GUNUNG SITOLI YANG KEMBALI MENGGELIAT (1)
Oleh: Ilham Mendröfa

Penulis sempat berkeliling pasar, mulai dari pasar Beringin, pasar Nou, pasar Gomo, terminal dan jejeran toko di Jl. Sirao – Jl. Diponegoro. Penulis memang tidak melakukan survei mendalam tentang berapa nilai transaksi dari setiap pasar atau pusat perbelanjaan tersebut. Akan tetapi padatnya pengunjung beberapa pasar tersebut bisa memberikan gambaran sekilas kepada penulis, bahwa populasi masyarakat yang bisa mengkses pasar semakin tumbuh.

Pasar Beringin

Penulis sempat mewawancarai pedagang sayur yang mangkal di pasar Beringin, yaitu ibu Yati Harefa. Dia menyebutkan bahwa sumber bahan baku sayur-mayur yang dijual di pasar Nou-Beringin sekarang ini banyak didatangkan dari Sibolga. Ada juga yang bersumber dari beberapa tempat pertanian di Nias seperti kecamatan Gidö dan Idanö Gawo. Akan tetapi hampir bisa dipastikan bahwa ketersediaan sayur-mayur dan buah ini sangat bergantung dari sumber utama: Tanah Toba dan Tanah Karo.

Tidak hanya sayur mayur dan buah, beras, ikan teri/ikan asin, telur dan daging ayam juga didatangkan dari Sibolga. Penulis tidak sempat mensurvei seluruh pedagang yang ada di pasar Beringin-Nou, tetapi gambaran ini menunjukkan bahwa potensi lahan tidur yang ada di Nias belum dimanfaatkan secara maksimal.

Pasar Gomo

Penulis meyakini bahwa pasar adalah miniatur dari sebuah masyarakat. Maka penelusuran penulis tentang pasar semakin penulis pertajam dengan mendekatkan diri di pelataran pasar Gomo.

Pasar Gomo dan terusan jalan Gomo ini adalah toko-toko yang menyediakan produk seperti fashion, perhiasan, makanan ringan, dan produk-produk sekunder lainnya. Asumsinya, jika nilai dan kepadatan masyarakat Nias yang ada sekitaran pasaran Gomo banyak, maka bisa menjadi indikator pertumbuhan pendapatan perkapita masyarakat. Simak saja pengakuan saudara Iyan yang bekerja di toko mas depan pasar Gomo. Menurut pengakuan Iyan, dua bulan sebelum lebaran ini jumlah konsumen emas naik sampai 100%. Ketika Penulis tanyakan jenis mas yang dibeli, rata-rata pembeli mas di toko mas Iyan adalah mas 24 karat berbentuk logam yang baik untuk menjadi perhiasan dan barang simpanan.

Tentu saja apa yang terjadi dipasar Gunungsitoli tidak menjadi ukuran yang valid untuk mengukur kesejahtaraan masyarakat Nias secara keseluruhan. Akan tetapi perilaku konsumen di pasar Gunungsitoli yang lebih konsumtif menunjukkan ada geliat pertumbuhan ekonomi, walaupun – apabila kita teropong lebih lanjut – persentase populasi masyarakat yang ekonominya tumbuh ini masih rendah.

Pasar Gunungsitoli yang ramai dan padat sekarang ini juga dimungkinkan karena beberapa akses jalan besar menuju Lahewa dan Teluk Dalam sudah sangat baik, sehingga akses masyarakat daerah untuk berbelanja langsung ke Gunung sitoli terbuka lebar.

Pendangkalan dan Perbaikan Sungai Nou

Perbaikan dan pertumbuhan kota Gunungsitoli tidak saja menyangkut pasar dan aktifitas ekonominya.

Penulis sempat memotret perbaikan sungai Nou. Kalau penulis tidak salah, Nou adalah tempat pelelangan ikan yang besar di Nias.

Pendangkalan yang terjadi dan fisik tempat pelelangn ikan tersebut menggambarkan betapa pemerintahan kota Gunungsitoli tidak punya sensitifitas tentang aktifitas perekonomian masyarakat sekitar bantaran sungai.

Menurut pengakuan Bapak Ama Gamawa Zega, seorang pedagang ikan, Nou telah beberapa kali banjir karena pendangkalan akibat sampah dan abrasi.

Kompleks Lagundi yang tinggal kenangan …

Buat masyarat Nias yang sempat menikmati kenangan menonton di bioskop Lagundi memang patut bersedih. Kompleks pertokoan Lagundi telah rata dengan tanah dan direncanakan dibangun menjadi pusat perbelanjaan terpadu. Tapi penulis tidak tahu apakah akan dibangun lagi bioskop di sana. Walalupun bioskop Lagundi di awal tahun 2000-an tidak terurus karena masyarakat telah bisa mengakses tv satelit/parabola, tetapi kompleks lagundi (bioskop dan bilyar) menjadi alternatif hiburan remaja yang tumbuh tahun 1990-an. Kini Lagundi itu jadi kenangan … (bersambung)

Facebook Comments