BRR Nias : Strategi Pembangunan yang berkesinambungan

Wednesday, December 13, 2006
By nias

Agus Paterson Sarumaha

Sebagai mandat dalam rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana tsunami dan gempa bumi tentunya kita tidak bisa pungkiri bahwa BRR sudah banyak melaksanakan pembangunan mulai dari proyek perumahan dan infrastruktur khususnya di Nias. Terlepas dari masih banyaknya kekurangan terutama dalam pelaksanaan di lapangan, yang perlu diperbaiki oleh BRR adalah tindak lanjut pemecahan masalah yang terdapat di lapangan, kemudian mempublikasikan solusinya pada masyarakat agar penilaian masyarakat tidak terkesan apriori bahkan resisten terhadap kinerja BRR.

BRR perlu membuat suatu langkah-langkah strategi pembangunan yang berkesinambungan tentunya dalam kerangka 4 skala perioritas dilihat dari tingkat urgensinya yang meliputi:

  1. Urgent and Important
  2. Urgent but Not Important
  3. Not Urgent but Important
  4. Not Urgent and Not Important

Seiring dengan masih sedang berlangsungnya program recovery nias, saat ini pemberdayaan ekonomi UMKM menempati prioritas I dalam skala prioritas di atas.

Kita telah melalui beberapa tahap dalam recovery nias antara lain:
– Tahap I: Fondasional / Rekonsiliasi
– Tahap II: Pemenuhan Basic Human Needs
– Tahap III: Rekonstruksi dan Rehabilitasi
– Tahap IV: Pemulihan Sosial Ekonomi (Economic Recovery)

Melalui forum diskusi online ini saya ingin menggagas suatu konsep economic recovery melalui microfinance approach. Bentuk Lembaga Keuangan Mikro yang sudah kita kenal saat ini di Nias adalah Koperasi, namun, dampak sosial (social impact) dan outreach (jangkauan) dari Koperasi tersebut belum sepenuhnya dapat menjangkau lapisan masyarakat grass-root di Nias. Social impact dari Koperasi merupakan suatu pencapaian di mana melalui Koperasi masyarakat dapat memberdayakan dirinya secara ekonomi dan meningkatkan pendapatan serta taraf hidupnya. Outreach dari Koperasi adalah daya jangkauan layanan Koperasi terhadap masyarakat.

Untuk dapat menjadi suatu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang sustain serta memiliki outreach yang luas dan dapat memberikan social impact pada masyarakat, Koperasi harus memiliki suatu system pemantauan (monitoring) yang handal dan terpercaya. System monitoring yang kuat dapat diperoleh dengan membangun kapasitas (capacity building) melalui 5 pilar:

  1. Business Development (Pengembangan Bisnis)
  2. Technical Assistance (Training Development, IT, Audit dan Supervision
  3. Financial Indicator (Indikasi Keuangan)
  4. Social Impact Indicator
  5. Outreach Indicator

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031