Mengangkat Pintu Gerbang

Saturday, December 9, 2006
By nias

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! “Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!” (Mazmur 24 : 9, 10)

GAPURA atau pintu gerbang kota pada zaman dahulu dibuat anggun dan agung, lebar dan tinggi, untuk memberi kesan megah. Pada umumnya dibuat dari besi atau kayu bermutu tinggi dengan bobot yang berat, dan biasa digunakan orang sebagai jembatan gantung yang dikerek saat membuka atau menutupnya. Selanjutnya, kota yang bertembok kokoh itu dikelilingi parit yang dalam. Dengan cara demikian, kota pada zaman dahulu aman dari serangan musuh. Namun ketika pembesar negeri hendak keluar atau masuk kota, pintu gerbang yang juga berfungsi sebagai jembatan gantung itu dibuka dengan cara mengereknya. Lalu pembesar negeri itu dipersilakan melintasi pintu gerbang itu.

Kedua ayat di atas berkisah tentang gapura atau pintu gerbang Kota Yerusalem yang berusia berabad-abad lamanya. Kota itu sedang mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan seorang raja. Penulis Mazmur pasal 24 ini menganggap gapura Kota Yerusalem itu terlalu rendah dan sempit, sehingga perlu diangkat dan dibongkar. Padahal dalam orang-orang lain, gapura itu begitu anggun dan agung, megah dan mulia.

Mengapa demikian? Karena yang akan memasuki kota itu adalah Raja Kemuliaan, Raja yang amat mulia. Siapakah Dia, Raja Kemuliaan itu? Ternyata Dia bukan raja biasa, bukan raja dari kalangan manusia pada umumnya. Raja-raja dari kalangan manusia mengenakan atribut kemuliaan berupa mahkota bertatahkan emas, bintang-bintang tanda kepangkatan, selempang kebesaran, dan tongkat komando. Juga dilengkapi dengan para pengawal pribadi dan aturan-aturan protokoler yang membuat dirinya justru berada jauh dari rakyatnya.

Raja dari kalangan manusia biasa ini sewaktu-waktu dapat lengser atau dilengserkan, perlaya atau anumerta, karena masa hidupnya begitu terbatas. Jauh berbeda dengan Raja Kemuliaan yang dimaksudkan, karena Dia adalah Tuhan semesta alam! Kekuasaan-Nya tak terbatas, kebesaran-Nya tak tertandingi, kemuliaan-Nya menjangkau langit. Pantaslah, gapura Kota Yerusalem itu tak kuasa menampung keagungan-Nya, sehingga harus diangkat dan dibongkar, supaya Raja Kemuliaan itu dapat masuk ke dalamnya.

Seruan untuk mengangkat gapura ini, sebenarnya berkaitan langsung dengan peristiwa kembalinya peti perjanjian Tuhan kepada umat-Nya dari tangan bangsa Filistin yang `menawannya’ (II Samuel 6). Peti perjanjian itu berisi segenggam roti dari surga yang biasa disebut `manna’, yang membuktikan pemeliharaan Tuhan selama 40 tahun perjalanan umat Tuhan dari Mesir menuju ke tanah Kanaan; sebatang tongkat Imam Besar Harun yang berbunga, sebagai pengungkapan keadilan-Nya; dan dua buah loh batu yang berisi sepuluh hukum Tuhan sebagai pernyataan kehendak-Nya.

Ternyata peti perjanjian itu merupakan lambang kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya. Karenanya, umat Tuhan harus melakukan suatu tindakan untuk menyambut dengan penuh suka cita kehadiran kembali peti perjanjian itu. Dengan demikian Tuhan berkenan hadir kembali di tengah umat-Nya, sehingga membawa suasana tenteram dan damai sepanjang hidup mereka hingga anak dan cucu.

Pada hari-hari ini, kita telah memasuki Minggu-Minggu Adven, yakni masa penantian menjelang hari Natal, hari kelahiran Tuhan Yesus. Dalam iman dan kehidupan spiritual kita merasakan, bahwa peristiwa Natal pada dasarnya adalah peristiwa kehadiran Tuhan di tengah kehidupan kita. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Injil Yohanes 1 : 14 A, bahwa Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya. Karena itu tepat jika dikatakan oleh pemazmur, bahwa Sang Raja Kemuliaan itu akan memasuki Kota Yerusalem melalui gapura kota itu.

Minggu-Minggu Adven juga merupakan Minggu-Minggu persiapan, agar hari Natal dapat kita rayakan secara benar. Tak hanya persiapan lahiriah, — meskipun hal itu penting–, namun jauh lebih penting jika kita mempersiapkan batin dan hati kita masing-masing. Natal merupakan tindakan sepihak dan prakarsa Tuhan untuk membereskan masalah dosa dengan cara menghadirkan Tuhan Yesus selaku Juruselamat umat manusia. Betapa tidak, Ia yang adalah Tuhan semesta alam, berkenan mengurus keperluan kita yang paling hakiki yakni keselamatan pribadi kita masing-masing sejak sekarang hingga masa yang kekal.

Tindakan Tuhan yang sepihak itu ditawarkan-Nya kepada kita, seolah-olah Ia berkata, “Maukah engkau menerima Dia, yang lahir pada hari Natal di Kota Betlehem selaku Juruselamatmu?”. Jika kita balik bertanya, “Bagaimana caranya?”, kita pun dapat mengutip kedua ayat di atas dengan mengangkat dan membongkar keanggunan, keagungan, dan keangkuhan kita, lalu menggantikannya dengan sikap rendah hati untuk menerima tawaran Tuhan itu seraya berkata, “Ya, Tuhan, aku menerima tawaran-Mu bagiku. Langkah-Mu begitu baik untuk membebaskanku dari dosa-dosaku”.

Nyata bagi kita, bahwa perayaan Natal pada dasarnya bukan alasan untuk berpesta pora, melainkan untuk bersikap prihatin terhadap sesama manusia, sama seperti sikap-Nya yang berbelas kasihan kepada umat manusia yang menderita. Dia yang kelahiran-Nya kita rayakan, ternyata Dia sendiri dilahirkan di sebuah kandang hewan, dibungkus dengan lampin dan dibaringkannya di palungan. Jelas peristiwa itu tak sesuai sebagai tempat kelahiran-Nya, terlebih Ia adalah Tuhan semesta alam, Raja Kemuliaan itu.

Itulah misi-Nya bagi umat manusia dan kita tak boleh menyelewengkannya untuk maksud-maksud yang lain. Karenanya, pada masa raya Adven ini hendaknya kita merenungkan kembali maksud kelahiran Tuhan Yesus yang sebenarnya. Bersikaplah rendah hati untuk menyambut peristiwa Natal sesuai dengan maksud kelahiran-Nya. Lantas kita pun dapat menikmati makna sebenarnya dari Natal ini. Amin.***

Pdt. Em. BUDHIADI HENOCH
Pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 9 Desember 2006

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031