*Pengantar Diskusi Online II Situs Yaahowu

Oleh Ilham Mendröfa dan E. Halawa*

Pengantar
Gempa dahsyat yang terjadi pada tgl 28 Maret 2005 mungkin merupakan bencana terberat yang pernah menimpa masyarakat Nias. Rumah dan harta benda hancur luluh, nyawa manusia menjadi korban. Ketakutan yang amat sangat mencekam masyarakat Nias, harga-harga melambung, dan masyarakat Nias – entah tukang becak atau pejabat – “terpaksa menyatu” di tenda-tenda darurat untuk sekedar “beristirahat” sejenak dari penderitaan fisik dan goncangan jiwa yang teramat dahsyat. Bahkan, di tengah kepanikan yang luar biasa itu, sebagian masyarakat Nias ‘hijrah’ ke luar pulau untuk ‘melarikan’ diri dari kemungkinan terdahsyat: tenggelamnya P. Nias. Hari esok seakan tiada lagi.

Hari-hari yang mencekam itu kini telah berlalu. Nias kini menjadi perhatian internasional, bantuan datang begitu “melimpah” baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Anggaran APBD membengkak mencapai angka yang “fantastis” bagi ukuran Nias, bantuan materi dan non-materi datang begitu luar biasa yang keseluruhan itu menjadi harapan baru bagi perbaikan kesejahteraan masyarakat Nias.

Untuk merespons bencana di Aceh dan Nias, pemerintah membentuk Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias. Maka secara resmi Nias mendapat kesempatan emas yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: Rekonstruksi dan Rehabilitasi (RR) Nias.

Build Aceh-Nias back better” – itulah “visi” dari Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias melalui program BRR (ADB Report, 2006).

Sejak BRR bekerja di Nias, terlihat tanda-tanda yang menggairahkan dan membesarkan hati: jalan-jalan rusak diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya, tidak dengan asipala lae (aspal setipis daun pisang bercampur pasir dan lumpur di tengah hujan gerimis, supaya segera rusak dan dengan demikian “ditambal” lagi) tetapi aspal sungguhan dan tebal; jalan-jalan di kota Gunungsitoli bahkan mendapat aspal ”hot mix”. Rumah-rumah untuk para korban gempa Maret 2006 dibangun kembali, pasar-pasar rakyat direhabilitasi, jembatan-jembatan diperbaiki dan diperkokoh.

Masih banyak lagi hasil-hasil kerja BRR yang telah dirasakan masyarakat Nias, yang membawa kita kepada pemikiran: Nias pasca program BRR adalah Nias yang jauh lebih maju, cerah, ceria dan dinamis.

****
Namun, di tengah berita-berita positif yang dikemukakan di depan, muncul juga berbagai masalah di lapangan: rumah yang dibangun lewat program BRR ditolak ditempati, penunjukan langsung tanpa tender projek bernilai milyaran rupiah, dugaan mark-up anggaran projek (Analisa, 27 Juni 2006), dan sebagainya. “BRR di Nias kehilangan dukungan masyarakat”, demikian judul sebuah berita Harian SIB tanggal 16 Agustus 2006.

Inilah dua sisi yang berhadap-hadapan yang sedang kita amati dalam proses RR Nias. Sisi positif – proses RR yang transparan, efisien, bebas dari praktek koruptif – akan menghasilkan Nias yang “lebih baik” yang tercantum dalam visi RR tadi. Sisi negatif – Proses RR yang penuh dengan inefisiensi, masalah, ketakbecusan dan praktek koruptif – akan melenyapkan kesempatan Nias menjadi lebih baik itu, barangkali untuk selamanya …

***
Laporan BRR yang dipublikasikan pada bulan Juni 2006 (www.e-aceh-Nias.org), menyebut angka perbaikan fisik yang lumayan baik. Akan tetapi benarkah pertumbuhan fisik saja yang menjadi ukuran? Benarkah perbaikan sarana-prasana ini yang menjadi kebutuhan utama dan ril masyakatat Nias? Bagaimana ke depan, setelah BRR selesai dengan berbagai programnya ? Dari mana kelak dana untuk perbaikan jalan-jalan mulus, jembatan dan segala sarana dan prasarana lain itu ? Apakah geliat “ekonomi” yang diciptakan oleh kehadiran berbagai proyek Rekonstruksi dan Rehabiltiasi saat ini bisa berkelanjutan (sustainable) ? Ataukah, sehabis program RR Nias kembali terpuruk ? Adakah dana yang dialokasikan secara khusus untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Nias ?

Adakah strategi khusus yang telah dibuat, baik oleh BRR Nias maupun oleh Pemda Nias untuk mengisi “kevakuman” yang akan timbul begitu BRR menyelesaiakan programnya ? Adakah strategi khusus untuk memberdayakan masyarakat sehingga kelak mayoritas masyarakat Nias bisa secara aktif memperbaiki kehidupannya dan tidak lagi secara terus menerus bergantung pada bantuan “karitas” para donor dalam dan luar negeri ?

Akankah Nias memiliki wajah yang lebih baik, cerah, ceria dan dinamis pasca program BRR ?

Peserta Diskusi diajak “membayangkan” wajah Nias pasca program BRR, dengan melihat apa yang telah, sedang dan akan berlangsung selama proses RR Nias. Peserta Diskusi diajak memberikan masukan yang kiranya bermanfaat baik bagi BRR Perwakilan Nias maupun bagi para pengambil keputusan di Nias. Masukan Anda bisa dalam bentuk gagasan-gagasan segar atau temuan-temuan di lapangan tentang pelaksanaan RR Nias.

Selain pengunjung setia Situs Yaahowu, Redaksi sedang menghubungi BRR Perwakilan Nias dan berbagai pihak lain untuk ikut dalam Diskusi Online II ini. Diskusi Online ini diharapkan memperluas wawasan kita – khususnya masyarakat Nias pengguna internet – tentang program RR yang sedang berlangsung di Nias. Bagi BRR Perwakilan Nias, berbagai gagasan, pemikiran, masukan dan kritik yang muncul selama berlangsungnya diskusi ini diharapkan menjadi bahan yang bermanfaat untuk mengoptimumkan kinerjanya.

Selamat berdiskusi. (Redaksi)

Facebook Comments