*Dari Liputan Lebaran Nias 2006 (5)

Ilham Mendröfa

Sejak kecil penulis bertanya-tanya mengapa pendopo bupati Nias dibuat terbuka? Benarkah asumsi guru sejarah SMP penulis bahwa masyarakat Nias berfikiran terbuka, sangat ramah dengan tamu, dan terbuka dengan perubahan-perubahan ? Tentu saja perubahan yang dimaksud adalah perubahn positif, perubahan yang berakhlak dan mensejahterakan.

Orang berandai-andai, kalau saja gempa tidak terjadi di Nias, tidak ada bantuan dan sorotan internasional atas realitas kehidupan masyarakat Nias; apakah masyarakat Muzöi-Lahewa bisa menyaksikan kendaraan Humvee, bisa memiliki rumah dengan konstruksi atap baja ringan, anak sekolah bisa mendapat tas seragam berwarna biru bermerek UNICEF, dan seterusnya.

Jawabannya, pasti TIDAK. Ratusan korban nyawa saat gempa telah menjadi “tumbal” bagi perbaikan, percepatan dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat Nias.Penulis mungkin melakukan kesalahan dalam menarik kesimpulan, tetapi sebagian besar masyarakat yang penulis wawancarai secara informal, mensyukuri kejadian gempa Maret 2005 tersebut.

Kini ujian Tuhan bernama gempa itu disyukuri sebagai bagian dari karunia.

Pertanyaan berikutnya adalah: ketika bantuan dan sentuhan internasional menyentuh Nias untuk melakukan percepatan perbaikan ekonomi, sosial dan pendidikan, apakah masyarakat Nias dengan seluruh aset budaya keterbukaannya itu bisa bersinergi dan melaju cepat memperbaiki taraf hidup masyarakatnya?

Perubahan itu telah ada dan banyak terjadi di seluruh segmen kehidupan masyarakat Nias. Tentu saja kita menginginkan perubahan terjadi secara konstruktif, gradual dan berkelanjutan. Pemerintah pusat membentuk BRR NAD-Nias tentunya didasarkan atas keinginan perbaikan kehidupan masyarakat Nias yang terjadi pasca gempa terkelola dengan baik.

Kata kuncinya adalah, bantuan yang begitu besar itu mendapat sentuhan manajemen: terencana, terorganisasi, terlaksana secara transparan, akuntabel dan dievaluasi secara baik.

BRR adalah lembaga yang memikul amanah besar untuk melakukan pengelolaan dana bantuan menjadi perubahan yang terarah dan nyata.

Kepuasan masyarakat akan proyek BRR ini sangat beragam. Kelompok pengusaha dan kontraktor lokal banyak bersyukur dengan kehadiran BRR, karena mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.

Akan tetapi masyarakat penerima bantuan banyak yang kecewa, karena BRR dinilai sangat lamban dalam merealisasi perbaikan rumah bantuan.

Sebut saja ibu Wati Mendröfa, warga Kampung Baru dekat Nou yang mengeluhkan kinerja BRR yang lamban.

Mereka harus “menikmati” lebaran dalam tenda karena rumah yang dijanjikan sudah akan selesai sebelum puasa Ramadhan, ternyata belum selesai juga. Dan mereka tidak punya akses untuk komplain. Warga masyarakat hanya bisa bersabar menunggu tindak lanjut Satker Perumahan BRR.

Menariknya, dari sekian banyak sample masyarakat yang penulis wawanacarai, mereka mengenal BRR sebagai lembaga pemerintah yang tugasnya bangun rumah saja. Tentunya ini mengejutkan penulis, karena fokus rekonstruksi ini semestinya tidak hanya sebatas perbaikan rumah, bangunan dan jalan.

BRR mestinya memikirkan perbaikan kehidupan masyarakat Nias yang menyentuh perbaikan taraf hidup, seperti pendidikan, lapangan kerja dan kesehatan.

Yang terlihat banyak mengurus dan mengelola segmen penting ini adalah NGO. Penulis sendiri kaget dengan banyaknya NGO yang hadir di Nias. Mobil double-cabin dengan fasilitas telepon satelit hilir mudik begitu banyaknya.

Teman-teman yang bekerja di NGO AMDA (Asosiation of Medical Doctor of Asia) yang bergandengan dengan UNHCR merekonstruksi ulang rumah warga Buzihöna – Idanö Gawo mengungkapkan bahwa pendekatan NGO untuk membangun rumah warga dan fasilitas publik lannya didasarkan kepada potensi sumber daya lokal.

Pilihan pendekatan yang berdasar budaya lokal ini sangat penting untuk memastikan bahwa bantuan yang dilakukan NGO ini memiliki nilai keberlanjutan.

Tentunya perbaikan yang terjadi tidak semua positif. Dari bisik-bisik masyarakat kota Gunungsitoli, penulis juga mendengar bahwa di Gunungsitoli sekarang tersedia perempuan panggilan.

Dan Desember 2006 mendatang direncanakan akan dibuka fasilitas karaoke dan pub untuk kebutuhan rekreasi masyarakat pendatang.

Ini memang hukum alam, semakin tumbuh populasi masyarakat maka semakin kompleks penyakit sosial masyarakat itu pula. (bersambung)

Facebook Comments