Natal, Naluri, dan Nurani

Thursday, December 28, 2006
By nias

The global nexus

Christianto Wibisono

Khotbah Natal 24 Desember di National Presbyterian Church, DR Gareth Ionogle menyebut paradoks Natal antara kecemasan dan harapan. Herodes cemas karena berita lahirnya juru selamat.

Sedang para gembala di Bethlehem dan orang Majus bersyukur karena menemukan sang bayi Kristus di palungan sederhana. Kini Bethlehem juga sedang bergulat dengan rasa takut cemas perang saudara Fatah Hamas dan harapan perdamaian internal Palestina maupun antara Palestina dengan Israel.

Konflik terbuka faksi Fatah kontra Hamas yang menelan korban tewas di kedua pihak membuktikan bahwa kebencian, pembantaian, dan peperangan bisa terjadi antara sesama bangsa, sesama agama, sesama etnis, ras, dan tanah air.

Itulah yang disebut perang saudara yang menimpa hampir seluruh bangsa di dunia ini dari zaman Nabi Adam sampai Adam Smith dan terus hingga Adam Gadahn, anggota Al Qaeda asal AS.

Perang saudara selalu makan korban jauh lebih banyak dari perang dengan bangsa lain. Karena kadang-kadang, masyarakat kurang peduli dan membiarkan saja korban bertumpuk dan pembantaian berlarut. Doktrin kedaulatan nasional mencegah intervensi kekuatan asing dan sesama bangsa bunuh membunuh seperti di Rwanda, Bosnia, Kosovo, dan Darfur. Impotensi politik PBB merangsang aktor George Clooney menuntut Sekjen PBB, Mesir, dan China agar tidak membiarkan terus Sudan membunuhi rakyat Darfur.

Naluri kebinatangan manusia memang penuh kebencian, kedengkian yang selalu akan diselesaikan dengan hukum rimba, siapa yang kuat dia yang akan menang dan menentukan nasib si pecundang. Apakah akan dihabisi, atau dipenjara dan ditindas selaku pihak yang kalah yang harus menerima nasib diperlakukan sewenang- wenang oleh penakluknya.

Nurani manusia sebaliknya, kembali kepada kodrat kemanusiaan yang bisa menghargai jiwa manusia lain sebagai sesama ciptaan Tuhan dan layak memperoleh jaminan hidup yang tidak boleh sembarang dicabut. Bahkan perang pun mempunyai kode etiknya sendiri jauh sebelum Konvensi Geneva tentang perang dan tawanan perang.

Perang saudara di Palestina, perang Israel-Palestina, perang teror global sejak 911, semua mengatasnamakan kepentingan rakyat, masyarakat tertindas, golongan melarat miskin yang terjajah oleh kekuatan Zionis, kolonialis, kapitalis, imperialis dan fasistis. Itulah slogan yang paling gampang memperoleh gaung kuat dalam perang opini publik dunia.

Tidak Banyak Berubah

Kondisi Timur Tengah dan rakyat Dunia Ketiga lainnya tidak banyak berubah sejak zaman Herodes sampai Hezbollah sekarang ini. Harta karun minyak yang berlimpah tidak pernah mengentaskan negara-negara Arab.

Dalam diskusi 20 Desember lalu tentang Timur Tengah di Potomac Institute of Policy Studies, Jonathan Davidson, utusan dari Uni Eropa menggelar perubahan peta geopolitik Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah dari zaman ke zaman.

Kekuatan-kekuatan lama yang punya potensi berimbang dengan Romawi dan Yunani adalah Hannibal dari Carthago, sekarang Tunisia, Mesir, Asyiria, Babilonia, dan Persia kemudian Ottoman Turki.

Dari Timur muncul kekuatan Mongol yang akan mendirikan imperium terbesar dalam sejarah manusia dari Eropa sampai Tiongkok. Kekuatan Mongol di abad ke-13 secara tidak langsung menyelamatkan Eropa dari pendudukan tentara Islam Timur Tengah.

Terorisme yang sekarang melanda dunia sudah melampaui alibi ekonomi, dan masuk ke psikologi politik. Dalam artikel di jurnal Democracy berjudul The Myth of Deprivation, Peter Bergen dan Michael Lind mengutip riset banyak pakar tentang latar belakang teroris sejak 911 sampai bom London 2005. Dari 79 teroris, 54 persen adalah mahasiswa atau setara dengan populasi mahasiswa AS yang hanya 52 persen.

Seperempat dari mereka belajar di universitas terkemuka di AS dan UE. Robert Leiken dari Nixon Center menyebut dari 373 teroris yang bergerak sejak bom truk WTC 1993 hingga 2004 41 persen adalah warga negara Barat. Baik melalui naturalisasi atau generasi kedua imigran Arab/Pakistan atau bule. Warga negara Prancis jumlahnya dua kali lipat Arab Saudi.

Claude Berebbi dari RAND Corp dan peneliti Palestina Khalil Shikaki menemukan 57 persen pengebom bunuh diri Palestina berpendidikan akademi dibanding 15 persen pendidikan lebih rendah.

Dari 1/3 penduduk Palestina yang tergolong melarat hanya 13 persen pengebom bunuh diri dibanding pengebom dari kelas menengah yang lebih kaya. Kesadaran dan tekad bunuh diri meningkat sejajar dengan tingkat pendidikan.

Michael Mann penulis buku Fascists menyebutkan bahwa Adolf Hitler berasal dari keluarga kelas menengah. Begitu pula Lenin, Mao Zedong, Pol Pot, Fidel Castro dan Abu Nidal serta Carlos the Jackal dari Venezuela. Mereka adalah kelas menengah yang berkecukupan dan mengecap pendidikan akademik serta berjuang untuk ide yang abstrak.

Karena itu kalaupun ada korban di kalangan massa itu merupakan risiko. Tentu saja orang semacam Yasser Arafat tidak akan membiarkan istri dan anaknya jadi korban. Karena itu keluarganya, di Kota Paris sementara yang jadi pengebom bunuh diri hanya tingkat anak buah dan kelompok fanatik yang terninabobokkan oleh mitos perjuangan anarkis.

Ketakutan Perang

Hari Natal 2006 menyaksikan Bethlehem harap-harap cemas akan perdamaian serta ketakutan akan perang saudara Fatah Hamas maupun Israel Palestina. Yesus sudah lahir 2000 tahun lalu, sudah disalib dan bangkit. Karena itu tidak perlu ada “Yesus baru”, atau manusia dan “agama baru” yang merasa perlu harus membantai sesama manusia di Timur Tengah.

Hanya karena kedengkian agama ataupun kebencian politis seperti analisis Peter Bergen dengan menunggangi alibi kemelaratan.

Yesus yang miskin di palungan tidak mengajarkan terorisme terhadap Herodes atau Romawi. Tiga abad kemudian Romawi di bawah Constantine justru menerima kekristenan. Dalam perspektif historis, moral Kristen dinilai lebih superior ketimbang paganisme Romawi.

Moral keadilan, kebenaran, dan kejujuran, pengadilan, penghakiman, dan penghukuman yang imparsial, obyektif, dan nurani yang tidak pilih kasih, itulah esensi Bethlehem dan Calvari. Rahasia keunggulan bayi palungan Bethlehem ialah iman kepada Tuhan, kasih kepada sesama, dan harapan kehidupan yang lebih baik.

Sebaliknya naluri kebinatangan terorisme dengan dalih apapun, ekonomi, agama, historis, politis yang hanya mencerminkan kedengkian dan kebencian tidak akan direstui oleh Tuhan Yang Omnipoten.

Hanya karena kedengkian agama ataupun kebencian politis seperti analisis Peter Bergen dengan menunggangi alibi kemelaratan. Yesus yang miskin di palungan tidak mengajarkan terorisme terhadap Herodes atau Romawi. Tiga abad kemudian Romawi di bawah Constantine justru menerima kekristenan. Dalam perspektif historis, moral Kristen dinilai lebih superior ketimbang paganisme Romawi.

*Penulis adalah pengamat masalah internasional

Sumber: Suara Pembaruan

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031