E. Halawa*

“Biha, Tuha ! Biha, Tuha !”. Setiap kali saya merasakan atau mendengar berita tentang gempa bumi, pikiran saya langsung teringat dengan seruan dalam tanda kutip yang mengawali tulisan ini. Orang-orang Nias, terutama yang berumur 40 tahun ke atas hampir pasti masih ingat bagimana respons atau reaksi orang-orang di Nias setiap kali gempa bumi mengguncang alam. “Biha, Tuha !”, kalau diterjemahkan secara bebas kurang lebih bermakna: “Cukuplah, hai Penguasa, redakanlah amarahmu”�. Kata Tuha sudah jarang-jarang kita temukan dalam percakapan sehari-hari orang-orang Nias zaman sekarang. Tuha misalnya muncul dalam “Tuha Zangaröfa” yang kurang lebih berarti “Penguasa atau Dewa Sungai”.

Sudah barang tentu, seruan “Biha, Tuha !” tidak cukup menjadi pengobat “amarah” sang bumi yang – melalui lempengan-lempengan tektoniknya – bisa saja mengulang amarahnya kembali “kapan saja” ia mau, tanpa terlebih dahulu memberikan peringatan awal kepada kita penghuni kulitnya. Para peneliti kebumian hanya bisa memberikan gambaran kasar mengenai kapan lempengan-lempengan tektonik pembawa maut itu bergeser, saling menubruk, dan akhirnya mencapai keseimbangan yang hanya bersifat sementara.

Sifat “kesementaraan” yang berskala satu hingga beberapa generasi (25 – 100 tahun) mengakibatkan kita mudah melupakan tragedi yang sama yang terjadi berulang kali dalam sejarah. Berbagai ketakpastian yang dihadapi para peneliti kebumian dalam mencoba menyingkap sifat-sifat gempa dan proses yang terjadi dalam perut bumi juga menyebabkan mereka tidak sesumbar mengeluarkan “ramalan” yang bisa saja justru membawa kepanikan yang tak perlu kepada masyarakat.

Akan tetapi kita patut mendengar dan “mencamkan” apa yang diucapkan para ilmuwan itu. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang peneliti kebumian. Ketika beliau tahu bahwa saya berasal dari Nias, beliau secara spontan berseloroh (tapi toh terkesan bernada serius) kurang lebih: “Wah hati-hati, Pak, Kepulauan Nias itu terletak dalam jalur rawan gempa.” Ucapan ini bagaikan “vonis mati”; saya hanya bisa merespons secara pasif, memendamnya ke alam bawah sadar.

“Biha, Tuha !” dan biasanya tidak lama sesudah seruan ini diucapkan goncangan bumi akibat gempa pun reda. Itu yang dialami oleh orang-orang Nias zaman dulu, termasuk saya sewaktu masih kecil. Ketika Minggu pagi 26 Desember 2004 gempa dahsyat melanda Nias, korban berjatuhan di sepanjang pesisir pantai Nias Barat. “Biha, Tuha !” mungkin tidak lagi terucap dari mulut mereka, sebagai gantinya mungkin doa singkat ini: “Tolong Tuhan, selamatkan jiwaku … !”.

***
Ketika bumi sedang melampiaskan amarah, mengapa Tuhan seakan “diam” tak berdaya ? Tidakkah DIA mendengar jerit tangis putus asa para korban (yang hingga tulisan ini sedang disusun telah mencapai 117.000 di berbagai negara) dan keluarga-keluarga para korban ? Mengapa “domba-domba” dan “kambing-kambing” dibiarkan “musnah” bersama-sama ? Mengapa DIA tidak memasang dinding pemisah antara “orang jahat” dan “orang tak berdosa” ? Mengapa Tuhan seakan-akan “bersekongkol” dengan “lempengan-lempengan tektonik ?” untuk memusnahkan puluhan ribu manusia, makhluk hidup lain dan harta benda, yang kesemuanya adalah ciptaan-NYA ?

Sehari sebelum gempa dahsyat mengguncang bumi, malaikat membawa kabar gembira ke bumi: “Hari ini, telah lahir bagimu Juruselamat dunia …” melalui ayat-ayat suci yang dibacakan di seluruh Gereja. Sehari sesudahnya, isap tangis, ratapan yang tiada tara terdengar di beberapa negara yang “disinggahi” gempa dan tsunami. Mengapa Tuhan tidak memerintahkan “lempengan-lempengan tektonik” itu berhenti beberapa waktu, katakanlah, menunggu sampai orang-orang dari berbagai bangsa menyudahi dulu liburannya di sepanjang pesisir pantai Thailand, Sri Lanka atau India ? Atau menunggu dulu para nelayan pulang dari memancing ikan ? Atau menunggu anak-anak tak berdosa berhenti bermain di pantai ?

Apakah Tuhan tidak mempunyai “remote control” atas alam ciptaan-NYA ? Ataukah Tuhan juga ikut “pustus asa” dengan “tingkah laku” manusia penghuni bumi ? Sampai detik ini saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan atas berbagai pertanyaan di depan, walau berhari-hari saya mencoba mencari dan merenungkannya.

Namun saya bersyukur, saya masih diberi-NYA berbagai “kesempatan”, termasuk kesempatan untuk “merenungkan misteri hidup ini”.

Selamat Tahun Baru.

Jumat, 31 Desember 2004

* Tulisan ini pertama kali muncul di Nias Portal 31 Desember 2004.

Facebook Comments