JAKARTA Departemen Perhubungan hanya menyiapkan bantuan aspek teknis dalam pembangunan kembali pelabuhan Nias di Gunung Sitoli. Pembangunan dan pendanaan pelabuhan itu merupakan tanggungjawab Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi NAD-Nias (BRR NAD-Nias).

Demikian diungkapkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Hartasja Harijogi kepada Investor Daily melalui selulernya di Jakarta, pekan lalu.

“Itu masuk wilayah BRR dan kita tidak menganggarkan dana khusus untuk pembangunannya. Kita hanya menyiapkan bantuan teknis,” ujarnya. Bantuan teknis itu, jelas dia, terutama mencakup studi terhadap pembangunan pelabuhan itu.

Harijogi mengakui bahwa belum selesainya pembangunan kembali pelabuhan itu berdampak banyak pada mobilitas ekonomi dan penduduk di kedua kabupaten di pulau tersebut. “Ya, akibatnya, masyarakat sekali lagi harus naik kapal bila datang dari Jakarta dan Padang. Tentu saja itu berdampak pada pengeluaran yang lebih besar dan juga waktu perjalanan yang lebih lama,” jelasnya.

Sejak November lalu, pelabuhan Nias tidak bisa disinggahi oleh kapal penumpang besar milik PT Pelni, KM Lawit. Salah satu penyebabnya adalah rencana pembangunan kembali pelabuhan yang telah rusak akibat gempa lebih setahun yang lalu. Akibatnya, kapal KM Lawit yang berlayar dari Tanjung Priuk dengan lebih dulu menyinggahi Padang dan Sibolga sebelum menuju Gunung Sitoli, terpaksa hanya berlayar sampai di Sibolga. Selanjutnya, penumpang yang hendak menuju Pulau Nias, harus menumpang kapal kecil dari Sibolga dengan jarak tempuh delapan sampai sepuluh jam. Bila pada hari yang sama tidak ada kapal yang terjadwal ke Pulau Nias, penumpang terpaksa menginap satu sampai dua malam di Sibolga.

Masalah lainnya adalah kapal-kapal yang memiliki rute pelayaran Sibolga-Gunung Sitoli pada umumnya adalah kapal kecil atau kapal kayu. Yang paling besar adalah kapal ferry penyeberangan kelas Ro-Ro. Hal ini berdampak besar pada penumpang karena selain biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar, juga karena kapal-kapal yang ada pada umumnya tidak memadai mengingat ganasnya laut Samudera Hindia yang harus di lalui kapal-kapal itu.

Pemda Perlu Serius
Ditanya mengenai upaya Departemen Perhubungan untuk mengatasi masalah ketidakmemadaian armada angkutan laut menuju Pulau Nias, Harijogi mengatakan perlu penambahan atau penyediaan kapal-kapal yang memadai. Namun, Harijogi juga mengakui, hingga saat ini Dephub belum menganggarkan pembuatan kapal penyeberangan untuk Pulau Nias. “Saat ini yang sudah disetujui pemerintah adalah penyiapan kapal perintis untuk Padang yang akan digunakan di wilayah Mentawai dan sekitarnya. Untuk Nias, sejauh ini belum ada penganggaran,” paparnya.

Selain itu, Harijogi juga mengharapkan peran aktif dan keseriusan pemerintah daerah di Pulau Nias, baik kabupaten Nias maupun kabupaten Nias Selatan. “”Keseriusan pemerintah daerah di Pulau Nias ditunggu,” jawabnya singkat ketika Investor Daily menanyakan penyebab dan solusi dari kesulitan tersebut. Harijogi menganjurkan agar pemerintah ke dua daerah tersebut melakukan upaya yang lebih serius lagi. “Misalnya, membuat pengajuan lagi ke Departemen Perhubungan. Jadi, jangan sekali tidak berhasil, kemudian langsung mundur. Kita mau kok membantu, tapi mereka juga harus tunjukkan keseriusan,” katanya.

Harijogi berharap, tahun depan direktoratnya bisa mengupayakan penambahan satu kapal perintis untuk melayari jalur Sibolga-Nias (Gunung Sitoli/Teluk Dalam, red).(c98)

Sumber: Investor Daily, Desember 2006

Facebook Comments