Bahwa semangat merehabilitasi dan merekonstruksi Nias dan upaya untuk membangun kembali Nias yang lebih baik bukanlah milik lembaga BRR atau badan-badan PBB, Palang Merah dan NGO, melainkan semangat dan komitmen masyarakat Nias sendiri.

VISI DAN PROGRAM REKONTRUKSI NIAS
Visi rekonstruksi Nias adalah mewujudkan masyarakat Nias yang maju, adil, aman, damai, sejahtera berlandaskan nilai-nilai budaya dalam kerangka NKRI. Visi ini dijabarkan kedalam enam butir misi, yang keseluruhannya menuntut pelaksanaan prinsip membangun kembali Nias yang lebih baik atau “build Nias back better” dalam seluruh sektor rekonstruksi Nias. Visi dan misi ini dilaksanakan lewat 4 kebijakan dasar:

  1. Membangun kembali masyarakat Aceh dan Nias baik kehidupan individu maupun sosialnya
  2. Membangun kembali infrastruktur fisik dan infrastruktur kelembagaan
  3. Membangun kembali perekonomiannya sehingga dapat berusaha sebagaimana sebelumnya
  4. Membangun kembali pemerintahan sebagai sarana pelayanan masyarakat

Dalam konteks kewilayahan dan kehidupan masyarakat Nias, kebijakan dasar tersebut dapat dielaborasi maupun dipertajam kedalam 4 pilar rehabilitasi dan rekonstruksi:

  1. Membangun lebih baik perumahan dan permukiman masyarakat Nias yang sehat, damai dan akrab dengan gempa
  2. Membangun lebih baik infrastruktur yang handal dan efektif
  3. Mengembangkan perekonomian wilayah yang handal
  4. Mengembangkan kelembagaan pemerintahan dan masyarakat yang kuat

Keempat pilar rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut diwujudkan melalui pengembangan 10 program strategis (Tabel 1)

Tabel 1 4 Pilar dan 10 Program Utama Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias

Pilar Program Utama
Perumahan dan Pemukiman
  • Pembangunan kembali dan rehabilitasi kawasan perumahan dan pemukiman degan prinsip “build back better”
  • Rehabilitasi dan pengembangan sistem air bersih, sanitasi, persampahan, drainase yang sehat dan ramah lingkungan
Infrastuktur
  • Rehabilitasi dan peningkatan infrastruktur ekonomi khususnya transportasi: jalan, jembatan, pelabuhan, bandara maupun terminal angkutan
  • Rehabilitasi dan pengembangan kelistrikan dan telekomunikasi
  • Rehabilitasi dan pengembangan infrastruktur irigasi, pengamanan pantai/sungai
Ekonomi
  • Pengembangan ekonomi dan usaha melalui penciptaan iklim investasi, sistem lembaga keuangan dan pasar yang sehat, dengan fokus pada perikanan dan pertanian (perikanan,coklat dan karet)
Kelembagaan dan Pembagungan Manusia
  • Revitalisasi rumah sakit umum dan pengembangan sistem pelayanan kesehatan berjenjang
  • Revitalisasi pendidikan Nias
  • Penguatan kelembagaan pemerintah daerah termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana pemerintahan
  • Revitalisasi kebudayaan Nias

PERKEMBANGAN REKONSTRUKSI TAHUN 2005-2006
Dalam 2 tahun anggaran pelaksanaan kegiatan rekonstruksi di Kepulauan Nias, berbagai kemajuan telah dicapai. Bagian ini akan secara khusus menjelaskan kemajuan rekonstruksi yang dilakukan lewat proyek-proyek BRR (on-budget).

Pada tahun 2005, BRR Perwakilan Nias mengelolah dana sebesar Rp. 412,5 milyar sedangkan pada tahun 2006 sebanyak Rp. 1,19 trilyun. Dengan demikian total dana yang dikelola BRR Perwakilan Nias sampai dengan saat ini sekitar Rp. 1,6 trilyun.

Pada Tahun 2005, kegiatan proyek dimulai tidak diawal tahun, mengingat BRR baru hadir di Nias pada bulan Juni 2005. Proyek pertama dimulai pada bulan November 2005 setelah melalui berbagai persiapan baik anggaran maupun pelaksanaan. Hal ini mengakibatkan penyerapan anggaran yang rendah hingga berakhirnya tahun 2005. Perpanjangan pelaksanaan DIPA BRR hingga bulan April 2006, memungkinkan proyek untuk memacu pelaksanaan dan melakukan penyerapan lebih baik.

Status penyerapan anggaran BRR 2005 di Nias per April 2005 adalah sebesar 56% atau sebesar Rp. 298 milyar, dengan kemajuan fisik pekerjaan mencapai 68% (Tabel 2). Sejumlah proyek yang tidak selesai pada Tahun Anggaran 2005, dilanjutkan pelaksanaannya pada Tahun 2006 ini.

Tabel 2 Kemajuan Pelaksanaan Anggaran BRR Tahun 2005

Pelaksanaan kegiatan Tahun Anggaran 2006 dimulai lebih awal dari tahun sebelumnya. Seluruh Satuan Kerja (Satker) telah berada dilapangan sejak Maret 2006 untuk melaksanakan kegiatannya. Kalau pada tahun 2005 proses rekonstruksi terdorong untuk mengejar kemajuan pelaksanaan fisik, maka pada tahun 2006 perhatian lebih besar diberikan untuk peningkatan kualitas.

Tahun 2006 dicanangkan sebagai tahun kualitas, dimana mekanisme kontroling dan aspek kehati-hatian lebih ditingkatkan. Tujuan dari kebijakan ini adalah agar proses rekonstruksi tidak hanya mengejar kemajuan fisik dan penyerapan anggaran tetapi juga peningkatan kualitas dan efektifitas pengunaan sumber daya keuangan. Tujuan lainnya, adalah agar proses rekonstruksi menjadi proses pembelajaran untuk membangun kembali Nias yang lebih baik dengan menghidupkan budaya keselamatan dan penerapan prinsip good governance dalam segenap aspek pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pelayanan masyarakat.

Hasil evaluasi kegiatan rekonstruksi tahun 2005 juga menelorkan beberapa perubahan kebijakan pada tahun 2006, yaitu pengurangan Satker dari 20 pada 2005 menjadi 17 Satker pada tahun 2006, meskipun jumlah dana yang dikelola meningkat hampir 2,5 kali. Hal ini dilakukan dalam rangka melakukan efisiensi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Perubahan kebijakan pada tahun 2006 berdampak positif terhadap kualitas pelaksanaan program secara keseluruhan. Bangunan fisik perumahan misalnya secara umum megalami peningkatan dari segi kualitas. Begitu juga dengan pengawasan yang memungkinkan pemberian tindakan bagi pelaku Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Kemajuan penyerapan anggaran tahun 2006 per minggu kedua Desember 2006 sebesar 41,71 persen. Sedangkan realisasi fisik melampaui realisasi keuangan, yaitu sebesar 56,4 persen. Sebagian proyek merupakan kontrak multi years yang terus berlanjut pelaksanaannya pada tahun 2007.

Kemajuan pelaksanaan kegiatan rekonstruksi selama 2005-2006 per sektor secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

A. Sektor Perumahan dan Permukiman
Tujuan sektor ini adalah mengembangkan perumahan yang lebih tahan gempa dengan prasarana dasar yang cukup sehingga menjadi permukiman yang sehat.

Progres fisik rumah dalam bentuk rumah terbangun oleh BRR mencapai 5.598 unit rumah baru. Sedangkan NGO dan agency lainnya telah merealisasikan sekitar 1.777 unit rumah.

Terjadi perubahan kebijakan dlam mekanisme pelaksanaan proyek perumahan. Pelibatan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi – rekonstruksi pada TA 2007 dalam sektor perumahan akan semakin besar karena BRR Perwakilan Nias telah mulai melakukan reorientasi paradigma pelaksanaan proyek perumahan dari pendekatan kontraktor menjadi pendekatan pembangunan oleh masyarakat.

Ada tiga hal yang mendasari reorientasi paradigma tersebut:

  • Kualitas konstruksi lebih terjamin manakala masyarakat melaksanakan sendiri pembangunan rumah tinggalnya.
  • Kapasitas masyarakat akan lebih meningkat karena pendekatan ini memungkinkan masyarakat belajar mengorganisasikan diri, merencana, mengambil keputusan dan mengelola keuangan sendiri.
  • Daya beli masyarakat meningkat karena prosentase dana rekonstruksi sektor perumahan akan lebih banyak teralokasi pada masyarakat.

B. Sektor Air Bersih
Tujuan sektor ini adalah membangun sistem layanan air bersih pedesaan yang sustainable dan perbaikan dan perluasan jaringan air bersih PDAM yang rusak oleh gempa. Sedangkan sasaran pembangunan sektor air bersih adalah rehabilitasi dan rekonstruksi seluruh jaringan air bersih yang rusak karena bencana gempa. Memastikan bahwa sebanyak mungkin fasilitas publik memiliki layanan watsan. Membangun sistem layanan air bersih pedesaan yang sustainable dari sisi pasokan maupun pengoperasiannya.

Sampai saat ini telah dan sedang dilaksanakan penggantian pipa jaringan distribusi air bersih 28km di Gunungsitoli dan penambahan hidran umum, serta pembangunan reservoir dengan sistem gravitasi. Area dan dan penduduk yang terlayani adalah penduduk di kecamatan Lahewa (300 KK), Sirombu, Gunungsitoli (memulihkan pasokan 3.160 KK), Tuhemberua, Hiliduho, Olora, Alasa (200 KK), Lotu, Gido, Lahusa, Gomo and Lolowau akan terlayani.

C. Sektor Sarana dan Prasarana Transportasi
Tujuan sektor ini adalah membangun, merehabilitasi dan merekonstruksi sarana-prasarana transportasi untuk kepentingan pergerakan manusia, barang dan jasa, serta penyelamatan diri dalam bencana alam. Sedangkan sasaran adalah merehabilitasi, merekonstruksi dan mengembangkan terminal transportasi udara, darat dan laut. Merehabilitasi, merekonstruksi dan mengembangkan sarana-prasarana pos dan telekomunikasi. Mengembangkan sarana-prasarana kemeteorologian sebagai bagian dari kesiapan menghadapi bencana gempa dan tsunami.

Sedangkan untuk Jalan Propinsi dan Jalan Kabupaten adalah, peningkatan jalan propinsi keliling Pulau Nias. Pengembangan jaringan jalan kabupaten yang menghubungkan pusat-pusat utama kegiatan penduduk. Rekonstruksi dan penggantian jembatan dan bangunan pelengkap pada jalan propinsi dan kabupaten.

Untuk Jalan Propinsi dan Kabupaten sampai saat ini telah selesai dikerjakan 92,075 km jalan, dimana sebagiannya merupakan jalan hotmix. Sementara itu, yang sedang dikerjakan sebanyak 146,155 km. BRR Perwakilan Nias menargetkan total jalan propinsi sepanjang 266 km dapat selesai tertangani sampai berakhirnya masa tugas BRR di Nias pada tahun 2009 mendatang.

Gambaran kebutuhan dan progres penanganan infrastruktur transportasi seperti terlihat pada tabel 3.

Selain itu sampai saat ini terus diadakan rehabilitasi 2 bandara yakni Bandara Binaka dan Bandara Lasonre serta rehabilitasi pelabuhan Lahewa, Teluk Dalam dan Gunungsitoli. Peningkatan landasan pacu bandara Binaka akan terus dilanjutkan pada tahun mendatang, dengan proyeksi dapat mendaratkan pesawat berbadan besar. Berbagai jembatan penting juga telah direhabilitasi, termasuk pembangunan jembatan bailey Idanogawo.

D. Pendidikan
Tujuan sektor ini adalah memulihkan kegiatan pendidikan dengan merekonstruksi dan merehabilitasi fasilitas, mengembangkan kurikulum dan meningkatkan kualitas tenaga kependidikan menuju pendidikan berkualitas untuk seluruh masyarakat Nias. Sedangkan sasarannya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi seluruh fasilitas pendidikan yang rusak karena bencana gempa. Menyusun dan melaksanakan masterplan pengembangan pendidikan Nias. Memastikan bahwa sekolah menjadi pusat pembentukan budaya keselamatan (safety culture).

Sampai kini telah diselesailan 50 SD dan sementara dalam proses penyelesaian sebanyak 77 unit. Sedangkan komitmen bantuan pada sektor ini sebanyak 91 unit. Kemjuan dan kebutuhan untuk rehabibilitasi dan rekonstruksi SD seperti pada tabel 4.

Tabel 4: Rekonstruksi SD

Kemajuan penanganan gedung SMP saat ini telah selesai 14 unit SMP dan 7 unit lainnya sedang dalam proses penyelesaian. Sedangkan gedung SMA telah selesai 6 unit dan 6 unit lagi dalam proses penyelesaian.

Bantuan pendidikan ini hampir merata ke semua kecamatan di kepulauan Nias dengan prioritas pada sekolah rusak total dan rusak berat. Diperkirakan, sekitar 39.000 siswa telah terbantu dengan adanya bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi pada sektor ini.

E. Kesehatan
Tujuan pengembangan sektor ini adalah menghasilkan sistem layanan kesehatan yang menjangkau seluruh penduduk Kepulauan Nias dan siap menghadapi kejadian bencana alam gempa. Dengan sasaran, revitalisasi RSU Gunungsitoli. Pengembangan sistem layanan kesehatan berjenjang dan berbasis masyarakat. Pengembangan SDM kesehatan. Penanganan gizi buruk.

Kemajuan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sektor kesehatan seperti pada tabel 5.

Tabel 5: Fasilitas Kesehatan TA 2005-2006

Mempertimbangkan kondisi geografis Nias yang rawan gempa dan terbatasnya alat komunikasi dan transportasi umum, maka disusunlah sebuah konsep sistem kesehatan berjenjang. BRR Perwakilan Nias dan Dinas Kesehatan telah mengadopsi konsep ini dalam penyusunan rencana strategisnya.

Sistem kesehatan berjenjang pada prinsipnya memiliki 3 lapis rujukan sebagimana berikut:

  1. Rumah Sakit sebagai rujukan utama dari lapis kedua:
    • RSU Gunungsitoli untuk Kabupaten Nias.
    • Untuk Nias Selatan belum ditentukan mengingat keterbatasan fasilitas yang ada.
  2. Puskesmas PLUS sebagai rujukan pertama dari Puskesmas di sekitarnya sebagimana yang telah ditentukan:
    • 6 Puskesmas di Nias (Gunungsitoli, Awa’ai, Mandrehe, Alasa, Lahewa,Gido).
    • 4 Puskesmas di Nias Selatan (Teluk dalam, Lahusa, Lolowa’u, dan P.Tello).
  3. Puskesmas lainnya
    • 12 Puskesmas di Nias.
    • 7 Puskesmas di Nias Selatan.

Selain itu, untuk peningkatan pelayanan tengah diproses pemberian beasiswa untuk 10 dokter spesialis dan 2 master manajemen rumah sakit. Mereka selanjutkannya berkomitmen untuk berkarya di Nias maupun Nias Selatan.

F. Ekonomi dan Pengembangan Usaha
Tujuan sektor ini adalah memulihkan dan meningkatan usaha produktif yang dilakukan bersamaan dengan penguatan organisasi bisnis masyarakat dan lembaga keuangan mikro, serta pengembangan industri pengolahan dan stimulan investasi. Sedangkan sasaran adalah rehabilitasi dan rekonstruksi sebanyak mungkin fasilitas ekonomi dasar seperti pasar, lahan pertanian, dan sebagainya. Mengkonsentrasikan pengembangan ekonomi pada beberapa sub sektor penting dengan mengembangkan program hulu-hilirnya. Memperkuat organisasi bisnis masyarakat dan lembaga keuangan mikro. Mengembangkan kebijakan-kebijakan yang mendorong investasi.

Untuk sub sektor perdagangan, telah dan sedang dilaksanakan perancangan pasar Yaahowu dan pembangunan kembali 12 pasar tradisional & penunjang, pengadaan alat & mesin untuk industri rumah tangga dan industri kecil. Selain itu telah diberikan BLM untuk 500 KK sebesar Rp 1milyar; modal usaha untuk 480 UKM sebesar Rp 2,4 milyar; bantuan modal LKM senilai Rp 6 milyar.

Pada sub sektor pertanian, intensifikasi padi untuk 500 ha sawah, intensifikasi karet 250 ha dan ekstensifikasi 74 ha, kakao 250 ha, jagung 250 ha, dan cabe 60 ha. Pada sub sektor perikanan: 300 unit perahu nelayan dibatalkan dan digantikan dengan pengadaan peralatan pendukung nelayan.

Pada sub sektor peternakan: Pemberdayaan peternak ayam, babi, dan pembangunan rumah potong hewan. Pariwisata: Pengembangan ekowisata pantai Genasi dan Toyolawa dan Danau Megoto. Tranplantasi terumbu karang.

G. Sektor Irigasi
Tujuan sektor ini adalah memperbaiki dan meningkatkan Daerah Irigasi yang rusak akibat tsunami dan gempa dalam rangka peningkatan produksi tanaman padi menuju swasembada pangan. Sedangkan sasaran adalah peningkatan intensitas tanam dari 130% pertahun menjadi 180% pertahun. Peningkatan produksi padi dari 1,75 ton/ha/panen menjadi 4,5 ton/ha/panen. Pemberdayaan dan peningkatan kapasitas petani pemakai air (P3A). Rehabilitasi dan rekonstruksi bendung dan jaringan irigasi.

Pelaksanaan proyek BRR Perwakilan Nias pada sektor irigasi seperti pada tabel 6 dan 7.

Tabel 6: Proyek Irigasi TA 2005

Tabel 7: Proyek Irigasi TA 2006

Dan berikut adalah peta penyebaran proyek irigasi di Kepulauan Nias tahun 2005-2006:

H. Sosial, Budaya, Agama
Tujuan mendorong pembentukan sense of community yang lebih kental dalam masyarakat Nias sehingga menjadi masyarakat yang kuat dalam menghadapi bencana alam. Sedangkan sasaran adalah rekonstruksi dan rehabilitasi rumah ibadah sebagai prasarana pembentukan masyarakat Nias yang kuat. Menggali, mengembangkan dan mempertahankan nilai-nilai budaya lokal: seni budaya dan budaya bermukim. Penanganan korban bencana alam melalui rehabilitasi dan rekonstruksi pranata sosial seperti misalnya panti asuhan.

Sampai saat ini sudah dan sedang dilaksanakan 598 paket subsidi untuk perbaikan gereja, mesjid, dan vihara, panti asuhan (Gunungsitoli dan Teluk Dalam), KUA, gedung khusus wanita. Selain itu pengadaan alat-alat kesenian dan olah raga, dan bantuan pendidikan untuk 1.000 siswa. Telah dilaksanakan juga musyawarah adat (fondrako) serta festival dan pameran seni budaya.

I. Sektor Ketenagalistrikan
Tujuan sektor ini adalah memperbaiki jaringan dan bangun-bangunan listrik yang rusak oleh gempa serta memperluas cakupan layanan jaringan listrik. Sedangkan sasaran adalah rehabilitasi dan rekonstruksi seluruh jaringan listrik yang rusak karena bencana gempa serta meningkatkan kapasitasnya. Memastikan bahwa sebanyak mungkin fasilitas publik memiliki layanan kelistrikan yang kontinyu. Memperluas cakupan layanan jaringan listrik.

Sampai saat ini telah dilaksanakan perbaikan HUTM & HUTR 29 Km & fasilitas 2.000 SR di Nias, penggantian AAAC 150 mm2 7 km Binaka-Baruzo; Genset 1MW di Teluk Dalam, HUTM & HUTR 17 Km, fasilitas 1.425 SR di Nisel. Selain itu penggantian dan pergeseran tiang listrik di Jl. Gomo Kota Gunungsitoli, penggantian HUTM-AAAC 150 mm2 di Baruso-Idano Gawo 12 km, Gunungsitoli-Binaka 17 km, Idanogawo-Teluk dalam 70 km; perluasan Jaringan di Sirombu 400 SR& Sorake 65 SR.

Area dan penduduk yang terlayani adalah 2.000 keluarga di Nias dan 1.425 keluarga di Nisel telah mendapatkan sambungan rumah baru. Dan secara keseluruhan penerima manfaat adalah disekitar Jl. Gomo, Kota Gunungsitoli, Baruso, Idano Gawo, Binaka, Idanogawo, Teluk Dalam, Sirombu dan Sorake.

Berikut tabel proyek BRR Nias pada sektor kelistrikan (Tabel 8)

Tabel 8: Proyek Kelistrikan TA 2005-2006

PENUTUP
BRR Perwakilan Nias kini memiliki sumber daya manusia dan struktur organisasi yang makin solid, baik untuk kebutuhan perencanaan, pelaksanaan, koordinasi maupun pengawasan dan pengendalian. Dengan adanya kebijakan regionalisasi BRR NAD-Nias, maka organisasi BRR Perwakilan Nias mengalami perubahan, yaitu dengan terbentuknya kantor distrik Nias dan Kantor Distrik Nias Selatan.

Kebijakan regionalisasi BRR NAD-Nias ini makin memperjelas komitmen BRR untuk lebih memahami konteks kewilayahan untuk lebih efektif menjawab kebutuhan masyarakat. Untuk itu, pada tahun 2007 dan seterusnya, pendekatan perencanaan diubah menjadi berbasis wilayah.

Semoga melalui pendekatan kewilayaan ini, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi makin dekat dengan masyarakat dan pemerintahan di kedua wilayah di Kepulauan Nias, yaitu Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Dengan demikian juga diharapkan masyarakat dan pemerintahan kabupaten di kedua wilayah ini dapat berperan serta lebih aktif dalam proses pembangunan Nias dan Nias Selatan yang lebih baik.

Terima kasih

Facebook Comments