Medan, (Analisa)

Dua elemen mahasiswa Nias di Medan, Selasa (14/11) menggelar unjuk rasa di halaman gedung DPRD Sumut dan di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Dalam aksinya mereka menyoroti kinerja Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nias.

Pengunjuk rasa menilai kinerja BRR bobrok dan tidak mampu bekerja mengelola dana yang sudah tersedia untuk kesejahteraan rakyat. Karena itu, mereka berpendapat BRR sebaiknya dibubarkan saja.

Dua kelompok aksi itu masing-masing menamakan dirinya Gerakan Mahasiswa Barisan Rakyat Nias (GM Barani) Medan dan Forum Independen Peduli Nias (Fordepen).

Menurut mereka, kegagalan BRR itu terlihat jelas dari penyerapan dana APBN yang diberikan pemerintah pusat untuk Nias dan Nias Selatan pada 2005 senilai Rp 410 miliar, dan yang mampu diserap hanya Rp188,6 miliar atau 46 persen. Begitu juga dari APBN 2006 senilai Rp 1,1 triliun yang diserap hanya Rp 360 miliar atau 36 persen.

BRR juga dinilai telah mengabaikan sektor pendidikan di Nias. Buktinya, BRR berjanji akan membangun perpustakaan untuk masyarakat umum, namun kenyataannya sampai sekarang tidak ada. Malah yang terjadinya semakin maraknya aksi penyelewengan dana di lapangan.

Sementara itu, ungkap mereka, Satuan Anti Korupsi (SAK) yang dibentuk BRR, ternyata ‘mandul’. “Terkesan SAK malah menjadi tameng yang anti rakyat,” teriak pengunjukrasa tersebut seraya mengungkapkan adanya perampasan tanah di Lahusa tanpa ganti rugi, untuk pengadaan loosd pekan yang dibangun oleh BRR.

TINJAU ULANG
Karena itulah, sudah saatnya kehadiran lembaga seperti BRR di Nias ditinjau ulang keberadaannya. Soalnya, kata mereka, lebih besar kebobrokannya yang akan meninggalkan bom waktu di tengah-tengah masyarakat Nias.

Nias yang porak poranda dilanda gempa dan tsunami beberapa tahun lalu, ujar pengunjukrasa, tidak akan menjadi lebih baik dengan keberadaan BRR di Nias. Mereka yakin, semua proyek pisik yang pembangunannya asal-asalan akan rusak.

Parahnya lagi, kata mereka, semua itu akan menyisakan ‘bencana sosial’ seperti ketergantungan masyarakat terhadap bantuan, konflik antar masyarakat karena ketidak adilan dalam pembangunan rumah, bencana rupiah karena kemewahan yang ditampilkan.

Dihadapan anggota DPRD Sumut Analisman Zalukhu dan Amanio Fau yang menerima mereka, para pengunjukrasa itu menuntut dilakukannya audit terhadap dana-dana di BRR, termasuk para staf BRR yang kerap memamerkan kemewahan sekaligus menurunkan gaji mereka yang sangat tinggi.

Selain itu, menolak pungli di bidang pembangunan perumahan yang dilakukan Kades di berbagai kecamatan. Mengusut tuntas perampasan tanah di Lahusa dan tolak proyeknisasi di bidang pendidikan serta segera laksanakan pembangunan yang mencerdaskan masyarakat Nias.

Pengunjukrasa juga meminta penghentian aksi pembungkaman terhadap mahasiswa Nias yang kritis oleh oknum-oknum BRR maupun Pemkab Nias/Nisel melalui permainan proyek proposal dan sebagainya.

Sebelumnya, pengunjukrasa dan anggota dewan itu sempat saling tuding. Mahasiswa menuding anggota dewan dari Nias tidak perduli kondisi di Nias.

Kepada pengunjukrasa, Analisama Zalukhu meminta data yang ditudingkan mahasiswa, terkait penyelewengan anggaran dan kepala desa yang melakukan pungli.

Sedang Aliozisokhi Fau menyatakan, dirinya bersama anggota DPRD Sumut lainnya dari daerah pemilihan Nias dan Nias Selatan akan tetap mengawal perjalanan BRR dalam merehabilitasi Nias pasca gempa. Alio juga meminta peran mahasiswa untuk terus melakukan pengawasan di lapangan.

Setelah menyampaikan tuntutannya, mahasiswa Nias itu kemudian membubarkan diri dengan tertib.

KEJATISU
Sementara ketika di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) pengunjuk rasa menuntut Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) beserta perangkatnya di Nias dibubarkan karena dinilai tidak mampu dan lamban dalam penanganan Nias pasca Tsunami.

Dalam aksi damai di depan pintu kantor Kejatisu itu, massa pengunjukrasa sambil menggelar poster dan berorasi diterima Kasi Produksi Sarana Intelijen Kejatisu Henry Nainggolan SH.

Mahasiswa juga menuntut Kejatisu agar mengusut tuntas perampasan tanah yang terjadi di Nias Selatan yang diduga di lakukan oleh BRR bekerjasama dengan oknum Pemda Nias Selatan (Nisel).

Sementara Hendry Nainggolan di hadapan pengunjukrasa menyatakan aspirasi diterima dan akan disampaikan kepada pimpinan. (sug/ir)

Facebook Comments