Pembangkit listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar di dunia akan dibangun di Negara Bagian Victoria, Australia. PLTS ini akan menempati enam area seluas 600 – 800 ha dekat Mildura dan Swan Hill di barat daya Victoria.

Demikian dilaporkan oleh surat kabar The Australian, Kamis 26 Oktober 2006. PLTS ini akan berkapasitas 154 MW dengan biaya sekitar 400 juta dollar Australia (sekitar Rp. 2.5 trilyun). Pembangkit ini akan menyediakan listrik bagi sekitar 45000 rumah di Victoria. Tahun 2008 PLTS ini diperkirakan mulai menghasilkan energi listrik semetara kapasitas penuh akan dicapai pada tahun 2013.

Sebagian besar dari biaya PLTS ini datang dari sektor swasta (sekitar A$300 juta) sedangkan pemerintah negara bagian Victoria dan Pemerintah Federal Australia menyumbang sekitar A$120 juta dollar sebagai “bukti” komitmen mereka untuk mengurangi dampak pemanasan global.

PLTS ini akan menggunakan 19,000 cermin (heliostat, A) yang permukaannya mengikuti arah sinar matahari dan memfokuskan sinar itu ke beberapa penerima pusat yang dipasang di atas sejumlah menara. Setiap cermin memiliki tinggi 5 m dan luas 19 m persegi. Sinar matahari difokuskan pada penerima dengan 500 kekuatan pemusatan sehingga mampu melelehkan baja. Penerima sentral (central receiver, B) akan memiliki sel-sel surya yang mengkonversi sinar surya menjadi listrik dengan efisiesni 3 kali lebih besar dari efisiensi sel-sel surya biasa. Listrik dari penerima akan melewati inverter elektronik (pengubah arus searah ke arus blek balik) lalu dialirkan ke rumah-rumah.

Rencana pembangunan PLTS ini bersamaan dengan dikeluarkannya laporan Nicholas Stern yang berjudul: Stern Review: The Economics of Climate Change tentang dampak ekonomis perubahan iklim (baca: Laporan Stern Tentang Dampak Ekonomis Perubahan Iklim

Tenaga surya, walau tersedia secara “cuma-cuma” di seluruh permukaan bumi, namun hingga kini belum bisa diandalkan sebagai alternatif potensial untuk menggantikan bahan bakar fosil. Intensitas tenaga surya yang jatuh di permukaan bumi sangat kecil (mencapai sekitar 1000 Watt per meter persegi pada tengah hari yang cerah) tetapi amat bervariasi menurut lokasi, waktu, cuaca dan musim. Pada malam hari matahari tidak menghasilkan energi dan karenanya dibutuhkan batere untuk menyimpan energi matahari yang ditangkap oleh sebuah sistem konversi pada siang hari. Baik sistem konversi energi matahari maupun batere masih relatif mahal, dan efisiensinya juga rendah.

Kontroversi selalu muncul tentang prospek pemanfaatan tenaga surya sebagai energi alternatif di masa depan. Pihak penganjur energi matahari (dan energi terbarukan pada umumnya) menuduh pihak-pihak yang berkepentingan dengan energi fosil sebagai penghambat penyebarluasan penggunaan energi matahari. Menurut pihak penganjur energi surya, masih tingginya biaya sistem-sistem energi matahari adalah karena “konspirasi” bisnis energi fosil dengan pemerintah, sehingga dana penelitian yang cukup tak pernah disalurkan untuk pengembangan energi surya dan terbarukan pada umumnya. Rendahnya harga energi fosil juga dianggap tidak wajar karena faktor polusi tidak diperhitungkan dalam penetapan harga dan tidak dibebankan kepada produser energi fosil. (Foto: The Australian)(brk)

Facebook Comments