Oleh: M.J. Daeli

SITUS YA’AHOWU kembali menampilkan diskusi online mengenai masa depan Tanõ Niha (Nias). Topik kali ini berkaitan dengan kerja BRR, yaitu : “Membayangkan Wajah Nias Pasca Program BRR”.

“Membayangkan” berakar kata pada “bayang” atau “bayang-bayang”. Bayang-bayang secara fisik kita kenal sebagal produk alamiah dari penyorotan sinar terhadap benda. Jika kita menempatkan tangan di depan lilin, kita akan melihat bayangan terproyeksi sebagai bayang-bayang bentuk tangan di dinding. Bayangan dibentuk oleh cahaya yang menyorot benda. Bentuk benda tidak dapat menipu cahaya.

Sifat bayangan seperti ini yang diangkat Panitia dengan Topik tersebut diatas. Hasil kerja BRR di Nias disorot oleh hati nurani yang berperikemanusiaan (sila kedua Pancasila). Disorot oleh individu dan lembaga donatur dari dalam negeri mau pun dari luar negeri. Bagaimana projeksi hasil kerja BRR terhadap penderitaan masyarakat Nias umumnya dan korban tsunami dan gempa pada khususnya ? Apakah derita korban: tetap, berkurang, atau malah bertambah ? Atau para korban menerima dan merasakan dengan gembira-ria hasil kerja BRR itu ?

Pada saat sekarang ini, bayangan hasil kerja BRR belum dapat diberikan bentuk yang sesungguhnya. Masa bakti BRR belum tuntas. Memang. Kalau hanya berdasakan laporan bulan lalu (lihat workshop yang diadakan BRR Perwakilan Nias di Medan, Rabu 18 Oktober 2006 tanggal 18 Oktober 2006) dan cara kerja BRR selama ini di Nias, bayangan yang muncul sungguh sangat kabur. Sangat tidak terpuji. Derita para korban bencana bukan berkurang, melainkan bertambah dengan rasa “sakit hati”.

Di lapangan terlihat kelambanan kerja dan dugaan korupsi. BRR seakan-akan seperti telah menyimpang dari visi dan misi kemanusiaannya. Oknum BRR terlihat lebih mengutamakan korupsi dana dan waktu – daripada melaksanakan tugasnya. Mereka seakan-akan mampu dan mau menari-nari diatas penderitaan para korban. Sehingga mutu kerja jauh dibawah standard. Contoh: rumah yang dibangun tidak layak huni. Pengawasan oleh publik sulit dilakukan karena lembaga ini tertutup terhadap wartawan.

Kenyataan ini yang mencemaskan semua pihak yang berhati nurani baik. Dalam Laporan di Workshop tersebut diatas, BRR baru mencapai realisasi pembangunan fisik sebesar 25 %. Itu pun dari segi presentase anggaran. Pembangunan fisik (standard) sebenarnya jelas “lebih rendah” dari 25 % itu. Karena harga di “mark up” atau mutu direndahkan (contoh: rumah).

Pembangunan yang non fisik lebih sulit lagi diharapkan untuk mencapai sasaran yang ditargetkan. Sebab, mengembalikan kesadaran dan rasa percaya diri korban bencana akan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka baginya, akan luasnya pilihan yang ia hadapi, dan yang akan turut menentukan hari depannya sendiri; tidak dapat dilakukan dari belakang meja pejabat di Gunung Sitoli, atau di Medan, atau di Jakarta. Apalagi kalau pejabat yang ditugaskan untuk itu tidak memiliki pengetahuan akan budaya Nias dan lebih-lebih kalau tidak memiliki rasa “penderitaan kolektif”.

Dari segi itulah dapat dipahami kesungguhan Panitia mengangkat Topik ini. Saya percaya bahwa Panitia tidak hendak mengajak kita membaca kertas yang belum ditulis. Atau, seakan-akan peserta diskusi diajak membayangkan sesuatu (hasil kerja BRR di Nias) yang belum ada (selesai).

Melalui diskusi Topik ini, Panitia menempuh salah satu cara kepedulian terhadap penderitaan para korban tsunami dan gempa di Nias. Dengan “kepedulian cemas” seperti itulah, Panitia berusaha mengingatkan semua pihak akan pelaksanaan misi kemanusiaan BRR di Nias. Tentu karena keterbatasan langkah, laksana “hati gatal tetapi tidak bisa digarut”, Panitia mengajak: “Untuk membayangkan bertambahnya penderitaan korban bencana alam di Nias apabila cara kerja BRR tetap seperti selama ini”.

Memahami tujuan Panitia seperti itu, saya memasuki diskusi ini. Menghimbau kepada Saudara-saudara yang memiliki informasi (akurat) mengenai kerja BRR di Nias agar menyebarkan informasi itu seluas-luasnya. Diharapkan dengan cara itu, keserakahan dan kerakusan oknum-oknum tertentu dalam BRR dapat dikurangi dan mereka mampu merasakan seandainya bencana itu menimpa diri dan keluarga mereka.

Bagi manusia yang berhati nurani baik, sumbangan para donatur dari dalam dan luar negeri kepada para korban menyadarkan kita akan kebenaran bahwa umat masusia bersaudara. Karena itu kesediaan dan usaha para donatur membantu meringankan penderitaan korban bencana alam jangan diselewengkan untuk memuaskan nafsu keserkahan dan kerakusan tertentu.

Jangan sampai pihak donatur luar negeri, berpendapat bahwa negara dan masyarakat Pancasila kita tidak ber “Perikemanusiaan yang adil dan beradab” (sila kedua Pancasila). Hendaknya semua pihak, terutama yang berwenang, “berpikir dan berpikir ulang” (think and rethink) sehingga niat baik pemerintah, sumbangan kemanusiaan para donatur untuk korban bencana alam di Nias (dan di daerah pun) tidak disia-siakan.

Houston , Nopember 2006

Facebook Comments