Ya’ahowu Wanunu Fandru

Wednesday, December 27, 2006
By nias

E. Halawa*

Kita baru saja merayakan Natal dan sejak masa Adven hingga beberapa hari sesudah hari Natal kita masih akan terus mengirim atau menerima ucapan selamat Natal ke atau dari teman atau keluarga kita.

Ucapan Natal dan Tahun Baru yang kita kirim (terima) bisa dalam bermacam-macam bahasa, tergantung dengan siapa kita berlomunikasi. Maka kita bisa mengirim (menerima) ucapan “Selamat Natal dan Tahun Baru”, “Mery Chistmas and Happy New Year”, atau “Buon Natale e Felice Anno Nuovo”, “Fröhliche Weihnachten und ein glückliches Neues Jahr!” dsb.

Bagaimana ucapan Natal dan Tahun Baru dalam Bahasa Nias ? Yang biasa kita dengar atau baca adalah:
Yaahowu Wanunu Fandru” untuk “Selamat Hari Natal” dan “Yaahowu Ndröfi Sibohou” untuk “Selamat Tahun Baru”.

Fanunu Fandru (Gasi) …

Dari mana datangnya istilah ini ? Dulu di Nias, sebelum arus listrik mengalir ke desa-desa, perayaan Hari Natal selalu diasosiasikan dengan penyalaan “Fandru Gasi”, lampu petromaks. Di mana ada pesta Natal, di situ kita menyaksikan penyalaan lampu-lampu “Fandru Gasi”, dan tentu saja, lilin. Semakin banyak fandru gasi di desa-desa sekeliling gereja yang merayakan Natal, semakin terang gereja, karena para pemilik fandru gasi seakan berlomba memeriahkan Natal dengan membawa fandru gasinya masing-masing ke gereja.

Fandru gasi bukan hanya dibawa oleh anggota gereja yang bersangkutan, melainkan juga oleh jemaat gereja lain yang diundang dalam perayaan Natal itu. Adalah hal yang biasa dulu di Nias bahwa setiap gereja mengundang jemaat gereja lain untuk merayakan Natal bersama-sama. Biasanya gereja lain yang diundang itu membawa kontribusi dalam bentuk paduan suara. Maka tidak mengherankan bahwa (dahulu) di Nias perayaan Natal bisa berlangsung selama 3 – 5 jam, tergantung dari jumlah gereja yang diundang dan jumlah koor yang ditampilkan. Hal ini sudah menjadi ciri khas perayaan Natal di Nias.

Perayaan Natal ini juga merupakan kesempatan muda-mudi memakai pakaian dan sepatu baru, kesempatan mereka merias diri secara khusus, kesempatan mereka untuk saling “melirik” dan melemparkan senyum diam-diam (dulu, karena tuntutan adat yang keras, pemuda dan pemudi tidak boleh sembarang bertemu dan bercakap-cakap). Maka kesempatan “melirik” itu cukup terbuka ketika sebuah kelompok paduan suara pergi ke depan, dekat mimbar atau altar untuk tampil.

Setelah selesai perayaaan Natal, tidak jarang jemaat gereja lain yang diundang itu dijamu oleh jemaat gereja pengundang (tuan rumah), biasanya dengan “ni’owuru” (babi yang digarami dan disimpan selama beberapa hai di “rumbi” atau di “migö”). Bahkan, kadang-kadang ada juga pihak tuan rumah yang sampai memotong babi. Hal ini sebenarnya bukan hal yang luar biasa. Jemaat gereja lain yang diundang itu datang dari jauh, ada yang berjarak sampai 3 – 10 km dari gereja tuan rumah. Ingat, jalan-jalan di Nias dulu adalah jalan-jalan kecil yang kalau musim hujan datang menjadi sangat becek dan susah untuk dilalui. Maka, untuk mencapai gereja tuan rumah, jemaat gereja undangan ini harus menempuh perjalanan selama 2 – 4 jam, suatu perjuangan yang luar biasa. Maka tidak jarang selama perayaan Natal ada saja yang masuk angin. Maka, jamuan yang ditawarkan oleh tuan rumah sebenarnya tidak lain adalah sebagai sebuah bentuk pemahaman akan keletihan jemaat undangan.

Selain untuk menerangi gereja selama perayaan Natal, fandru gasi tadi juga sangat dibutuhkan oleh rombongan jemaat (khususnya jemaat undangan) untuk menerangi perjalanan mereka pulang.

Istilah Fanunu Fandru sudah sangat dikenal di Nias dan diasosiakan dengan perayaan Natal. Ada sebuah bait dari sebuah koor di Nias yang masih penulis ingat:

Fanunu fandru khöda bongi (Penyalaan lampu di gereja kita malam ini)
Luo wa’atumbu Nono Lowalangi (Hari kelahiran Anak Allah)
I’ondrasi ita (Dia datang pada kita)
Razo wa’auri (Sang Raja kehiudpan)
Solawa afökha (Yang melawan setan)
Sangorifi fefu soi (Penyelamat seluruh bangsa)

Yaahowu Wanunu Fandru atau Yaahowu Fanunu Fandru ?

Dr. Lea Brown, dalam wawancara dengan Nias Portal, memperkenalkan kita dengan istilah linguistik “mutasi awal” (initial mutation) ketika mengungkapkan berbagai kekhasan Li Niha. Penulis telah mencoba mengidentifikai aturan-aturan penerapan mutai awal dalam Li Niha (lihat tulisan Turia Si Tobali Duria, dan diharapkan kritik atas isi tulisan itu).

Berdasakan penjelasan dalam tulisan itu, maka yang tepat adalah: “Yaahowu Wanunu Fandru”! Kalau kita menulis: “Yaahowu Fanunu Fandru“, seakan akan kita berbicara kepada seseorang bernama Fanunu Fandru, dan mengatakan “Selamat (pagi-siang-sore) Fanunu Fandru ! “

Kalau saya mempunyai anak bernama “Sökhinafao”, dan saya sedang memangkunya dan memberkatinya dengan menumpangkan tangan di kepalanya, maka saya bisa mengatakan: “Yaahowu khögu Zökhinafao, ya tobali’ö tanömö niha si sökhi.” Lain halnya kalau saya bertemu dengan seseorang bernama Sökhinafao di tengah jalan; saat itu saya akan mengatakan: “Yaahowu Sökhinafao !”, atau “Yaahowu Sibaya” (bukan “Yaahowu Zibaya“) kalau saya bertemu dengan paman saya.

Ingat, “wa” dan “nunu” tidak terpisah, itu berasal dari kata “fanunu” (penyalaan) yang juga berasal dari kata tunu (nyalakan). Imbuhan ‘fa’ di depan kata ‘tunu’ membentuk kata benda ‘fanunu’.

Yaahowu Wanunu Fandru ba Döfi Sibohou

Kalau “Fanunu Fandru” dan “Döfi Sibohou” disatukan dalam sebuah kalimat, maka kita harus menulis: “Ya’ahowu Wanunu Fandru ba Döfi Sibohou”, tanpa mutasi awal pada kata “döfi”. Kalau kita menulis: “Ya’ahowu Wanunu Fandru ba Ndröfi Sibohou” maka kalimat ini bermakna: “Selamat Hari Natal di (pada) Tahun Baru” (“ba” telah berubah makna menjadi “di” atau “pada” karena kita menerapkan mutasi awal “Ndr”).

Yaahowu Wanunu Fandru – Yaahowu Ndröfi Sibohou
Kalau kita menggunakan kata “Yaahowu” di depan “Fanunu Fandu” dan “Döfi Siohou”, maka kita harus menerapkan mutasi awal pada kata “Fanunu” (menjadi Wanunu) dan kata “Döfi” (menjadi Ndröfi).

Selengkapnya …

Dari uraian di depan, berikut adalah cara menulis yang tepat untuk ucapan-ucapan selamat Natal dan Tahun Baru dalam Li Niha:
Ya’ahowu Wanunu Fandru
Ya’ahowu Ndröfi Sibohou
Ya’ahowu Wanunu Fandru ba Döfi Sibohou
Ya’ahowu Wanunu Fandru ba Ya’ahowu Ndröfi Sibohou
Ya’ahowu Wanunu Fandru, Ya’ahowu Ndröfi Sibohou

Tags:

7 Responses to “Ya’ahowu Wanunu Fandru”

  1. 1
    Yustinus Waruwu Says:

    Saohagölö Pak Halawa! Sungguh memberi pemahaman. Terutama asal-usul mengapa “Fanunu Fandru” dan bukan “Fa’atumbu Zo’aya (Ulang Tahun Kelahiran)” dan secara umum pemahaman mendalam pemakaian Bahasa Nias yang tepat dan benar. Ya’ahowu.

  2. 2
    Fidelis Says:

    Terima kasih atas penjelasan dan penggunaan kata yang tepat mengenai Wanunu Fandru. Hanya saja, saya tidak setuju kalau Hari Natal disama artikan dengan Wanunu fandru atau fandru gasi.Ya’ahowu! P. Fidelis Mendröfa

  3. 3
    ehalawa Says:

    “Fanunu Fandru” tidak sama dengan “Hari Natal”, tetapi asosiasinya dengan “Hari Natal” dalam konteks masyarakat kristiani Nias sangat erat. Atas dasar itu, “Yaahowu Wanunu Fandru” sah-sah saja diartikan sebagai “Selamat Hari Natal”. Sekali lagi, hendaknya kita tidak mengartikan secara harafiah tekstual. Konon, tgl 25 Desember bukanlah tanggal pasti kelahiran Yesus, tetapi oleh Gereja diadopsi karena Yesus menjadi “Matahari” orang Kristen. Di zaman dulu di Nias, Fandru Gasi termasuk barang mewah dan merupakan “sumber” cahaya yang luar biasa malam hari 🙂 (e. halawa)

  4. 4
    samaerani giawa Says:

    Tuhan Yesus Memberkati

  5. 5
    Lucas Bamen Says:

    Dari mana asal usul orang nias kalau orang nias itu berasal dari negara lain atau pulau lain, mengapa tidak ada pulau atau negara lain yang sama seperti bahasa nias, tolong untuk di berikan jawaban yang pasti di “lucas.fbamen@yahoo.co.id”

  6. 6
    Calvin Says:

    Senang melihat Artikel Pak Halawa.. Thanks Pak.

    Sy agak kesulitan menerjemahkan arti dari selamat ulang tahun yg dipake secara umumnya.. Jadi, apa ya bahasa yang tepat untuk mengucapkan “Selamat Ulang Tahun Kelahiran” misalnya bagi orangtua, saudara, teman, dll.

    Thanks Pak Halawa… Tuhan Memberkati

  7. 7
    ehalawa Says:

    Yaahowu Pak Calvin,

    Dalam Li Nha sedikit lebih panjang, apalagi karena Ono Niha belum menciptakan ‘idiom’ seperti ‘Ya’ahowu Wanunu Fandru’ di depan. Hal ini karena merayakan ulang tahun dalam masyarakat Nias Zaman dulu bukan tradisi yang meluas seperti misalnya tradisi ‘mamoto’ ono matua (menyunat anak laki-laki khususnya di Nias Utara), atau tradisi ‘mame gö zatua’ atau ‘mangotome’ö’ ketika orang tua sakit, dst.

    Kita bisa menerjemahkan seperti ini:

    Ya’ahowu wanörö tödö fa’atumbu …

    Contoh dalam kalimat ril:

    Ya’ahowu wanörö tödö fa’atumbumö Baya, no itolo’ö So’aya ba zi 50 fakhe si lalö.

    Akan tetapi dalam prakteknya, dalam suasana masyarakat Nias .. rujukan langsung terhadap ‘ulang tahun’ itu mungkin tidak dilakukan. Bisa jadi, kalau saya bertemu dengan orang yang berulang tahun, dan kalau suasana sungguh-sungguh suasana Ono Niha, maka mungkin saya akan mengucapkan begini:

    Ya’ahowu … ya monönönönö harazakiu ba seha-seha manö.

    Kekuatan sapaan khas Ono Niha ‘Ya’ahowu’ nyata dalam kalimat terakhir. Yang berulang tahun dengan sendirinya tahu bahwa sapaan ‘Ya’ahowu’ itu merujuk pada perayaan ulang tahunnya.

    Jangan terkejut juga karena saya menggunakan kata ‘seha’ dalam kalimat di atas, pinjaman atau adopsi dari kata ‘sehat’. Dalam Li Niha padanan ‘sehat’ adalah ‘lö mofökhö’ atau ‘lö wökhö-wökhö’.

    Di mana mungkin kita bisa mengadopsi atau menyerap kata-kata asing ke dalam Li Niha. Ada artikel dalam kategori ‘bahasa’ dalam situs ini yang membahas soal itu.

    Kita sudah memiliki kata-kata berikut yang kita pungut dari bahasa lain: firi, figa, koda, hondra, mako, sendro, gambara, hape, kibo (dari keyboard), soköla (buah atau tanaman coklat), nila, dst.

    Ya’ahowu.

    ehalawa

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031