Pengembangbiakan Terumbu Karang untuk Antisipasi Tsunami

Friday, December 22, 2006
By katitira

JAKARTA–MIOL: Terumbu karang yang ada di Selat Sunda perlu dikembangbiakkan atau ditanam kembali, karena berperan untuk meredam gelombang tsunami, kata peneliti Puslit Geoteknologi LIPI Wahjoe S Hantoro, di Jakarta, Jumat (22/12).

Menurut dia, peranan terumbu untuk meredam besaran tsunami di Selat Sunda tersebut sudah terbukti saat terjadinya letusan Gunung Krakatau pada 1883. Saat itu terumbu karang yang ada di Pulau Panaitan mampu meredam besarnya gelombang tsunami.

Dirinya tidak dapat membayangkan jika bencana tsunami dari letusan Gunung Krakatau terulang kembali pada saat ini, dipastikan jumlah korban akan lebih besar lagi mengingat sudah rusaknya terumbu karang di Selat Sunda.

Apalagi di kawasan dekat Selat Sunda, sudah dipenuhi dengan industri dan daerah wisata, maka jumlah korbannya bisa lebih besar lagi. Pada 1883 saja korbannya mencapai 30 ribu orang, saat itu kawasan tersebut masih dipenuhi pohon kelapa. Dikhawatirkan dari bencana tsunami kali ini, yakni, di daerah Cilegon terdapat pabrik kimia, katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pemerintah atau masyarakat saat ini harus belajar dari pengalaman masa lalu seperti peristiwa letusan Gunung Krakatau, soal peranan terumbu karang untuk mengurangi besaran atau memecah gelombang tsunami.

Sebelumnya, ia mengatakan, terumbu karang di Indonesia selain memiliki ekosistem dan ekologis sebagai penyerap dan penahan karbon, juga mempunyai potensi untuk menjelaskan gejala alam di masa lampau bahkan bencana alam.

“Bagi penelitian reka ulang gejala alam di masa lampau, terumbu karang merupakan laboratorium alam guna memperoleh gambaran gejala di saat sekarang,” katanya pada Orasi Pengukuhan Profesor Riset LIPI yang berjudul

Tektonik, Lingkungan, dan Iklim Kuarter di Indonesia, di Jakarta, Kamis (21/12).

Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr Heri Harjono menyatakan masyarakat harus terus diingatkan akan kerawanan musibah gempa bumi, tsunami, dan longsor di Indonesia agar dapat mengantisipasi ketika musibah itu datang.

“Pengingatan kepada masyarakat atas kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana itu, harus terus dilakukan. Salah satunya pada peringatan dua tahun pasca musibah gempa bumi dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam,” katanya.

Menurut dia, masyarakat sering kali lupa akan daerahnya yang rawan musibah bencana alam, seperti, sejumlah daerah yang pernah terkena gelombang tsunami dari letusan Gunung Krakatau pada 1883, namun saat ini di kawasan yang rawan tersebut sudah banyak rumah. (Ant/OL-02)

Sumber:http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=120021, Rubrik Lingkungan, Tgl. 22-12-2006

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031