JIMBARAN, KOMPAS – Pemeritah Jerman membantu Indonesia dalam pengadaan alat dan teknologi peringatan tsunami melalui sistem frekuensi radio atau bernama Frekuensi Modulation Radio Diteksi Sistem (FM-RDS) senilai 45 juta euro dengan dana hibah. Peringatan tsunami itu merupakan teknologi yang pemberitahuannya mampu menjangkau setiap orang.

Rencananya, Indonesia melaui Kementrian Riset dan Teknologi akan memanfaatkan pemancar radio FM sekitar 170 unit dan membangun beberapa pemancar FM di seluruh daerah yang berada di pesisir atau pedesaan sekitar pantai. Pembangunan pemancar tersebut berkerjasama dengan Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) serta PT Telkomsel.

“Kami masih mengujikannya di tiga wilayah terlebih dahulu, yaitu Bali, Padang (Sumatera Barat), dan Jawa Barat di Pangandaran atau Pantai Cilacap (Jawa Tengah). Kami jadwalkan pemasangan pada Desember 2006 atau awal tahun 2007 dan beroperasi pada 2008,” kata Deputi Kementrian Riset dan Teknologi Idwan Suhardi, pada acara presentasi Tsunami Early Warning System, Dissemination of Warning on the Last Mile, kerjasama Jerman-Indonesia, di Hotel Intercontenental, Jimbaran, Bali, Senin (6/11).

Sistem kerja yang diperagakan, berupa peringatan bencana dikirim ke pusat peringatan dini di BMG pusat. Selanjutnya, BMG pusat akan menyebarluaskan melalui frekuensi FM ke pemancar wilayah untuk daerah yang terkena dampak. Selain dapat disebarluaskan melalui radio pemancar, pesan peringatan tsunami itu juga dapat diterima dan dibaca melalui pesan singkat telepon genggam.

Deputi Bidang Sistem Data dan Info BMG Dr PJ Prih Haryadi, juga menjelaskan masih perlu pembangunan di pedesaan terutama di pesisir. Alasannya, frekuensi radio FM biasanya masih berada di sekitar perkotaan. Padahal, peringatan tsunami juga penting bagi warga pesisir. Akan tetapi, lanjutnya, wilayah pesisir juga diperkuat dengan adanya upaya pembangunan sistem alarm dan menara-menara di sekitar pantai.
Negara yang telah memasang dan menggunakan alat ini antara lain, Jerman dan Swedia. Sistem ini dibangun atas kerjasama pula dengan IOC badan dari Unesco. IOC sudah mengambil tugas koordinasi sistem peringatan dini bencana di seluruh lautan hindia.

Laporan Wartawan Kompas Ayu Sulistyowati

Note: Sumber: Kompas Online, 6 Nov. .2006

Facebook Comments