GEMA TAKBIR IDUL FITRI DI NIAS
Oleh: Ilham Mendröfa

Di Nias, seperti halnya di derah lain Indonesia, juga ada perbedaan jatuh tanggal Idul Fitrinya. Tetapi perbedaan itu mampu dimaknai sebagai rahmat sehingga tidak ada hal yang merusak tatanan dan nilai-nilai suci Lebaran di Nias tahun ini.

Penulis justru merasakan perayaan Lebaran tahun ini dimaknai dengan rasa syukur dengan penuh kekhidmatan.

Dalam topik khutbah Idul Fitri, penulis merasakan rasa syukur tersebut. Beberapa pernyataan tentang perubahan dan percepatan pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat Nias mengemuka. Hal itu tentu saja sangat disyukuri.

Akan tetapi harus diakui, beberapa keluarga masih tingggal di tenda-tenda pengungsian, karena alasan teknis: rekonstruksi rumah yang belum jadi oleh Satker Perumahan BRR Nias.

Namun nuansa kebahagiaan dan silaturrahmi Idul Fitri sangat kental sehingga beban derita bisa berkurang sejenak di hari yang fitri tersebut.

Penulis sempat berkeliling di sore hari di kota Gunugsitoli. Di Mesjid Ilir, mesjid terbesar yang masih tersisa di Gunungsitoli, penulis melihat aktifitas ibadah dan silaturrahmi yang luar biasa.

Mesjid Ilir adalah mesjid yang dibangun pada awal tahun 70-an oleh komunitas muslim Kampung Baru-Mudik.

Menurut informasi Nazir dan tokoh masyarakat Kampung Baru, mesjid ini telah mengalami beberapa kali pemugaran.

Sama halnya dengan mesjid Ilir, mesjid-mesjid besar di sekitar Gunungsitoli seperti mesjid Raya dan mesjid Saombö juga terlihat ramai. Mesjid Raya terlihat masih dalam proses pembangunan ulang; mesjid Saombö juga terlihat demikian.

Yang agak menonjol di Saombö adalah terlihatnya spanduk ucapan selamat Idul Fitri terpasang memanjang sampai 100 meter.

Spanduk dan umbul-umbul yang terpasang di mesjid Saombö ini melukiskan kegembiraan masyarakat Sambo dan sekitar dalam merayakan lebaran idul fitri 1427H tahun ini. (bersambung)

Facebook Comments