Kata Pembuka Diskusi Online II
E. Halawa*

Selamat datang di Situs Yaahowu dalam rangka Diskusi Online II (DO II) dengan topik: Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias – Membayangkan Wajah Nias Pasca Program BRR.

Diskusi kali ini merupakan yang kedua diadakan oleh Situs Yaahowu tahun ini. Yang pertama (DO I), berlangsung dari tgl 10 Juli – 17 Agustus 2006 dengan topik: Menyambut dan Menyikapi Kelahiran Propinsi Tapanuli. Hasil-hasil dari Diskusi tersebut dapat dilihat dalam Arsip Diskusi Online I.

Pengalaman dari penyelenggaraaan DO I menunjukkan bahwa, apabila kita diberi kesempatan agak leluasa mendiskusikan sesuatu hal, kita bisa mencapai hasil yang baik, ide-ide yang jernih dan kritis. Kalau kita menambang gagasan yang memang melimpah di dalam diri kita secara efektif, yaitu dengan terlebih dahulu mengendapkan “debu-debu kesadaran” kita, maka yang keluar adalah gagasan-gagasan segar, yang mencerahkan. Hal semacam itu tidak akan keluar dari pemikiran yang tergesa-gesa, di tengah hiruk pikuk suara massa yang emosional yang mengarahkan kita ke arah tertentu dengan ciri-ciri “memaksa”, “menakut-nakuti” dan “menekan” secara psikologis – “kalau tidak ke arah sini maka …”.

Memang, ide-ide yang jernih dan kritis itu tidak akan langsung memperbaiki keadaan, dia jarang “dilirik” oleh pihak-pihak yang terkait menjadi pedomannya dalam membuat kebijakan. Seringkali yang terjadi justru sebaliknya: gagasan-gagasan yang jernih dan kritis itu “dilupakan” begitu saja. Mengapa ? Mungkin karena kerjernihan yang dikandungnya “berseberangan” dengan langkah-langkah politis atau kebijakan yang memang sudah digariskan sedari awal. Mungkin juga, kalkulasi-kalkulasi politis tertentu mendesak hati nurani yang bersih, atau memojokkannya sehingga ia tidak lagi menjadi pemain utama dalam pertimbangan-pertimbangan dan dalam mengambil berbagai keputusan.

Lantas mengapa kita terus menyelenggarakan diskusi macam ini kalau pada akhirnya kita tahu, dia tidak akan langsung mempengaruhi kebijakan pihak-pihak terkait ?

Jawabannya sederhana (atau lebih tepat kita sederhanakan, dengan tujuan agar kita tidak mengharapkan yang “muluk-muluk dari padanya”): diskusi ini pertama-tama ditujukan untuk kita sendiri, para peserta. Untuk apa ? Untuk menambah informasi kita yang masih serba terbatas tentang sesuatu masalah.

Terkadang, kita secara tak sadar menganggap kita telah memiliki semuanya dan mengetahui segalanya. Belakangan, setelah kita keluar dari “sarang” atau “habitat” kita yang biasa, dan bertukar infomasi dengan “dunia” di luar kita, kita baru menyandari, betapa terbatasnya pengetahuan dan pemahaman kita tentang sesuatu hal. Keterbatasan pengetahuan dan pemahaman itulah yang – sekali lagi sering secara tak sadar – melahirkan respons atau reaksi yang “lepas kendali”, “meledak-ledak”, “emosional”. Respons atau reaksi semacam itu, pada umumnya tidak menolong mengatasi masalah, tetapi justru sebaliknya: mengeruhkan suasana.

***

Rekonstruksi dan Rehabilitas Nias adalah peluang emas yang barangkali tak akan pernah kita raih lagi di kemudian hari. Dan memang kita tidak ingin lagi peluang itu datang kalau itu harus berarti kedatangan gempa dahsyat yang kedua lagi. Semoga Yang Mahakuasa menjauhkan hal itu dari kepulauan Nias.

Jadi kita harus berasumsi bahwa proses Rekonstruksi dan Rehabilitasi yang sedang berlangsung adalah Yang Pertama dan Terakhir buat Nias, dan karena itu kita mengharapkan dan harus mengusahakan yang optimal dari padanya.

Diskusi ini mengajak kita berbagi, berdiskusi: untuk melihat hal-hal apa saja yang dapat kita kedepankan dan (mudah-mudahan, sekali lagi: mudahan) diperhatikan oleh pihak-pihak yang terlibat langsung dalam RR untuk mengoptimalkan pencapaian target mereka.

Secara kebetulan, salah seorang dari anggota Tim Redaksi Yahowu, Saudara Ilham Mendröfa, baru saja kembali dari Nias dalam rangka merayakan Lebaran 2006 di kampung halamannya. Dalam beberapa hari ke depan, oleh-oleh Ilham dalam bentuk catatan singkat selama di Nias akan ditayangkan dalam situs ini sebagai selingan selama Diskusi kita.

Redaksi juga telah menghubungi Bapak Emanuel Migo, Manajer Komunikasi BRR Nias, untuk ikut ambil bagian dalam Diskusi ini. Bahkan, melalui Bapak Emanuel, Redaksi telah mengajukan permintaan untuk kemungkinan mewawancarai Bapak Dr. William Syabandar. Kita berharap bahwa pada akhirnya pihak BRR Nias mau membuka pintu hati untuk kita.

Diskusi Online ini berlangsung “cukup lama”, dari tgl 13 November – 22 Desember 2006. Hal ini berarti, kita semua mendapat kesempatan untuk menggali gagasan-gagsan yang dapat kita sumbangkan dan kita “share” kepada yang lain. Maka, sumbangan kita diharapkan jernih, rasional, jauh dari kesan emosional namun tetap kritis.

Selamat berdiskusi. Ya’ahowu !

Facebook Comments