E.Halawa*

Dalam Li Niha berbagai jenis kata yang muncul dalam kalimat pada umumnya mengalami perubahan pada huruf awalnya, yang dalam ilmu bahasa disebut muatsi awal (initial mutation, lih. wawancara dengan Dr. Lea Brown). Misalnya saja dalam kata “Hadia duria ?” (Apa kabar?), kata “duria” telah mengalami perubahan huruf awalnya; kata “duria” di sini berasal dari kata dasar “turia” yang berarti berita atau kabar. Contoh-contoh lain adalah: ama (ayah) -> nama; ina (ibu) -> nina; balugu (pengetua adat) -> mbalugu; tuhe -> duhe; sato (publik, orang banyak) -> zato; So’aya (Tuhan) -> Zo’aya.

Perubahan huruf awal ini misalnya banyak dijumpai dalam penyebutan nama seseorang, misalnya: Sökhi’ato menjadi Zökhi’ato dalam panggilan Ama atau Ina Zökhi’ato.

Untuk menjelaskan betapa pentingnya makna perubahan ini, berikut diberikan dua contoh kalimat:
Isuno Zo’aya tödögu – Tuhan dipuji oleh hatiku  Hatiku memuji Tuhan

Akan tetapi penghilanagn mutasi awal “So’aya” dan mutasi awal yang tidak tepat pada kata- “tödögu” akan menghasilkan makna lain yang terbalik, yang tentu saja kacau:
Isuno So’aya dödögu – Hatiku dipuji (oleh) Tuhan -> Tuhan memuji hatiku.

Contoh berikut juga menunjukkan ada tidaknya mutasi awal sebuah kata dapat mengubah makna kalimat:

Ono zangila huku ia
Dia anak dari orang yang beradat (tahu dan menjunjung tinggi adat)

Ono sangila huku ia
Dia anak beradat, anak yang tahu tahu tata krama adat

Dalam kalimat pertama, zangila merujuk kepada orang tua dari anak tersebut, sedangkan pada kalimat kedua, sangila merujuk langsung pada sifat anak yang bersangkutan.

Mutasi Awal Kata Benda
Kata benda adalah salah satu jenis kata yang sering mengalami mutasi awal dan karenanya sering menimbulkan kesulitan dalam pemakaiannya. Ada sejumlah kata benda yang mengalami (memerlukan) mutasi awal dalam suatu kalimat, dan ada pula yang sama sekali tidak memerlukannya.

Kata-kata tanpa mutasi awal
Kata – kata yang tidak memerlukan dan tidak pernah mengalami mutasi awal adalah kata-kata yang diawali dengan huruf: g, h, l, m, n, r, ng, ndr dan kata yang dimulai dengan mb.

Berikut diberikan contoh kata-kata yang diawali dengan huruf / diftong g, h, l, m, n, p, r, ng, ndr, dan mb:
g: geto, gulo, gule, gödo
h: hogu, högö, hagi, hugehuge
l: lala, lulu, lali, lula, laula
m: manu, moyo
n: nambi, nukha, niro
r: riwiriwi, raewe
ng: ngamohi, ngafu, ngaroro
mb: mbombo (sungai kecil), mbumbu (bubungan rumah), mbambatö (besan), mberemberenö (bibir mata bengkak-bengkak karena suatu penyakit mata).
ndr: ndrurunduru (sejenis tumbuhan lair)

Kata-kata benda dengan mutasi awal
Kata-kata lain yang tidak dimulai dengan huruf-huruf di atas, kadang-kadang mengalami mutasi awal dalam sebuah kalimat. Berikut ini diberikan daftar perubahan huruf awal dari kata-kata benda.

a -> ga: azuni -> gazuni, alitö -> galitö, araro -> gararo
a -> na: afo -> nafo, asu -> nasu, asio -> nasio
b -> mb: balö -> mbalö, bulu -> mbulu, bila -> mbila
d -> ndr: dao -> ndrao, duru -> ndruru, dara -> ndrara, duria -> nduria

Penulis mencatat pengecualian pada kata dadaoma (tempat duduk, posisi) yang tidak pernah mengalami mutasi awal. Demikian juga, kata akhi mempunyai dua bentuk mutasi awal: nakhi dan gakhi.

e -> ge: etuna -> getuna, ewaö -> gewaö, elewazi -> gelewazi
e -> ne: ene -> nene, ewali -> newali, emali -> nemali
f -> w : farökha -> warökha, fösi -> wösi, fötö -> wötö, (foto), (faza), (fasa)
i -> gi: ililö -> gililö, iö -> giö, i’o -> gi’o
k -> g: kambölö -> gambölö, katawaena -> gatawaena, kazuzu -> gazuzu, (kade), (kota), (kuali), (kudo), (gandra, kandra)
o -> go: ondröita -> gondröita, ogauta -> gogauta, orö -> gorö, oholu -> goholu
o -> no: ono -> nono, oho -> noho, owo -> nowo
ö -> gö: öba -> göba, öröbao -> göröbao, ö’ö -> gö’ö
ö -> nö: ösi -> nösi
s -> z: sigu -> zigu, sagö -> zagö, susu -> zusu, saku -> zaku
t -> d: tandru -> dandru, tundro -> dundro, tödö -> dödö, tondrö -> dondrö
u -> g: uto -> guto, ulö -> gulö, undre -> gundre

Catatan: ugu’ugu tidak mengalami mutasi awal !

Aturan pemakaian mutasi awal pada kata benda
Penulis mengamati bahwa mutasi awal kata benda terjadi pada kasus-kasus berikut:

  1. Sesudah kata depan ba (di):
    Möido ba Duhendraowi ma’ökhö – Saya pergi ke Tuhendraowi hari ini.
    Falukha ndra’aga ba zoroso Zi’e – Kami bertemu di jembatan Si’e.
    Iza ia ba gotalua niha sato – Itu dia di tengah-tengah orang banyak
    Dalam contoh ini, kata dasar Tuhendraowi, soroso, dan otalua berada di depana kata depan ba (di) sehingga menjadi: Duhendraowi, zoroso, dan gotalua.
  2. Pada objek kata kerja transitif (kata kerja yang memiliki objek) apabila objek muncul sesudah kata kerja transitif itu.
    Ibözi khönia nasu – Dia memukul anjingnya
    Itafari nakhinia – Dia menampar adiknya
    Iduhö galu – Ia menutup pintu
    Dalam contoh ini, bözi (pukul) merupakan kkt dengan objek asu ( nasu, anjing), tafari (tampar) merupakan kkt dengan objek akhi ( nakhi, adik), dan duhö (tutup) merupakan kkt dengan objek kalu ( galu, pintu).
  3. Pada kata sesudah kata khö (kepada) yang dirujuk oleh kata khö itu
    Contoh:
    I’ombakha’ö khö namania – Dia memberitahukan kepada ayahnya
    No itunö khö nakhida – Dia sudah menceriterakan pada saya
  4. Sesudah kata so (ada)
    So mbago, so mbetua, so dawuo, so ndruria (durian ada), so duria (ada kabar)

Mutasi awal kata benda tidak muncul dalam kasus-kasus berikut:

  1. Apabila kata benda itu mengawali suatu kalimat.
    Amania zangombakha khögu – Bapaknya yang meberitahukan kepadaku
    Inania zowöli badagahenia –
    Sibayania zamasao yaia – Pamannya yang mengantarnya
    Dalam contoh ini, ama, ina dan sibaya muncul di awal kalimat, sehingga tidak mengalami perubahan.
  2. Apabila kata benda itu muncul sesudah kata ba sebagai kata penghubung (= dan) dalam suatu kalimat:
    Manu ba bawi gurifönia iada’a – Ayam dan bawi binatang ternaknya sekarang
    Ha lada ba asio nawö göda fakhe – Hanya cabe dan garam kawan nasi kita
  3. Apabila kata benda itu menunjukkan / menekankan sifat tertentu.
    Niha safusi uli – orang berkulit putih (orang Barat: Eropah, Amerika, Autralia)
    Niha saitö uli – orang berkulit hitam (orang Afrika)
    Sanau ikhu, sebua faya (pembohong besar), soyo bu, sanau tömba, sebua uto, dsb.
  4. Apabila kata benda itu berada di belakang kata lö / lö’ö dan menjadi objeknya:
    Lö hadöi khöma adulo. (Kami tidak punya telor)
    Lö khöma fakhe, lö asio, ba lö idanö. (Kami tidak punya beras, garam dan air)
    Lö salawa, lö balugu, lö tuhenöri, oi fagölögölö manö. (Tidak ada salawa, balugu, tuhenöri, semuanya sama saja.
  5. Akan tetapi mutasi awal diperlukan pada kalimat yang mengandung kata lö/lö’ö yang berkonotasi masih ada, masih berlangsung:
    Lö sahori gönia fakhe. (Nasinya belum habis)
    Lö salö wönunia. (Amarahnya belum reda)
    Lö sawai mbönökhada. (Pekerjaannya belum selesai)
  6. Apabila kata benda itu berada di belakang kata tenga dan menjadi objeknya:
    Tenga sumange nitötönama, tenga göi ö. (Bukan penghormatan yang kami harapkan, bukan juga makanan)
  7. Kata benda yang telah didahului oleh (di belakang) kata benda yang telah mengatasai mutasi awal tidak lagi mengalami mutasi awal.
    Lö sahori gönia fakhe. – fakhe tidak mengalami mutasi awal karena gönia telah mengalami mutasi.

Inkonsistensi
Penulis menemukan beberapa inkonsistensi pemunculan/pengabaian mutasi awal. Beberapa di antaranya diberikan berikut ini.

  1. Dalam menyebut ukuran: “tumba”(ukuran volume beras), masyarakat di daerah tertentu menggunakan mutasi awal (sa dumba, dua dumba, tölu dumba, dst) sementara di beberapa daerah tidak (sa tumba, dua tumba, tölu tumba, dst.)
  2. Hal yang sama terjadi pada kata-kata serapan dari lari luar ke dalam Li Niha seperti: kandra (kandang), kudo (kuda), kade (kedai).

Menurut penulis, inkonsistensi ini timbul akibat tak pernah adanya tata bahasa baku Li Niha, sehingga timbul berbagai interpretasi.

Penutup
Tulisan ini coba memancing peminat masalah-masalah Li Niha untuk memberikan perhatian khsus terhadap salah satu ciri khas L Niha (lihat artkel wawancara Nias Portal dengan Dr. Lea Brown), yang menurut penulis salah satu aspek tersulit Li Niha, dan sekali gus yang paling rentan terhadap proses “kepunahan”.

Kembali ke judul artikel ini, Turia si tobali duria, silahkan pembaca memperhatikan kalimat tersebut dengan baik, dan coba mengartikannya. Bagaimana pula dengan kalimat: Duria si tobali turia ?

Note: Tulisan ini pernah dimuat di situs Nias Portal, 11 Maret 2004

Facebook Comments