*Kasus Kepulauan Nias

Noniawati Telaumbanua

Pendahuluan
Kata “booming” mungkin bisa dijabarkan untuk menggambarkan situasi dua tahun terakhir di kepulauan Nias, dimana dalam sekejap mata semua aspek sendi kehidupan sosial berubah total dan perubahan tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Perubahan tadi memiliki konsekuensi dan efek yang tidak mengenal istilah menunggu dan tanpa bisa dikembalikan atau sekedar diputar ulang kembali.

Penjabaran perubahan ini tidak bisa lagi dirunut satu per satu, akan tetapi sebagai contoh wajah Kota Gunungsitoli sebelum 28.03.2005, setelah Juni 2006 dan kini Desember 2006 sudah tidak bisa dikatakan membosankan.

Semua perubahan bersifat intensif serta merta memberi tekanan pada masyarakat sekitar bahwa perubahan tersebut pasti berakibat positif. Akibat positif di sini belum bisa dijabarkan secara eksak karena membutuhkan kajian dan pembuktian di lapangan, akan tetapi setidaknya melihat fenomena yang terjadi di masyarakat kepulauan Nias saat ini adalah nyata positif, dengan contoh: hingar-bingar ratusan bahkan ribuan aktivitas yang dikenal dengan sebutan “Proyek”.

Dalam konteks pemahaman masyarakat setempat, sebagai mayarakat awam Ono Niha, kata “proyek” hanya umum di kenal sebagai uang atau sumber uang atau mesin pembuat uang atau aktivitas megah. Kata proyek yang berbasis tanpa uang dan murah meriah atau gratisan tidak pernah dikenal.

Euforia hilir mudiknya ribuan pendatang dari dalam dan luar negeri dengan berbagai kepentingan dan latar belakang telah meyakinkan segenap masyarakat yang dahulunya jarang didatangi – terisolir – memiliki pola pikir yang sangat berbeda dengan suku-suku lain di persada nusantara-, bahwa sudah saatnya mereka dikenal dan dikasihani. Selain itu, kedatangan berbagai pengunjung beserta berbagai tingkah pola bawaan dari tempat asal, membuka mata masyarakat kepulauan Nias bahwa mereka juga mau tahu dan melek mata kalau semua ternyata sudah canggih.

Kenyataan awal setelah bencana, Nias menjadi sangat terkenal dan bercampur dengan keinginan semua lapisan masyarakat untuk dikasihani karena masa genting yang dialami setidaknya enam bulan pasca gempa itu, kini menjadi sebuah bayang-bayang kritis karena timbulnya kesadaran dengan keinginan lain yang lebih luhur dan menjadi pertanyaan besar yaitu dikasihi dengan tulus, karena bencana yang telah menimpa bertubi-tubi menjadi seperti buah simalakama.

Projects: The Big Cake After Earthquake
Sebelum membahas lebih lanjut, mari melihat kembali ke belakang bahwa BRR Aceh-Nias terbentuk karena solidaritas umat manusia sekejap setelah bencana Tsunami 2004 terjadi. Tak diduga, bahwa bencana hebat lagi menimpa kepulauan Nias Maret 2005 tetapi dengan bentuk lain yakni gempa bumi.

Di sini tidak akan dijelaskan bagaimana skala prioritas pekerjaan dan haluan yang diambil oleh BRR untuk menyikapi kejadian di atas, namun jelas bisa dipastikan ini menjadi pekerjaan yang tidak mudah lagi karena kebijakan yang diambil untuk menangani korban dan perbaikan selanjutnya juga sudah tidak hanya berskala Tsunami di lokasi tertentu saja.

Bisa dibayangkan bahwa rapat-rapat penting digelar, seiring dengan melimpah-ruahnya teriakan korban dan tuntutan efek perubahan pasar setelah itu,dst,dst.

Dana dan sumbangan dari donatur pun bukan tidak mencukupi, tetapi biaya antisipasi di lapangan dipastikan menjadi tidak terduga. Masalah klasik yang terjadi pada banjir Lahusa-Gomo Agt. 2001 pun terulang lagi, sebagai contohnya, sumbangan mi instant sebanyak satu truk, namun ongkos transportasi hingga ke tempat tujuan (sesuai dengan isi surat donatur) terjadi jauh lebih mahal. Begitu juga dengan pelaksanaan proyek pembangunan rumah, yang membuat “gila” semua konsumen bahan bangunan.

Reaksi timbul karena aksi. Dana dan sumbangan yang telah terkumpul menjadi sebuah kue besar dan perlu dibagi untuk segera bisa dinikmati korban bencana. Volume bantuan yang tidak terhenti ini menjadi sebuah mega proyek kemanusiaan atau solidaritas semua umat manusia kepada para korban.
Dalam proses pembagian tugas dan pelaksanaan Mega Proyek Kemanusiaan yang dikomandoi oleh BRR sebagai pemegang mandat amanat dari Rakyat dan Pemerintah RI untuk kurun waktu 2004 hingga 2009, setiap kejadian pada pekerjaan di lapangan selalu memiliki kemungkinan hasil yang tidak tentu baik, atau tepat, atau diterima baik, atau dienyahkan sama sekali. Katakanlah ini sebagai faktor x,y, dan z yang mempengaruhi setiap pekerjaan. Tuaian protes, amarah dan semua reaksi negatif yang marak diberitakan dalam media massa, ternyata bertolak belakang dengan berita dari situs resmi BRR sendiri.

Dalam kunjungan terakhir pada bulan Agt. 2006 benar terlihat banyak sekali perubahan yang terjadi dalam artian yang telah dibangun bukan hanya oleh BRR namun juga oleh badan organisasi lainnya, namun tidak sedikit yang berkeluh kesah mulai dari rasa tidak adil hingga keluh kesah kejiwaan.

Booming proyek yang tersebut di atas resminya hingga akhir tahun 2009 terjadi, karena program kerja BRR memang hanya sampai tahun tersebut. Pastinya perubahan yang terjadi dengan kinerja BRR dalam masa tugasnya memang baru dapat dievaluasi dan dinilai setelah masa tugas BRR Aceh-Nias selesai.

Perubahan Kecil Lama-lama Menjadi Bersifat Tetap
a. Proyek dan Perubahan Masyarakat
Contoh berikut masih merupakan sekelumit perubahan dari ribuan contoh yang ada dan terjadi di kepulauan Nias.

Sesaat setelah bencana gempa, tawaran untuk sekolah kepada anak-anak asal kepulauan Nias berlimpah. Ada yang berkelanjutan namun ada yang diberitakan mengalami beragam masalah setelah berlalu sekian bulan.

Ribuan proyek besar-kecil, dalam sekejap mata menjadi sarapan pagi utama dalam perbincangan siapa saja di kepulauan Nias. Mulai dari proyek realistis hingga proyek manipulasi, mulai dari yang menguntungkan hingga yang merugikan masyarakat yang ditimpa bencana.

Tidak jarang pula, banyak yang mendadak kaya secara materi karena berbagai peluang (selain proyek bangunan) yang bisa ditangkap, seperti lapangan pekerjaan dengan gaji di atas rata-rata, lapangan usaha baru karena pelaku ekonomi sebelumnya tidak aktif lagi, aksi pendirian berbagai yayasan atau LSM, dll.

Secara langsung atau tidak langsung, arus perputaran roda ekonomi dipaksa secara tiba-tiba mengikuti kekuatan pasar (aktivitas dari pendatang) menciptakan situasi pasar yang ada sekarang di kepulauan Nias.
Jadi jangan kaget kalau naik beca dayung hingga 1,0 Km bisa berbiaya minimal Rp10.000,-

Rongsokan besi menjadi bisnis menjanjikan, sesaat setelah gempa.

Bisnis mainan anak luar biasa mendapat respon pasar, karena memang efek penenangan emosi anak-anak pasca gempa dianggap bisa terwujudkan dengan memberikan banyak mainan yang menyenangkan mereka.

Bantuan uang tunai yang mengalir deras pada enam bulan pertama dipakai untuk membeli berbagai barang keperluan rumah tangga, pakaian, perhiasan hingga hal-hal sepele, sekalipun harga pasar saat itu tidak realistis lagi mahalnya.

Hotel, restoran dan cafe menjamur dengan berbagai macam tawaran menu dan fasilitas.
Singkatnya mekanisme pasar pun ikut berubah.

b. Proyek dan Ketergantungan Terhadap Infrastuktur
Secara umum, infrastruktur di kepulauan Nias menjadi sorotan utama dalam proses perbaikan. Untuk membantu pelaksanaan proyek, tidak terhitung lagi banyaknya perubahan dan perbaikan sarana infrastruktur seperti jalan raya, sarana air bersih, sekolah, jembatan, telekomunikasi, dll. Memperbaiki dan mengadakan infrastruktur yang disebutkan di atas saja membutuhkan waktu yang tidak singkat dan menjadi prioritas utama yang diperhitungkan pada pelaksanaan proyek di lapangan karena semua menunggu dan bergantung kepada infrastruktur yang telah lancar.

Perhatikan jalan raya mulai dari jalan Sirao ke arah Sifalaete Km.3. Jalanan tersebut dibangun dengan bagus dan sedemikian lebar, memastikan kepada masyarakat dan menciptakan semacam image bangga bahwa jalan raya tingkat propinsi dengan kualitas baik pun akhirnya dibuat di ibukota Kabupaten Nias.

c. Proyek dan Anutan Budaya serta Situasi Sosial Setempat
Jalan raya yang lebar dan mulus secara tidak langsung mendorong peningkatan laju kecepatan kendaraan. Bukan hal aneh lagi bila tabrakan dan terpeleset di jalan raya terjadi setelah itu. Pemakai jalan menjadi takut menyebrang, pejalan kaki menjadi semakin tidak dihargai; lebarnya jalanan secara tidak langsung meregangkan hubungan sosial masyarakat, dimana tetangga depan rumah menjadi sulit untuk dihubungi dengan sekejap karena jalanan bukan lagi sesuatu yang aman untuk dilewati.

Ribuan kendaraan super besar dan kuantitas yang meningkat lebih dari 100 % (menurut pengamatan penulis, setidaknya minimal 30 sepeda motor baru dan minimal 10 kendaraan roda empat per bulan memasuki kepulauan Nias) menciptakan suara bising dan partikel debu berbagai ukuran dan memicu hiruk pikuk kota Gunungsitoli. Suara kendaraan dan debu/asal knalpot mendorong penduduk setempat menikmati musik lebih keras lagi, dimana suara tape recorder dari setiap rumah aktif mulai pkl. 08.00 hingga pkl. 19.00.

Sekilas tampaknya ini mengusir rasa bosan dan nelangsa, tetapi masyarakat tidak menyadari, ini bisa meningkatkan agresivitas sosial, stress dan mengancam keselamatan jiwa di kemudian hari.
Jalanan lebar dan mulus tanpa menyisakan tempat untuk pejalan kaki bahkan untuk menanam pohon sekalipun terutama di daerah pusat kota dan pesisir pantai yang terbukti rawan dan tak layak dibangun bukanlah hal yang bijaksana untuk penduduk setempat di masa mendatang, karena kemungkinan jalanan itu hanya sebagai sarana sekejap bagi kendaraan roda berat para pelaksana proyek. Hiruk-pikuk dan suara keras yang intens dari pagi hingga malam bukan lagi sesuatu yang sehat untuk penduduk yang masih trauma dan stress pasca bencana.

Belum habis protes mengenai kualitas pembangunan rumah, ada hal yang nyaris luput dari perhatian ketika proyek pembangunan rumah penduduk di sebuah tempat di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan direncanakan. Menyamaratakan situasi desa kendati di sebuah pulau kecil sekalipun berakibat fatal di kemudian hari. Rumah penduduk desa di daerah selatan umumnya berada dalam satu lingkungan atau berjejer dalam satu barisan, atau saling berhadapan. Akan tetapi di daerah utara, tidaklah demikian, rumah-rumah penduduk menyebar tidak beraturan, ada yang terhubungkan jalan raya beraspal, ada yang tidak.

Ketika proyek dilaksanakan di lapangan, biaya transprotasi pengadaan bahan bangunan di desa-desa bagian utara Pulau Nias tinggi sekali atau bahkan tidak bisa terangkut sama sekali. Kontraktor atau Pimpro yang mungkin berasal dari luar Nias kebingungan bagaimana membangun rumah yang tersebar di satu desa, karena sangkaannya seperti membangun perumahan saja, sekaligus 50 rumah di satu blok perumahan, selesai.

Ini mungkin sepele buat Ono Niha, tapi sebuah pelajaran yang baik untuk menyadari betapa pola anutan budaya dan sosial setempat di satu pulau ini memiliki nilai yang berbeda-beda.

d. Proyek dan Etika Kerja
Seberapa besarkah jumlah Ono Niha terlibat langsung dalam tugas yang diemban BRR Aceh-Nias? Bagaimanakah etos kerja di sana?

Benar bila kinerja kerja BRR Aceh-Nias harus diawasi dan dikontrol. Namun, sebagai masyarakat awam, hal lain yang ingin dilihat adalah seberapa banyakkah hal baru dan penting telah memperluas wawasan Ono Niha dan meningkatkan kualitas kerja di kemudian hari pasca kontrak dengan BRR Aceh-Nias kelak?

Akankah angkatan kerja berkualitas melanjutkannya atau berlalu?

Tugas ini menjadi beban moral BRR Aceh-Nias karena kredibilitas organisasi di mata dunia internasional sangat dipentingkan.

Sebagai contoh nyata, anak-anak muda tidak lebih dari umur 27 tahun begitu aktif dalam proyek pembangunan perumahan atau gedung sekolah. Dahulu, para orang tua pasti mengelus dada melihat tingkah laku yang dianggap sangat agresiv untuk ukuran budaya Ono Niha. Tapi dengan etos kerja yang setaraf internasional, kepala proyek pun harus lipat lengan baju untuk angkat mesin berat dan bicara tanpa omong besar! Cara berkomunikasi, disiplin, membina kerjasama yang baik dengan instansi lain, berinisiatif meraup kontak sebanyak mungkin, bahasa tubuh yang menampilkan strategi memikat pada pertemuan tender serta penuh keyakinan ketika berjalan bukan lagi budaya haram bila tidak ingin ditindas atau didepak oleh persaingan kerja dengan angkatan kerja asal luar Nias.

Salah kaprah dalam berkomunikasi dan bekerja biasa pasti terjadi, itu sudah hebat betul buat Ono Niha yang baru saja ditimpa bencana dan harus memplot diri sekejap untuk berkecimpung dengan badan kerja istimewa.

Tidak ada yang bisa merubah kinerja buruk kecuali yang bersangkutan berubah. Ini menyedihkan bila bertemu dengan pribadi yang demikian, namun tindakan pengawasan dan ketegasan dari BRR Aceh-Nias penting untuk didukung.

Jadi, selamat bekerja di BRR Aceh-Nias, raihlah pengalaman sebanyak mungkin dan tampilkanlah hasil kerja maksimal.

Dari beberapa contoh pada point di atas, perubahan yang manakah akan tercipta setelah BRR Aceh-Nias menyelsaikan tugas?
BRR Aceh-Nias sudah banyak berbuat, namun dari banyak hal yang telah diperbuat, hal yang manakah yang disukai, diterima dan dibutuhkan oleh Ono Niha masa kini dan mendatang?

Penulis secara pribadi pun belum bisa memprediksikannya, tapi gejala menunjukkan ke arah yang positif, karena hal terpenting adalah masyarakat Nias sudah menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa dunia tempat tinggal mereka, yaitu kepulauan Nias, sebenarnya bukanlah tempat yang aman untuk didiami dan bahwa tingkat ketertarikan yang demikian rendah untuk membangun Nias sejak dahulu dari pihak pemerintah terjawab sudah hingga saat bencana-bencana terjadi. Penjelasannya adalah: resiko di kepulauan Nias di segala bidang sangat tinggi.

Kesadaran masyarakat ini sangat penting dan menjadi basis untuk mempertahankan hidupnya di kemudian hari.
Namun ada yang terluput dari perhatian, bahwa nenek moyang Ono Niha senang menciptakan atau merancang sesuatu dan menjadi anutan atau falsafah hidupnya karena telah disesuaikan dengan situasi tempat tinggalnya. Belajar dari paham yang telah dianut oleh nenek moyang suku Ono Niha di Utara dan Selatan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti prinsip membangun rumah, prinsip perawatan pohon besar (yang dahulu sebagai animisme, tetapi terbukti sebagai penyedia air tanah dan memperkokoh permukaan tanah), dlsb, jangan lagi dianggap sebelah mata. Dalam hal ini tetua-tetua Ono Niha memegang kebenaran hakiki pada penerapan strategi penyelamatan hidup di daerah rawan bencana.
Bila belajar dari sejarah, suku Ono Niha mampu menciptakan keunikan yang tidak dimiliki oleh suku mana pun di muka bumi, ini sudah semacam “sifat genetis” yang menetralisir sifat-sifat atau kondisi yang kurang menguntungkan dari suku Ono Niha.
Perubahan ini bersifat lambat tapi pasti bergerak ke arah positif karena dipicu dengan kesadaran untuk mempertahankan hidup. Nilai moral yang dikuasai oleh cinta kasih kepada sesama manusia memperkuat strategi mempertahankan hidup ke arah yang lebih manusiawi.

Mega Proyek Kemanusiaan Bermodalkan Kekuatan Masyarakat

Opini yang penting dikaji saat ini menjelang tahun 2007 adalah mengapa ada program kerja yang melibatkan masyarakat setempat dan mengapa ada yang tidak. Penafsiran bisa terjadi macam-macam, 1)anggapan bahwa masyarakat setempat tidak tahu apa-apa, 2) masyarakat masih lumpuh mental karena baru saja mengalami bencana, 3) strategi, dimana ketika uang atau dana program telah menipis, maka masyarakat setempat kini dilibatkan untuk menekan ongkos dan biaya, 4)kesalahan kalkulasi dalam perencanaan, 5) dll.

Tidak ada yang bisa diubah, bila sedari awal pelaksanaan program kerja di lapangan adalah karena proses tender. Banyak yang kecele dan kecewa berat, karena bangga telah memiliki proyek banyak, namun sulit terwujudkan karena situasi di lapangan (baca: kondisi di kepulauan Nias) tidak sama dengan daerah lain. Mulai dari urusan pengangkutan, harga pasar yang berlaku, pergolakan masyarakat setempat hingga gonjang-ganjing situasi politik intern pemerintah.

Intinya: semua pada umumnya tidak mengenal situasi dan kondisi, karena bencana ini bertubi-tubi maka situasi menjadi instabil.

Salah satu alternatif yang mungkin bisa membantu menyelamatkan kerjasama yang baik dan langgeng (setidaknya) hingga masa bakti BRR thn 2009 nanti adalah keterlibatan masyarakat setempat mulai dari proses awal hingga akhir karena berlandaskan penghargaan atas diri masyarakat setempat sekalipun belum sehat betul setelah ditimpa dukacita.

Proses transparansi mungkin belum bisa dituntut dalam situasi ini 100% terjadi, tapi keterlibatan pihak BRR dengan masyarakat memicu pencarian titik temu yang baik untuk bisa bekerjasama dan dengan sendirinya menghasilkan proses yang transparansi.

BRR sebagai badan yang memiliki ahli-ahli perencanaan berkompeten pasti telah berpikir ke arah tersebut.

Program Kerja BRR di Nias vs Situasi Dukacita
Penulis ingin mengajak pembaca melihat di satu sisi ini, karena ternyata hasil kerja yang memuaskan sangat dipengaruhi oleh situasi emosial (baca: kondisi sosial masyarakat).

Secara psikologis, masyarakat Ono Niha masih diselimuti dukacita. Normalnya, dalam situasi dukacita, pemikiran mantap mengenai perencanaan yang berjangka waktu lama masih berada jauh di fase berikutnya, bukan tepat ketika bencana baru saja usai. Faktanya, gempa susulan (ataukah gempa tersendiri), hingga tulisan ini diturunkan, masih tetap terjadi di kepulauan Nias.

Seberapa jauhkan keadaan traumatis ini menjadi satu aspek penting untuk menyelami pemikiran orang-orang stress setelah mengalami bencana? Ada juga stress bukan karena bencana itu, tetapi karena mengejar target penyelesaian proyek dan menjadi target berita di mass media. Pembaca koran di luar daerah pun ikut-ikutan stress, apalagi bila memiliki ikatan emosional dengan situasi di kepulauan Nias. Stress atau tekanan-tekanan lain juga ada yang terjadi, namun tidak bisa dituliskan satu per satu di ruang ini.

Perhatian utama adalah, stress atau tekanan setelah bencana alam dan dukacita jangan dianggap sebelah mata. Sangat patut dihargai bila BRR dalam pelaksanaan proyek kemanusiaan di lapangan melihat salah sisi nyata kemanusiaan di tempat kejadian, sehingga setidaknya mengurangi tindakan tidak terpuji dari karyawan BRR Aceh-Nias, dari masyarakat dan dari mitra kerja BRR Aceh-Nias.

Penutup
Perencanaan matang tidak bisa dilakukan dalam sekejap, sekalipun uang tunai ada di tangan. Yang menjadi perhatian adalah: bahwa BRR berperan utama saat ini untuk meletakkan landasan-landasan untuk pembangunan kepulauan Nias di masa mendatang. Tidak ada badan yang dipercayai dan diakui oleh pemerintah kita yang memiliki peran begitu luar biasa besar untuk menangani bencana Nias selain BRR. Jadi, dalam hal ini BRR patut diakui memiliki tugas yang tidak ringan. Perencanaan yang matang untuk pembangunan selanjutnya dan meletakkan dasar yang kuat bagi perkembangan yang berkelanjutan menjadi satu nilai tinggi bagi pekerjaan BRR Aceh-Nias di masa depan yang dinilai oleh masyarakat dunia, donatur maupun masyarakat Ono Niha.

Karlsruhe, Oktober-Desember 2006

Sumber: Proyekstudi pribadi (Des. 2005-Okt.2006)

Facebook Comments