Laporan Wartawan Kompas Khaerudin

MEDAN, KOMPAS–Gempa bumi yang melanda Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara dengan kekuatan 5,6 skala richter diperkirakan baru merupakan awal dari gempa besar berikutnya. Gempa di Mandailing Natal merupakan rangkaian gempa awal di jalur patahan Sumatera yang berada di Sumatera Utara. Gempa besar yang diperkirakan terjadi merupakan siklus gempa 50 – 100 tahunan.

Wilayah Sumatera Utara memiliki tiga segmen patahan, yakni Renun, Toru dan Angkola. Sejak bulan Desember 2005 sampai Desember 2006 di Sumut tercatat empat kali gempa. Gempa pertama terjadi bulan Desember 2005 di Kabupaten Karo yang berada di jalur segmen patahan Renun dengan kekuatan 4,5 skala richter.

Berikutnya gempa terjadi di bulan Oktober 2006 di Padangsidimpuan yang berada di segmen patahan Angkola dengan kekuatan 5,2 skala richter. Gempa ketiga terjadi di Tebing Tinggi dengan kekuatan 6,2 skala richter pada tanggal 1 Desember 2006. Gempa di Mandailing Natal yang berada di jalur segmen patahan Angkola merupakan gempa keempat.

Menurut Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut, Jonathan Tarigan, tiga segmen patahan yang ada di Sumut pernah terjadi gempa besar pada masa lalu. Tahun 1873 dan 1892 di segmen patahan Angkola pernah terjadi gempa dengan kekuatan 7,7 skala richter, sementara di segmen patahan Renun gempa besar terjadi tahun 1921 dengan kekuatan 6,8 skala richter dan tahun 1936 dengan kekuatan 7,2 skala richter.

Berbeda dengan segmen patahan Angkola dan Renun, gempa besar di segmen patahan Toru terjadi tahun 1863 dan siklus pengulangan 50-100 tahunannya terjadi saat gempa melanda Tapanuli Utara tahun 1984 dengan kekuatan 6,5 skala richter dan tahun 1987 dengan kekuatan 6,8 skala richter.

Segmen patahan Angkola dan Renun saat ini sudah masuk dalam periode siklus 50-100 tahunan. Saya
memperkirakan empat gempa yang terjadi dari bulan Desember 2005 sampai Desember 2006 ini hanya gempa pendahuluan bagi gempa yang lebih besar lagi. Gempa di Mandailing Natal ini hanya semacam foreshock atau pendahuluan. Gempa besarnya bisa terjadi dalam rentang waktu setelah foreshock sampai 10 tahun ke depan” ujar Jonathan di Medan, Selasa (19/12).

*Sumber: Kompas, 19 Desember 2006.

Facebook Comments