PENGANTAR
Oleh: Ilham Mendröfa

Penulis memutuskan untuk lebaran Idul Fitri di Nias tahun 2006. Jauh-jauh hari kami sekeluarga mempersiapkan kelengkapan perjalanan pulang. Satu bulan sebelum keberangkatan, persis menjelang puasa Ramadhan, penulis menghubungi travel langganan. Penulis dikonfirmasi: tiket Jakarta-Medan dan Jakarta-Padang untuk H-3 habis. Yang tersisa adalah tiket dengan harga satuan Rp. 1.200.000/orang.

Ini agak menjengkelkan karena penulis pulang satu keluarga, tentu saja uang untuk pulang dengan nilai tiket sebesar itu sangat besar. Kami akhirnya mendiskusikan apakah bisa ditempuh dengan perjalanan darat, artinya penulis harus menyetir sejauh 1500 km dari Jakarta-Sibolga. Tapi anggaran perjalanan darat ini adalah pilihan paling rasional. Akhirnya pertengahan Ramadhan penulis dan istri memutuskan naik darat. Perjalanan tiga hari dari Jakarta-Sibolga kami tempuh bersama konvoi pemudik tujuan Padang dan Padang Sidempuan.

Dalam perjalanan darat itu penulis betul tersadar betapa mudik lebaran ini menjadi budaya unik. Penulis berkomunikasi dengan beberapa pemudik asal Sumatera Barat. Dari pengakuan mereka, penulis mengetahui bahwa aktifitas “pulang basamo” adalah ritual yang menjadi kebanggaan warga Padang. Keinginan untuk bersilaturrahmi dengan keluarga sekaligus melihat-lihat kenangan kampung menjadi hal yang menyenangkan buat mereka-mereka yang merantau di luar kampung.

Penulis merasakan energi pemudik ini begitu luar biasa. Kalau satu orang pemudik membawa uang saku minimal Rp. 100.000 maka hitungan uang beredar dari pemudik tahunan yang berjumlah hampir satu juta orang saat lebaran minimal 100 milyar. Tentu saja ini adalah angka yang wah.

Penulis membayangkan kalau muslim Nias mudik bersama berjumlah 500 orang saja pertahun maka perputaran uang dalam lima hari mudik lumayan juga. Dari perenungan panjang menuju kampung halaman itu, penulis mempunyai kesimpulan bahwa budaya mudik lebaran ini mempunyai manfaat ekonomi yang luar biasa.

Kami sampai di Sibolga Sabtu malam jam 21.30. Penulis mendapat khabar bahwa fery ASDP tidak berangkat malam itu, tetapi syukurlah sekarang Nias mendapat kapal tambahan jenis LCT yang dikomersilkan untuk mengangkut transportasi darat/truk dengan muatan besar.

Bersama perjalanan pulang menuju Pelabuhan Angin, penulis berkomunikasi dengan beberapa supir angkutan logistik. Di kapal LCT yang penulis tumpangi malam itu ikut sembilan truck 12 roda dengan muatan penuh.

Dari percakapan informal beberapa supir angkutan penulis mengetahui bahwa jenis kiriman barang di angkutan mereka adalah beras dan bahan pokok lainnya yang akan didistribusikan melalui agen Gunungsitoli.

Mereka menyebutkan bahwa frekuensi pengangkutan ke Nias pasca gempa memang meningkat tajam. Ini menunjukkan bahwa laju kebutuhan masyarakat Nias akan bahan pokok meningkat dramatis. Angkutan ferry yang tadinya hanya ada dua sekarang menjadi tiga, itupun masih ditambah satu kapal bantuan logistik berjenis LCT dan tiga kapal angkutan kayu yang beroperasi untuk tujuan Teluk Dalam dan Lahewa.

Penulis sampai d Nias jam 14.30. Pemandangan Gunungsitoli dari satu mil laut sangat mengugah. Penulis merasakan desir kerinduan akan kampung halaman, tempat tumpah darah mengalir. Penulis berucap syukur karena penulis sampai di Nias dengan selamat. (bersambung).

Facebook Comments