* Sebuah Tanggapan dan Usul

Oleh: Fidelis Harefa

Melalui forum diskusi di situs Yaahowu ini, saya mencoba mengungkapkan pendapat saya berhubungan dengan tema diskusi kali ini. Saya mengutip tulisan bapak M.J. Daeli sebagai acuan utama saya dalam berkomentar.

…Melalui diskusi Topik ini, Panitia menempuh salah satu cara kepedulian terhadap penderitaan para korban Tsunami dan gempa di Nias. Dengan “kepedulian cemas” seperti itulah, Panitia berusaha mengingatkan semua pihak akan pelaksanaan misi kemanusiaan BRR di Nias. Tentu karena keterbatasan langkah, laksana “hati gatal tetapi tidak bisa digarut”, Panitia mengajak: “Untuk membayangkan bertambahnya penderitaan korban bencana alam di Nias apabila cara kerja BRR tetap seperti selama ini”.

Saya meninggalkan pulau Nias kurang lebih 7 tahun yang lalu sejak saya menyelesaikan studi di SMK Swasta BNKP Gunungsitoli 1998. Selama saya tinggal bersama orang tua saya di Nias, krisisnya kepedulian terhadap kaum sederhana di daerah kita sudah hadir berlarut-larut pula.

Selama kurang lebih 7 tahun meninggalkan Nias, hati dan pikiran saya selalu terarah ke Nias karena di situ orang tua dan sanak saudara saya masih hidup. Hal itulah yang membuat saya selalu mencari waktu untuk berlibur sesering mungkin selama 7 tahun ini.

Tahun 2005, saya berlibur ke Nias, melihat orang tua sesudah gempa. Tinggal di sana selama satu bulan. “MEMBAYANGKAN….” Yah, saya membayangkan bahwa orang-orang yang kena “MUSIBAH” (dalam hal ini hampir semua penduduk Nias) akan mendapat bantuan kemanusiaan seperti di Aceh. Juga akan berdatangan para relawan yang membantu seperti yang pernah saya ikuti ke Melaboh, Aceh.”

“Membayangkan…” kata dan tindakan yang dapat diucapkan dan dilakukan. Tahun 2006, persisnya bulan Agustus yang lalu, saya berlibur lagi ke Nias. Dari Palangka Raya, saya membayangkan bahwa bantuan yang sudah direalisasikan selama satu tahun Pasca Gempa sudah merata dirasakan oleh seluruh penduduk Nias.

Alangkah sedih dan terkejutnya saya melihat kenyataan. Rupanya, ketidakpedulian kepada kaum sederhana yang terjadi sebelum tahun 1998 terjadi lagi sekarang, bahkan semakin parah.

Memahami tujuan Panitia seperti itu, saya memasuki diskusi ini. Menghimbau kepada Saudara-saudara yang memiliki informasi (akurat) mengenai kerja BRR di Nias agar menyebarkan informasi itu seluas-luasnya. Diharapkan dengan cara itu, keserakahan dan kerakusan oknum-oknum tertentu dalam BRR dapat dikurangi dan mereka mampu merasakan seandainya bencana itu menimpa diri dan keluarga mereka.

Saya berpikir keras bagaimana cara mengangkat masalah korupsi terhadap dana yang dikelola oleh BRR. Saya dengar dengan telinga sendiri, saya lihat siasat yang dibuat oleh para oknum yang menamakan dirinya “Hamba BRR” setiap kali mereka menjelaskan dengan sejelas-sejelas kepada masyarakat di desa-desa tentang dana itu. Masyarakat menjawab: “Saohagôlô ama! Madôna-dôna ena’ô tola ofeta khôma ba wa’alio”.

Tapi “Hamba BRR mengatakan: “Supaya cepat realisasinya, bayar uang muka Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah). “Koq bantuan dibeli?” Koq bantuan kemanusiaan menjadi barang dagangan?” Pertanyaan itu muncul terus dalam pikiran saya. Karena selama libur Agustus yang lalu saya diganggu terus oleh pikiran mencari solusi dari masalah itu, saya mencoba mencari informasi dari Kepala Desa saya yang dalam hal ini “Hamba BRR” di tingkat pemerintahan Desa, katanya. Beliau mengatakan: “Dalam proses kerja BRR, sudah ada bagian-bagian yang tugas dan fungsinya jelas. Ada yang “meneliti dan memantau keadaan ekonomi masyarakat, ada yang menyalurkan bantuan, ada pengawas dan ada pelapor ke Pimpinan BRR”. Masuk akal juga.

Tapi, koq keserakahan dan kerakusan oknum-oknum tertentu dalam BRR tidak dapat dikurangi sampai sekarang hingga kini kita berdiskusi tentang mereka ini?

Bagi manusia yang berhati nurani baik, sumbangan para donatur dari dalam dan luar negeri kepada para korban menyadarkan kita akan kebenaran bahwa umat manusia bersaudara. Karena itu kesediaan dan usaha para donatur membantu meringankan penderitaan korban bencana alam jangan diselewengkan untuk memuaskan nafsu keserakahan dan kerakusan tertentu.

Saya adalah wartawan di sebuah Majalah Keuskupan yang senang mencari informasi. Selama libur di Nias, saya sempatkan untuk wawancara dengan P. Servasius Dange, SVD di Tuhemberua. Beliau mengatakan: “Masyarakat Nias tidak akan keluar dari krisis berkepanjangan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Alasannya adalah 75% penduduk Nias adalah tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membela haknya dan juga untuk melaksanakan kewajibannya dalam bidang apa pun”. Pastor servas memaksudkan pengetahuan dalam hal ini adalah “kesadaran masyarakat kita akan pentingnya pendidikan yang bermutu sehingga tidak dapat dibodoh-bodohi oleh siapa pun juga.

Wah, menyedihkan ya. Rupanya pendidikan di Nias sangat kurang dalam standar umum sebagai proses Homonisasi dan proses Humanisasi. Orang yang berpengalaman dan berpengatahuan menjadi bodoh dan tidak berani berbuat apa-apa melihat lembaran uang yang mengalir terus untuk membantu masyarakat kecil. Akhirnya berlakulah “KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN”, “MUMPUNG SAYA PUNYA PENGARUH SAAT INI”.

Jangan sampai pihak donatur luar negeri, berpendapat bahwa negara dan masyarakat Pancasila kita tidak “Ber-perikemanusiaan yang adil dan beradab” (sila kedua Pancasila). Hendaknya semua pihak, terutama yang berwenang, “berpikir dan berpikir ulang” (think and rethink) sehingga niat baik pemerintah, sumbangan kemanusiaan para donatur untuk korban bencana alam di Nias (dan di daerah pun) tidak disia-siakan.

Usaha kita adalah menghindari “pendapat bahwa negara dan masyarakat Pancasila kita tidak “Ber-perikemanusiaan yang adil dan beradab” (sila kedua Pancasila). Saya melihat bahwa sesungguhnya sudah sangat terlambat. Umumnya donatur kita dari luar sudah malas untuk membantu. Pendapat umum yang dapat kita baca melalui media-media informasi mengatakan bahwa donatur dari luar negeri merasa kecewa. Mereka dengan tulus membantu orang lapar, eh… rupanya yang menerima adalah orang-orang kenyang, yang perutnya buncit dan kepalanya botak memikirkan supaya dana itu masuk ke kantongnya.

Saudara-saudara, saya agak “kasar” merumuskan pendapat saya ini karena sebuah kekecewaan. Kekecewaan ini, bukanlah kekecewaan pribadi saya tetapi kekecewaan umum. Apa yang saya lihat dalam hal ini: “masyarakat yang tidak berpendidikan, buta huruf ingin menuntut haknya, tetapi mereka tidak didengar, malah disepelekan. Sesungguhnya, yang tahu informasi akurat tentang proses kerja BRR adalah orang-orang yang tidak punya kesempatan untuk berbicara, tidak punya kesempatan untuk didengarkan dan tidak punya kesempatan untuk membaca tulisan-tulisan kita lewat ‘dunia maya’ ini”.

Saya, dia, kita semua mungkin hanya mendengar keterangan dari masyarakat desa, dan tidak pernah merasakan akibat yang mereka rasakan dari kerakusan oknum-oknum dalam BRR. Ada yang membayar uang muka tiga juta rupiah, tapi juga tidak mendapat dana bantuan itu. Bukankah yang miskin membantu si “Rakus” dalam hal ini? Adakah orang-orang yang duduk di meja kantor, di bangku kuliah, di meja komputer mendengarkan keluhan mereka?

Usul saya adalah: “Mari kita mencari informasi akurat dari masyarakat desa yang tidak berpengalaman, korban “pembodohan”. Di situlah terdapat informasi yang akurat, baru kita mencoba berdiskusi tentang solusi.

Catatan: saya tidak membuat rujukan/keterangan yang lengkap tentang oknum yang berbuat salah seperti saya ungkapkan di atas lewat tulisan ini. Kalau kita bersama-sama membongkar kasus ini, saya bersedia untuk menjadi salah satu sumber informasi dengan bukti yang lengkap tentang oknum yang saya maksudkan di atas.

Saya boleh dihubungi melalui surat dengan alamat:

Fidelis Harefa
Komsos Keuskupan Palangka Raya
Jl. Tjilik Riwut Km, 06
Tromol Pos 02
Palangka Raya – KALTENG 73112

Atau melalui e-mail: fidelis_harefa@yahoo.co.in – cyrillus.harefa@gmail.com

juga dapat menelepon ke Hp saya: 0856-5132-4896

“Mari melangkah bersama, karena rupanya perjuangan dan perang baru saja akan mulai. Itupun kalau kita sungguh-sungguh terbuka hati mendengar mereka.” Salam – Ya’ahowu.

Facebook Comments