DALAM KEBAIKAN – KEMANUSIAAN

Monday, January 1, 2007
By nias

Menjalani tahun 2007

Bagi rakyat kita ada perasaan khusus mengawali tahun yang baru. Kalau boleh diringkas: syukur bahwa telah berlalu kehidupan selama tahun silam dan terima kasih bahwa diperkenankan menapaki hari-hari yang terbilang dalam tahun baru. Di baliknya tersirat pernyataan ketidakberdayaan, ketidakmungkinan menempuhnya, sekaligus perasaan ketergantungan pada faktor luar diri. Memang waktu sesuatu yang datang dalam kemisterian. Seakan dia membungkus ragam kejadian dan peristiwa, seakan dia datang membawa kesukaan dan sekaligus kedukaan.

Namun dalam gulungan waktu, warga kita menyusun program dan rencana. Kalau nanti putri sulung tamat SMA, akan melanjut ke ABA di Padang, misalnya. Waktu libur sekolah nanti, kita langsungkan pernikahan. Di balik ketidak berkuasaan memperkirakan bagaimana akan mengalirnya waktu, toh ada kepastian bahwa waktu ada.

Orang Romawi kuno bertekad “carpe diem” manfaatkan waktu yang ada; semboyan Inggris “time is money”. Warning orang tua dulu, böi arörö, alawa luo, italui’ö inötö.

Sejak Kristus menjadi pembaharu sejarah kemanusiaan, maka waktu mengandung pertalian yang Ilahi dengan insan ciptaan. Diawali dengan Natal Putra Sang Mahatinggi. Efeknya, Allah hadir dalam waktu, dalam hidup manusia, dalam suka dan duka entah apa pun bentuknya. Allah hadir dalam sejarah pribadi untuk mencahayai, memaknai, memberi orientasi. Dialah jalan, kebenaran dan hidup (bdk Yoh 14:6).

Tahun 2007 menghadiahkan gulungan hari seumpama gulungan kanvas putih untuk kita ukir. Berkembang dalam kebaikan dan kemanusiaan agaknya cocok menjadi tekad manusia sejagat, teristimewa masyarakat Indonesia, khusus lagi kita warga Nias dari dan di tigapuluhan kecamatan. Bencana telah dihadapi dan dilalui bersama, di sana-sini karena citarasa kebersamaan sudah nampak kecerahan hidup sejumlah warga.

Memang waktu membungkus beban-beban hidup. Kerap hanya mungkin ditanggung dengan saling berbuat baik dan semakin sayang-menyayangi selaku manusia. Tekad ini bisa jadi ukuran apakah kita kian matang dan bijak hidup.

Ya’ahowu ita fefu.

P. Marinus Telaumbanua

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita